
Tini melihat Sam sedang melamun Dia pun bertanya,
"Sam... Kamu kenapa...? Kamu senang kan Aku hamil, Aku sudah lama sekali mengharapkan seorang anak"
"Entahlah Tin Aku tidak tahu perasaan Ku sekarang seperti apa" Sam menjawab dengan suara lemas, lalu Sam mengajak Tini untuk pulang.
Tapi Tini tak mau pulang Dia meminta di antar ke supermarket untuk membeli sayuran dan daging
"Sam... Kita ke supermarket ya, Aku mau beli bahan bahan untuk masak, Aku mau kasih surprise buat Mamah sama Papah, Mereka pasti senang mendengar kabar bahagia ini" namun Sam tak menjawab Dia hanya menganggukkan kepala mengiakan permintaan Tini.
Di dalam mobil Sam memikirkan bagaimana kalau Asri tahu soal ini
"Apa reaksi Asri kalau Dia tahu Tini hamil" ucap dalam hati Sam, sambil menyetir, Dia terus bengong dan melamun, Tini melihat Sam seperti tak fokus menyetir lalu Tini bertanya,
"Sam Kamu kenapa si, sejak tadi pulang dari Rumah Sakit, kamu diam tak bicara apa apa" lalu saat Tini melihat ke arah depan Sam mulai goyah dalam menyetir Mereka pun hampir menabrak mobil dari arah yang berlawanan
"Sam.... awas....." teriak Tini dengan kencang, Sam pun langsung banting stir ke arah kiri, Sam diam dan menarik nafas dengan cepat, Tini pun marah melihat Sam seperti ini
"Sam Kamu kenapa sih, Sam Kita hampir kecelakaan, tolong dong Kamu yang fokus kalau menyetir" Tini pun langsung memegang perutnya seakan Dia takut kehilangan bayi dalam kandungannya lagi, sebab dulu Tini pernah mengalami keguguran sekali, dan kali ini Dia tak mau sampai terulang lagi, Tini pun berbicara degan janinnya
"Nak... maafin Papah Kamu ya, sepertinya Papah kecapean, untung Kamu masih selamat" bicara sambil mengusap usap perutnya, Sam mendengar Tini bicara seperti itu Dia pun mengatakan
"Maaf... Aku mungkin kecapean, jadi gak fokus nyetir, sebaiknya Kita pulang Tin, Kamu ke supermarket sama Mamah saja ya" Tini yang takut akan kejadian tadi, akhirnya mengiakan untuk pulang saja.
Chandra yang sedang mendengarkan semua cerita Asri tentang Sam jadi mengerti mengapa Sam sampai berani mengambil resiko sebesar ini
"Jadi seperti itu ceritanya" lalu chandra bertanya lagi tentang perasaan Asri
"Asri.... tapi Kamu yakin kalau Sam bisa lepas dari Tini" Asri melihat Chandra Dia diam seketika, hatinya yakin akan perasaannya terhadap Sam, tapi pertanyaan Chandra barusan jadi mengusik benaknya
"Aku serahkan semuanya sama Allah" mendegar jawaban Asri Chandra seperti tak punya harapan bisa kembali bersamanya, sebenarnya Dia bisa saja seperti Sam, berselingkuh dibelakang Rahma, tapi Chandra meyakini bahwa pernikahan adalah hal yang sakral, tak sembarangan harus di permainkan.
Akhirnya sampai juga di rumah Asri, lalu Asri berterimakasih pada Chandra karena sudah mengantarnya
"Chan terimakasih ya, sudah mengantar Aku, salam sama Rahma ya" Chandra menganggukkan kepala juga tersenyum.
Kini Chandra menuju Rumah Sakit untuk melihat keadaan Rahma.
Sesampainya di rumah Sam langsung masuk kedalam lalu ke kamar, Tini di tinggal begitu saja, Tini yang sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu hanya terdiam, lalu Ia berkata dalam hatinya
"Semoga saja setelah anak ini lahir Sam akan berubah sikapnya terhadap ku" Saat Tini masuk kerumah Dia langsung mencari Ibunya untuk memberikan kabar bahagia ini "Mamah ..... " panggil Tini pada Ibunya yang sedang duduk di ruang tengah sambil membaca majalah, Bu Heni menoleh
"Sayang... sudah pulang, bagaimana tadi ke Rumah Sakit bersama Sam?
"Jadi dong Mah.. Mamah tau Aku dapat kabar apa hari ini?" Tini bertanya dengan raut wajah tersenyum senang
__ADS_1
"Memangnya Kamu dapat kabar apa" Bu Heni jadi bingung dibuatnya
"Aku...... Hamil Mah" Tini berbicara dengan girang sambil nyengir.
Bu Heni tak percaya dengan kabar kehamilan Tini, rasanya campur aduk, sebab dulu Tini pernah di vonis Dokter akan sulit untuk punya Anak, karena kondisi kandungannya yang sangat lemah
"Kamu serius Tin.... Mamah ga nyangka Tin, Tuhan kasih Kamu kepercayaan lagi"
"Ia Mah, Aku juga ga menyangka, tapi ini kabar bagus Mah, semoga dengan kehamilan Aku bisa membuat Sam berubah sikapnya terhdap Aku" Bu Heni langsung memeluk Putrinya dan mengatakan,
"Mungkin ini jalan dari Tuhan, supaya Rumah Tangga Kamu tetap terjaga" lalu Bu Heni membelai rambut Putrinya
"Mah.... Kita masak yuk... Kita kasih Papah surprise kabar ini"
"Boleh... oh ya, Sam mana, kok Mamah gak lihat"
"Sam langsung ke kamar capek katanya hari ini" Akhirnya Bu Heni dan Tini pergi ke supermarket membeli bahan bahan untuk di masak.
Asri tengah bersantai di dalam kamarnya tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah, Asri pun kedepan untuk melihat siapa yang datang, dan saat dibuka ternyata Bu Anita pulang dari Bandung
"Mamah... " Asri tersenyum pada Ibunya, Bu Anita langsung masuk hanya senyum sedikit di berikan untuk Anaknya.
Asri terheran mengapa setelah pulang dari Bandung Bu Anita tak terlihat bahagia, sebenarnya apa yang terjadi ucap dalam hati Asri
"Mah.... Mamah kenapa, Mamah sakit"
"Mamah Habis nangis ya?" tiba tiba Bu Anita memeluk Anaknya sambil menangis terisak Isak, Asri semakin heran dengan sikap Mamahnya
"Mah... sebenarnya apa yang terjadi sih? kok Mamah pulang dari Bandung malah nangis seperti ini" Asri bertanya kesekian kalinya
namun Bu Anita tak menjawab sepatah katapun pertanyaan Anaknya, Bu Anita hanya terus menangis sambil mengelap wajahnya dengan telapak tangannya.
Lalu Bu Anita bilang kalau Dia merasa capek saja, dan Bu Anita meminta untuk jangan menganggunya dulu selama istirahat di kamar Asri pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya tanpa bicara lagi.
Asri semakin bingung, sebenarnya di dalam hatinya, Ia ingin bertanya lagi tapi Asri takut jika Mamahnya marah lagi seperti waktu kemarin ketika membahas soal Papahnya, Asri pun kembali ke kamarnya.
Bu Anita terus menagis di dalam kamarnya Dia merasa hancur sehancur hancurnya, karena yang sebenarnya Bu Anita pergi ke Bandung Ia harus menghadiri sidang perceraian dengan suaminya, tak ada yang tahu rahasia besar bahwa Papah Asri masih hidup.
Bu Anita menutupi hal itu dri Asri sebab Dia tak mau lagi berurusan dengan suaminya yang pernah meninggalkannya sewaktu hamil Asri.
Bu Anita pun teringat masa lalunya, dulu Bu Anita sangat terluka ketika suaminya pergi meninggalkan dirinya sewaktu hamil Asri, hal membuatnya sangat membenci Fery Papahnya Asri, sejak saat itu lah Bu Anita bertekad untuk pergi jauh dari kehidupan Fery, agar Dia tak mengingatnya lagi, terlebih Bu Anita tak mau jika nanti Anaknya tahu siapa Ayahnya.
Karena konflik yang terjadi antara Fery dan Anita berawal dari terjadinya perselingkuhan, Bu Anita pernah berselingkuh dengan Fery, Mereka menikah diam diam di belakang Dian istri pertama dari Fery, sampai pada saatnya Bu Anita hamil anak pertamanya yaitu Asri.
Namun pernikahannya terbongkar, Istri pertama Bu Dian marah dan membenci Bu Anita hingga memaki maki dengan sangat kejam, Bu Dian meminta suaminya untuk memilih istri pertamanya atau selingkuhan.
__ADS_1
Sayangnya pak Fery tak punya pendirian, Dia bimbang di satu sisi Fery masih ingin mempertahan kan pernikahan pertamanya, di sisi lain Fery juga mencintai Bu Anita, istrinya tahu kalau Bu Anita pasti yang akan dipilih, maka dari itu Bu Dian mengancam jika lebih memilih Anita Dia akan mencabut semua fasilitas yang pernah di dapatkannya selama ini, dan pastinya Fery tidak akan mendapat warisan sedikitpun dari keluarga Bu Dian.
Ya..... tentu karena harta lah yang membuat Fery memilih untuk tetap mempertahankan pernikahannya, dari situ lah Bu Anita di usir oleh Dian dan memberikan uang kepada Bu Anita dengan cara melempar.
Hal itu sangatlah membuat Hati Bu Anita hancur merasa harga dirinya di injak injak oleh Dian, apalagi Fery tak bisa melakukan apa apa untuk membantu atau menolong Bu Anita, akhirnya Bu Anita bertekad untuk pergi sejauh mungkin agar tak pernah bertemu lagi dengan Fery dan Dian.
Bu Anita membesarkan Asri dengan tangannya sendiri menjadi Ibu sekaligus Ayah untuk Anaknya, maka itu Bu Anita selalu marah jika Asri membahas tentang Ayahnya. Begitulah cerita konflik bu Anita yang sama sekali Asri tak mengetahuinya.
Sam masih terdiam di tempat tidur Dia merasa tak bisa istirahat dengan situasi seperti ini, Dia harus memberi tahu soal kehamilan Tini pada Asri, Sam tak ingin berbohong dari Asri, lalu langsung saja Sam menghubungi Asri lewat telepon
"Halo Sam" Sam masih terdiam Dia bingung harus dari mana memberitahukan soal ini
"Kamu sedang apa sayang..?"
"Aku sedang tiduran di kamar" Sam baru saja ingin bercerita, namun Asri terlebih dulu bicara
"Sam Kamu tahu hari ini Mamah aku sudah pulang dari Bandung, dan yang buat Aku bingung Mamah tiba tiba peluk Aku sambil menangis, Aku jadi ikut sedih lihat Mamah menangis seperti itu"
"Memangnya Mamah Kamu kenapa?"
"Itu dia Sam, Aku gak tahu Aku tanya sama Mamah, tapi Mamah gak jawab Mamah terus saja nangis, aku gak tega lihat Mamah Sam, aku ga tau masalah apa yang lagi di hadapi Mamah saat ini" mendengar Asri bercerita tentang Ibunya, Sam jadi berfikir lagi harus kah Dia menceritakan soal kehamilan Tini, sedangkan Asri sepertinya sedang bersedih melihat Ibunya, Sam pun mengurungkan niatnya untuk bicara jujur tentang kehamilan Tini.
"Sayang kamu tadi mau bicara apa"
"Tidak.... tidak ada Asri, aku hanya mau bilang nanti malam, tunggu kabar dari Aku ya, jangan dulu menelepon, sebelum Aku yang menelepon Kamu"
"Oh... kalau soal itu, Aku tahu kok, tanpa Kamu suruh Aku gak akan telepon Kamu duluan" Sam pun meminta untuk mengakhiri obrolannya
"Sayang sudah dulu ya, Tini pasti bentar lagi masuk kamar" ucap Sam bisik bisik, dan obrolan pun di akhiri.
Chandra masuk ke ruangan Rahma, dan di sambut hangat oleh Rahma
"Chan.... Kamu sudah pulang" lalu Chandra menanyakan apakah Rahma sudah boleh pulang atau belum kepada Bu Yanti
"Mamah belum tahu Chan, Dokter belum kesini, mungkin sebentar lagi" lalu datanglah Bu Risma yang sudah berjanji pada Chandra ingin datang sore ini menengok Rahma
"Mamah Risma"
"Bagaimana kabar Kamu Rahma, sudah baikan" Rahma pun menjawab dengan riang gembira.
Lalu Dokter datang untuk memeriksa keadaan Rahma, setelah di cek Dokter mengatakan bahwa Rahma sudah boleh pulang
"Ini sangat menakjubkan sekali Bu, Rahma kembali terlihat sehat bugar hanya dalam beberapa jam saja" ucap kagum sang Dokter, mendengar bahwa dirinya sudah boleh pulang Rahma pun sangat senang.
Lalu Dia mengucapkan terimakasih pada Dokter, Chandra, Bu Risma, juga Bu Yanti
__ADS_1
"Chan Kita pulang ya kerumah Mamah Aku" pinta Rahma terhadap Chandra, Chandra menjawab Ia saja dengan wajah tersenyum. Bu Yanti pun siap siap packing pakaian Rahma kedalam tas, dan Merekapun pulang ke rumah Bu Yanti.