
Sebelum Aska menuju kamar, Ayanda menarik tangan putranya. Aska menoleh ke arah sang ibu dengan senyuman hangat.
"Dek, tolong periksa kandungan Jingga besok. Mommy tidak ingin terjadi apa-apa dengan cucu-cucu Mommy juga Jingga."
Kalimat yang sangat lembut yang dapat Aska dengar. Terlihat siluet kekhawtiran di wajah sang ibu tercinta. Kepala pria itupun mengangguk dan dia pun memeluk tubuh ibunya.
"Makasih sudah menjaga istri Adek." Aska akan selalu mengucapkan terima kasih kepada sang ibu tercinta. Berkat ibunya Jingga kini mulai bisa tersenyum. Apalagi sang ibu selalu menganggap Jingga seperti anaknya sendiri.
"Ada acara apaan ini?" sergah Aksa yang baru keluar dari ruangan sang ayah.
Aska pun melonggarkan pelukannya. Sang ibu kini memandang wajah sang putra pertama. "Apa kamu tidak ingin memeluk Mommy?" Mata Ayanda berkaca-kaca mengatakan itu semua. Bagaimana tidak, dia sudah jarang bertemu dengan putra pertamanya tersebut karena selalu sibuk dengan urusannya.
Aksa memeluk tubuh ibunya dengan begitu erat. Tak ada yang mampu Aksa ucapkan. Dia hanya memejamkan matanya untuk sesaat. Pelukan hangat ibunya masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah sama sekali. Inilah bedanya Aksa dan juga Aska. Aksa adalah anak yang jarang sekali mengucapkan apapun kepada sang ibu, tetapi melalui tindakan juga kejutan sering Aksa berikan. Beda halnya dengan Aska yang memang sering mengucapkan kata sayang juga rasa terimakasihnya kepada ibunda tercintanya.
Dari arah belakang, Gio merasa sangat bahagia karena kedua putranya masih sama seperti dulu. Sesibuk apapun mereka, rumah besar ini adalah tempat untuk mereka pulang dan mengadu.
.
Keesokan paginya, Jingga sudah membuka mata dan dia masih melihat sang suami terpejam. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam. Tidak biasanya suaminya seperti ini.
"Bang, udah jam enam." Hanya deheman yang Aska berikan dan dia semakin menarik selimut untuk menutup tubuhnya.
Jingga memilih untuk ke kamar mandi. Lebih baik dia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Suaminya pasti kelelahan. Jongga pun masuk ke dalam bath up yang sudah dia isi dengan air hangat. Dia ingin menenangkan hatinya, Bagaimanapun kejadian kemarin siang masih menempel di kepalanya. Ingin dia membenci ayahnya, tetapi itu tidak bisa.
Aska sudah duduk di atas tempat tidur dengan bersandar di kepala ranjang, Nyawanya belum terkumpul seratus persen. Tiba-tiba dia ingin memakan roti bakar ovaltine buatan sang kakak. Diraih ponsel yang ada di atas nakas. Menghubungi sang kakak dan langsung mengungkapkan apa yang dia inginkan. Sudah lama juga dia tidak bertemu dengan Echa.
"Ya udah kamu ke sini aja." Begitulah pesan dari sang kakak perempuan Aska. Bibir Aska pun melengkung dengan sempurna.
Aska menoleh ketika pintu kamar mandi terbuka. Dia tersenyum ke arah sang istri yang sudah wangi dan segar.
"Kirain belum bangun," ujar Jingga. Aska hanya tersenyum. Dia menyuruh istrinya untuk duduk di sampingnya. Jingga pun menurutinya saja.
__ADS_1
"Kita sarapan di rumah Kak Echa." Jingga mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan dari suaminya. Apalagi melihat wajah Aska yang terlihat sangat bahagia.
Belum juga Jingga menjawab, Aska sudah mencium kening sang istri. "Aku mandi dulu." Jingga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang suami.
Kedua orang tua Aska menatap aneh ke arah putra bungsu mereka. Wajahnya nampak tidak seperti biasanya.
"Mau ke mana?" tanya Ayanda karena Aska malah melewati ruang makan.
"Bang As pengen sarapan di rumah Kak Echa katanya,"
"Mommy ikut."
"Daddy juga."
Jingga tertawa melihat kedua mertuanya yang seperti sang suami. Terlihat antusias ketika dia menyebut nama kakak iparnya. Jingga juga mengerti karena sang kakak sudah hampir dua Minggu ini tidak pernah mengunjungi rumah besar itu.
Aska melihat ada mobil Arya di rumah sang kakak. Sudah pasti rumah itu akan ramai. Kehadiran mereka berempat malah menjadi keanehan untuk Arya juga Rion yang tengah menikmati kopi panas di ruang tamu.
"Numpang sarapan."
Jawaban Gio mendapat gelengan kepala dari besannya, yakni Rion.
"Gak punya beras lu," ejek Rion.
Giondra tidak menggubris ucapan dari Rion. Dia memilih segera masuk ke ruang makan. DI sana sudah ada si triplets juga kedua orang tuanya dan juga Iyan.
"Aki," panggil si triplets. Ketiga cucu Gio itu sangat berantusias ketika melihat kakek mereka datang. Apalagi diikuti oleh sang nenek dari belakang.
Baru saja mereka hendak maju ke depan. Kehadiran Jingga membuat mereka mundur beberapa langkah. Ketiga anak itu saling pandang dengan rasa heran.
"Mau ngapain Kak Jing-jing ke sini?" tanya Aleeya.
__ADS_1
"Kakak Sa sering bertemu hantu, tapi tidak pernah semerinding begini."
Aleena malah tertawa mendengar ucapan dari Aleesa. Sejujurnya dia juga merasa aneh, tidak biasanya sang paman dan juga Tante datang ke rumahnya.
"Ada Mamah dan Papa juga," ucap Echa yang baru membawa dua piring roti bakar kesukaan ketiga putrinya.
"Adek mau sarapan di sini. Jadi, kami ikut."
Echa tertawa mendengar ucapan dari ibunya. Setelah meletakkan piring di atas meja makan, dan ketiga anaknya mengambil bagian mereka masing-masing. Echa memeluk tubuh ibunya. Ada kerinduan yang mendalam dari seorang anak untuk sang ibu.
"Maaf ya, Mah. Echa sibuk banget akhir-akhir ini. Echa belum sempat ke rumah Mamah."
Echa yang berkata seperti itu hati Jingga yang mencelos. Jingga melihat betapa tulusnya kasih sayang kakak iparnya kepada sang ibu. Apalagi ibu mertuanya yang memiliki hati sangat lapang. Selalu mengerti kondisi anak-anaknya.
"Gak apa-apa, Kak, Mamah ngerti."
Lengkungan senyum terukir di wajah Echa. Tangannya semakin erat memeluk tubuh sang ibu. Tempat ternyaman untuk bersandar, yakni bahu sang ibu.
Suami dari kakak iparnya Jingga pun bersikap sangat sopan kepada Giondra. Terdengar kata maaf yang terlontar dari bibirnya. Sungguh sepasang suami-istri yang luar biasa di mata Jingga.
"Kalian harus jaga kesehatan ya. Mamah akan selalu mendoakan kalian."
Kalimat tulus yang keluar dari mulut seorang Ayanda dan mampu membuat dua anak manusia itu memeluk hangat tubuh senja Ayanda. Sedari dulu sikap Ayanda tidak berubah. Selalu hangat kepada anak-anak dan juga para menantunya.
Aska tersenyum melihat mata Jingga yang berkaca-kaca. Pandangan Jingga masih tertuju pada sang mertua juga kakak iparnya. Aska meraih tangan Jingga dan mengusap lembut punggung tangan istrinya tersebut. Itu mampu membuat Jingga menoleh ke arah sang suami.
"Doa Mommy itu sangat mujarab," tutur Aska begitu pelan dan lembut. "Nanti, sebelum tindakan operasi Caesar dilaksanakan aku ingin meminta doa kepada Mommy, juga mencuci kakinya sebagai permintaan maaf kepadanya. Juga memohon doa supaya proses kelahiran anak-anak kita berjalan dengan lancar." Jingga terdiam sejenak mendengar ucapan dari suaminya ini.
"Apa aku juga boleh ikut mencuci kaki Mommy?" tanyanya. "Aku sudah menganggap Mommy seperti Bunda."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...