
Seminggu sudah Arumi tinggal bersama ibunya, sejak Akhtar memintanya untuk pergi. Tak ada yang dilakukan Arumi selama ia kembali selain melamun dan menangis. Ningrum ibu Arumi, juga merasa khawatir akan kondisi anak perempuannya. Ia tak bisa bertanya apa yang terjadi, karena ia takut itu akan menyakiti Arumi.
Tepukan pelan pada bahunya, membuat Arumi sedikit terjingkat kaget. "Melamun lagi? Uhuk..uhuk.."
Arumi segera berdiri dari duduknya dan memapah ibu untuk duduk. "Ibu kenapa keluar? Angin malam nggak baik lho untuk kesehatan." seru Arumi.
Beberapa hari ini kesehatan Ningrum memang kurang baik. Sebelum Arumi kembali, ia bahkan sering pingsan. Begitulah kata tetangganya. Setiap Arumi bertanya sakit apa, Ningrum hanya menjawab 'penyakit tua'. Beberapa kali Arumi akan membawanya ke dokter, Ningrum juga selalu menolak. Tentu hal itu sangat membuat hati Arumi merasa khawatir. Apa lagi hanya ibunya lah satu-satunya yang ia miliki.
"Uhuk..uhuk.. Kamu yang kenapa, malam-malam melamun diteras rumah sendirian? Kamu mestinya jaga kesehatan, kasihan bayi yang ada di kandunganmu itu."
Arumi refleks mengelus perutnya. Ya, sebelumnya Arumi memang telah memberitahukan Ningrum kabar gembira akan kehamilannya. Ia merasa bahagia saat melihat ibunya yang juga bahagia menyambut calon cucunya. Namun, ia juga merasa sedih karena kabar kehamilannya sama sekali belum di ketahui oleh suami tercintanya.
"Aku hanya sebentar kok, Bu. Cuma pengen menghirup udah segar aja. Oh ya, apa ibu sudah meminum obatnya?"
"Udara malam itu nggak ada yang segar. Uhuk..uhuk.. Sudah, ibu sudah meminumnya. Nak, apa suamimu tahu kalau kamu sedang hamil?"
Deg. Itu pertanyaan yang Arumi hindari dan akhirnya di pertanyakan juga. Arumi merasa gugup dan salah tingkah. Bingung harus menjawab bagaimana. Jika ia bilang belum, apakah ibunya akan marah? Lalu jika ia bilang sudah, bagaimana ia menjelaskan akan kepergiannya dari rumah?
"Emm.. I-itu, iya. Mas Akhtar sudah tahu kok, Bu. Hehe. Ibu tenang saja." ucap Arumi bohong. Tak ada pilihan lain selain berbohong, ia juga tak ingin membuat ibunya merasa terbebani.
Sungguh ingin rasanya Arumi menangis dihadapan ibunya, untuk meluapkan semua sesak di dadanya. Tapi ia tak bisa melakukan itu, karena ia tak ingin membuat ibunya khawatir lagi.
"Ah, ayo kita masuk saja. Ini sudah malam juga, waktunya ibu istirahat." sambung Arumi. Ia berusaha untuk mengalihkan perhatian ibunya agar tak membahas hal itu lagi.
Namun, Ningrum sangat mengetahui jika ada hal yang sedang di tutupi oleh anaknya itu. Tapi ia tak akan bertanya lebih jauh, tanpa Arumi sendiri yang memberitahukan padanya.
Tak ingin penyakit ibunya bertambah parah lagi, Arumi pun memapah kembali ibunya untuk masuk dalam kerumah.
***
Malam telah semakin larut, tapi Akhtar masih betah duduk di ruangan kerjanya. Ia terlihat sangat sibuk dengan beberapa tumpuk kertas di atas meja. Penampilannya pun terlihat tak seperti seorang Akhtar yang biasanya. Bisa di bilang jika penampilannya saat ini sangat lusuh, acak-acakan.
__ADS_1
Beberapa hari di tinggal istrinya memang membuatnya sedikit stres. Tak ada lagi yang memperhatikannya. Setelah menikah bersama Arumi, semua kebutuhan Akhtar selalu ada yang menyiapkan dan sekerang tak ada Arumi dirumah maka tak ada pula yang melakukan itu. Memang tak dapat di pungkiri jika ia sudah menggntungkan diri pada Arumi.
Rindu! Akhtar memang sangat merindukan istrinya. Ia sudah biasa hidup bersama Arumi dan saat berjauhan seperti ini, membuatnya merasa kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Ingin rasanya ia cepat pergi menjemput istrinya itu dan memeluknya erat guna menyalurkan rasa rindu. Tapi sayang ia belum bisa menemuinya.
"Ehem.."
Seseorang masuk kedalam ruangan kerja Akhtar, tanpa ia sadari. Hingga suara deheman itu membuat ia tersadar. Entah karena ia terlalu fokus dengan kertas-kertas dimejanya atau memang dia sedang melamun, entahlah.
"Tumben aku perhatikan beberapa hari ini kamu sering tidak pulang dan berada di sini. Ada masalah apa?" tanya seseorang itu yang tak lain adalah sahabatnya, Beno.
Tanpa mengalihkan pandangannya, Akhtar menjawab. "Banyak kerjaan."
"Ck. Kerjaan? Aku juga banyak kerjaan tapi masih bisa pulang tepat waktu."
"Lalu apa yang kamu lakukan disini jika bisa pulang tepat waktu?"
Beno juga merasa bingung, apa yang sebenarnya membuat ia urung untuk pulang cepat seperti biasa? Tapi bukan itu pokok pembahasan utamanya.
Akhtar menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis sesuatu dan meletakan penanya. Ia menghempuskan nafas dengan kasar dan langsung menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Namun, ia juga tak kunjung bersuara.
"Ayolah, cerita ada masalah apa kamu. Sebenarnya aku tak ingin ikut campur dalam masalah mu itu, tapi saat melihat penampilan mu yang begitu kacau aku tak mampu untuk bertanya. Jadi kamu harus berbagi cerita dengan ku."
"Aku bingung saat ini." ucap Akhtar yang akhirnya bersuara.
Beno mulai serius untuk mendengarkan lebih lanjutnya. "Aku bingung, apa tindakan ku itu salah atau kah benar." sambung Akhtar.
"Tindakan? Tindakan apa?"
Akhtar mendesah. "Hah, aku menyuruh Arumi untuk pulang kerumah ibunya."
"APA!!" pekik Beno. Ia sungguh terkejut dengan pengakuan sahabatnya.
__ADS_1
"Apa kamu gila menyuruhnya pulang kerumah orang tuanya? Apa kamu tidak tahu arti dari menyuruhnya untuk pulang itu?"
Beno benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran yang di miliki Akhtar. Bisa-bisanya ia menyuruh istrinya untuk pulang kerumah orangtuanya. Bukankah itu artinya jika ia tak menginginkannya lagi. Oh Tuhan, sepertinya Akhtar memang salah makan obat. Pikir Beno.
"Aku memintanya pulang kesana juga bukan tanpa alasan."
"Lalu apa alasannya?"
"Seminggu yang lalu Arumi melukai mama dan mama sangat ketakutan saat melihatnya. Jadi aku memintanya untuk pulang kerumah ibunya, tapi itu hanya sementara sampai mama tenang."
"Hah? Arumi melukai tante Tania? Nggak mungkin! Arumi nggak mungkin melakukan itu."
"Tapi aku melihatnya sendiri. Arumi memegang pisau yang masih berlumuran darah."
"Tapi apa kamu yakin, kamu melihatnya sendiri saat Arumi melukai tante Tania?"
Akhtar tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala saja. "Ck. Seharusnya kamu sudah bisa menebak, kalau bukan Arumi yang melakukannya."
"Maksud kamu?"
"Coba kamu pikirkan. Kenapa Arumi baru melakukan itu sekarang? Kenapa tidak sejak lama? Kenapa dia melakukan itu saat ada kamu? Jika dia memang berniat melukai tante Tania, itu sangat gampang baginya. Tinggal menaburkan racun dalam makanan tante Tania. Bukankah dia memiliki banyak kesempatan untuk itu. Tapi dia tidak melakukannya, iya kan?"
Akhtar diam dan berpikir. Sepertinya penjelasan Beno memang masuk akal. Jika ingin melukai mamanya bukankah Arumi memiliki banyak kesempatan dan kenapa memilih waktu saat ada dirinya?
"Jadi maksud kamu, mama sendiri yang melukai dirinya dan menuduh Arumi yang melakukannya?"
"Tepat sekali. Itulah yang memang seharusnya terjadi. Sepertinya tante Tania masih berpikir jika Arumi ingin merebutmu dari dirinya."
Jika dipikirkan kembali, semua ucapan Beno memang masuk akal. Akhtar *** rambutnya kasar untuk melampiaskan kebodohannya. Sungguh ia sangat bodoh, tidak mengetahuinya sejak awal dan lebih bodoh lagi ia harus percaya pada mamanya yang telah mengkambing hitamkan istrinya. Menyesal! Tentu Akhtar sangat menyesal tidak mempercayai istrinya yang memang begitu baik. Lebih menyesal lagi ia menyuruhnya pergi dari rumah.
Akhtar bersyukur juga karena menceritakan hal itu pada Beno, sehingga ia dapat memecahkan masalah yang ada. Jika tidak, maka ia akan selamanya salah paham pada Arumi. Ah iya, setelah ini ia harus segera menjemput Arumi. Tapi sebelum itu ia akan menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu.
__ADS_1
***