
Dokter Eki melihat betapa lepasnya tawa Jingga. Ternyata putrinya sangat bahagia berada di keluarga Giondra yang tak lain adalah teman kuliahnya di jurusan kedokteran. Dia juga melihat betapa akurnya Gio dengan mantan suami sang istri. Dia juga tidak menyangka sekarang mereka besanan.
"Gua kira lu udah ke awang-awang." Kepada siapapun mulut Arya tidak bisa direm. Rion memukul bahu Arya dan hanya mendapat decakan kesal dari sahabatnya itu.
"Mulut lu masukin sekolahan tuh," omel Rion. "Biar bisa jaga perkataan," lanjutnya lagi.
"Kaga usah nyuruh gua!" Balik omel Arya. "Mulut lu lebih parah dari gua. Makanya nurun ke cucu bengal luh noh," tunjuknya kepada Gavin.
"Mas gulunya Wawa Alya," sahut bocah itu. Semua orang pun tertawa.
"Jangan ditiru dong Mas ajaran sesat dari Wawa," ujar sang engkong.
"Apa bedanya Wawa sama Engkong? Seling ajalin Mas yang aneh-aneh." Ketahuan kan kelakuan dua pria paruh baya yang tak pernah akur itu kepada Gavin Agha Wiguna. Mereka semakin terbahak. Sikap Jingga pun tak luput dari pandangan dokter Eki.
Dokter Eki melihat betapa tulusnya keluarga dari Askara kepada Jingga. Semua orang sangat perhatian kepada putrinya. Tawa yang tak pernah dokter Eki lihat kini terus terukir di wajah cantik Jingga. Aura kecantikannya semakin terpancar. Apalagi ketika para wanita tengah berbincang dan tertawa bersama. Jingga telihat sangat akrab dengan kedua kakak iparnya. Tak kalah cantik juga dengan mereka.
"Untung Jenny mendidik Jingga jadi orang benar." Ucapan ketus dari seseorang membuat dokter Eki menoleh. Siapa lagi jika bukan Arya yang berkata.
__ADS_1
"Lu gak pernah tahu sedalam apa luka dan rasa sakitnya. Akan tetapi, dia mampu menerima lu dan memaksa diri untuk memaafkan lu. Ingat, bukan karena dia sudah memaafkan lu sepenuhnya, tapi dia tidak ingin jadi anak yang durhaka."
Dokter Eki tersenyum perih mendengarnya. Apapun yang akan dikatakan oleh keluarga besar Askara harus dia terima. Dia tidak akan marah, semuanya memang murni kesalahannya. Masih untung sang menantu masih mau membiayai hidupnya. Juga membiayai rumah sakit yang tidak sedikit.
"Lihatlah anak lu!" Gio kini membuka suara. "Anak lu bahagia karena kami memperlakukannya layaknya manusia, bukan sapi perah." Mulut dokter Eki tidak bisa terbuka. Dia hanya mendengarkan setiap ucapan pedas dan ganas yang keluar dari mulut tiga orang tersebut.
Walaupun begitu mereka semua masih respect kepada dokter Eki. Mau menjenguknya ke Bandung. Padahal mereka semua bukanlah pengangguran. Melainkan orang yang sibuk sungguhan.
"Makasih udah mau jenguk Ayah." Senyum tulus Jingga berikan kepada semua orang yang berada di ruang perawatan ayahnya.
"Sama-sama, Sayang." Ayanda menjawab dengan begitu tulus.
"Ri sama Mommy mau di sini dulu. Mau liburan bersama Kak Echa."
"Kalau Daddy sama Aksa biar kembali nyari duit. Tugas Mommy dan Riana hanya menghabiskan duit." Gio dan Aksa kompak menggelengkan kepala mendengar istri dan ibunya.
"Jangan kayak gitu ya, Bun." Aska sudah memberi alarm kepada Jingga. "Hargai setiap tetes keringat Ayah, ya."
__ADS_1
Plak!
Rion menggeplak kepala belakang Aska. Dia menatap tajam ke arah anak bungsu dari Giondra tersebut.
"Rejekimu berada pada istrimu." Nasihat yang Rion berikan kepada Askara. "Semakin kamu memberi kepada istrimu, semakin mengalir rejekimu."
"Tuh dengar, Yah," kata Jingga kepada suami tercinta. "Apa yang Ayah bilang."
Dokter Eki terkejut mendengar Jingga memanggil Rion dengan sebutan Ayah. Kenapa sebutan itu terdengar sangat tulus ketimbang ketika putrinya memanggil dirinya. Ada rasa nyeri di dada. Apalagi Jingga yang terlihat sangat akrab dengan Rion Juanda.
"Pinter ngajarin orang mah, tapi sendirinya pelit bukan kepalang," cerocos Arya.
"Ck," decakan kesal keluar dari mulut Rion. "Gua pelit bukan sama istri. Gua 'kan duda." Sombongnya sambil menarik sedikit kerah kemeja yang dia gunakan.
"Bangga amat Kong jadi duda," sergah sang cucu. "Tluk aja gandengan masa Engkong sendilian."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Dua bab loh, masa gak komen.