Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
KENYATAAN PAHIT


__ADS_3

Makmun langsung menuju rumah sakit, untuk menjenguk sang Istri


"Assalamualaikum.." Bu Irma menjawab salam dari Makmun


"Makmun.. Kamu gak pulang dulu ya" Makmun hanya tersenyum lalu menjawab,


"Ya Mah...habis Aku rindu Lia, Mah.. maaf ya, Mamah jadi harus menjaga Lia di rumah sakit setiap hari seperti ini"


"Gak apa-apa Mun... Lia anak Mamah, kalau bukan Mamah yang menjaga siapa lagi, Kamu kan setiap hari bekerja jadi gak mungkin kalau Mamah suruh Kamu jaga Lia"


"Oh ya.. nanti Kasih, Papah dan Mamah akan kesini menjenguk Lia" lalu Makmun mendekati Lia kemudian mencium kening Lia dengan mesra


"Sayang.. apa kabar Kamu sudah 3 hari koma, bangun dong sayang, Aku rindu Kamu.. rindu sekali"


"Mun.. Mamah pulang sebentar ya, Mamah mau mandi sudah lengket badan"


"Iya Mah.. mau Aku antar"


"Gak usah, jangan.. Lia tak ada yang menjaga, Kamu tetap disini menjaga Lia ya" Bu Irma pun pergi dari Rumah Sakit.


Sedangkan Makmun masih terus menggenggam tangan Lia dengan penuh cinta, terkadang Ia bersedih tapi Ia selalu bicara mengajak Lia mengobrol untuk memancing Lia supaya otaknya bekerja kemudian segera sadar.


Adzan Maghrib pun tiba, segeralah Makmun menunaikan ibadah shalat Maghrib


"Aku tinggal wudhu sebentar ya, Aku ingin shalat ingin berdoa kepada Allah supaya Kamu cepat sadar dan kembali menjalani kehidupan bersama Aku"


Makmun pun pergi dari Kamar rawat Lia, setelah beberapa langkah Makmun pergi, jari-jari Lia kini bereaksi lagi, namun matanya belum bisa terbuka, mungkin saja Ia tersentuh dengan ucapan yang Makmun ungkapkan tadi.


Setalah menunaikan shalat, selang beberapa waktu Kasih, Bu Alya dan Pak Helmi pun datang


"Assalamualaikum" Makmun menjawab salam dari kedua orangtuanya


"Mamah.. Kasih mana..?" tidak biasanya Makmun menanyakan keberadaan Kasih


"Kasih masih di belakang, tadi katanya ingin membeli SOP durian, Bu Irma mana.. kok Mamah gak lihat"


"Mamah Irma sedang dirumahnya, Dia ingin mandi sebentar katanya Mah"


"Makmun keadaan Lia bagaimana..?" tanya Pak Helmi


"Begini-begini saja Pah.. belum ada perubahan"


"Kamu yang sabar ya.." Pak helmi berkata sambil memegang pundak Anaknya


"Assalamualaikum maaf terlambat" ucap salam dari Kasih terhadap semuanya


"SOP duriannya mana...?" tanya Makmun kepada Kasih


"Yaah... sudah habis Mas.. kenapa gak bilang kalau mau, Aku tadi pasti belikan"


"Kamu gak bilang, Aku jadi kepingin SOP durian deh.."


"Bagaimana kalau Aku belikan sekarang"


"Ehh.. jangan.. Kamu pasti capek bulak balik, begini Saja, nanti Kita cari SOP durian lalu Kita makan sama-sama, bagaimana Kasih Kamu mau..?"


"Boleh Mas.. Aku mau"


Kasih dan Makmun kini terlihat lebih akrab semenjak Lia koma, Mereka pun jadi sering mengobrol dan pergi berdua, Bu Alya memperhatikan Mereka seperti menjadi risih sebab dalam pikiran Bu Alya takut muncul rasa suka di antara Mereka, feeling seorang Ibu biasanya selalu benar.

__ADS_1


Tak terasa saat ini sudah jam 7 tepat, Asri langsung menghentikan pekerjaannya


"Chan.. ini sebentar lagi selesai bagaimana kalau Aku kerjakan nanti malam ya"


"Kamu yakin mau di lanjutkan nanti malam, ini sudah jam 7, Kamu gak perlu memforsir, nanti Kamu kecapean itu gak baik untuk Ibu hamil" Asri yang sedang minum terkejut mendengar ucapan Candra, Ia pun tersedak hingga batuk


"Apa... Ibu hamil Aku hamil.. maksud Kamu apa sih Chan..?" Chandra keceplosan dalam biacra


"Aduh.. ceroboh.. bagaimana ini, harus jawab apa"


"Chan.. tolong Kamu bicara yang benar, Aku hamil apa itu benar"


Bu Anita mendengar semua percakapan Chandra dan Asri, Ia pun datang dan ingin memberitahukan yang sebenarnya.


"Asri.. Kamu jangan kaget ya, Mamah akan beritahu Kamu kebenaran"


"Mah.. kebenaran apa..apa ini soal Papah"


"Bukan Sayang.. ini soal Kamu"


Lalu Bu Anita menjelaskan kejadian tempo hari dimana Asri pingsan saat setelah Sam datang memberitahu untuk mengakhiri hubungannya hingga pingsan di tengah hujan yang deras.


"Apa...jadi Aku hamil Anak Sam Mah.."


"Iya.. Kamu sedang hamil saat ini, Asri sebenarnya waktu itu Mamah sangat marah dengan Kamu, Mamah marah kenapa bisa-bisanya Kamu sampai hamil anak Sam" lalu Bu Anita bertanya pada Asri untuk memastikan apakah itu anak Sam atau bukan


"Kamu sekarang jawab Mamah dengan jujur, apakah hubungan Kalian sudah jauh hingga Kalian Melakukan hubungan suami Istri?" pertanyaan yang sungguh membuat Asri malu menjawabnya


"Aku... Iya Mah.. Aku melakukan itu, maafkan Aku Mah" Bu Anita kini melemah merasa hancur untuk keduakalinya


"Asri.. Kamu benar-benar buat Mamah kecewa, Kamu berhubungan dengan suami orang saja itu sudah salah Nak..apalagi sampai Kamu hamil, Kamu menodai kehormatan Kamu sendiri" ucap Bu Anita penuh emosi, sedangkan Asri hanya bisa menangis tersedu-sedu saja sambil meminta maaf


"Aku minta maaf Mah.. Aku salah, Aku terbawa suasana waktu itu, karena Aku sungguh mencintainya jadi Aku rela melepaskan diri ini untuknya" Bu Anita pun menangis tersedu-sedu jika harus mengingat lagi tentang kehamilan Asri, mendengar alasan Asri Chandra pun menyahuti


"Aku tidak pernah menawarkan diri Aku, kenapa Kamu bicara seperti itu Chan"


"Karena Aku mencintai Kamu... Aku tidak pernah meminta kepada Kamu sewaktu dulu Kita berpacaran karena Aku sangat menghargai Kamu, bahkan soal Rahma yang waktu itu hamil Anak Aku, itu hanya fitnah Asri, Aku sungguh tidak pernah menyentuhnya, sama seperti Kamu.. Aku tidak ingin menyentuh Kamu"


Asri semakin bersedih, tiba-tiba Asri berusaha sendiri memindahkan tubuhnya ke kursi roda, hingga Ia terjatuh karena kesulitan, spontan Chandra langsung mendekati untuk membantu.


"Tidak..jangan.. jangan Kamu sentuh Aku.. Aku sangat kotor Chan.. Aku sudah hamil di luar nikah" Chandra semakin bersedih melihat keadaan Asri


"Gak.. Kamu tetap sempurna dimata Aku" lalu tanpa bicara lagi, Chandra langsung membantu Asri duduk di kursi roda


"Chan... apa Sam tahu soal ini, apa Dia tahu kalau Aku sedang hamil Anaknya" Bu Heni langsung menyahuti


"Tidak...Mamah senagaja tidak memberitahu Dia.. biar Asri... biar Dia pergi jauh.. lebih baik Dia tak tahu jika Kamu hamil Anaknya, Dia sudah meninggalkan Kamu..Dia sudah menyakiti Kamu..jadi akan lebih baik jika Dia tidak tahu soal ini"


"Tapi Dia harus tahu Mah..Dia harus bertanggung jawab atas semua ini, apa Mamah ingin Anak ini lahir tanpa tahu Ayahnya"


"Cukup Asri.. Mamah masih bisa menghidupi Kalian, Mamah masih sanggup sayang, sudah cukup.. jangan pernah sebut Sam lagi, Mamah sangat membencinya.. ingat itu, Kalian lanjutkan lah pekerjaan Kalian, Mamah ingin ke kamar, Mamah gak sanggup jika harus membahas ini lagi"


Bu Anita dengan segera pergi ke kamarnya dengan wajah yang marah, sedangkan Asri hanya memandangi Ibunya dari belakang dengan penuh rasa bersalah


"Chan.. Aku ini anak durhaka ya" Chandra semakin terenyuh mendengar Asri berkata seperti itu


"Tidak.. dalam masalah ini Kalian memang bersalah, tapi Kamu bukan anak durhaka, lebih baik Kamu minta maaf dengan Ibu Kamu, Kamu bujuk Tante Anita supaya bisa memaafkan Kamu.. Aku lebih baik pulang sekarang, besok saja latihan berjalannya ya"


Asti menganggukkan kepalanya sambil bersedih.

__ADS_1


Saat hendak melangkah ingin keluar pintu, Asri menggapai tangan Chandra


"Chan.. terimakasih Kamu selalu ada untuk Aku.. disaat susah disaat butuh bantuan, Kamu orang pertama yang selalu membatu Aku"


"Iya.. Aku pernah berjanji bukan untuk tidak membiarkanmu menangis, sekarang Aku akan hapus air mata Kamu" dengan lembut Chandra mengusap air mata yang menetes di pipi Asri


"Aku pulang.."


Chandra pun pergi dan berlalu, dan saat ini perasaan Asri campur aduk, Ia tak tahu harus bagaimana menjalani hidupnya dengan kehamilan ini.


Tak lama Bu Irma datang, Makmun pun meminta izin untuk mencari SOP durian, sepertinya mulutnya butuh yang segar-segar


"Ya sudah.. Kamu pergi saja, sekalian Kamu pulang Mun.. Lia biar Mamah yang jaga" lalu Bu Alya menyahuti


"Kalian hati-hati ya.. jangan lupa password rumah masih ingat kan"


"Masih Bu.. tenang Aku ingat semuanya"


semenjak terjadinya perampokan di rumah waktu itu, kini Pak Helmi memasang kode rahasia di pintu saat masuk ke rumah, guna untuk menjaga keamanan Rumah Mereka.


Akhirnya sampai juga di tempat kedai minuman ala durian ada banyak varian rasa juga ada cendol durian yang menggugah selera pembeli


"Aku pesan dua ya Mbak"


"Mohon ditunggu ya Mas, Mbak.."


Sambil menunggu tak sengaja Makmun melihat Kasih memakai cincin dua, di jari manis kanan dan kirinya, hal itu pun menjadi perhatian bagi Makmun


"Wah.. cincin Kamu ada dua ya, bagus lucu cantik"


"Terimakasih Mas.. " Lia tersenyum saat makmun memuji model cincin pemberian Andi


"Itu cincin nikah?" Sepertinya Makmun penasaran Dia pun terus bertanya bagaikan wartawan


"Iya Mas.. tadi Andi mengajak Aku makan siang" lalu Kasih menceritakan tentang lamaran yang Andi ucapkan dan keseriusan Andi untuk hubungannya


"Bagus dong...kalau Dia serius.." Makmun ikut bahagia mendengarnya, lalu cendol Durian pun siap untuk di santap


"Silahkan Mas, Mbak.. di nikmati"


"Terimakasih ya, Kasih ayo Kita makan"


"Makan disini Mas.. Aku pikir Kita makan di rumah, lalu Ibu...dan Bapak bagaimana?"


"Kamu tenang dong... Aku akan pesan lagi di bungkus untuk Mamah dan Papah, andai saja ada Lia" raut wajah Makmun pun berubah menjadi sedih, lalu Kasih berusaha ingin menghibur Makmun


"Mas... jangan bersedih dong, Aku suapi Mas ya, kata orang suapan makan dari orang lain itu, bisa menghilangkan rasa sedih ketika sedang mengingat hal pahit dalam hidup" makmum mengerutkan keningnya merasa aneh dengan argumen Kasih


"Mas sih.. coba aaaa...."


Makmun membuka mulutnya di hadapan Kasih, lalu dengan lembut Kasih menyuapi Makmun, hal itu pun membuat Mereka semakin akrab.


Tini kini sudah kembali pulang Dia merasa lelah seharian shoping, namun saat sudah di dalam rumah rasa bosan muncul lagi, Dia pun menelepon Sam dan menanyakan kapan Ibunya akan pulang rawat jalan di rumah


"Aku belum tahu.. karena Dokter belum mengizinkan Ibu untuk pulang"


"Aku bosan Sam dirumah sendirian tidak ada siapapun"


"Sudahlah mungkin hanya 3 harian lagi, Ibu disini, sudah dulu ya, Aku mau istirahat besok bekerja kalau kurang tidur bisa-bisa pekerjaan Aku tidak selesai karena mengantuk"

__ADS_1


"Baiklah.." ucap Tini dengan suara lesu


panggilan pun diakhiri, kalau bukan karena cinta pada Sam Tini tidak akan mungkin mau tinggal di rumah yang kecil seperti ini seorang diri.


__ADS_2