Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
231. Dendam Kesumat


__ADS_3

Deg.


Hati Jingga berdegup dengan cepat ketika mendengar penuturan salah seorang dokter. Bukannya dia iri karena ayahnya memanggil nama sang kakak. Akan tetapi, ada sebuah makna yang terselip di sana.


"Ayah." Begitu lirih batinnya berkata.


Hatinya sudah tak karuhan. Pikiran jelek kini berputar di kepalanya. Akankah Tuhan mendengar doanya? Pernah dia meminta kepada Tuhan untuk menghilangkan ayahnya dari muka bumi ini. Namun, kali ini dia sedikit menyesal dengan apa yang dia panjatkan kepada Tuhan pada waktu itu. Sejujurnya, dia masih ingin bersama ayahnya. Merasakan kasih sayang yang tulus walaupun hanya sekejap saja.


.


Giondra dan Aksara masih memperhatikan tubuh tak berdaya dokter Eki di atas ranjang pesakitan. Tidak ada suara yang keluar dari mereka berdua ketika dokter menjelaskan bagaimana kondisi dokter Eki yang sesungguhnya. Tatapan iba pun mereka tunjukkan.


"Saya sih inginnya anak kedua Beliau berada di samping Beliau barang satu sampai dua jam saja."


Gio dan Aksa menoleh secara bersamaan ke arah dokter yang tengah bersama mereka.


"Sudah beberapa kali kami mendengar Beliau menyebut nama Jingga." Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Giondra. Dia juga melihat betapa malangnya besannya ini. Namun, ini semua karena ulahnya juga. Apa yang dia tanam, itulah yang akan dia tuai.


"Kita tidak bisa memaksanya," balas Aksa dengan begitu tegas juga penuh penekanan. Walaupun dia jarang berinteraksi dengan Jingga, tapi dia tahu betul bagaimana perasaan Jingga. Jika, dia jadi Jingga sudah pasti dia tidak akan pernah mau memaafkan pria yang katanya adalah seorang ayah kandung. Mana ada ayah kandung kelakuannya seperti binatang.


"Ya, saya tahu itu." Dokter itupun menjawabnya. Mereka bertiga masih menatap ke arah dokter Eki yang tengah ditopang oleh berbagai macam alat medis. Lama mereka terdiam, suara lemah dan menyayat hati terdengar.


"J-jing-ga."


Dokter yang berada di sana segera mendekat dan memeriksa kondisi dokter Eki. Gio dan Aksa hanya memperhatikannya saja. Tak berselang lama Gio mendekat ke arah besannya. Tak Aksa duga ayahnya menyentuh lengah dokter Eki.


"Anak lu ada di sini," ujar Gio. "Dia juga sudah tahu kondisi lu seperti apa."


Keadaan pun sunyi. Empat mata yang lain tertuju pada Giondra yang tengah mengajak dokter Eki berbincang. Giondra berharap ada reaksi yang dokter Eki berikan. Biasanya ketika dalam keadaan seperti ini, hanya tubuh dan matanya yang tidak bisa bergerak. Pendengarannya bisa sangat peka.

__ADS_1


"Lu bisa dibilang orang jahat," ucap Giondra. Sontak perkataan tersebut membuat dokter yang ada di sana terkejut. Matanya seakan minta jawaban kepada Aksara. Namun, Aksa tetap acuh.


"Beruntungnya ... lu punya menantu anak bungsu gua. Coba kalau lu bermenantukan putra pertama gua." Senyum smirk pun terukir di wajah Gio. "Sudah pasti lu akan dibuat secepat mungkin meninggalkan dunia ini."


Bukannya merasa tersinggung, Aksa malah tersenyum mendengarnya. Ayahnya sangat tahu bagaimana wataknya. Aksara sangat mewarisi sikap Genta Wiguna sedangkan Askara mewarisi watak Giondra Aresta Wiguna.


"Gua bukan membanggakan anak gua sama lu. Namun, kenyataannya emang seperti itu. Dia masih menganggap lu mertuanya. Meskipun kelaknatan lu sudah di luar batas kemanusiaan," lanjutnya lagi.


Bukan kalimat lemah lembut yang Gio ucapkan. Melainkan ucapan yang teramat menusuk.


"Anak lu." Gio menjeda ucapannya. "Dia adalah menantu gua yang berhati baik dan lembut. Sama seperti menantu-menantu gua yang lain," lanjutnya. "Sayangnya ... lu malah menyia-nyiakan dia. Tak pernah menganggap dia ada. Padahal, dia yang paling peduli sama lu. Malah lu sakiti dia secara bertubi-tubi." Helaan napas kasar keluar dari mulut Gio.


"Di mana hati lu?"


Terlihat bulir bening menetes di ujung mata dokter Eki. Dokter yang melihatnya pun segera mengecek kondisi dokter Eki.


"Kenapa gua bisa bilang begitu?" tanyanya pada tubuh yang terbaring tak berdaya tersebut. "Putri lu sekarang ada di sini. Gua sangat yakin, dia sudah memaafkan lu. Namun, dia masih belum bisa untuk bertemu dengan lu untuk sekarang ini." Air mata masih mengalir di ujung mata sang besan.


"Terlalu sakit hati putri lu. Terlalu dalam luka yang lu berikan kepadanya. Terlebih, ketika lu menyumpahi cucu lu sendiri agar mati. Bukankah lu sangat pantas dibilang kakek yang sadis?"


Dokter yang menangani besan dari Giondra pun terkejut untuk kedua kalinya. Dia baru tahu ternyata dokter Eki sejahat itu pada anak kandungnya sendiri. Pantas saja saja dokter Eki tidak memperkenalkan anak keduanya kepada publik.


"Sejahat apapun lu kepada anak juga menantu gua, mereka tetap mau mengurus lu. Membiayai pengobatan lu yang gak sedikit ini." Air mata semakin deras mengalir di ujung mata dokter Eki. Seakan dia tengah menunjukkan penyesalan yang mendalam.


"Masih mau mendampingi lu walaupun hanya di luar ruang perawatan," lanjutnya lagi.


Suasana kembali hening. Tidak ada yang berkata satu pun dari tiga orang yang berada di sana.


"Kalau lu mau menyesali perbuatan lu dan minta maaf kepada anak lu, silahkan bangun dari tidur panjang lu. Minta maaflah kepada anak yang seumur hidupnya tidak pernah lu anggap." Giondra berkata dengan sangat lantang tanpa melepaskan tangannya dari lengan dokter Eki.

__ADS_1


Dokter yang menangani dokter Eki pun hanya bisa mengusap dada. Mulut Giondra ternyata sangat berbisa.


"Jika, lu mau pergi ... Silahkan pergi sekrang juga. Jangan nyusahin anak dan menantu lu." Aksa menahan senyum ketika mendengar ucapan dari sang ayah. Sungguh di luar dugaannya.


Dokter pun hanya bisa menggelengkan kepala. Ternyata ada dendam kesumat yang bersarang di hati Giondra.


.


Aska sudah merangkul pundak sang istri yang sedari tadi terdiam. Usapan lembut di pundaknya membuat Jingga menoleh. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Semua yang hidup pasti akan mati. Begitulah hukum alamnya." Itulah kata yang keluar dari mulut Askara.


Semua orang yang berada di sana pun terdiam. Tidak ada yang membuka suara. Apalagi tatapan serius Aska berikan kepada sang istri tercinta.


"Kita ikuti apa yang sudah Tuhan tuliskan. Kita hanya pelakon di dunia ini. Hanya Tuhan yang bisa mengatur hidup kita. Ketentuan Tuhan pun tidak bisa kita tawar."


Perkataan Aska memang benar. Namun, sebagai seorang anak Jingga tidak ingin ditinggalkan ayahnya dalam waktu dekat ini. Meskipun ayahnya adalah pria kejam dan tidak punya hati kepadanya, tapi dia masih menyayangi ayahnya. Kata benci hanya ada di mulut saja. Padahal, hatinya sangat amat menyayanginya. Orang tua satu-satunya yang masih ada di sampingnya karena sang ibu telah tiada.


"Manusia diibaratkan daun yang berada di atas pohon. Di daun itu sudah tercatat nama, waktu dan tanggal kapan kita menghadap Tuhan. Ketika daun itu gugur sudah saatnya kita kembali pada sang Maha Pencipta. Kita hanya tinggal menunggu giliran saja." Aska bagai seorang ustadz yang tengah berceramah di depan para jamaah.


"Benal itu, Anteu," timpal Gavin.


"Mas seling dengel pak ustadz-ustadz di touyoube bilang begini, Kullu nafsin dzaaiqotul maut." Semua orang tercengang mendengar apa yang dikatakan bocah itu.


"Setiap yang belnyawa, pasti akan melasakan mati."


...****************...


Boleh minta komennya gak?

__ADS_1


__ADS_2