Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
221. Tidak Ingin Pergi


__ADS_3

Di kantor, ponsel Askara terus berdering membuat sang pemilik ponsel mensenyapkan ponselnya. Dia sedang ada rapat penting dengan sang ayah, kembaran juga petinggi perusahaan yang lain. Mata Aksara memicing tajam ke arah Aska yang menurutnya melanggar etika rapat karena deringan ponselnya mampu dia dengar.


Tak berselang lama kini malah ponsel Aksa yang bergetar. Aksara selalu menonsuarakan ponselnya ketika rapat. Itu tidak bisa dia langgar dan sudah menjadi kebiasaan. Ketika dia lihat siapa nama pemanggil, segera dia tolak. Namun, si pemganggil tak pantang nyerah. Dia terus menghubungi Aksara walaupun tidak pernah Aksa jawab.


Sekarang malah ponsel Gio yang bergetar. Dahinya mengkerut ketika melihat siapa yang memanggilnya. Lagi-lagi si pemanggil itu dia abaikan. Gio sudah tahu apa tujuannya menghubunginya.


Orang yang berada di seberang sambungan telepon itu terus bersungut-sungut. Dia tidak habis pikir dengan keluarga kaya raya itu.


"Mereka sedang melakukan rapat penting." Suara seseorang yang baru saja datang dengan membawa segelas kopi merk ternama.


"Bagaimana ini, Pak?" Wajah pria itu terlihat panik. Si pria yang baru saja datang hanya terdiam sambil menyesap kopi.


"Semakin hari kondisinya semakin melemah. Dokter menyarankan agar peralatannya dilepas karena sudah melebihi batas yang ditentukan oleh dokter," paparnya.


"Selagi yang bertanggung jawab masih sanggup membiayai, kenapa harus mengikuti perintah dokter?" sanggah si pria yang tengah menyesap kopi. "Ingat, dokter itu dibayar oleh keluarga pasien."


Sungguh memang keluarga bermulut pedas. Dia kira pria ini waras, ternyata sama saja seperti keluarganya yang lain.


"Dokter Radit!"


Pria yang tengah menggenggam segelas kopi itupun menoleh. Ada sambutan hangat dari senyum seorang pria yang sudah memakai jas putih.

__ADS_1


"Mari kita periksa pasiennya." Kopi yang Radit pegang pun dia berikan kepada pria yang sedari tadi menghubungi keluarga Giondra. Pria itupun menganga.


"Bisa ya manusia seperti itu jadi dokter."


.


Banyak hal yang Jingga dapatkan dari obrolan santai dengan sang kakak ipar. Apalagi mengenai sang ayah yang membuat hatinya terketuk dan juga tersentil. Ternyata kisah pilu seperti dirinya bukan hanya dia yang merasakan. Kakak iparnya pun pernah merasakannya malah lebih sakit dari dirinya.


Mereka melanjutkan acara kulineran mereka. Banyak foto yang mereka ambil berdua sebagai kenang-kenangan nantinya. Apalagi Echa dengan lembutnya mengusap perutnya yang membukit membuat Jingga merasakan kenyamanan juga ketenangan.


"Cepat keluar dari dalam perut ya, Nak. Bubu akan menculik salah satu dari kalian." Jingga malah tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh kakak iparnya ini.


Dia juga baru tahu kenapa sang kakak hanya memiliki tiga orang anak. Ternyata ada musibah yang menimpanya. Dia juga baru tahu jika Aleesa pernah dinyatakan meninggal oleh dokter dan membuat semua orang terkejut. Namun, sebuah keajaiban muncul dan membuat anak itu tumbuh menjadi anak remaja yang cantik dan memiliki kelebihan.


"Iya, Ba."


Jingga terdiam sejenak ketika Echa menjawab telepon tersebut. Dia tahu itu adalah panggilan dari suami kakaknya. Echa tidak banyak bicara, dia hanya tengah mendengarkan perkataan dari balik sambungan telepon.


"Sekarang?"


Mendengar kata yang keluar dari mulut Echa tersebut membuat Jingga terkejut. Baru juga mereka sampai di tempat ini malah harus pergi. Dugaan sementara Jingga, yakni seperti itu. Padahal dia masih ingin berada di tempat ini. Masih ingin mendengarkan cerita dari sang kakak ipar yang menginspirasi. Perlahan belajar menjadi manusia yang ikhlas.

__ADS_1


Ada rasa kecewa yang bersarang di hati Jingga jika dia harus pergi dari tempat ini. Namun, dia juga harus mengikuti apa yang dikatakan oleh Echa. Dia tidak boleh egois. Kl


Masih bergelut dengan pikirannya, Echa memanggil Jingga dan mengajak Jingga untuk pergi. Ada helaan napas berat yang keluar dari mulut Jingga. Akan tetapi, tidak terlalu keras. Dia tidak ingin kakaknya merasa tersinggung.


Jingga terus mengikuti ke mana Echa pergi. Mereka pun pergi menggunakan mobil pribadi yang memang sudah ada di Bandung. Kedua alis Jingga menukik tajam ketika mobil berhenti di salah satu restoran khas Sunda.


"Babanya anak-anak minta dibawain makan siang." Padahal sekarang sudah jam dua siang. Jingga hanya mengangguk saja. Dia tidak ingin banyak berdebat. Ada helaan napas lega. Dia pikir ada sesuatu yang genting karena sedari tadi wajah Echa nampak serius. Ternyata hanya perihal makan siang.


Echa membelinya tidak hanya satu porsi. Melainkan lebih dari sepuluh porsi. Itu cukup membuat Jingga terkejut.


"Banyak sekali," ucap Jingga heran.


"Ini buat teman-teman Kak Radit di sana."


Sungguh kebaikan Echa tidak ada duanya. Itulah yang menyebabkan kenapa Aksa dan Aska memasang tipe wanita seperti kakak mereka. Ada kelebihan yang Echa miliki. Ada kebaikan hati yang tersembunyi yang hanya sebagian orang tahu.


Mobil pun melaju menuju rumah sakit di mana Radit harus memeriksa pasien dalam keadaan urgent. Jingga pun turut serta turun dari mobil mengikuti langkah kaki kakak iparnya. Terlihat Echa sudah hafal tata letak rumah sakit ini. Jingga sudah diwanti-wanti untuk tidak jauh-jauh dari kakak iparnya. Suaminya sangat bawel akan hal ini.


Langkah kaki Jingga terhenti ketika dia melihat ada dua orang yang dia kenali di sana. Salah satunya adalah sekretaris suaminya.


"Ada apa ini?"

__ADS_1


...****************...


Boleh minta komennya gak? Makin sedikit aja sih komennya. Pan sedih ..


__ADS_2