Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
IBU MERTUA


__ADS_3

Sebelum Sam dan Asri pulang Pak Herman datang mengunjungi ruangan Sam, Pak Herman mengetuk pintu lalu masuk


"Sam Papah mau bicara sebentar, Bazar Pak Fadli bagaimana sudah Kamu urus semuanya"


"Sudah Pah, semuanya sudah beres, bintang tamu, dekorasi.. konsep sudah semua, oh ya Pah, Aku mungkin pegang proyek ini yang terakhir, Aku harus pulang kemarin Adik Aku kasih tahu kalau Ibu lagi sakit" lalu apa yang di jawab Pak Herman, Dia tak mengijinkan Sam untuk pulang


"Disana kan ada Adikmu, lagi pula Ibu Kamu masih hidupkan" Sam terkejut ketika mendegar ucapan seperti itu dari mulut Herman, begitu pun Asri tak menyangka Pak Herman akan mengucapkan kata-kata seperti itu.


"Kamu fokus untuk proyek yang lain, Saya tidak mau dengar Kamu pulang kampung dengan meninggalkan banyak proyek, soal biaya Ibu Kamu Saya akan transfer sekarang juga, berapa yang Kamu butuh katakan saja" kini Herman mulai lagi dengan sikap angkuhnya, Sam membelalakkan matanya, Dia seakan tak terima di rendahkan seperti ini


"Terserah Anda mau transfer berapa, Saya tidak pernah meminta uang Anda Pak, Saya permisi ingin pulang" Sam pun mengajak Asri keluar juga, saat melangkah ingin membuka pintu Pak Herman mengatakan sesuatu


"Sombong sekali Kamu Sam, Sam Kamu bukan apa-apa disini, jangan pernah Kamu mencoba macam-macam dengan Saya, Jagan gengsi Kamu bicara meminta pulang karena Ibu Kamu sakit itu hanya alasan Kamu kan, supaya Kamu bisa jauh dari Anak saya, padahal Kamu Pasti butuh uang bukan" kali ini ucapan Pak Herman benar-benar membuat Sam tersinggung


" Pak Herman yang terhormat, Anda selalu ingin di untungkan, tapi Anda tak bisa menghargai upaya kerja keras seseorang, Jika terjadi apa-apa dengan Ibu saya, dengan atau tanpa persetujuan Anda Saya akan tetap pulang ke kampung Saya" Sam berbicara dengan tegas terhadap Pak Herman.


Asri hanya menyimak percakapan yang sedang terjadi di antara Pak Herman dan Sam, Asri pun tak menyangka jika Sam selama ini benar-benar tertekan berada dalam keluarga Herman, lalu Sam pergi tanpa pamit begitu juga Asri mengikuti dari belakang.


Lalu Lia bertemu Asri didepan kantor Lia pun menyapa sahabatnya,


"Asri..." teriak Lia dari kejauhan, Asri menoleh kebelakang lalu melihat Lia dan kemudian tersenyum dan menjawab sapa dari Lia


"Lia.. Ya ampun Kamu sudah masuk kerja, Aku pikir masih mau honeymoon, Aku kangen banget sama Kamu" Lia dan Asri berpelukan mereka saling merasakan kerinduan


"Aku mau curhat deh sama Kamu, tapi bagaimana ya Aku kan pulang kerja ini harus pulang kerumah"


"Kamu tenang, Aku ngerti kok kalau sudah berumah tangga pasti suami prioritas, kalau Aku yang main ke rumah Kamu bagaimana?"


"Jangan deh, Aku gak enak sama Mamahnya Makmun" lalu Lia melihat Asri berdiri menggunakan tongkat, Lia pun bertanya,


"Loh Kamu pakai tongkat Asri, Kamu kenapa?" tanya Lia dengan nada khawatir


"Kamu tenang dong, Aku gak apa-apa kok, cuma kecelakaan kecil kemarin, jadi kaki Aku gak kuat jalan harus pakai tongkat, gak masalah sih yang penting Aku masih bisa melakukan aktifitas dengan normal"


"Kamu gak perlu datang ke rumah, biar nanti Aku coba izin sama Makmun untuk main ke rumah Kamu"


"Ok.. terus ini mau pulang, Makmun mana?" lalu Sam menyahuti dan bertanya sama seperti Asri

__ADS_1


"Iya Lia Aku gak liat Makmun, kemana?" lalu Lia menjawab bahwa Makmun mengambil cuti selama 1 Minggu


"Cuti 1 Minggu, kok lama sekali memangnya boleh ya" Lia menjelaskan kronologi masalah mengapa Suaminya bisa mengambil cuti lebih dari 4 hari, lalu munculah Chandra Juga Juvi mereka pun menyapa Asri Sam juga Lia,


"Kalian kenapa berdiri disini sih"


"Ya biasa Chan, perempuan kalau sudah ketemu ya gosip" Lia menyahuti ucapan Sam,


"Apaan sih Sam, gosip-gosip memang Gue tukang gosip apa" lalu Chandra menanyakan prihal luka di kaki Asri


"Asri luka Kamu bagaimana, sudah mendingan... masih sakit ya jalannya"


"Sudah mending kok Chan, ya walaupun Aku mesti harus pakai tongkat" Sam pun menyahuti dan berkata,


"Chan... Gue terimakasih banyak ya, karena Lo sudah bawa Asri ke Rumah Sakit, di saat Gue lagi gak bisa bersamanya" Chadra tak menjawab Dia hanya tersenyum kepada Sam.


Setelah itu chandra pamit untuk pulang, sedangkan Juvi menanyakan keberadaan Makmun, Lia pun menjawab prihal cuti yang di ambil suaminya, lalu Juvi menawarkan Lia untuk mengantarnya pulang, dan Lia pun mengiakan ajakan Juvi sebab sudah sore sekali, lagi pula taksi sudah jarang lewat di daerah sini. Akhirnya kini semua pulang ke rumah masing-masing.


Asri pun sampai dirumah, lalu Sam berpesan seperti biasa, dan Dia mengatakan besok bazar di mulai, tim harus datang jam 8 tepat


"Kamu jangan telat ya sayang, nanti Aku jemput" Asri tersenyum dan menganggukkan kepala, lalu melambaikan tangan dan Asri masuk kerumah.


"Kok Kalian pulang barengan sih" tanya Makmun dengan wajah tak senang


"Iya.. karena ini sudah sore Mun, taksi kan jarang lewat jam segini, jadi ya Gue antar, Lo gak marah kan?"


"Ya gak ko santai" bicara dengan wajah sinis, lalu Makmun berkata pada Lia


"Sayang Kamu kenapa gak telepon Aku, Aku kan bisa jemput Kamu"


"Aku gak mau merepotkan Kamu, takutnya Kamu lagi istirahat, terus nanti Mamah kamu marah lagi Aku ganggu Kamu" mendegar alasan Lia Makmun mengerutkan kening seperti aneh dengan sikap Lia, Juvi pun pamit lalu pergi.


Setelah masuk rumah, Lia berpapasan dengan Ibu mertuanya, Lia pun tersenyum lalu sang Ibu berkata,


"Sore sekali Kamu pulang"


"Iya Mah, tadi lagi banyak barang datang, karena besok mau bazar di daerah Kebayoran, jadi Kita lagi sibuk-sibuknya" mendegar soal bazar Makmun bertanya,

__ADS_1


"Bazar kok Kamu gak cerita sayang"


"Mun Aku saja baru masuk hari ini, dan Aku pulang juga belum ganti baju, belum mandi mana sempat Aku mau ngobrol soal Kerjaan, sudahlah nanti lagi Kamu tanya-tanya, Aku mau ke kamar dulu" Lia pun pergi, namun saat Lia belum jauh, Ibu Makmun berkata,


"Istri Kamu kenapa bicara seperti itu ya, Gak sopan sekali sama suami" Lia mendegar ucapan Ibu mertuanya namun Lia tak ingin meladeni ucapan tersebut, Dia hanya memejamkan mata sejenak kemudian menghela nafas, lalu melangkah masuk ke kamar, dan Makmun menjawab ucapan Ibunya


"Sudah Mah, mungkin Lia capek"


"Makanya Kamu nasehati Istri Kamu, untuk berhenti bekerja, biar Kamu saja yang cari uang, Biar Dia jadi Ibu rumah tangga yang baik dan mengurus suami dengan benar" Makmun tak menjawab, Dia bingung bagaimana menjelaskan keinginan Istrinya yang masih mau mengejar karir


"Mah... Aku masuk kamar dulu ya" Makmun pun pergi dan sang Ibu hanya melengos seperti tak suka jika punya menantu yang susah di atur.


Selesai mandi Lia duduk di atas kasur sambil mengelap rambut yang basah dengan handuk, Makmun pun masuk dan menyapa


"Hey sayang, capek ya, bagaimana Kantor aman?" tanya Makmun sambil membelai rambut Lia


"Aman kok sayang, oh ya Aku tadi sudah ketemu sama Anak Magang yang Pak Aji ceritakan itu, Dia Anaknya rajin banget terus juga cekatan lagi" mendegar Lia memuji Anak Magang Makmun merasa di buat cemburu untuk kedua kalinya


"Terus saja puji orang lain, Sayang Kamu kalau pulang kerja dan gak ada taksi Kamu telepon Aku ya, biar Aku jemput" lalu Lia melirik Makmun sambil tersenyum kemudian berkata,


"Kamu cemburu ya" Makmun mengelak dengan mengatakan tidak, tapi Lia selalu bilang cemburu berkali-kali, setelah itu Lia menjelaskan


"Sayang, tolong deh Kamu jangan cemburu sama Juvi, Aku kan sahabatan sama Dia, Gak mungkin juga gitu Juvi aneh-aneh sama Aku" Lia bicara sambil memegang tangan Makmun, lalu Makmun mendekati Lia


"Iya Aku tahu Kamu sahabat Dia, tapi Aku gak suka kalau Kamu terlalu dekat sama sahabat laki-laki" ucap Makmun kini menggenggam tangan Lia dan menatap Lia


"Berarti kalau sama sahabat perempuan boleh dong seperti Asri, Rahma" Lia berbicara dengan wajah tersenyum kecil, kemudian Makmun menganggukkan kepala dan tersenyum hangat, setelah itu Makmun berbisik di telinga Lia


"Aku lagi pengen nih, Main yuk" wajah Lia kini memerah lalu berkata


"Ah sayang, Aku baru saja mandi keramas, masa mandi lagi" Lia bicara manja seperti anak kecil


"Ayo dong sebentar saja, tuh liat sudah tegang" Lia terkejut melihat burung Suaminya mengeras dan tegak berdiri, akhirnya Mereka pun mengadu Asmara penuh gairah dan semangat.


Namun saat di tengah-tengah sedang asiknya memadu kasih, Ibu Makmun mengetuk pintu


"Mun... ayo makan dulu, dari magrib tadi Kamu dan Istri Kamu gak keluar kamar" Makmun sedikit kesal lalu berkata,

__ADS_1


"Iya Mah sebentar, Aku lagi em... Lagi bantu Lia kerjain tugas buat bazar besok" Bu Alya agak aneh mengapa Anaknya bicara dengan teriak dari dalam, yang biasanya jika Ibunya bicara Makmun akan membuka pintu sebagai bentuk kesopanannya terhadap sang Ibu, lalu Bu Alya pergi ke dapur sambil bicara sendiri "Makmun sekarang jadi berubah semenjak menikah" gerutu sang Ibu.


__ADS_2