
Jingga terharu melihat kedekatan Echa dan juga Ayanda. Kini, dia melihat langsung betapa ayah dari kakak iparnya itupun sangat menyayanginya. Ketika Echa berada di ruang makan, tangannya mengecek pekerjaan sedangkan makanan itu hanya dianggurkan membuat Rion berinisiatif untuk menyuapi Echa. Dia juga melihat betapa suami kakaknya sangat perhatian kepada Echa. Radit mengambilkan suplemen makanan yang biasa Echa konsumsi sebelum dia menyiapkan bekal untuk ketiga anaknya.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Jingga dan membuat Aska merangkul pundak sang istri tercinta.
"Kak Echa adalah anak yang baik. Makanya dia memiliki orang tua yang baik dan juga suami yang luar biasa." Jingga setuju dengan ucapan itu. Terlihat jelas bukan hanya Rion yang menyayangi Echa. Gio pun sangat menyayangi putri sambungnya itu.
"Bubu, kami berangkat sekolah dulu." Ketiga anak Echa mencium tangan ibu mereka dengan sangat lembut dan sopan. Ketiga anak itu memiliki attitude yang sangat baik.
Setelah si triplets pergi, kini hanya orang dewasa yang ada di sana. Pandangan Jingga masih terpaku pada Rion dan juga Echa. Dia terus menyaksikan betapa tulusnya kasih sayang seorang ayah kepada putrinya. Jujur, dia ingin seperti itu. Jujur, dia ingin merasakan hal itu.
"Apakah aku tidak berhak mendapatkan kasih sayang dari ayahku?"
Batinnya mengeluh. Di dalam lubuk hatinya terdalam dia ingin merasakan kasih sayang tulus dari ayah kandungnya. Di mana darah dokter Eki mengalir di tubuhnya. Tidak meminta harta, Jingga hanya ingin mendapatkan kasih sayang yang tulus dari ayahanda.
__ADS_1
"Kak Echa juga dulu sama seperti kamu."
Jingga terkejut ketika dia melihat sang kakak ipar sudah berada di sampingnya. Senyum hangat dia berikan kepada Jingga.
"Dulu, Kak Echa tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah dari Kak Echa lahir hingga Kak Echa berusia lima tahunan." Jingga terkejut dengan pengakuan dari Echa tersebut. Apa iya? Tanda tanya besar yang ada di benaknya.
"Ayah pertama untuk Kak Echa adalah Papah Gi." Echa menoleh ke arah Gio yang juga tersenyum ke arah Echa. "Papah adalah pria yang membuat Kak Echa merasa memiliki seorang ayah yang sesungguhnya. Memiliki pahlawan dalam hidup Kak Echa." Jika, mengingat hal itu semua orang yang menjadi saksi bisu kehidupan Echa akan menunjukkan wajah pilu.
Hati semua orang sakit mendengar penuturan Echa. Apalagi Rion yang sudah berkaca-kaca.
"Kak Echa bangga sama Mamah. Sesakit hati apapun Mamah kepada Ayah, Mamah selalu bilang kepada Kak Echa kalau Ayah itu orang baik. Ayah sayang sama Kak Echa." Mata Echa berkaca-kaca. Dia sangat bersyukur memiliki ibu seperti Ayanda.
Jingga teringat akan ucapan ibundanya tempo hari. Jikalau, ayahnya adalah orang baik. Hanya saja dia dipengaruhi oleh sang nenek. Alhasil sikap ayahnya seperti itu.
__ADS_1
"Itulah kenapa Kak Echa tidak membenci Ayah? Ucapan baik seorang ibu seperti doa. Kak Echa dipertemukan dengan Ayah yang sudah berubah menjadi baik hingga saat ini."
Echa menatap wajah sang ayah dan Rion memeluk tubuh Echa dengan begitu erat. Tak malu Rion memeluk tubuh Echa dan mencium ujung kepala Jingga.
Bulir bening menetes begitu saja dari pelupuk mata Jingga melihat keharuan yang diciptakan oleh Echa dan ayahnya. Dia tengah membayangkan jika itu adalah dirinya juga ayahnya. Pasti Jingga akan sangat bahagia. Hal kecil yang hanya seperti mimpi untuknya. Sulit untuk mendapatkannya. Pasalnya sang ayah adalah manusia yang keras hatinya.
"Mommy doakan, semoga suatu saat nanti kamu dan ayahmu bisa seperti ini."
Air mata Jingga semakin deras mengalir. Mulutnya terkatup rapat, tetapi hatinya mengaminkan sangat keras.
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1