
Teriakan Aska membuat Jingga yang tengah berendam pun terkejut. Dia segera keluar dari bath up dan meraih bathrobe untuk melihat keadaan suaminya. Ketika pintu terbuka, dia melihat suaminya tengah membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut dan ada anak kecil tengah tertawa terbahak-bahak. Seperti mengejek Aska. Jingga bisa bernapas lega dan dia segera masuk kembali ke kamar mandi. Jika, sudah begitu pasti ada yang sudah terjadi. Dia tidak ingin terlibat karena keponakannya itu sangat pandai. Dia bisa kalah telak jika berurusan dengan Gavin.
"Maafkan aku, Bang As."
Jingga melanjutkan kembali acara rendam-berendamnya. Cukup membuatnya nyaman dan daerah donat mininya pun terasa menciut kembali.
-
"Kamu kenapa udah lepas?" sergah sang paman.
"Atu butan tutin," sahut Gavin. Anak itu malah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Tangannya dia lipat di atas dada.
"Ke kamar kamu lagi gih," usir Aska. Anak itu pun menggeleng.
"Atu mau mandi Tama antel."
Dia sudah menoleh ke arah Aska dan menunjukkan puppy eyes yang pastinya tidak akan bisa Aska tolak.
"Tenapa Antel halus malu beditu? Atu Tan seling liat totis antel. Tita tan seling Mandi balen."
Aska pun terdiam. Benar juga apa yang dikatakan oleh keponakannya. Gavin bersikap seperti itu karena dia sudah mengenal sosis lembek yang akan menjadi pisang tanduk berukuran jumbo jika sudah tersengat aliran listrik.
Akhirnya, Aska dapat tersenyum dan mengusap lembut rambut sang keponakan. Ada rasa sedih dari sorot mata yang Gavin tunjukkan.
"Kenapa bobonya gak lama?" Anak itu hanya diam. Tiba-tiba dia memeluk tubuh sang paman.
"Malam ini ... atu udah dak bobo di tini atau di lumah Enton."
Aska membalas pelukan bocah tiga tahun itu. Anak itu merasa berat meninggalakan rumah ini juga rumah Rion Juanda. Bukan tanpa alasan, Gavin dibesarkan di dua rumah itu. Rumah yang banyak memberikan dia kasih sayang yang luar biasa.
"Kok Empin sekarang drama," ejek Aska. Dia hanya tidak ingin melihat Gavin bersedih.
Anak berusia tiga tahun itupun melonggarkan pelukannya. Dia menatap wajah pamannya yang sangat mirip dengan sang ayah. Namun, ada hal yang membuat mereka berbeda. Itu hanya bisa dirasakan olehnya. Gavin pun menggeleng dan Aska tersenyum. Lalu, mencium kening sang keponakan tampannya.
"Uncle janji, Uncle akan sering main ke rumah Empin atau Empin yang main ke sini."
Aska sudah mengacungkan jari kelingkingnya dan disambut oleh jari kelingking kecil Empin. Bagi Aska Gavin adalah putranya juga. Sedari di dalam kandungan Gavin sudah sangat dekat dengan dirinya.
Pintu kamar mandi terbuka, dua orang laki-laki itu menoleh. Namun, Gavin buru-buru menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Padahal Jingga menggunakan bathrobe.
"Antel, atu Dak Dadi Mandi balen."
Anak itu segera turun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu. Menekan gagang pintu dan keluar dari kamar Aska serta Jingga. Dahi Jingga mengerut dan Aska hanya tertawa.
"Ada apa dengan anak itu?" tanya Jingga.
Aska turun dari tempat tidur tanpa busana. Dia memeluk tubuh istrinya yang sangat harum.
"Aku udah mandi," ujar Jingga. "Jangan buat aku mandi dua kali," ancam Jingga. Aska pun tertawa.
__ADS_1
"Aku juga mau mandi."
Namun, tubuh Jingga dia gendong dan dibawa masuk ke dalam kamar mandi lagi hingga Jingga meronta-ronta.
"Kita coba sensasi baru, Sayang."
.
Jingga sedikit heran kepada sang kakak ipar. Ternyata Riana dan Aksa mengambil baju seragaman untuk pengajian nanti malam.
"Kamu jangan heran. Riana dan Mommy itu sebelas dua belas. Semuanya harus terlihat senada," jelas Aska.
Jingga harus terbiasa dengan ini. Kemewahan, kebersamaan juga candi tawa yang terkadang terlewat batas.
Jingga tersenyum ketika melihat suaminya tengah bercermin dan memasang jam tangan di tangan kirinya. Jingga memeluk tubuh Aska dari belakang membuat Aska terkejut dibuatnya.
"Aku udah rapih," kata Aska. "Jangan minta nambah lagi."
Sontak Jingga memukul lengan sang suami dan Aska malah tertawa. Dia merangkul pundak Jingga dan mereka melihat pantulan bayangan mereka di depan cermin. Tangan Jingga malah melingkar di pinggang sang suami.
"Ayah terlihat lebih tampan ketika mengenakan baju Koko ini." Aska tersenyum.
Aska meraih hijab yang sengaja Jingga sampirkan di kedua pundaknya. Dia menariknya dan memakaikannya ke atas kepala Jingga. Menyampirkan ujung sisi kanan ke pundak kiri juga ujung sisi kiri ke pundak kanan.
"Begini Bunda lebih cantik." Jingga tersenyum sangat lebar. Dia pun menyematkan jarum pentul di bagian bawah dagu. Dia memperlihatkannya kepada sang suami dan Aska pun tersenyum.
"Sangat cantik."
"Mommy dan Daddy udah belantat. Atu mau Balen antel dan anteu."
Aska dan Jingga pun mengangguk. Jingga sudah mengulurkan tangannya kepada Gavin dan anak itu menerimanya dengan senyum yang merekah.
Mobil yang Aska bawa memasuki halaman cukup luas. Di mana mobil mewah sudah berjajar di sana.
"Tembal tida."
Gavin menunjuk kepada Aleena, Aleesa juga Aleeya yang baru saja turun dari mobil. Anak itu ingin segera turun dan memanggil ketiga sepupunya. Mereka masuk bersama.
Jingga terpana pada penampilan kedua kakak iparnya yang sangat serasi. Radit sangat tampan dengan menggunakan baju Koko juga Echa yang sangat cantik mengenakan hijab juga baju muslim sama dengannya.
"Bukan cuma keluarga kaya, ternyata keluarga ini termasuk ke dalam habitat manusia berparas cantik dan tampan."
Apalagi sebuah mobil baru saja terparkir. Seorang Rion Juanda dengan sang putra terlihat sangat tampan dengan kopiah hitam yang mereka gunakan. Semua mata tertuju pada duda taubat itu.
"Pangling loh," ucap Aska.
"Radit kira pak ustadz dari mana."
Rion hanya diam. Biasanya mulutnya akan mengeluarkan kata mutiara nan menusuk kalbu. Namun, dia harus bersikap sesuai baju yang dia kenakan.
__ADS_1
Acara pun dimulai dengan sangat khidmat. Gavin duduk di pangkuan sang ayah. Kedua orang tua Aksa pun ikut bergabung melalui sambungan video. Hati Jingga terenyuh, dia baru merasakan momen kebersamaan yang penuh kebahagiaan. Masuk ke dalam keluarga Wiguna merupakan hal yang tidak dia sangka.
Selesai acara, ibu hamil istri dari Sultan mendadak ingin bakso. Alhasil Pak Sultan mencari tukang bakso. Untung saja ada dua sahabat Askara yang baru saja datang. Jadi, Aksa menyuruh Ken dan Juno mencari tukang bakso dengan catatan tukang bakso gerobak keliling.
"Berapa porsi belinya?" tanya Ken.
"Bawa sama gerobaknya ke sini," jawab Aksara.
"Mamang baksonya gak diajak?"
Plak!
Aska memukul kepala Ken karena geram dengan tingkah bodoh sang sahabat.
"Kalau si mamangnya gak dibawa. Siapa yang mau ngeraciknya, BODOH!" Kalimat yang penuh dengan penekanan.
Ken hanya cengengesan. Baru saja mereka hendak berangkat, suara dentingan mangkuk yang dipukul sendok terdengar.
"Alhamdulillah," ucap Upin Ipin versi Indonesia.
Ken dengan suara Tarzannya memanggil tukang bakso dan menyuruh gerobak itu masuk ke halaman. Semua orang yang masih berada di rumah Aksara segera menghampiri gerobak bakso. Termasuk dua ibu hamil istri dari si kembar.
"Kenapa wanita suka banget sama bakso?"
Pertanyaan itu muncul dari mulut bapack-bapack yang menolak tua. Komunitas bapack-bapack yang terdiri dari Arya, Rion, Gio, Radit, Aksa dan juga Aska akan berbicara hal yang bar-bar. Tanpa ada saringan.
"Karena para wanita gak punya bakso, beda halnya sama kaum pria."
Jawaban Aska itu membuat semua bapack-bapack yang masih asyik duduk di karpet tertawa, termasuk Ken dan Juno. Mereka melupakan bahwa di sana ada satu bocah yang masih memiliki otak yang bersih.
"Bakso kembar," celetuk Ken.
Gavin tengah mencerna apa yang dikatakan oleh orang dewasa itu. Otak pintarnya tengah menyambungkan ucapan pria dewasa dengan logikanya. Dia pun mengerti apa yang dikatakan oleh orang-orang dewasa itu.
"Butan bato." Suara Gavin membuat pria dewasa yang berada di sana menatap Gavin dengan bingung.
"Telul puyuh yan teliput taya tate-tate. Taya Puna antel, delet banet telul puyuhna."
Mata Aska melebar ketika mendengar sang keponakan membuka aibnya. Sedangkan para pria dewasa tersebut tertawa puas. Beda halnya dengan Aksara. Dia menatap tajam ke arah adiknya itu. Meminta penjelasan.
"Bukan salah gua, nih anak lu main masuk ke kamar gua. Masuk lewat bawah selimut, mana ujung Adek berharga gua disentil lagi," ungkapnya.
"Lu plontos?" Mata Juno mulai melebar seraya menatap Askara.
"Orang gua abis main kuda-kudaan, ya plontoslah. Mana enak main kuda-kudaan pake baju," sahut Askara.
"Daddy, betot atu nait tuda poni dak Utah pate Badu tama telana ya. Bial mainna lebih enat."
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa Komen ....