
Tumbuh kembang Ayna sangat bagus. Kini, anak difabel itu sudah berusia satu bulan. Matanya terlihat sangat jernih. Dia juga sudah bisa diajak berkomunikasi. Membuat Aska dan Jingga semakin menyayanginya.
Ketika dia sedang memiliki waktu luang di kantor, dia selalu menghubungi istrinya. Dia selalu rindu akan Ayna. Anak yang seakan menjadi mata untuknya.
"Ayna gak bobo."
Anak itu tertawa dan mulutnya sudah mulai monyong-monyong. Aska akan selalu tertawa jika melihat tingkah lucu sang putri. Ketidaksempurnaan Ayna tidaklah menjadi beban untuknya.
"Ayna ini terbilang cepat loh tumbuhnya," ujar Riana.
Ghea sedang diajak Ayanda ke minimarket sedangkan Ayna masih belum boleh keluar rumah karena belum empat puluh hari. Pamali kata Mommy Ayanda.
Riana pun sangat menyayangi Ayna. Kata Gavin, dia memiliki dua adik. Ayna dan Adek. Jika, ke manapun pergi pasti dua bayi perempuan itu dibelikan sesuatu olehnya.
"Jingga, kamu kuat sekali, ya."
Jingga hanya menyunggingkan senyum. Dia menatap wajah Ayna yang selalu membuat hatinya tenang.
"Kekuatan aku ada pada keluarga ini, Mbak. Kalian selalu mendukung aku. Tidak membeda-bedakan Ayna, itu yang membuat aku bahagia. Aku merasa tidak sendiri. Aku terus dirangkul oleh kalian. Tanganku terus kalian genggam. Tak membiarkan aku berdiri sendirian dan berjalan tanpa arah tujuan."
Riana memeluk tubuh Jingga. Mata Jingga sudah berkaca-kaca ketika mengatakan itu semua.
"Itulah gunanya keluarga. Kita harus saling menguatkan. Selalu ada di saat mereka membutuhkan."
Jingga benar-benar merasa beruntung bisa masuk ke keluarga Wiguna yang memang memberikan kehangatan untuknya.
"Ayna adalah hadiah terindah untuk kita semua. Dia adalah titipan Tuhan yang sangat berharga yang harus kita jaga. Adanya Ayna, membuat kita semakin dekat. Kita selalu meluangkan waktu sesibuk apapun kita bekerja."
Jingga setuju akan ucapan Riana tersebut. Semenjak adanya Ayna, rumah besar sang ibu selalu ramai karena semuanya pasti berkumpul di sini.
"Attalamualitum"
Suata Gavin sudah menggema. Anak itu berlari ke arah sang ibu dan juga sang tante.
__ADS_1
"Atu beli es tlim buat Adek dan Ayna."
Jingga dan Riana pun tertawa. Riana memangku sang putra dan mengusap lembut rambut lebat Gavin.
"Adek dan Ayna belum boleh makan es krim, Mas."
Wajah Gavin nampak kecewa. Namun, Jingga malah mengambil es krim tersebut dari tangan Gavin.
"Buat anteu boleh?" Gavin pun mengangguk. Bibirnya melengkung dengan sempurna.
Ayanda menggelengkan kepalanya. Jingga mengerti, dia hanya tidak ingin mengecewakan Gavin.
"Jingga, sebentar lagi empat puluh hari kamu. Kalau bisa jangan berhubungan badan dulu, ya." Ayanda sungguh takut jika kejadian seperti Riana menimpa Jingga. Baru empat puluh hari sudah digenjoot lagi.
Jingga tidak menjawab. Dia malah menatap ke arah sang kakak ipar yang juga terdiam. Ayanda ini yang protektif kepada menantunya, tetapi Aksa dan Aska adalah pria yang agresif. Riana menggerutu dalam hati, ibu mertuanya tidak tahu saja setelah Ghea empat puluh hari dan sudah memasang IUD langsung dipakai oleh Aksa. Katanya, kepalanya mengalami vertigo jika tak melakukan ritual ninja Hatori.
Jingga pun sama, suaminya terus merengek layaknya anak kecil. Asi yang lancar keluar selalu Aska habiskan. Dia juga lelah jika harus memainkan sosis jumbo sampai mengeluarkan susu kental manis full cream. Harusnya istirahat, malah terganggu. Itupun hampir setiap malam dilakukan. Aska beralasan jika dia akan uring-uringan jika tidak dikeluarkan.
Kedua menantu itu hanya mengangguk. Dalam hati mereka, mereka mengatakan bahwa mereka tidak janji. Aska dan Aksa bagai singa yang kelaparan jika sudah di ranjang.
.
"Bunda tidur aja," imbuh Aska.
Jingga malah terbaring di paha Aska dan membuat Aska menggelengkan kepala.
"Bunda emang gak tidur siang?"
"Tadi ada Mbak Riana. Gak enak kalau ditinggal sendirian."
Aska mengerti. Dia mengusap lembut rambut sang istri tercinta. Dia membiarkan Riana tertidur dan Ayan bermain bersamanya. Kasih sayang tulus ini yang Ayna inginkan.
Namun, Aska teringat pada satu kejadian tadi di kantor. Kabar bahwa anak Aska cacat sudah menyebar. Ada banyak karyawan yang berbisik-bisik perihal anak dari Askara. Banyak yang mengatakan bahwa anak Aska adalah anak pembawa sial. Aib dan segala macam. Namun, tidak Aska gubris.
__ADS_1
Jika, Aska meladeni mereka pasti sama tidak warasnya. Aska masih bersikap santai. Fahrani mendatangi Aska di ruangannya. Dia memberikan rekaman video para karyawan wanita sedang menggosipkannya.
"Karma karena sudah memecat Filia."
Aska hanya tersenyum. Dia menghela napas kasar. Dia pun menatap Fahrani dengan penuh harap.
"Jangan sampe Abang tahu." Fahrani mengangguk mengerti.
"Kuatkan aku, Tuhan."
Sebenarnya Aska tidak sekuat ini. Saksi bisu kerapuhan Aska adalah Ken dan Juno. Dua sahabat Aska yang mampu merasakan kesedihan Aska.
"Tuhan itu sedang menguji lu dan jingga. Tuhan sudah menyiapkan rencana yang indah untuk rumah tangga lu berdua."
Ucapan Ken benar adanya. Juno setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ken.
"Mau lu nangis darah sekalipun, itu tidak akan pernah bisa merubah apapun. Anak lu tetap aja difabel," tutur Juno sedikit kasar.
"Yang harus lu lakuin, terima, jalani, ikhlas. Ikuti apa yang sudah Tuhan tuliskan. Kita hanya pemeran, Tuhan yang memiliki kekuasaan."
Kedua sahabat Aska pun tidak pernah meninggalkan Aska. Malah mereka berdua sangat merasa salut kepada Jingga. Perempuan itu sangat kuat. Mampu terus tersenyum di tengah cobaan yang cukup berat yang harus dia lalui.
"Sa, setiap manusia itu pasti akan mengalami ujian hidup. Gak ada manusia yang hidup lempeng-lempeng aja. Gak ada manusia yang hidup yang bahagia aja, sedih terus menerus, gak ada," ungkap Ken.
"Jangan jauh-jauh, lihat aja Abang lu," ucap Ken. "Rumah tangganya adem ayem aja, harmonis aja. Apa mungkin tidak ada percekcokan di antara abang lu sama bininya? Gak mungkin, Sa."
"Abang lu hanya bisa menempatkan diri. Menutupi semua yang terjadi agar semua orang melihat bahwa kehidupannya selalu bahagia," tambah Juno.
"Bahagia itu kita yang buat, dan sedih kita juga yang harus mengakhiri," tukas Ken.
"Percayalah akan ada pelangi setelah hujan turun," ucap Juno.
Aska hanya bisa menghela napas kasar. Menatap wajah Ayna membuat semangat Aska kembali lagi. Apalagi melihat wajah Jingga yang terlelap dengan begitu damainya, dia harus bangkit dan terus berjuang membahagiakan anak dan istrinya.
__ADS_1
"Terus jadi mata Ayah dan bunda ya, Nak. Terus perlihatkan karunia Tuhan yang belum bisa kami lihat. Teruslah bersama kami, kehadiran kamu membuka mata kami. Ketidaksempurnaan kamu menyempurnakan hidup Ayah dan bunda. Ayah sayang Ayna."
...****************...