
Ada empat pasangan yang berada di sebuah meja restoran. Ada Aksa, Aska, Fahrani, juga Christina beserta pasangan mereka masing-masing. Ada kelegaan di hati Jingga karena dua wanita yang dulunya mencintai Aska sudah berpasangan.
"Kamu gak perlu takut, Jingga," ujar Christina.
"Aku juga Tina sudah memiliki pria yang lebih baik dari playboy cap kadal peliharaanmu," tambah Fahrani.
"Serah lu pada lah. Gua mah lapar," sahut Aska acuh.
Mereka semua pun tertawa termasuk Jingga. Dia juga melihat pasangan Christina dan Fahrani bukanlah orang sembarangan dan mereka pantas mendapatkan pria yang lebih baik dari Aska.
Mereka banyak bercerita perihal hal pribadi. Jingga pun nampak akrab dengan Christina juga Fahrani. Sedangkan Aska dan juga Aksa nampak berbincang serius dengan suami Christina dan calon suami Fahrani.
Keakraban itu harus terhenti ketika ponsel Aksara berdering. Dia melihat nama sang kakak yang memanggilnya.
"Bang, Papih Addhitama meninggal."
Tubuh Aksa menegang dan mulutnya terasa kelu. Semua mata tertuju pada Aksara yang terdiam dengan mimik wajah tak bisa terduga.
Ponsel Aska berdering, kedua alisnya menukik tajam ketika nama yang tertera di ponselnya adalah nama Aleesa.
"Kenapa Kakak Sa?"
"Opa meninggal."
Aska benar-benar terkejut. Dia teringat akan percakapannya dengan sang keponakan ketika acara pengajian di rumah Aksara.
"Om, sudah tiga malam ini Oma selalu datang. Oma selalu mengatakan Oma akan pergi dan sudah bahagia. Padahal Oma memang sudah bahagia di surga sana."
"Oma juga berpesan buat jagain, Baba, Om Ipang, sama Uncle Papih. Katanya, hanya mereka bertiga yang mampu menguatkan satu sama lain. Itu maksudnya apa ya, Om?"
Kini, pertanyaan yang ada dibenak Aleesa terjawab sudah. Ucapan dari seorang Addhitama memang benar adanya. Tepat satu bulan kepergian sang kakek, Addhitama kini menyusul sahabat tercinta. Sahabat sehidup dan sematinya.
Mereka semua pun segera menuju kediaman Addhitama. Sebelumnya mereka berganti pakaian dahulu ke rumah besar milik Gio. Ternyata di sana sudah ada Rion dan Arya juga Iyan yang sudah menunggu mereka.
__ADS_1
Kediaman Addhitama sudah dipenuhi banyak pelayat. Walaupun jenazahnya belum tiba di rumah duka, tetapi banyak orang yang memberikan penghormatan terakhir untuknya.
"Kak," panggil Riana kepada Echa yang sedang menenangkan putri pertamanya.
Aleena adalah cucu yang paling dekat dengan Addhitama. Dia yang sangat merasa kehilangan akan sosok kakek tercinta.
"Kepergian Papih secara mendadak," ujar Echa dengan raut yang penuh kesedihan. Rion sudah merangkul pundak Echa, dia sangat tahu putrinya ini sangat merasa kehilangan. Rion akui Addhitama adalah seorang mertua yang sangat luar biasa baiknya. Putrinya selalu diperlakukan sangat baik oleh Addhitama. Ketiga cucunya pun sangat dekat dengan sang almarhum.
"Kami diberitahu ketika jam sepuluh dan kondisi Papih sudah kritis." Echa tidak bisa membendung air matanya. Di matanya Addhitma adalah mertua yang sangat baik. Beliau selalu menganggap para menantunya seperti anaknya sendiri.
"Yang sabar ya, Kak," ucap Aska. Riana sudah memleku tubuh Echa dari arah samping kiri. Jingga sudah menunjukkan wajah sedihnya.
Aksa sudah memeluk tubuh Aleena yang menangis tiada henti. "Kenapa Opa harus pergi? Kenapa Uncle?"
Aksa dapat merasakan kesedihan yang Aleena rasakan. Sama seperti dirinya ketika ditinggal oleh sang kakek tercinta. Sulit untuk menerima kenyataan yang ada. Apalagi usia si triplets masih sangat kecil.
Aska sudah mencari Aleesa, dia sangat yakin anak itu pasti ada di sudut ruangan yang sepi. Benar sekali, Aleesa sedang duduk di pojokan. Dia tengah menelungkupkan wajahnya di atas lutut. Menyesali kemampuannya. Setiap kali dia melihat kematian seseorang dia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.
Suara sang om membuat Aleesa mendongak dan dia semakin menangis keras. Aska memeluk tubuh Aleesa. Ini bukan kali pertama Aleesa seperti ini. Ketika Kakek Genta tiada pun, dia benar-benar menyalahkan dirinya sendiri.
"Kenapa ini selalu terjadi pada Kakak Sa, Om?"
Suara Aleesa sudah serak. Aska membawa Aleesa ke tempat di mana keluarganya berkumpul. Aleena berada di dalam dekapan Aksara. Aleeya berada dipelukan Rion Juanda. Mereka bertiga meraskan kehilangan yang sangat mendalam. Nesha, dia tengah menenangkan sang putra. Sedangkan Elyna tengah menunduk dalam. Seperti banyak beban yang tengah dia pikirkan.
Selang setengah jam, jenazah tiba di rumah duka. Tangis pun pecah. Keempat cucu Addhitama sudah memeluk tubuh Addhitama yang sudah terbujur kaku.
"Bangun, Opa. Bangun!"
Seruan dan tangisan keluar dari mulut cucu-cucu Addhitama. Itu menandakan bahwa betapa mereka menyayangi sang kakek.
Bukan hanya keempat cucunya yang menangisi kepergian Adhitama. Rifal pun terlihat sangat terpukul akan kepergian sang ayah tercinta. Sedari tadi dia tidak bisa membendung laju air matanya. Mulutnya pun sulit untuk berkata apapun. Sedangkan Radit, dia sudah memeluk erat tubuh Echa. Begitu juga dengan Rindra yang sudah berada dipelukan Nesha. Namun, Elyna hanya bisa memandangi Rifal tanpa berani mendekat ke arah suaminya.
"Mas Tama!"
__ADS_1
Suara seorang pria menggema dan sontak para pelayat menoleh. Satria sudah bermandikan air mata dan berhambur memeluk tubuh Addhitama yang sudah tak bernyawa.
"Kenapa Mas yang lebih dulu tinggalin aku? Kenapa, Mas?"
Kepergian Secara mendadak tanpa sakit dan tanpa gejala apapun lebih menyakitkan dari pada ditinggal ketika sudah berusaha sekuat tenaga mengurusnya ketika berjuang melawan sakit. Ini seperti mimpi buruk di siang bolong. Hati mereka seperti dihantam bebatuan besar. Tidak ada air mata yang tidak menetes di sana. Pria senja yang tadi pagi masih sempat berjemur kini sudah tiada. Tidak ada pesan, tidak ada satu katapun yang Addhitama ucapkan. Saksi dari ketidaksadaran Addhitama adalah Elyna. Dia yang menemukan ayah mertuanya sudah pingsan di ruang keluarga. Dia juga yang sudah membawa Addhitama ke rumah sakit.
Air mata ketiga anak Addhitama tumpah ketika sang om datang. Sekuat tenaga menahannya, ternyata mereka tak mampu membendungnya. Ini adalah pukulan terberat untuk Radit. Sedari kecil hanya mendapatkan kasih sayang dari sang ayah, kini ayahnya sudah meninggalkan dia dan bertemu dengan sang mamih tercinta. Jangan ditanya betapa sakitnya hati Raditya Addhitama sekarang ini.
Ucapan bela sungkawa banyak berdatangan dari para kolega almarhum. Gio dan Ayanda pun segera terbang ke Jakarta ketika mendengar kabar duka tersebut.
Ayanda sudah memeluk tubuh Echa. Dia tahu putrinya pasti sangat sedih. Dia juga memeluk tubuh Nesha, menantu Addhitama yang sudah dia anggap seperti putrinya.
"Yang sabar ya," ucap Gio ketkka memeluk tubuh Rindra.
"Iya, Om." Suara Rindra masih bergetar.
Kini, Gio memeluk tubuh sang menantu. Usapan hangat telapak tangan Gio di punggung Radit membuat air mata Radit terjatuh untuk kesekian kalinya.
"Papihmu sudah bertemu dengan mamihmu sekarang. Beliau juga sudah bertemu dengan sahabatnya." Gio masih belum sanggup menyebut nama ayahnya. Dia pun masih tenggelam dalam duka yang mendalam.
"Kak Rifal, Key turut berduka cita."
Rifal yang sedari tadi menunduk dalam segera menoleh. Seorang wanita memakai pakaian serba hitam juga kerudung hitam sudah berdiri di belakangnya. Perempuan itu datang tak sendiri, melainkan dengan keluarganya. Kano tengah memeluk tubuh Radit dan Sheza tengah memeluk tubuh Echa.
Cukup lama dua insan itu saling tatap tanpa bersuara hingga pada akhirnya Rifal berhambur memeluk tubuh Keysha. Menumpahkan segala kesedihannya di dalam pelukan wanita yang sama sekali belum hilang dari ingatannya.
Ada tubuh yang menegang di sana, melihat secara langsung pria yang baru sebulan ini menjadi suaminya. Suami yang selalu dia layani dengan baik, tetapi tidak pernah sama sekali pria itu melihatnya.
"Lihatlah aku, Suamiku!"
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1