
Aska sudah diperbolehkan untuk keluar. Langkahnya benar-benar gontai. Telapak kakinya terasa tak menapak. Keluarga Aska menghampiri pria yang seakan memikul beban yang sangat berat itu.
"Dek."
Suara sang ayah membuat air mata Aska tumpah begitu saja. Dia berhambur memeluk tubuh ayahnya dan menangis di pundak sang ayah. Anggota keluarga Aska yang lain nampak terkejut. Mereka benar-benar dibuat takut.
"Ada apa, Dek?" Ayanda sudah nampak cemas sekali. Dia mengusap lembut pundak sang putra bungsu.
Namun, Aska hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan satu buah kata pun. Ayanda terus memaksa, tetapi Gio menggelengkan kepala. Biarlah mereka memberi ruang kepada Aska. Gio sudah menduga bajwa ada yang terjadi pada Jingga atau anak dari Aska.
Setelah Aska dirasa tenang, Gio mengendurkan pelukannya. Dia menatap wajah sang putra yang terlihat tenang.
"Apa yang terjadi?" tanya sang ayah. Dia menatap hangat ke arah sang putra.
"Putri Adek ...." Suaranya tercekat. Dia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Mulutnya sulit untuk digerakkan.
"Kenapa dengan anakmu?" Kini, Ayanda yang membuka suara.
"Maafkan Adek." Suara Aska terdengar sangat lirih. Dahi semua anggota keluarga Aska mengerut. Mereka tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aska.
"Katakan, apa yang terjadi?" Suara Aksa sudah meninggi. Barulah Aska membuka suara.
"Anak Adek ... cacat."
Kepala Aska sudah menunduk. Semua orang terkejut dan tidak bisa berkata apapun. Namun, beda halnya dengan Giondra. Dia memeluk tubuh putranya. Menenangkan sang putra yang teramat terpukul.
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini," ujar Gio. "Jangan pernah berkecil hati mendapat sebuah titipan juga hadiah terindah seperti ini," papar Gio.
Aksa menepuk pundak Aska hingga pelukan sang ayah terurai. Dia tersenyum ke arah Askara. "Ketidak sempurnaan anak lu gak akan mengubah rasa sayang gua terhadap keponakan gua."
Air mata Aska menetes lagi. Dia memeluk tubuh Aksara. "Lu adalah orang pilihan yang Tuhan percaya. Gua yakin, lu bisa merawatnya."
Echa pun memeluk tubuh Aska diikuti oleh Radit. "Seperti apapun kondisi anakmu, dia tetaplah keponakan Kakak. Dia tetap keponakan hebat di mata Kakak."
__ADS_1
Sang ibu pun memeluk tubuh putranya. Dia hanya kasihan kepada putra dan juga menantunya karena mereka berdua terus diuji sedemikian rupa.
"Dek, jangan pernah meminta maaf. Ini bukan salah kamu, tetapi ini sudah ketetapan dari Tuhan. Kamu dan Jingga adalah manusia pilihan karena Tuhan mempercayai kalian berdua." Kalimat yang menenangkan.
Aska tidak menyangka jikalau keluarganya tidak mengucilkan putrinya. Dia sangat bersyukur akan hal ini. Satu hal yang masih mengganjal di hati Aska. Bagaimana dia mengatakan kepada Jingga? Dia takut Jingga akan syok.
"Katakanlah yang sejujurnya kepada istri kamu. Tenangkan dia, selalu ada di sampingnya dan terus memberikan semangat kepadanya agar dia bisa menerima kenyataan yang ada. Jingga adalah wanita yang kuat. Daddy percaya itu."
Bohong jika rasa kecewa tidak ada di hati mereka masing-masing. Namun, mereka harus berdamai dengan rasa kecewa itu. Mereka juga sadar, mereka tidak sempurna. Di mata Tuhan semua manusia itu sama.
.
Kabar itu sudah terdengar di telinga dokter Eki. Dia tertawa penuh kemenangan. Berkat Aska dia bisa keluar dari Rumah Sakit Jiwa. Berkat psikiater hebat pilihan Aska juga dia bisa sembuh. Namun, otaknya semakin tidak waras. Dia seakan menyimpan dendam pribadi terhadap putrinya sendiri.
Rion dan Arya yang memang tengah berada di Singapura tak sengaja bertemu dengan dokter Eki. Mereka berdua menghampiri dokter yang hampir gila itu.
"Udah waras lu!"
Mana ada Arya berbicara sopan. Ucapannya pasti langsung ke inti. Dia menatap ke arah dokter Eki yang menatap mereka berdua dengan begitu tajam.
Mata Arya juga Rion melebar. Mereka berdua tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh dokter Eki. Hingga sebuah foto dokter Eki tunjukkan kepada Arya juga Rion. Kini, mereka yang terkejut. Dokter Eki malah tertawa sangat puas.
"Anak durhaka! Dia harus menerima karmanya," seru dokter Eki penuh kepuasan. Arya dan Rion hanya menggelengkan kepala.
"Ayah macam apa lu?" sergah Arya. "Kalau gua jadi Jingga ogah banget gua nyembuhin manusia edaan kaya lu begitu. Lebih baik gua biarin lu bunuh diri dan mati."
Dokter Eki geram sendiri. Dia benar-benar murka dengan ucapan dari Arya.
"Jaga mulut lu!" Dokter Eki sudah menunjuk Arya.
Rion memelintir tangan dokter Eki hingga dia mengaduh. "Kapan insafnya lu?" Kini Rion yang angkat bicara.
"Kurang baik apa anak lu sama LU!" bentak Rion. "BI adab!"
__ADS_1
Sebuah Bogeman mentah Rion layangkan di wajah dokter Eki. Dia sangat geram dengan sikap dokter Eki yang melebihi hewan.
"Harusnya lu interospeksi diri!" kecamnya. "Kenapa kedua anak lu bisa bernasib sial seperti ini. Tidak mungkin jika tidak ada sebabnya," lanjut Rion lagi.
"Percuma lu kuliah kedokteran, tapi kayak beginian aja be go-nya gak ketulungan," omel Arya. "Susah sih kuliah kedokteran boleh nyogok mah. Lulus tanpa otak," ejek Arya.
Merasa disudutkan dokter Eki pun menggebrak meja. Dia menatap nyalang ke arah mereka berdua.
"Jaga omongan lu! Gua bisa laporin atas pasal pemfitnahan," ancam Dokter Eki.
Arya malah tertawa terbahak-bahak. Dia menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Otak lu sama otak si Andra jauh beda. Gua tahu siapa bekingan lu. Gua tahu siapa yang berada di balik layar atas kesuksesan juga kebodohan lu," papar Arya.
Wajah Eki mulai merah padam. Dia benar-benar marah dengan apa yang dikatakan oleh Arya. Dia tidak terima.
"Buktinya mana?" tantang Eki.
Arya menunjukkan sebuah video lawas. Keluarga Eki sedang bernegosiasi dengan jajaran fakultas kedokteran. Di sana ada beberapa gepok uang untuk melancarkan aksinya. Dokter Eki sudah tidak bisa mengelak lagi. Dia pun terdiam.
"Lu manusia punya hati gak sih?" sergah Arya. Arya benar-benar menatap nyalang ke arah dokter Eki.
"Cucu lu terlahir cacat, lu kucilkan. Lu buang!" bentak Arya. "Apa salah mereka? Apa dosa mereka? Mereka terlahir tidak meminta dalam kondisi seperti itu. Harusnya lu sayangi mereka, lu jaga mereka lu lindungi mereka." Arya benar-benar murka.
"Apa keluarga besar lu kelurga sempurna semua? Apa keluarga dari ibu lu keluarga dengan fisik yang sempurna? Hah?" Suara Arya sudah benar-benar meninggi.
"Lu anggap cucu lu yang cacat itu aib. Lu anggap mereka pembawa sial. Harusnya lu mikir pake akal sehat lu. Kenapa cucu-cucu lu bisa seperti itu? Apa penyebabnya? Lu itu dokter bukan orang GOBLOKK!"
Rion hanya menontonnya saja. Dia juga sangat geram dengan perkataan juga sikap dokter Eki.
"Mereka cacat karena keturunan dari keluarga ibu lu!" seru Arya. "Semua orang melihat ibu lu sempurna, ibu lu itu cacat, cuma punya satu kaki. Masih mau mengelak lu?"
...****************...
__ADS_1
Yang mau nambah unfavorit silahkan.