Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
232. Aku Ada Di Sini


__ADS_3

Gavin membuat semua orang bangga dengan perkataannya. Mereka tidak menyangka bahwa anak sekecil itu malah menonton video ceramah di aplikasi hiburan berwarna merah. Sungguh luar biasa.


"Jangan cepat besar ya, Mpin." Jingga merasa sangat gemas kepada anak dari Abang iparnya tersebut.


"Ih, apa sih Anteu," sergahnya. "Mas mau cepat jadi olang gede bial bisa sepelti Daddy." Jawaban yang sangat cerdas.


"Jadi orang dewasa itu gak enak loh, Mpin," timpal Fahri.


"Hidup Om aja yang lumit. Makanya, bilang gak enak." Tawa semua orang pun pecah. Gavin memang anak dari Ghassan Aksara Wiguna yang bermulut sangat pedas.


Gelak tawa berakhir ketika suara pintu ruang perawatan terbuka. Pandangan Jingga kini tertuju pada tiga orang pria yang baru saja keluar. Ada perasaan cemas di dada.


"Siapa yang mau berjaga di dalam?" Ucapan dokter tersebut membuat tubuh Jingga menegang. Terlebih tatapan semua orang tertuju padanya saat ini.


Aska menggenggam tangan Jingga. Dia cukup keras meremass tangan sang istri hingga Jingga menatap ke arah tangan yang sedang suaminya genggam. Gelengan kecil dengan kepala yang menunduk terlihat jelas di mata Askara. Dia sangat tahu istrinya belum siap.


Tidak ada respon dari orang yang berada di sana membuat dokter mengangguk mengerti. Aksa sudah menatap ke arah adik-kakak yang dia tugaskan untuk berjaga di dalam juga di luar. Mau tidak mau mereka melaksanakan perintah Aksara. Sedangkan Aska memilih membawa istrinya pergi dari rumah sakit. Tidak baik untuk ibu hamil jika berlama-lama berada di rumah sakit.


Selama perjalanan arah pulang Jingga terus saja terdiam. Di kursi penumpang belakang ada Gavin yang tengah asyik memainkan iPad. Sesekali Aska melirik ke arah istrinya tersebut. Wajah gelisah pun Jingga tunjukkan.


"Bunda kenapa?" tanya Aska seraya meraih tangan Jingga. Jingga menoleh dan matanya sudah berkaca-kaca. Aska pun menginjak rem mobil karena dia cemas dengan kondisi istinya.


"Uncle!" pekik Gavin. Anak itu terbentur bagian belakang kursi kemudi karena Aska mengerem mendadak. "Untung Ipad-nya gak jatuh," omelnya.


Aska tak peduli Gavin terus mengoceh. Dia memeluk tubuh Jingga dengan begitu eratnya. Apalagi tubuh Jingga sudah bergetar hebat.


"Bunda," panggil Aska lagi.


Anak kecil yang berada di belakang mereka pun mulai menunkikkan kedua alisnya. Inilah alasan sang paman menginjak rem tiba-tiba. Dia baru paham.


"Anteu kenapa?" tanya anak itu begitu lembut. Bukannya menjawab Jingga semakin terisak. Gavin menatap sang paman. Hanya gelengan lemah yabg Aska berikan.


Memberikan ruang untuk istrinya itu adalah jalan terbaik. Setelah kondisi Jingga normal kembali Aska mulai menatap hangat ke arah sang istri. Gavin pun ikut menatap paman dan tantenya tersebut.

__ADS_1


"Mau kembali ke rumah sakit?" Lagi-lagi Aska bagai cenayang yang tahu isi kepala Jingga.


Istri dari Aska itu masih terdiam dengan raut mengiyakan. Aska masih menunggu jawaban dari Jingga. Dia tidak ingin menyimpulkan sendiri. Cukup lama mereka terdiam, suara bocah kecil yang pandai dan menggemaskan itu terdengar.


"Bialkanlah olangtua dulhaka pada anaknya, tapi jangan sampai anak dulhaka pada olangtuanya."


Kalimat cadel itu mampu membuat Jingga tertunduk dalam. Aska menoleh kepada sang keponakan yang tengah menunjukkan tontonan yang tengah dia tonton. Awalnya Aska ingin marah, tapi dia malah tersenyum ke arah keponakan tampannya.


"Kata Mommy, jangan malu untuk meminta maaf kalau kita salah. Juga jangan malas meminta maaf kalau kita gak salah. Sesama manusia itu halus saling memaafkan." Aska sangat gemas kepada keponakannya hingga dia mengacak-acak rambut Gavin.


Jingga akhirnya meraih tangan Askara dan berkata, "Bunda ingin menemani Ayah. Apa boleh?"


Aska tersenyum lebar mendengarnya. Akhirnya istrinya mau membuka pintu hatinya untuk ayah kandungnya. Sejujurnya Aska pun masih kesal dan bisa dibilang membenci mertuanya, tetapi dia harus mengesampingkan semuanya. Dokter Eki hanya manusia biasa. Dia pasti punya banyak salah dan dosa kepada sesama manusia.


"Yeay!" teriak Gavin dengan begitu senang. Jingga menoleh ke belakang dan ikut tersenyum ke arah sang keponakan.


"Boleh gak minta cium Mas Agha?"


Cup.


Gavin mengecup pipi Jingga dan bibir Jingga pun terangkat dengan sempurna. Dia merasa kecupan Gavin seperti kecupan hangat Dea. Aska pun memutar arah mobilnya menuju rumah sakit kembali dengan membawa Gavin juga. Anak itu malah sangat bahagia. Biasanya Gavin paling tidak mau dibawa ke rumah sakit.


Tibanya di rumah sakit mereka seperti keluarga bahagia. Aska dan Jingga menggenggam tangan Gavin dari samping kanan dan kiri. Semua mata tertuju pada mereka terlebih sekarang sudah malam.


Fahri terkejut dengan kedatangan Aska lagi. Tatapan penuh selidik dia berikan. Namun, Aska tak mengindahkan.


"Rani mana?" tanya Aska tanpa menyapa Fahri terlebih dahulu.


"Di dalam," jawabnya.


"Suruh keluar." Fahri pun mengangguk.


Sambil menuju ke ruang perawatan, hati Fahri terus bertanya-tanya. Dia tengah menebak-nebak, apakah adiknya itu memiliki salah kepada adik dari atasannya tersebut?

__ADS_1


Fahrani menukikkan kedua alisnya ketika melihat Fahri menghampirinya. Fahrilah yang menolak untuk berjaga di dalam dan mengharuskan dia menjaga dokter Eki di dalam sendiri.


"Ngapain ke sini?" hardik Fahrani.


"Kamu disuruh keluar sama Pak Aska."


Fahrani pun terkejut. Tadi dia melihat sendiri bahwa atasannya itu pulang bersama istrinya. Sekarang sudah ada di sini lagi. Sungguh manusia aneh.


"Kamu gak punya salah 'kan?" selidik Fahri.


Fahrani menjawabnya dengan sebuah gelengan. Sudah hampir seminggu ini dia berada di Bandung dan tidak memegang pekerjaan di kantor. Bagaimana dia bisa salah?


Ketika Fahrani dan Fahri keluar dari ruang perawatan. Aska dan Jingga mendekat ke arah mereka. Tubuh adik-kakak itupun menegang.


"Kalian jaga di luar. Saya dan istri saya mau melihat mertua saya."


Terkejut sekali Fahri dan Fahrani mendengarnya. Akhirnya, Jingga mau juga menemui ayahnya. Gavin yang hendak dititip kepada Fahri dan Fahrani pun menolak dengan tegas.


"Mas mau ikut ke dalam."


Mau tidak mau Aska pun mengajaknya. Ayah dari anak ini sudah bertolak ke Jakarta. Sedangkan sang putra dititipkan padanya. Sungguh otak licik yang luar biasa.


Aska menekan gagang pintu kamar perawatan. Dia merasakan tangan Jingga yang sudah sangat dingin. Perlahan mereka menuju ranjang yang di atasnya ada tubuh dokter Eki yang terbaring Mulut Jingga masih kelu dan tertutup rapat. Hingga jarak mereka kini sudah semakin dekat. Jingga berada tepat di samping dokter Eki.


"Ayah," batinnya lah yang berkata. Bibirnya masih terkunci rapat.


Berbagai macam alat penopang hidup dipasang pada tubuh ayahnya. Ditambah keadaan fisiknya yang sudah tidak sempurna membuat hati Jingga semakin sakit. Terlintas di kepala bagaimana ayahnya menjalani hidup dengan kondisi seperti ini. Pasti sangat sulit.


"Ayah, aku ada di sini, Ayah. Bangunlah!"


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2