Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
BEREBUT RUANG KERJA


__ADS_3

Namun Bu Alya malah berkata,


"Tapi kenapa hanya perasaan Lia yang harus di jaga, memangnya perasaan Mamah ini gak penting Pah" tanya Bu Alya kini dengan suara sedikit meninggi


"Mah.. kan Makmun sudah bilang orang hamil itu biasanya sensitif perasaannya, jadi Kita yang harus mengalah Mah, Mamah mengerti kan maksud Papah"


"Sudah ah.. Mamah mau tidur" bicara dengan suara ngambek.


Pagi hari yang sejuk agak mendung mengisi di atas langit Cirebon, Sam menuju ruang kerjanya, namun Dia bertemu Fahmi orang yang pernah Ia temui saat mabuk di depan kantor Dia sedang duduk di kursi kerja Sam.


"Maaf.. Anda siapa.. kenapa ada di ruangan Saya" lalu Fahmi melihat Sam Dia memandangi wajah Sam dari atas hingga ke bawah dengan serius


"Ini kan ruangan Aku, justru Saya yang harusnya bertanya Kamu itu siapa?" tanya Fahmi dengan nada yang sok menguasai.


Sam pun mengingat wajah Fahmi ini, rupanya Dia adalah Anak dari Pak Faris, dan Sam menjawab,


"Aku yang menempati ruangan ini sekarang, Kamu Anak Pak Faris kan..?" tanya Sam dengan sopan namun Fahmi menjawab dengan sombong Dia berkata,


"Itu Kamu tahu, jadi ruangan ini punya Saya"


Kini Sam tak tahan dengan sikap Fahmi yang arogan, lalu Sam mencoba untuk menelepon Pak Faris langsung agar Pak Faris klarifikasi soal ruangan ini, namun Fahmi malah mematikan telepon tersebut sambil berkata,


"Heh.. Lo mau apa.. ga usah telepon-telepon deh.. ruangan ini punya Gue, lebih baik sekarang Lo pulang" Sam kini di buat geram dengan tingkah Fahmi


"Maka dari itu kantor harus tahu, biar yang punya wewenang akan menjelaskan ruangan ini ruangan siapa" ucap Sam dengan tegas, namun Fahmi justru berkata,


"Lebih baik Lo keluar dari Kantor, berapa sih uang yang Lo butuhkan, 10 JT.. ini Gue kasih" Fahmi melempar uang di atas meja di hadapan Sam.


Sam merasa harga dirinya di injak-injak Sam tak terima lalu Sam mengambil uang itu dan kemudian Sam melemparkan uang tersebut keluar jendela tentu saja Fahmi marah.


"Heh.. sombong banget Lo ya, ga butuh uang, Gue akan laporkan ini semua ke Papah" kini Sam tersenyum karena itulah yang di harapkan Sam dari tadi


"Silahkan Kamu telepon Papah Kamu, Saya tunggu secepatnya" lalu Fahmi pun menelepon Pak Faris melalui telepon kantor, lalu Pak Faris menjawab,


Halo.. PT Jaya Abadi"


"Ini Aku Pah.. Fahmi, Pah.. di ruangan Aku ada orang yang sok nih.. Dia bilang ini ruangan Dia.. padahal kan ini ruang kerja Aku, Papah kesini deh.. " Fahmi menyuruh Pak Faris untuk datang ke ruang kerjanya

__ADS_1


"Fahmi ya ampun, tunggu Papah kesana sekarang"


Setelah itu telepon di putus, lalu Fahmi meminta Sam untuk mengambil uangnya yang baru saja Sam lempar lewat jendela, tentu saja Sam menolak.


"Aku.. ambil uang itu... Itu kan uang Kamu, Kamu ambilah sendiri, Saya pun gak butuh uang Kamu" ucap Sam dengan santainya hingga membuat Fahmi naik pitam.


Lalu Fahmi mendekati Sam secara perlahan dengan tatapan sinis dan mata yang terbelalak lebar, saat Fahmi ingin bicara Pak Faris datang dan langsung berkata,


"Fahmi... Kamu mau apa" Ucap Pak Faris dengan nada marah


Kemudian Fahmi tersenyum di pikirannya Papahnya pasti akan membelanya, namun ternyata Pak Faris berkata,


"Fahmi...ini ruangan Pak Sam, saat ini Kamu Papah pecat jadi Kami bukan Karyawan di kantor Papah lagi" ucap Pak Faris dengan tegas menjelaskan tentang siapa pemilik ruangan ini.


Fahmi terkejut sejak kapan Papahnya menerima karyawan baru


"Pah.. sejak Kapan papah terima karyawan baru, kenapa Aku gak di beritahu sebelumnya" ucap Fahmi dengan wajah yang bingung


Sam hanya melihat dan menyimak percakapan Mereka lalu Pak Faris menjawab pertanyaan dari Fahmi


"Bagaimana Papah mau kasih tahu Kamu, Kamu pulang saja Papah gak tahu, dan sekarang ada di kantor, Kamu ini mau apa Fahmi, dan sampai kapan Kamu seperti ini" Fahmi pun terdiam ketika Papahnya berucap seperti itu, lalu Pak Faris mengatakan,


"Pah.. tapi gak bisa gitu dong" namun Pak Faris tak mendengarkan ucapan Fahmi, dan Pak Faris berkata pada Sam


"Pak Sam, Saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini, silahkan Pak Sam lanjutkan pekerjaan Bapak, oh ya Pak Sam.. setelah ini ke ruangan Saya sebentar ya, ada pekerjaan penting yang harus Kita bicarakan" lalu Pak Faris pun keluar dan pergi tanpa bicara lagi dengan Fahmi.


Setalah ada klarifikasi dari Pak Faris Sam pun berkata kepada Fahmi


"Kamu sudah dengar sendiri kan kalau ruangan ini adalah ruangan Saya, jadi silahkan Anda keluar, karena Saya harus bekerja dengan tanpa ada yang menganggu"


Fahmi hanya terdiam memandang Sam dengan sinis, kemudian Dia mendorong kursi hingga kursi itu terlempar ke pojokan ruangan.


Sam hanya menghela nafasnya melihat kelakuan Fahmi seorang Anak pemilik perusahaan yang tak punya sopan santun, setelah itu Fahmi keluar.


"Kenapa Anak dari pemilik perusahaan selalu punya sifat arogan, Dia gak beda jauh dari sifat Tini, Sombong arogan" Sam pun menggelengkan kepalanya kemudian Ia mulai membuka laptop untuk melihat pekerjaan yang harus Ia kerjakan.


Lia dan Makmun pun bersiap berangkat kerja, namun Bu Alya masih diam tak ingin berbicara dengan Makmun ataupun Lia, Lia berpamitan ingin bersalaman dengan Bu Alya namun Bu Alya malah pergi melengos dari hadapan Lia, Lia pun merasa dirinya kini di musuhi oleh Ibu mertuanya.

__ADS_1


"Sudah Kita berangkat yuk" ajak Makmun untuk segera berangkat bekerja


"Mun.. lihat.. karena ucapan Kamu Mamah sekarang memusuhi Aku loh.." Lia pun pergi dengan wajah marah kepada suaminya.


Lalu Mereka masuk mobil, tapi wajah Lia di tekuk seperti tak mood lagi tinggal di rumah ini, dalam perjalanan Makmun berkata,


"Kamu jangan marah dong sama Aku Lia, Aku kemarin bicara seperti itu kan demi menjaga perasaan Kamu" makmun berharap agar Lia meredam amarahnya


"Menjaga.. itu yang Kamu sebut menjaga, Kamu gak lihat sikap Mamah sama Aku seperti apa" tanya Lia dengan suara marah-marah


"Nanti juga Mamah akan baik lagi kok, cuma butuh waktu sayang" Makmun berusaha menenangkan Lia


"Iya.. tapi sampai kapan Mamah akan seperti itu, sampai Aku lahiran atau selamanya, kalau begini caranya Aku bisa stres Mun"


Makmun pun tak dapat menjawab apa-apa lagi, Dia tak ingin berdebat lebih banyak lagi dengan Lia, lalu Makmun membelai rambut Lia sambil berkata,


"Aku akan selesaikan urusan Mamah nanti, maafkan Aku ya kalau Aku bertindak di luar dugaan, Aku juga gak tahu kalau akan seperti ini jadinya" Lia kini mulai turun emosinya namun Dia hanya diam selama di perjalanan.


Asri telah sampai di Retro Dia pun masuk ruangan dan ternyata Chandra sudah datang lebih dulu, Asri pun menyapa


"Chan.. sudah datang dari tadi" tanya Asri sambil tersenyum, Chandra sepertinya sedang sibuk mengetik pekerjaan.


"Ya.. 10 menit sebelum Kamu datang Aku sudah sampai" lalu Asri mulai membuka laptopnya kemudian Chandra mengatakan


"Asri.. Kita harus cepat selesaikan projek tender kemarin, Kita cuma punya waktu 4 hari lagi" Asri pun mengerti dengan ucapan Chandra lalu Asri berkata,


"launching produk hari Selasa ya" lalu Chandra berdiri dan menghampiri Asri


"Ya.. maka dari itu Aku bilang 4 hari lagi, ini Kamu kerjakan ya, oh ya Asri bagaimana sudah bisa leluasa kan menghubungi Sam" tanya Chandra dengan lembut lalu Asri tersenyum dan menjawab,


"Ya.. terimakasih ya Chan.. ini juga karena Kamu, yang sudah mau membantu Aku" lalu Asri menawarkan secangkir kopi untuk Chandra, tentu saja Chandra pun mengiakan untuk di buatkan kopi buatan Asri, lalu Asri pergi ke pantry untuk membuat dua cangkir kopi.


Setelah itu Sam menuju ruangan Pak faris sesuai permintaan Pak Faris tadi, sesampainya di ruangan Pak Faris, Sam berkata,


"Permisi Pak.. tadi bapak minta Saya suruh kesini, kira-kira ada perkejaan apa Pak..?" tanya Sam dengan suara sopan.


Lalu Pak Faris menjelaskan jika saat ini perusahaannya menjual produk minuman herbal, dan kemarin perusahaan ini sudah taken kontrak dengan toko organik di Jakarta, dan kini Sam di tugaskan untuk kesana mewakili perusahaan untuk membicarakan produksi pembuatannya.

__ADS_1


"Jadi Saya hari ini ke Jakarta Pak..?" tanya Sam sekali lagi supaya tak salah komunikasi


"Ya.. ini tugas Kamu.. nanti Kamu bicarakan kita butuh 300 pcs barangnya, untuk sampel terlebih dahulu, nanti setelah itu Kamu pikirkan strategi pemasarannya, lalu Kita launching setelah itu Kita lihat profit dari produk yang Kita jual, Kamu silahkan ambil beberapa orang untuk di jadikan team marketing, baik.. sudah cukup penjelasan Saya" Sam menundukkan kepalanya tanda arti Dia mengerti dan siap melaksanakan tugas tersebut, dan Sam pun bersiap untuk berangkat ke Jakarta untuk membahas proyeknya.


__ADS_2