Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
194. Mencintai Tanpa Syarat


__ADS_3

Banyak pelajaran yang didapat oleh Jingga ketika berada di kediaman Echa. Hati tulus Echa membawanya menuju ke sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Di lubuk hati Jingga terdalam dia ingin seperti sang kakak. Di mana dia ingin memaafkan segala kesalahan ayahnya dan ingin melupakan segalanya.


Cerita sang kakak ipar membuat hatinya tersayat. Namun, dia juga sangat bangga betapa lapangnya hati dari kakak iparnya tersebut. Wanita yang dia anggap memiliki kehidupan yang sempurna. Dikelilingi orang tua yang baik juga memiliki ayah sambung yang luar biasa. Ditambah memiliki suami yang sangat sayang kepadanya. Ternyata ada kisah pilu di balik kebahagiaannya sekarang ini. Ada banyak air mata yang menetes yang Echa rasakan.


"Tidak semua yang kamu lihat bahagia itu nyata. Ada kalanya itu hanya kamuflase belaka." Ucapan Aska membuat Jingga tersenyum. Apa yang dikatakan oleh suaminya memang benar. Kakak dari Aska itu mampu membalut semua lukanya dengan senyum yang sangat indah. Jingga ingin seperti Echa.


Jam tiga sore Aska sudah tiba di rumah. Dia melihat istrinya masih tertidur dengan pulas. Lengkungan senyum terukir di wajah Askara. Dia mendekat ke arah Jingga dan duduk tepat di sampingnya. Membelai lembut rambut sang istri tercinta. Dia baru saja mendengar kabar jikalau dokter Eki terlihat murung di kontrakan dengan memeluk foto kedua anaknya.


Ternyata rencana Aska berhasil. Apalagi dia dibantu oleh Fahri yang mulutnya sama dengan sang Abang. Tidak memiliki filter kepada siapapun. Apa yang Aksa benci, pasti Fahri benci juga. Mereka satu frekuensi. Berbeda dengan Aska yang masih menggunakan hati.


"Aku janji, sebentar lagi kamu akan menemukan kebahagiaan kamu dengan ayah kamu." Kecupan hangat Aska berikan dan mata Jingga pun mulai mengerjap.


Senyuman hangat dari Aska membuat Jingga membuka mata. Dia segera bermanja kepada sang suami tercinta.


"Kita 'kan mau lihat anak-anak," ujar Aska. Jingga pun mengangguk.


"Mau dipeluk kamu lebih lama dulu." Mode manjanya mulai kembali. Namun, itu membuat Aska tersenyum bahagia.


Setelah puas dipeluk, Aska membawa tubuh istrinya ke kamar mandi. Mereka melakukan ritual jenguk-menjenguk terlebih dahulu sebelum melihat langsung kondisi anak-anak mereka.


Sensasi yang Jingga rasakan amat berbeda. Lebih nikmat dan seakan tidak puas meskipun sudah berkali-kali mancapai puncak.


"Kamu gak capek, Sayang?" Jingga menggeleng sambil melakukan gerakan goyang ngebor yang membuat suaminya hanya bisa mengerang kencang.

__ADS_1


Rintihan halus terdengar, kedua insan manusia itu terus merancau saking nikmatnya. Hingga jeritan syahdu dari keduanya terdengar dan tubuh mereka pun menempel tanpa ada penghalang sedikit pun. Napas terengah-engah, keringat yang bercucuran menandakan acara tersebut sangat melelahkan, tapi sangat mengasyikkan.


"Lanjutnya nanti malam aja, ya." Aska berbicara sangat lembut seraya mengecup kening istrinya. Jingga hanya mengangguk. Aska seperti cenayang yang mengerti apa yang Jingga inginkan. Ketika hamil ini, Aska yang selalu kewalahan karena Jingga sangat liar.


.


Memasuki area rumah sakit dengan tangan yang saling menggenggam juga baju yang senada. Jingga dan Aska memakai masker karena Jingga tidak ingin ketampanan suaminya terlihat oleh wanita lain. Aska pun memperlakukan Jingga dengan sangat baik. Membawakan tas jinjing kecil yang Jingga bawa.


"Gak apa-apa menunggu dulu?" tanya Aska kepada Jingga. Sang istri hanya mengangguk tanpa melepaskan rangkulan di lengan Aska.


"Udah mulai engap gak?" tanya Aska lagi.


Kandungan Jingga baru memasuki usia lima bulan, tetapi terlihat seperti tujuh bulan karena bukan hanya ada satu janin di sana. Melainkan empat janin.


Giliran nama Jingga yang dipanggil. Mereka berdua pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Dokter Gwen sudah tersenyum hangat kepada mereka berdua. Setelah memeriksa berat badan juga tensi darah, Hingga dipersilahkan berbaring di atas kasur yang ada di sana. Dokter Gwen sudah menyingkap baju yang digunakan Jingga. Alat pemeriksaan itupun sudah digerakkan di atas perut yang sudah diolesi gel.


Terdengar suara detak jantung calon anak-anak Jingga juga Aska. Mereka berdua pun saling pandang dengan senyum yang melengkung lebar. Aska menggenggam tangan Jingga dengan begitu erat.


"Lihatlah," tunjuk dokter Gwen ke arah monitor. "Mereka sudah tumbuh dengan baik." Dokter Gwen menoleh ke arah Aska juga Jingga dengan senyum yang merekah.


Senyum itupun menular kepada Jingga dan juga Aska. Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Mata mereka tidak bisa berbohong.


"Apa yang ingin kalian ketahui lagi?" tanya dokter Gwen.

__ADS_1


"Jenis kelamin," jawab Jingga.


Aska mengusap lembut rambut sang istri tercinta. Ingin sekali dia mengecup kening istrinya di depan dokter Gwen.


Dokter Gwen pun mulai menggerakkan kembali alat yang dia pegang dan fokus pada layar segiempat di depannya. Namun, dokter Gwen malah tertawa ketika menatap layar monitor di depannya.


"Sepertinya mereka tidak ingin memberitahukan jenis kelamin kepada kalian," kelakar dokter Gwen.


Aska dan Jingga saling pandang. Mereka malah tersenyum mendengarnya.


"Biarkanlah, Dok. Mungkin mereka ingin memberikan kejutan kepada kami," sahut Aska yang masih menggenggam erat tangan Jingga.


"Apa kalian tidak takut?" ucap dokter Gwen.


Jingga tersenyum mendengar ucapan dari dokter kandungannya itu. Dia paham apa yang dimaksud oleh dokter Gwen.


"Sempurna atau tidak fisik anak-anak kami. Kami akan menerimanya dengan ikhlas. Semuanya sudah ketentuan Tuhan. Apapun yang Tuhan berikan akan kami terima dengan hati yang lapang."


Aska mengusap lembut rambut sang istri. Mereka memang sudah berandai-andai perihal itu. Namun, mereka berdua hanya bisa berserah diri. Menjalankan apa yang sudah Tuhan takdirkan untuk mereka berdua. Jikalau anak-anak mereka seperti kedua kakak mereka, Jingga dan Aska akan tetap menyayangi mereka tanpa syarat.


"Sejatinya manusia itu tidak ada yang sempurna, Dok. Semuanya sama di mata Tuhan." Aska menambahi ucapan istrinya tersebut.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2