Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
INVESTASI


__ADS_3

Di dalam mobil Asri terus menelpon Ibunya, namun tak di angkat juga, sudah hampir 15 panggilan tak terjawab Asri berusaha menelepon Bu Anita.


Asri kini khawatir mengapa tak ada kabar dari Ibunya, melihat Asri yang sedang terus menerus menelpon Bu Anita Sam berkata,


"Mungkin masih meeting sayang"


"Aku jadi khawatir deh sama Mamah" lalu Sam memegang tangan Asri supaya membuatnya tenang


"Kamu Jagan khawatir ya, Aku yakin sebentar lagi Tante Anita pasti memberi kabar"


Tini kini tengah menjalani proses kuret di rahimnya, setelah selesai prosesnya kini Tini di pindahkan ke ruang rawat pasien.


Tini bersedih karena telah kehilangan anak yang satu-satunya menjadi senjata agar Sam tak pergi meninggalkannya, namun kini sekarang semua harapannya sirna dan Tini semakin membenci Asri Dia pun menyalahkan Asri atas apa yang terjadi pada dirinya.


Bu Heni yang terus melihat Tini menangis berusaha untuk menenangkannya


"Sayang sudah Nak, Kamu jangan menangis terus, bisa-bisa Kamu nanti dehidrasi dan malah depresi"


"bagaimana Aku tidak sedih Mah, Aku kehilangan anak Ku untuk kedua kalinya, dan sekarang Aku kehilangan suami Aku Mah, Aku gak bisa terima ini" ucap Tini sambil terus menangis, Bu Heni pun bersedih dengan apa yang di alami Anaknya.


Namun mau bagaimana lagi, Sam memang harus pergi bahkan perceraian itu kini Bu Heni pun merestuinya, karena semakin Tini bersama Sam, Tini akan semakin terus terluka


"Kamu kenapa sih selalu Sam dan Sam yang Kamu pikirkan, apa Kamu gak pikirkan perasaan Mamah dan Papah, Kami terus mengkhawatirkan Kamu Tin, dan sekarang Mamah malah setuju kalau Kamu harus bercerai dengan Sam" mendegar Bu Heni menyetujui perceraian itu Tini semakin dibuat marah


"Apa Mah, Mamah setuju Aku dan Sam bercerai, gak Mah sampai kapanpun Aku gak akan mau di cerai, Aku akan lakukan apapun yang penting Aku tetap manjadi istri Sam"


Bu Heni tak mengerti lagi harus bagaimana bicara dengan Tini, watak Tini sangatlah keras seperti Papahnya Herman, jika sudah antusias apapun akan dilakukan agar tujuannya tercapai


"Sudah cukup Tini, Mamah bosan dengar Kamu bersikeras mempertahankan Sam, jelas-jelas Dia tidak mencintai Kamu, Dia mencintai Wanita lain Tini, buka mata kamu" ucap Bu Heni dengan nada meninggi sambil memegangi wajah Anaknya, karena sudah tak bisa di ajak bicara lagi akhirnya Bu Heni keluar dari ruang rawat Tini.


Tini melihat Ibunya meneteskan air mata, lalu pikiran jahat Tini kini muncul


"Aku tidak akan membiarkan Sam hidup bahagia, jika Aku tak bisa memiliki Sam maka tidak seorangpun bisa meraihnya, Asri... Kamu lihat Kamu berhasil lolos dari Kematian berkali-kali, tapi apa Kamu akan berhasil lolos dari amarah orang tua Kamu" ucap Tini dengan rasa kebencian di dalam hatinya.


Bu Heni pun menangis sambil menyender di tiang tembok rumah sakit, Dia bersedih melihat keadaan Putrinya kemudian, lalu Pak Herman datang dan melihat Istrinya menangis Pak Herman pun bertanya,


"Mamah.. Mamah kenapa, kok menangis disini, Tini bagaimana keadaannya baik-baik saja kan" lalu Bu Heni mengatakan jika keadaan Anaknya baik-baik saja hanya saja mental Tini yang tak baik, Pak Herman pun di buat bingung dengan ucapan Istrinya, lalu Pak Herman bertanya,

__ADS_1


lagi,


"Maksud Mamah ini apa, Tini gila Mah" Bu Heni menghela nafasnya lalu berkata


"Tini benar-benar susah untuk diberitahu, Pah kalau begini caranya perceraian Sam dan Tini Mamah akan menyetujui itu, karena Mamah tau bersama Sam Tini tidak akan pernah bahagia" ucap Bu Heni sambil memegang tangan suaminya


"Mamah tenang kalau soal itu Papah juga setuju, dan Asri perempuan tak tahu diri itu, Dia akan mendapatkan balasannya" mendegar perkataan Suaminya Bu Heni jadi bertanya-tanya rencana apa yang sedang di lakukan suaminya itu


"Pah... jangan aneh-aneh Mamah gak ingin ya, sampai Papah terlibat sama polisi" Pak Herman hanya tersenyum jahat lalu masuk kedalam ruangan Tini.


Setelah pulang meeting Bu Anita duduk sejenak di tempat emperan, Bu Anita melamun memikirkan bagaiman usahanya saat ini sedang tidak baik-baik, baru saja Retro memutuskan kontrak kerja menjadi investor secara sepihak.


Bu Anita memikirkan kesalahan apa yang di buat hingga dirinya tak boleh berinvestasi di Retro, memang uang yang di kembalikan sesuai perjanjian kontrak.


Namun Bu Anita tak mengerti dengan semua ini, apalagi saat ini toko organik yang di kelola oleh Bu Anita pun sedang mengalami penurunan omset, satu-satunya yang masih aktif hanya investasi di perusahaan Cirebon, Bu Anita pun pusing jika harus memikirkan masalah ekonomi keluarga.


Lalu Bu Anita membuka ponselnya Dia melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Anaknya, Dia pun segera menghubungi kembali Asri.


Asri dan Sam pun sampai di rumah, saat hendak membuka pintu, ponsel Asri berdering Ternyata Bu Anita menelepon, Asri pun langsung mengangkat telepon itu


"Halo Mamah, ya ampun Mah.. Aku khawatir tau gak si Mah, Mamah dimana sih?"


"Mah.. Aku sudah boleh pulang kata Dokter, Aku berusaha hubungi Mamah untuk pulang bersama, tapi Mamah gak angkat telepon ku, jadi Aku pulang duluan sama Sam" Asri menjelaskan panjang lebar tentang kepulangannya dari Rumah Sakit


"Ya sudah gak papa, Mamah senang Kamu sudah boleh pulang, Mamah sebentar lagi pulang kok, tunggu ya sayang" Setelah bercakap dengan Asri melalui telepon, Bu Anita pun segera pulang untuk beristirahat.


Pak Herman masuk ke dalam ruang rawat Tini, sambil berjalan Pak Herman tertawa kecil


"Tini sudahlah Nak, jangan Kamu pikirkan dulu soal Sam, Papah punya cara untuk membuat Sam dan Asri itu membayar semua yang sudah mereka lakukan sama Kamu" Tini langsung menatap Papahnya, Dia pun bertanya,


"Memang Papah punya rencana Apa?" tanya Tini begitu penasaran dengan rencana Papahnya, Pak Herman pun menceritakan semua yang baru saja Dia lakukan kepada Ibu Asri, kini Tini tertawa jahat mendegar rencana itu


"Ide Papah berlian sekali, Aku yakin Pah Ibunya Asri itu kan seorang investor kerjanya, Dia kalau gak diterima di perusahaan ternama seperti Retro Aku yakin pasti akan sulit mendapatkan uang untuk kehidupannya, apalagi yang Aku dengar Dia seorang janda yang ditinggal mati suaminya" ucap Tini sambil tertawa kencang


"Hus... Jangan kencang-kencang Mamah Mu gak tahu soal ini, kalau Papah bicara pasti Mamah tak akan setuju" Tini menganggukan kepalanya tanda Ia mengerti harus merahasiakan ini dari Mamahnya.


Sedangkan Rahma kini kondisinya mulai membaik, dan Rahma pun kini di pindahkan ke ruang rawat pasien, Chandra membantu Rahma dan menemani Rahma, menyuapi ketika makan, dan membantu saat Rahma ingin ke toilet, tiba-tiba Chandra mendapatkan telepon dari kepolisian

__ADS_1


"Pak.. Mohon maaf Kami harus memberitahu bahwa tersangka kini sudah melarikan diri ke luar negeri, dan Kami tidak bisa sembarangan menangkap orang di luar negeri, paling tidak Kami akan pasang iklan di media untuk kasus buronan" mendengar hal itu Chandra sedikit kecewa, karena tak dapat melihat langsung siapa orang yang ingin mencelakai Asri itu, apalagi Dia melihat orang itu berjalan di depannya hanya karena waktu yang tidak tepat, jadi Chandra tak dapat menangkap si pelaku.


Setelah mendapat kabar dari kepolisian, Chandra pun merasa lemah tak berdaya, dan telepon pun di putus.


"Chan... Kamu kenapa, tadi siapa yang telepon" Chandra diam sejenak, lalu menceritakan bahwa dirinya sudah melaporkan kasus ini ke polisi tapi hasil nya belum ada


"Jadi begitu, pelakunya kabur lari ke luar negeri, Aku sangat ingin tahu siapa Dia dan apa motifnya" ucap Chandra


"Kamu mau cari tahu tentang si pelaku karena Kamu ingin tahu kenapa Dia berusaha mencelakai Asri, atau karena Aku yang sudah tertusuk pisau?" Chandra langsung memandang Rahma, dalam hatinya berkata, "Mengapa Rahma bertanya hal seperti ini" kemudian Chandra menjawab,


"Ya Aku ingin tahu siapa Dia, kejahatan seperti ini tidak bisa didiamkan, Aku takutnya nanti Dia akan berulah lagi" Chandra meyakinkan Rahma.


Namun dalam hati Rahma Dia berfikir karena Chandra khawatir dengan keadaan Asri bukan dirinya, namun perasaan itu tak Rahma tanya, sebab baginya sikap Chandra yang sudah perhatian saja sudah lebih dari cukup.


Lalu Juvi datang menengok Rahma, sekalian Dia pamit untuk pulang, karena hari sudah semakin terlebih nanti orang tuanya mencari dan khawatir


"Rahma Kamu yang sabar ya, Chandra kan sekarang sudah berubah, Dia pasti temani Kamu terus, oh ya Chan Gue balik ya, nanti malam kalau Lo butuh bantuan, untuk gue temani.. gue pasti datang"


"Thanks Juv Lo disini dari siang temani Kita semua gue sudah senang sekali, ya sudah Lo balik istirahat, besok kan Lo kerja" lalu Juvi menepuk pundak Chandra kemudian pergi untuk pulang.


Bu Anita pun sampai dirumah, saat Dia masuk rumah ternyata Asri dan Sam sudah menunggu di meja makan Asri sudah memasak untuk Ibunya makan bersama


"Loh.. sayang ini Kamu yang masak"


"Iya Mah ... Aku lapar, dan Mamah juga pasti lapar, yuk Kita makan" Bu Anita melihat Sam masih disini dan Bu Anita bertanya


"Sam... Kamu masih disini, terimakasih ya sudah mau menemani Asri dan menunggu Asri di Rumah Sakit" Bu Anita kemudian duduk dan langsung mencicip masakan yang Asri buat, saat makan Bu Anita terlihat bengong seperti pikiran kosong, melihat itu Asri pun bertanya,


"Mah.. Mamah gak apa-apa kan? kok Aku merasa Mamah sedang banyak pikiran" lalu Bu Anita memandang Asri dalam hatinya apakah Asri harus tahu masalah yang sedang dihadapinya


"Asri, Sam menurut kalian kalau kontrak kerjasama dibatalkan secara sepihak, itu karena apa ya?" Asri dan Sam pun di buat bingung dengan pertanyaan dari Bu Anita


"Mah.. memang kontrak kerjasama siapa yang dibatalkan?" kemudian Sam menyahuti pertanyaan Bu Anita


"Biasanya sih kalau dibatalkan secara pihak, itu ada masalah pribadi, atau bisa jadi si perusahaan menemukan klien yang lebih dari sebelumnya" Bu Anita pun terdiam sejenak, menyaring perkataan yang di ucapkan Sam


"Begitu ya, berarti ada yang lebih besar menanamkan modal di Retro di banding Mamah"

__ADS_1


"Mah.. tunggu deh, Aku gak mengerti sama maksud pertanyaan Mamah tadi, terus Mamah jawab Retro ini apa hubungannya Mah" Bu Anita pun menghela nafas lalu menaruh sendok dan garpu di piring


"Gini loh sayang, tadi itu Mamah habis meeting di perusahaan Retro, Mamah kan pernah bilang sama Kamu kalau Mamah investor di Retro, ya gak banyak sih tapi kan ini usaha Mamah, terus tadi Retro malah membatalkan kontrak dengan Mamah, dengan alasan perintah Atasan, kan Mamah jadi bingung kenapa di batalkan memangnya Mamah salah apa gitu loh sayang" mendengar ucapkan Bu Anita Sam pun tiba-tiba ter batuk karena terkejut dengan alasan yang Bu Anita katakan kini Sam mengerti mengapa kontrak Bu Anita dibatalkan secara sepihak.


__ADS_2