Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
261. Tingkah (Si Quartet)


__ADS_3

Pulang berbulan madu kedua bukannya disambut hangat malah menerima ocehan yang sangat menusuk relung hati dan jiwa. Aska hanya berdecak kesal.


"Anak lu yang telepon di waktu yang salah," bela Askara.


"Kenapa lu malah angkat?" hardik Aksara.


"Gua kira itu sambungan video dari lu. Gua mau pamer."


"Setann!"


.


Si quartet semakin hari semakin aktif. Apalagi belum genap setahun keempat anak itu sudah bisa berjalan. Rumah Giondra Aresta Wiguna tidak pernah ada rapihnya jika si quartet bangun. Semua asisten rumah tangga akan menjadi sibuk karena ulah si quartet.


Jingga dan Aska hanya dapat mengurut kening mereka karena ulah anak-anak mereka yang super aktif.


"Aqis, itu lipstik Bunda."


Namun, anak keempat Aska dan Jingga itu menjelma menjadi anak tuli. Dia malah asyik memakaikan boneka barbie-nya lipstik sang ibu yang baru saja dibeli. Sedangkan Ahlam, dia senang sekali dengan parfum sang ayah. Semua parfum ayahnya hampir habis karena ulah Ahlam.


Arfan, dia senang sekali merusakkan mainan. Beda halnya dengan Abdalla yang sangat pendiam. Karakter berbeda dari keempat anak Aska dan Jingga menambah warna baru rumah Giondra.


Malam ini mereka berempat diajak makan malam ke rumah Arya. Sang putri tunggal Arya berulang tahun. Keempat anak Aska terlihat sangat bahagia. Terlebih di rumah Arya terdapat kucing peliharaan Beby yang lucu-lucu.


"Bala-bala," panggil Beeya. Aska pun mendengkus kesal. Menatap tajam ke arah Beeya.


"Balqis. Bukan bala-bala." Aska membenarkan. Namun, Beeya hanya mencebikkan bibir.


Ahlam, si anak super wangi sedang celingak-celinguk. Dia sedang mencari seseorang sepertinya. Berjalan pelan ke arah orang-orang.


"Yang wangi begini mah pasti si Cireng," ujar Rion.


"Udah gedenya dia mau jadi tukang minyak wangi," kekeh Arya.


"Abang cari siapa?" tanya Radit ketika dia berjalan pelan ke arah tiga bapak-bapak beda generasi.


"Ma-ma-mas."


"Musuh bebuyutan cucunya si duda," timpal Arya. Rion pin ikut tertawa.


"Mas belum datang. Sepertinya masih di jalan," kata Radit. Dia menyuruh anak itu untuk duduk dan anak itupun menurut.


Abdalla, dia adalah yang paling anteng dan tidak banyak tingkah. Jika, dia tengah duduk pasti duduk terus. Tak banyak bicara pula. Maka dari itu, dia disenangi oleh Echa. Jangan ditanya bagaimana Arfan. Dia sudah berlari ke sana ke mari. Aska yang bertugas mengejar-ngejarnya pun merasa lelah.


"Apan, Ayah capek."


Anak itu malah tertawa. Dia semakin berlari hingga menabrak kue ulang tahun Beeya hingga semua orang berteriak kaget. Untung saja remnya masih pakem. Arfan tidak sampai menyenggol kue tersebut.


"Bahaya nih anak si Aska," omel Arya.


"Yang itu pan kayak cacing kepanasan," sahut Rion sambil menunjuk ke arah Arfan. Radit malah tertawa.


"Aku ingin teblang bebas di angkasa ...."


"Hei, maling-maling bambu," sahut Rion dan Arya berbarengan.

__ADS_1


Wajah anak yang baru saja datang pun ditekuk. Nampak sekali dia sangat kesal. Rion dan Arya tertawa.


"Sini, Dek. Sama Baba." Ghea pun berlari ke arah Radit. Memeluk tubuh Radit dengan begitu erat. Gavin menyukao.Ninja Hatori dan Ghea menyukai kartun kucing berkantong ajaib.


"Engton mah tua, gak tahu laguna," omel Ghea yang memang sudah lancar bicara walaupun belepotan.


"Lah usia si kucing kantong itu aja lebih tua dari Engkong," sahut Rion.


"Butan tucin tanton, tapi Dolaimin," ralat Ghea.


"Sama aja," sahut Rion.


"Beda!"


"Ih, ampun deh sama Ayah," keluh Riana yang sudah duduk bersama tiga pria dewasa itu. Ayahnya akan selalu membuat Ghea ataupun Gavin bersungut-sungut jika bertemu dengannya.


"Ayah mah gak ada baik-baiknya sama cucu." Aksa menimpali.


"Sembarangan lu kalau ngomong." Mulut pedas Rion sudah bereaksi. "Punya dua mantu pada kurang ajar sama mertua," omelnya.


"Menantu juga tergantung mertuanya," timpal Radit.


"Nah, itu." Aksa membenarkan.


"Terus aja terus," oceh Rion lagi.


"Gimana Abang gak kesal coba," sungut Aksara. "Ghea minta makan pakai udang, eh malah dikasih udang rebon yang kecil-kecil."


Arya pun tertawa. Dia tahu ikan asin itu dari mendiang ibunya Rion. Dimakan dengan nasi hangat saja pun nikmat. Apalagi jika ada sambal goreng dan sayur asam.


"Adek, makan pakai baby udang enak 'kan?" tanya sang Rion untuk memastikan. Ghea yang sedang berada di pangkuan Radit pun mengangguk.


"Besok buatin lagi ya, Ton. Pate bawan Yan banak." Rion pun tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Aksa dan Riana tercengang mendengarnya.


"Ini baru cucu gua, merakyat."


"Dih, merakyat sama medit itu beda tipis, bro," tukas Arya.


"Luh lupa apa semboyan gua apa?" tanya Rion.


"Pelit pangkal tajir." Suara seorang anak laki-laki membuat semua orang menoleh. Mereka terkejut ketika mendengar Gavin bisa mengatakan huruf R.


"Mas, kamu bisa bilang er." Riana benar-benar terkejut. Anak itu nampak terkejut.


"Coba bilang ULAR," titah Aksa.


"Ular."


"LINGKAR," titah Radit.


"Lingkar."


Semua orang pun bertepuk tangan. Akhirnya sang cucu pertama laki-laki dari keluarga Giondra dan Rion sudah bisa berucap er.


.

__ADS_1


Aska sedari tadi lelah mengejar-ngejar Arfan yang selalu saja berlari ke sana ke mari. Baru saja Arfan kena cubit Aleeya karena sudah menumpahkan minuman ke baju cucu ketiga Rion Juanda. Bukannya marah, Arfan malah tergelak.


"Bun, gantian atuh," keluh Aska. Dia sudah ngos-ngosan. Anaknya yang satu ini sungguh luar biasa aktifnya.


Belum juga kering ucapan Aska, suara gelas pecah terdengar. Arfan sudan menyenggol gelas berisi minuman teh botolan.


"Kakak," lirih Aska. Ayah empat orang anak itu merasa sangat lelah.


"Ya ampun!" Jingga sudah mendekat. Namun, tidak ada kemarahan yang Jingga tunjukkan. Dia lebih memilih menarik Arfan menjauhi pecahan gelas yang berserakan.


"Udah gak apa-apa. Nanti biar Bibi yang bersihin." Beby sudah biasa dengan hal seperti ini. Dia malah merasa senang karena rumahnya ramai.


Anak itu kembali kabur dan membuat Aska mengerang kesal. "Nih anak pake batre merk apaan sih? Gak ada lowbetnya."


Muncullah seorang anak tampan dan satu ajudan kecil menghampiri Aska yang sedang kelelahan.


"Capek, ya? Kasihan," ledek Gavin.


Ingin rasanya Aska menjitak kepala keponakannya ini. Sungguh menyebalkan sekali. Seketika dahi Aska mengkerut melihat anak keduanya malah berjalan bersama Gavin.


"Kamu ngapain?" Aska mensejajarkan tubuhnya dengan Ahlam. Menatap putranya lamat-lamat.


"Ma-ma-mas."


"Kenalin, bodiguard Mas." Ada yang aneh di telinga Aska ketika mendengar Gavin berbicara.


"Bilang apa tadi?" tanya ulang Aska.


"Bo-dy-guard."


"Sejak kapan kamu bisa bilang er?" Terkejut, sudah pasti.


"Baru tadi." Aska tertawa dan mengusap lembut sang keponakan. Semakin banggalah dia kepada Gavin.


Putranya yang kedua pun tak mau kalah. Dia ingin diusap kepalanya juga oleh Aska. Semakin tertawalah Aska.


"Jadi anak yang pandai ya seperti Mas." Anaknya pun mengangguk seolah mengerti.


Empat anak perempuan tengah menggotong kandang besi yang berukuran cukup besar melewati Aska. Dia merasa bingung untuk apa kandang tersebut. Namun, dia mencoba untuk abai.


Lima belas menit kemudian terdengar suara cekikikan dari arah halaman belakang rumah Arya. Aska juga tidak melihat anak ketiganya yang super itu. Istrinya malah sedang berbincang bersama tiga wanita yang lain.


"Bun, Arfan di mana?" tanya Askara.


"Sama kakak triplets dan Kak Bee," sahut Jingga. Para wanita itu tengah asyik bergosip.


Perasaan Aska sudah tidak karuhan. Mail, alias Bang cireng alias Ahlam sedang akur bersama Gavin. Abdalla tengah asyik menonton televisi. Balqis sedang asyik memainkan alat make up mainan yang diberikan Beby.


Aska segera menghampiri asal suara si triplets dan Beeya. Matanya melebar ketika melihat putra ketiganya dimasukkan ke dalam kandang besi yang besar.


"Astaghfirullah!" pekik Aska. "Itu anak orang, bukan anak kucing."


...***To Be Continue***...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2