Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
181. Banyak Makan


__ADS_3

Jam sembilan malam deru mesin mobil terdengar. Ayanda yang memang masih menunggu sang putra juga menantunya pulang segera keluar rumah. Dia terkejut ketika Aska menggendong tubuh Jingga.


"Kenapa dengan Jingga?" Raut cemas Ayanda tunjukkan. Dia takut menantunya kenapa-kenapa.


"Adek bawa Jingga ke kamar dulu, ya." Aska berbicara dengan begitu pelan. Dia tidak ingin mengganggu tidur istrinya.


Ayanda mengikuti mereka dari belakang. Dia melihat wajah Jingga yang tidak sepucat tadi.


"Jingga gak apa-apa 'kan?" tanya Ayanda. Aska hanya tersenyum.


"Enggak apa-apa, Mom. Mommy gak usah khawatir."


Rasa lega menyelimuti hati Ayanda. Akhirnya dia membiarkan menantunya beristirahat. Aska sengaja menyembunyikan kehamilan Jingga kepada sang ibu. Biarlah itu menjadi kejutan untuk kedua orang tuanya nanti.


Aska menatap wajah istrinya dengan senyum yang terus melengkung indah. Dia mengusap lembut rambut Jingga. Kini, beralih pada perut istrinya.


"Sehat-sehat di sana ya, anak-anak Ayah."


Sungguh luar biasa sekali kuasa Tuhan. Dia benar-benar tidak menyangka jikalau Tuhan memberikan hadiah yang terindah untuknya juga istrinya.


Aska melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat foto dirinya, Jingga juga Ayna. Tangannya meraih figura tersebut.


"Kamu memang pondasi kebahagiaan Ayah dan Bunda. Makasih sudah hadir di dalam hidup Ayah dan Bunda."


Aska meletakkan foto itu kembali. Ayna adalah mata untuknya juga Jingga. Dia juga pembawa kebahagiaan tiada Tara untuk keluarga kecilnya. Walaupun hanya dititipkan sebentar, tetapi Ayna membawa kebahagiaan yang berarti.


Tengah malam, Jingga terbangun karena perutnya yang keroncongan. Jingga mengguncang tubuh Aska dengan lembut hingga suaminya terbangun.


"Lapar."


Satu kata yang membuat Aska tertawa walaupun matanya masih terpejam. Aska sudah mengubah posisi, kini dia duduk dan bersandar di kepala ranjang.


"Mau makan apa?" tanya Aska dengan begitu lembut. Dia membenarkan rambut Jingga yang sebagian menutupi wajah istrinya.


"Nasi goreng gerobakan." Aska mengangguk pelan. Dia segera beranjak dari tempat tidur.


"Aku cuci muka dulu, ya." Kecupan hangat Aska bubuhkan sebelum dia masuk ke kamar mandi. Jingga hanya tertawa dibuatnya. Hal kecil yang Aska lakukan selalu membuat Jingga merasa tersanjung.

__ADS_1


Tangan Jingga mengusap perutnya yang masih rata. Dia menunduk dengan mata yang menatap ke arah perutnya.


"Semoga kalian tumbuh dengan baik di dalam sana."


Ketika Aska keluar dari kamar mandi, gantian Jingga yang masuk ke dalam kamar mandi. Dia mencuci wajahnya dari sisa make up yang menempel. Ketika dia keluar kamar, Aska sudah menyiapkan celana panjang juga jaket untuk Jingga pakai.


"Aku gak mau kamu dan anak-anak kedinginan." Hati Jingga mencelos mendengarnya. Suaminya menjelma menjadi suami yang overprotektif.


Aska menggandeng tangan Jingga dengan begitu erat. Mereka kompak memakai celana panjang juga jaket. Aska menghentikan mobilnya tepat di depan gerobak nasi goreng pinggir jalan. Namun, Aska memilih gerobakan yang memiliki tempat duduk yang nyaman.


"Mau pesan apa?" tanya Aska kepada Jingga.


"Nasi goreng double telur, Kwetiau goreng double telur sama mie goreng double telur." Aska tersenyum mendengar apa yang diinginkan istrinya. Tanpa berpikir lama, Aska memesankan keinginan istri tercintanya.


Tiga piring pesanan Jingga sudah tersedia. Aska hanya menonton istrinya yang seperti orang kelaparan. Satu piring nasi goreng, sudah tak tersisa. Kini, beralih pada kwetiau goreng. Aska hanya menggelengkan kepalanya tak percaya. Namun, dia juga senang karena kehamilan Jingga ini tidak rewel. Semua makanan masuk ke dalam mulutnya.


Contohnya sore tadi, dua mangkuk soto kaki sapi besar dia lahap habis. Belum lagi mangga masam dan bumbu rujaknya yang membuat Jingga tidak bisa berkata.


Apa yang Jingga makan terlihat sangat enak. Hingga Aska menelan air liurnya sendiri melihat istrinya tak berhenti makan.


"Mau nasi goreng lagi."


Aska malah tertawa dan mengusap lembut rambut sang istri. Dia pun memesankan pesanan untuk Jingga.


"Telurnya tiga."


Aska hanya menggelengkan kepala. Sudah pasti ini cucu Giondra yang suka sekali dengan telur. Dia benar-benar tidak menyangka akan sebahagia ini. Apalagi melihat wajah Jingga yang sudah kembali seperti sedia kala.


"Mas, istrinya ngidam, ya." Si Abang tukang nasi goreng sepertinya hafal dengan kelakuan wanita seperti Jingga.


"Iya, Bang."


"Kalau nambah-nambah terus biasanya anaknya banyak." Aska hanya tersenyum menimpali ucapan dari Abang nasi goreng.


Biarlah ucapan orang-orang itu menjadi doa dan dikabulkan oleh Tuhan. Sepiring nasi goreng yang baru lima menit yang lalu disajikan kini sudah tak tersisa. Jingga sudah mengusap perutnya karena kekenyangan.


"Mau ke mana lagi?" tanya Aska.

__ADS_1


"Pulang, terus tidur." Aska pun tergelak.


Selama perjalanan pulang, senyum Jingga terus terukir dengan begitu lebarnya. Dia benar-benar merasakan kebahagiaan tiada Tara. Kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Bang, emang bisa ya satu perut itu tumbuh empat anak?" tanya Jingga. "Hamilnya akan sebesar apa?" Jingga nampak bingung. Namun, Aska malah tertawa. Dia ikut mengusap lembut perut Jingga.


"Berapapun jumlah anak yang ada di dalam kandungan ini. Kita harus tetap bersyukur," imbuh Aska. "Kalau dikasih banyak, berarti Tuhan percaya sama kita. Kita harus bisa jaga anugerah yang Tuhan berikan kepada kita."


Jingga pun tersenyum mendengar ucapan dari Aska. Apa yang dikatakan Aska memang benar. Sudah diberi keturunan lagi pun harusnya dia patut bersyukur.


.


Pagi hari wajah Jingga sudah berseri. Dia turun ke lantai bawah dengan menggandeng tangan suaminya. Wajah Ayanda dan Gio nampak bahagia melihat Jingga yang sudah sehat.


"Alhamdulillah," ucap Ayanda. Jingga tersenyum lebar ke arah kedua mertuanya itu.


Aska menarik kursi untuk Jingga tempati. Jingga mengambilkan nasi untuk sang suami berserta lauk pauknya. Ayanda terheran-heran ketika melihat Jingga makan dengan begitu banyaknya.


Ayanda menatap ke arah Aska, sang putra hanya tersenyum bahagia. Dahi Ayanda mengkerut, dia melirik ke arah Gio. Namun, Gio menjawab dengan gedikan bahu.


Ayanda tidak ingin menanyakan. Dia takut menantunya tersinggung. Namun, dia ikut bahagia karena melihat menantunya sudah sembuh. Malah nampak berbeda.


Jam sembilan pagi, Ayanda melihat Jingga turun ke lantai bawah. Dia berada di dapur. Sudah hidup mandiri sejak remaja membuat Jingga tidak ingin dibantu oleh pelayan yang ada. Ayanda hanya melihat menantunya dari jauh. Aroma masakan menusuk hidungnya.


"Mbak, menantu saya sedang masak apa?" tanya Ayanda kepada salah satu pelayan.


"Tumis daging, Nyonya."


Ayanda hanya mengangguk. Dia merasa ada yang aneh dari Jingga. Dia tidak mempermasalahkan perihal Jingga yang menghabiskan banyak makanan. Hanya saja, perubahan Jingga yang tiba-tiba menimbulkan tanya dalam benaknya.


Apalagi, Ayanda melihat satu piring tumis daging dengan porsi nasi yang tidak biasa Ayanda lihat. Dia melihat ke arah jam dinding. Masih menunjukkan pukul sembilan.


"Masa jam segini udah lapar lagi?" gumamnya. "Perasaan tadi sarapan makannya banyak."


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2