Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
270. Empat Tahun


__ADS_3

"Empat tahun." Jingga dan Aska syok mendengarnya. "Wiguna Grup Singapore membutuhkan kamu."


Mereka berdua terdiam sejenak. Aska dan Jingga saling tatap. Masih terlihat wajah bingung dari dua manusia itu.


"Biarkan istri dan anak-anak kamu tinggal di Indonesia. Setiap dua Minggu atau sebulan sekali kamu pulang ke sini." Sang mommy memberi saran. Ayanda kasihan kepada Jingga jika harus mengurus empat cucunya yang sangat aktif seorang diri.


"Enggak, Mom," jawab Jingga. "Bang As tugas ke sana, aku dan anak-anak juga harus ikut ke sana."


Aska menatap ke arah Jingga yang nampak serius dengan ucapannya. Dia juga melihat sorot mata Jingga yang tidak ingin ditinggalkan olehnya.


"Tapi, Nak--"


"Mom, Bunda aku pernah bilang. Ketika aku menikah nanti ... Ke manapun suamiku pergi aku harus ikut. Suamiku adalah imamku. Dia nahkoda dalam rumah tangga." Jingga menjelaskan dengan begitu tegas. Terlihat jelas dia tidak mau dipisahkan dengan Askara.


"Bagaimana dengan anak-anak? Pasti kamu akan repot. Di sana Askara pasti akan sangat sibuk." Ayanda tahu bagaimana Wiguna Grup Singapore. Dulu saja setelah menikah dia harus menetap di sana dan meninggalkan Echa bersama ayahnya. Kesibukan suaminya membuatnya tak bisa ke mana-mana.


"Insha Allah aku bisa menjaganya, Mom. Ibu zaman dahulu saja bisa mengurus dua belas anaknya sekaligus. Masa ini zaman sekarang tidak bisa," canda Jingga.


Aska tersenyum dan merangkul mesra pundak sang istri. Hatinya sangat berat meninggalkan negara ini. Dia sudah merasa nyaman berada di lingkungan keluarga yang sangat baik dan juga hangat. Namun, dia juga teringat akan pesan dari mendiang sang kakek. Wiguna Grup Singapore membutuhkannya suatu saat nanti. Dia yang akan menjadi penerus di sana. Inilah saatnya untuk Aska memenuhi keinginan sang kakek.


"Ini gak bisa ditawar ya, Dek. Gak bisa juga diwakilkan." Aska mengangguk ketika sang ayah berbicara lagi.


Perkataan kedua orang tua Aska membuat Jingga maupun Aska tidak dapat tidur. Sejujurnya mereka sangat berat untuk menetap sementara di negeri Singa. Di kepala Jingga hanya anak-anaknya yang menjadi beban pikiran. Bagaimana mereka? Apakah akan mudah beradaptasi?


"Bunda beneran gak keberatan? Biar Ayah aja yang di sana. Dalam sebulan sekali atau dua minggu sekali Ayah yang akan datang ke sini ataupun Bunda yang terbang ke sana." Jingga tersadar dari lamunannya. Dia menggeleng dan merangkul lengan suaminya.


"Enggak, Bunda dan anak-anak pasti ikut ke mana Ayah pergi." Aska mengusap lembut rambut Jingga. Dari suaranya saja terdengar sangat berat.


Aska menangkup pajah istrinya. Kini, mereka berdua saling pandang dengan mata yang saling bertemu.

__ADS_1


"Bunda, kalau Bunda merasa keberatan pun Ayah gak masalah. Gak apa-apa kita LDR-an sebentar."


"Empat tahun, Yah. Itu bukan waktu yang sebentar." Jingga menyahuti ucapan Aska.


"Ayah di sana sendiri. Gak ada yang ngurus. Anak-anak juga jauh dari ayahnya. Bunda gak bisa peluk Ayah kalau lagi lelah. Bunda gak bisa ngomel kalau Bunda lagi kesal sama anak-anak." Aska pun tergelak. Di saat seperti ini istrinya masih saja melawak.


"Ayah pergi, Bunda dan anak-anak juga ikut Ayah pergi." Aska mengangguk. Dia mengecup kening Jingga dengan begitu dalam.


"Makasih, ya. Sudah menjadi istri yang selalu sabar juga pengertian. Selalu menerima kekurangan Ayah dan juga selalu mencoba membuat Ayah bahagia. Makasih, Bunda Sayang."


Keesokan paginya, Jingga yang sudah terbangun langsung pergi ke kamar anak-anaknya. Dia tersenyum perih karena akan meninggalkan rumah ini. Dia juga menatap keempat anaknya yang tengah tertidur dengan begitu damainya.


"Anak-anak, kita ikut Ayah, ya. Kita gak boleh tinggalin Ayah. Harus menjadi support team untuk Ayah."


Aska yang hendak masuk ke dalam kamar si triplets pun menghentikan langkahnya. Betapa terharu Aska mendengar penuturan dari Jingga yang teramat tulus.


"Empat tahun, Nak. Hanya empat tahun. Nanti kita kembali lagi ke sini. Berkumpul dengan semuanya di rumah ini." Mencoba ceria padahal hatinya teramat berat. Namun, Jingga haris bisa. Dia harus menjadi istri yang baik dan Solehah untuk suaminya.


"Kalian tidak usah repot bawa barang dari sini. Cukup bawa kebutuhan utama kalian saja beserta anak-anak. Mommy sudah menyiapkan semuanya di sana." Kalimat panjang lebar yang dikatakan oleh ibu mertuanya membuat Jingga tersenyum bahagia. Betapa baiknya Ayanda Rashani ini. Selalu saja mengutamakan anak-anaknya.


"Daddy juga akan mengambil baby sitter untuk mengasuh si quartet."


"Tidak perlu, Dad. Tidak perlu." Jingga menolak dengan begitu keras. "Aku dan Bang As bisa urus anak-anak." Jingga menatap ke arah suaminya. Meminta bantuan kepada Aska supaya ayahnya itu membatalkan pencarian baby sitter untuk anak-anaknya.


"Gak usah, Dad. Kami tidak ingin melewatkan tumbuh kembang anak-anak kami jika diasuh oleh orang lain." Aska pun membuka suara.


"Di sana itu beda gak kayak di sini, Dek." Ayahnya tetap bersikukuh.


"Ijinkan kami mengurus anak-anak kami sendiri, Dad. Kami yakin kami mampu. Jika pun nanti kami kewalahan, kami akan segera meminta bantuan Daddy." Aska berbicara dengan begitu santai. Kini, Gio lah yang harus mengalah. Dia mengangguk pelan.

__ADS_1


.


Di kantor, Aksara sudah membuka pintu ruangan Aska dengan cukup kasar. Adiknya yang tengah fokus pada layar laptop pun menoleh.


"Kenapa lu?" Aska bertanya dengan mata yang masih fokus pada layar segi empat.


"Lu beneran mau pindah?" Wajah Aksara tidak seperti biasanya.


"Gua dapat tugas yang gak bisa dibantah." Aska malah bercanda, tapi Aksa sudah memasang wajah sendu.


"Berapa tahun?"


"Empat." Aksara pun menghela napas berat. Ternyata waktu yang diminta sang Daddy pun sangatlah lama.


"Tadi gua udah nego ke Daddy," tutur Aksa. "Tapi, gak bisa," keluhnya. Aska pun tertawa mendengarnya. Dia akui jika kakaknya ini sangatlah respect kepadanya. Namun, Aksa melupakan satu hal jikalau semua kelutusan yang keluar dari mulut Daddy tidak bisa diganggu gugat.


Aska kini menatap ke arah sang abang. Jika, melihat abangnya seperti ini hatinya sangat mencelos. Jujur, dulu ketika Aksa pergi menimba ilmu ke LN dia sangat sedih. Namun, Kesedihannya dia pendam sendirian. Dari kecil selalu bersama malah harus dipisahkan satu sama lain. Tidak dipungkiri pasti akan ada kesedihan yang teramat mendalam. Apalagi Ikatan batin anak kembar itu sangatlah kuat.


"Makasih, Bang. Selalu peduli sama gua. Selalu ada untuk gua walaupun gua sering nyusahin lu." Masih ada senyum yang mengembang di wajah Aska. Beda halnya dengan Aksa yang tak berekspresi sama sekali.


"Gua janji gua akan besarin Wiguna Grup Singapore. Gua akan buat Kakek, Daddy dan lu bangga. Gua janji gua gak akan membuat lu kecewa."


Seperti inilah anak kembar laki-laki. Saling menjauh bukan berarti acuh. Mereka jarang bebicara, tapi banyak melakukan tindakan. Sama seperti Aksa yang akan cuek kepada adiknya. Padahal, dia terus memperhatikan. Namun, tanpa memperlihatkan.


"Boleh gua minta tolong?" Aksa pun mengangguk.


"Rahasiakan ini dulu dari Empin."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2