
Aska menghembuskan napas kasar ketika istrinya sudah pergi bersama kakaknya. Bukan hanya perihal Rifal yang membuat dia pusing. Kondisi mertuanya pun sangat membuat pikirannya kacau.
Suara ponsel terdengar. Ketika dia lihat nama si pemanggil, Aska hanya menghembuskan nafas kasar.
"Hem."
"Kapan Pak Radit sampai Bandung?"
"Dia baru berangkat."
Kali ini Aska hanya menjadi pendengar setia saja. Tidak banyak yang Aska katakan. Semuanya sudah dia serahkan kepada kakak iparnya.
"Kemungkinan ... malam saya baru tiba di sana."
Pintu kamar terbuka dan Aska segera mengakhiri panggilannya. Ternyata sang keponakanlah yang masuk ke dalam kamarnya.
"Uncle belum mandi?" Anak itu bertanya sambil menghampiri sang paman yang tengah duduk di tepian tempat tidur. Gavin seakan tahu isi hati kembaran dari ayahnya tersebut.
Aska menjawab pertanyaan itu dengan sebuah senyuman yang hangat. Anak itu malah memeluk tubuh Aska dengan begitu eratnya. Sontak Aska pun bingung di buatnya.
"Sabal ya Uncle," ujar Gavin, Dahi Aska mengkerut menddengarnya.
"Hidup ini penuh ujian, kalau penuh cucian namanya londli."
Keharuan itu berubah menjadi tawa yang menggema. Bisa saja anak ini menghiburnya. Sungguh keponakan yang multi talent. Bisa melakukan apapun, membuat marah, kesal, bangkrut dan sekarang membuat tertawa.
Aska mencium Gavin dan keponakannya itu malah tertawa terbahak-bahak.
"Uncle bau!" ejek Gavin. "Mandi sana!" titahnya.
Ayanda yang sedari tadi mengantar cucunya ke kamar Aska hanya dapat melengkungkan senyum dengan hati yang perih.
__ADS_1
"Mommy selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu dan istri kamu."
Doa yang teramat tulus dari seorang ibu untuk anak bungsunya.
.
Tiba sudah Jingga dan Echa di Bandung. Tanpa Jingga sangka ternyata Echa dan Radit sudah memiliki hunian pribadi di sana. Rumah minimalis dengan pemandangan yang sangat asri dan menenangkan.
Jingga merasa takjub dengan hunian milik Echa. Berlama-lama di sini pun dia pasti akan sangat betah. Baru saja Radit masuk ke dalam kamar, sekarang sudah keluar lagi dengan setelan yang berbeda.
"Sayang, Baba berangkat dulu, ya." Echa pun mengangguk. Radit mendekat ke arah Echa dan mengecup kening Echa sangat dalam.
"Hati-hati, Ba." Radit mengangguk. "Aku mau langsung pergi, boleh?" tanya Echa. Suamianya hanya menjawab dengan sebuah anggukan.
Jingga tersenyum melihat betapa bahagianya keluarga Echa dan juga Radit. Apalagi Radit merupakan laki-laki yang sangat bertanggung jawab juga rajin.
Dua wanita itu langsung menuju tempat di mana mereka ingin memanjakan lidah mereka berdua. Baik Echa maupun Jingga adalah wanita yang suka jajan. Sangat senang mencoba makanan kekinian.
Mereka berdua asyik mencoba makanan di area jajanan khas Kota Bandung. Dari makanan biasa hingga super pedas. Banyak hal yang mereka ceritakan termasuk perihal ayah dari Echa. Jingga hanya menjadi pendengar setia saja. Toh, dia belum terlalu mengenal dekat Echa dan juga ayahnya. Namun, di matanya sosok ayah Rion Juanda adalah sosok yang hangat sekali. Sangat menyayangi anak-anaknya.
"Seberapa buruknya ayah Kakak, tetap saja dia adalah seorang ayah yang sudah mengalirkan darahnya kepada Kakak. Sekuat tenaga Kakak membencinya, darah itu tetap tidak bisa hilang dari dalam tubuh Kakak. Maka dari itu, Kakak mencoba untuk berdamai dengan rasa sakit hati yang pernah Kakak derita. Berharap kesakitan itu akan hilang dan berganti dengan kebahagiaan. Sekarang, Kakak merasakannya."
Tersentuh sekali Jingga mendengar perkataan Echa tersebut. Padahal usianya pada waktu itu masih belia. Namun, sudah berpikir sangat dewasa.
"Pengalaman hidup adalah guru terbaik yang mengajarkan Kakak untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi." Echa berkata dengan tangan yang menggenggam tangan Echa.
"Lepaskan! Itu akan membuat hati kamu menjadi damai." Perkataan sang kakak membuat jantung Jingga berhenti berdetak.
"Keikhlasan itu yang akan menuntun kamu kepada kebahagiaan. Percayalah!"
Jingga tidak bisa berkata apapun. Ucapan itu seperti nasihat untuknya. Perintah untuk melepaskan segala sakit hati juga dendam yang ada di hatinya. Namun, apakah Jingga bisa seperti Echa? Menjadi manusia yang memiliki hati begitu lapang.
__ADS_1
Sedangkan ayahnya sudah sangat terlalu jahat kepadanya juga kedua anaknya. Tidak pernah menganggap dia ada begitu juga dengan kedua putrinya. Sampai menyumpahi Ayna meninggal karena cacat fisik yang dia derita. Bukankah itu terlalu menyakitkan untuknya sebagai seorang ibu? Kenapa ayahnya begitu jahat?
Suasana pun mendadak hening, Echa menatap Jingga yang tengah melamun dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya.
"Maafkanlah segala kesalahannya, sebelum kamu menyesal dengan semuanya."
Mendengar kata tersebut, Jingga menegakkan kepalanya dan menatap ke arah kakak iparnya dengan penuh tanya.
"Penyesalan tidak akan pernah datang di awal. Namun, kita bisa meminimalisir penyesalan itu sedari sekarang."
Sebuah kalimat yang memiliki makna yang mendalam. Jingga hanya terdiam dan dadanya mulai terasa sesak.
"Tidak ada anak yang benar-benar membenci ayahnya," lanjut Echa lagi. "Dia hanya tengah emosi sesaat. Ketika emosinya reda, hanya rasa rindu yang bersarang di dada."
Sekuat tenaga Jingga menahan laju air matanya. Tangannya menyentuh perutnya yang membukit dan anehnya tidak ada reaksi apapun dari anak-anaknya yang masih berada di dalam perut. Tidak seperti biasanya, kali ini ucapan dari bubu mereka seakan menenangkan mereka. Jika, menyangkut perihal sang kakek keempat anak Jingga yang masih berada di dalam perut akan menendang-nendang dengan sangat kuat. Beda dengan hari ini.
.
"Nama Jingga yang selalu dia sebut," ucap Fahri kepada Fahrani.
"Apakah Aska akan mengijinkan Jingga untuk bertemu dengan pria kejam yang sekarat itu?" Fahrani menatap ke arah sang kakak dengan segudang tanya.
"Aska itu berhati lembut, beda dengan kakaknya." Fahri tahu dan hafal dengan watak dua saudara kembar tersebut.
Fahrani pun terdiam. Mereka berdua masih memandangi pria paruh baya yang nampak mengenaskan di atas ranjang pesakitan dengan segala alat yang sudah menempel di tubuhnya.
"Kalau aku jadi Jingga, aku gak akan pernah sudi bertemu dengan orang ini," ujar Fahrani dengan tangan yang dia lipat di atas dada. "Pria ini bukanlah manusia, melainkan iblis jahat," tukasnya.
Fahri hanya tersenyum mendengar perkataan dari Fahrani. Dia setuju dengan ucapan Fahrani, tetapi masih banyak kemungkinan yang akan terjadi. Fahri sangat yakin jika Aska mampu membuat Jingga berdamai dengan hatinya. Meskipun, dia tidak tahu perdamaian itu kapan akan terjadi? Sekarang atau selepas dokter Eki pergi untuk selama-lamanya.
"Menurut kamu ... jika Jingga tahu kondisi ayahnya seperti ini, apakah dia mau menemui ayahnya yang seperti mayat hidup ini?"
__ADS_1
...****************...
Minta komennya boleh?