Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
171. Bagian Keluarga Wiguna


__ADS_3

Anugerah terindah yang Aska dan Riana miliki adalah Ayna. Mereka berdua menjadi manusia yang lebih bersyukur perihal apapun. Ketidaksempurnaan yang Ayna miliki tak lantas membuat mereka berdua kecewa. Mereka ikhlas menerima cobaan seberat apapun.


Setiap pagi, mata Ayna seperti bias matahari yang menyinari bumi. Bukan hanya untuk kedua orang tuanya. Untuk semua orang yang berada di sana.


Jingga tak memerlukan pengasuh untuk saat ini. Biarlah dia lelah, biarlah dia menjaga Ayna dengan sepenuh hatinya. Dia sangat ikhlas.


"Ayna mana?" Ketika Aska turun pasti yang ditanyakan Ayna oleh kedua orang tuanya.


"Baru selesai mandi. Bundanya lagi gak enak badan," ujar Aska.


Ayanda segera bangkit dan menuju kamar Aska. Tanpa mengetuk pintu dia segera masuk ke kamar sang putera.


"Kalau kamu sakit, istirahatlah. Biar Mommy yang jagain Ayna."


Jingga tersenyum, dia pun menggeleng. Dia berterimakasih sekali karena sang ibu mertua sudah mau membantunya.


"Aku cuma kelelahan, Mom. Udah tiga malam ini Ayna rewel kalau tengah malam."


Ayanda mengusap lembut pundak sang menantu. Hatinya teriris ketika melihat Ayna dalam keadaan plontos. Apalagi melihat kaki Ayna sebelah kiri.


"Apa kamu tahu penyebab Ayna seperti ini?" Jingga pun mengangguk.


"Aku sudah ikhlas, Mom. Aku tidak ingin berdebat dengan ketentuan yang sudah Tuhan berikan untukku," sahutnya. "Tugasku hanya berserah kepada-Nya."


"Mommy bangga kepada kamu. Tuhan selalu baik kepada Mommy, memberikan menantu-menantu yang luar biasa untuk Mommy. Latar belakang kalian hampir sama."


Jingga pun tersenyum. Dia menatap wajah sang mertua dengan sangat dalam.


"Mommy bagai penyempurna hidup kami yang memiliki masa lalu buruk. Mommy malaikat tak bersayap yang Tuhan kirimkan untuk kami. Memiliki mertua baik katanya mustahil, tetapi tidak mustahil untukku." Jingga menggenggam tangan Ayanda dengan begitu erat.


"Mommy mau menerimaku dengan tangan terbuka. Mau memasukkan aku ke dalam keluarga yang dipandang oleh dunia. Itu sebuah kehormatan juga kebahagiaan untukku."

__ADS_1


Ayanda memeluk tubuh menantunya. Inilah karma baik yang Jingga terima. Begitu juga dengan Ayanda. Pernah berada di posisi sangat di bawah dan terluka tak ayal membuat Ayanda congkak ketika dia diperistri oleh seorang pengusaha kaya raya. Dia malah semakin bersikap baik kepada semua orang. Termasuk kepada orang yang pernah menyakitinya.


Suara cegukan Ayna membuat dua orang ini tersadar bahwa ada Ayna di sana yang belum memakai baju. Mereka berdua tertawa.


"Maafkan Bunda ya, Nak. Bunda lupa, Mimo ngajakin bicara terus," ujar Jingga.


"Loh kok Mimo? Bunda kamu tuh yang duluan." Mereka saling menyalahkan sambil tertawa pelan.


Dari balik pintu, Aska dan Gio tersenyum bahagia. Mereka berdua bersyukur memiliki pasangan yang begitu kuat. Wanita hebat yang Tuhan kirim untuk mereka berdua.


.


Ketika Aska tiba di kantor. Aska dikejutkan dengan berkumpulnya para karyawan di depan ruangannya. Dahinya mengkerut, dia tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi.


Mendengar suara sang Abang yang murka, membuat Aska semakin mempercepat langkahnya.


"Pak," sapa Aska kepada Aksara.


Semua karyawan wanita menunduk. Mereka tak berani menegakkan kepala mereka.


Aksa memperlihatkan sebuah video kepada Aska. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Aksa. Tatapannya sangat membunuh. Helaan napas kasar keluar dari mulut Askara.


"Saya mempersilahkan kalian untuk menghujat, mencemooh anak saya. Biarlah ucapan kalian menjadi pelebur dosa untuk anak saya," ucapnya. Namun, terdengar penuh penekanan.


"Saya tidak akan marah, saya juga tidak akan tersinggung. Jika, kalian mengatakan ini adalah karma untuk saya, kalian itu salah. Kalian bukan Tuhan. Kalian hanya manusia sok benar."


Hanya itu yang Aska lontarkan. Hatinya sangat marah, tetapi memang seperti itu kenyataannya. Anaknya tidak sempurna. Berdamai dengan kenyataan, lagi dan lagi yang harus Aska lakukan. Dia pun meninggalakan sang Abang dan para karyawan yang menunduk dalam.


"Saya tidak akan tinggal diam. Menggunjing keponakan saya berarti kalian menggunjing keluarga saya," geramnya. Tatapannya masih tajam seakan tidak ada ampun untuk mereka.


"Sekarang, kemasi barang-barang kalian dan hari ini juga nama-nama kalian akan saya coret dari perusahaan Wiguna Grup." Mata para karyawan yang ada di depan Aksa melebar. Tidak ada perusahaan yang memberikan gaji besar selain Wiguna Grup juga PT. WAG. Sedangkan cicilan mereka masih sangat banyak.

__ADS_1


"Saya pastikan, semua anak cabang Wiguna Grup maupun PT. WAG tidak akan menerima kalian."


Bom waktu Aksa meledak juga. Satu kali ledakan membuat banyak orang mati mengenaskan. Aksa pun masuk ke ruangan sang adik. Dia tahu bagaimana perasaan Aska sekarang.


"Gak usah berlebihan, Bang. Kasih surat Peringatan aja," ujar Aska yang fokus pada layar segiempatnya.


"Tidak ada SP jika sudah menyangkut keluarga Wiguna," tegas Aksara.


"Ayna adalah keponakan gua. Dia cucu Giondra Aresta Wiguna, dia cicit almarhum Genta Wiguna. Apa ketika orang lain menginjak-injak harga diri salah satu anggota keluarga kita. gua harus diam saja?" sergahnya.


Aska menatap ke arah sang Abang. Senyum pun melengkung indah di bibirnya.


"Gua gak akan tinggal diam, gua akan melindungi Ayna. Dia terlahir memang untuk menyempurnakan keluarga kita."


Menyempurnakan, sebuah kata yang membuat hati Aska terenyuh. Biasanya keluarga kaya raya jika sudah menyangkut perihal fisik akan menjadi masalah besar karena akan mempengaruhi daya tarik. Juga merasa malu karena sebuah ketidaksempurnaan yang dianggap aib. Beda halnya dengan keluarga Wiguna. Mereka menganggap ketidaksempurnaan Ayna adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan untuk mereka.


"Ketika lu direndahkan manusia karena fisik anak lu, jangan lu dengar. Sejatinya, derajat lu sedang ditinggikan." Aska tersenyum.


"Makasih, Bang. Support kalian selalu membuat gua sadar, bahwa ketika gua sedang dilanda masalah besar keluargalah tempat untuk gua pulang. Keluargalah yang akan menerima gua dengan tangan terbuka."


Aksa pun ikut melengkungkan senyum. Dia tahu, ada kesedihan yang mendalam yang Aska rasakan. Namun, dia mencoba untuk tegar.


.


Ketukan pintu terdengar, tetapi Jingga dan Ayna yang berada di dalam tak kunjung membuka suara. Ayanda menekan gagang pintu kamar menantunya. Terlihat Jingga tengah bersandar di kapal ranjang sambil menggendong Ayna yang juga tengah terlelap.


"Ya Tuhan."


Ayanda terdiam sejenak ketika melihat ada jejak air mata di wajah cantik menantunya. Ponsel Jingga pun tergelatak begitu saja dan terlihat nomor luar negeri yang menghubunginya. Ayanda tahu itu kode negara mana. Rasa penasaran yang membuncah membuat Ayanda mengambil ponsel Jingga dan menjawab panggilan tersebut tanpa membuka suara terlebih dahulu.


"Bagaimana? Sudah gila belum karena memiliki anak cacat lagi."

__ADS_1


Mata Ayanda melebar mendengar kalimat yang tidak pantas dilontarkan tersebut.


"Benar kata nenek kamu, kamu adalah anak pembawa sial. Kedatangan kamu hanya untuk membunuh putriku. Aku berharap anak kamu mati dan kamu akan selamanya gila dan mendekam di rumah sakit jiwa."


__ADS_2