
Tak lama setelah Rahma dan Lia pergi Pria misterius itu tampak sedang mencari celah dan lengahnya Asri, Dia terus memperhatikan gerak gerik Asri, dirasa kondisi sudah aman Dia berjalan mendekati Asri dengan masih berpakaian memakai jaket kulit hitam dan juga masker untuk menutupi wajahnya.
Dia berjalan terus dengan raut wajahnya yang jahat, seolah Asri adalah mangsa yang harus segera di musnahkan.
Asri duduk dengan santai sambil terus memijat kakinya, menunggu Lia dan Rahma yang sedang membeli minuman dan makanan ringan, lalu Asri melihat sosok pria misterius itu tadinya Asri biasa saja tak ada rasa khawatir ataupun curiga, tapi setelah di amati Pria misterius tersebut terus memandanginya dari kejauhan sambil berjalan mendekati dirinya.
Kini Asri menjadi khawatir dan merasa takut sebab tatapan pria tersebut sangatlah tajam, lalu Dia mengingat ucapan Chadra yang mengatakan bahwa sepertinya kecelakaan yang aku alami sudah di rencanakan, bahwa ada orang yang ingin mencelakainya, pria tersebut semakin mendekat membuat jantung Asri berdetak gugup karena ketakutan, Asri berkata pada dirinya,
"Siapa Orang itu, kenapa Dia terus menatap Aku dengan sangat tajam" lalu Asri segera menghubungi Sam, namun panggilannya tak di angkat sama sekali, Asri pun menggerutu dalam hati
"Sam.. ayo angkat dong, Aku takut Sam" namun sia sia saja karena beberapa kali panggilannya tak di jawab.
Pria misterius itu semakin dekat, setelah itu Asri mencoba menghubungi Lia sahabat nya, namun tidak di angkat juga telepon darinya, Asri merasa tak aman disini, Dia pun hendak bangun mengambil tongkatnya lalu mencoba berjalan memasuki tempat bazar, namun Pria tersebut sudah hampir dekat, baru saja Asri 3 kali melangkah tangan Asri langsung di tarik oleh pria misterius itu, lalu si pria misterius itu menatap tajam wajah Asri membuat Asri semakin takut.
Selesai membeli minuman dan makanan ringan Lia dan Rahma ingin kembali ke tempat di mana Asri berada, namun Makmun memanggil Lia
"Sayang, Kamu kemana sih, Aku cari Kamu loh"
"Loh Aku kan bilang tadi Aku mau ngobrol sama Asri" lalu Makmun pun memberi isyarat bahwa dirinya ingin pulang
"Tapi ini bagaimana Asri pasti menunggu Aku, jangan pulang dulu deh, kalau gak Kita liat bazar ya, siapa tahu Aku naksir salah satu barang di bazar" Makmun pun mengiakan permintaan Lia
"Ya sudah Kita lihat pameran deh" ucap Makmun, lalu Lia menitip minuman yang di pesan Asri kepada Rahma, Lia pun berkata,
"Rahma maaf ya, Aku gak bisa balik ke tempat Asri, Suami Aku ingin mengajak Aku lihat pameran, bilang sama Asri jangan Marah gitu ya" ucap Lia sambil tersenyum, Rahma pun mengerti dengan Lia dan Makmun sebab mereka masih pengantin baru, masih hangat-hangatnya ingin berduaan selalu
"Iya Lia, ya sudah Aku ke Asri ya Dia pasti sudah menunggu lama" lalu Rahma pun pergi dengan membawa minuman juga makanan ringan.
Setelah tangan Asri di tarik, Asri pun berkata,
__ADS_1
"Siapa Kamu, lepaskan tangan Saya" ucap dengan tegas suara Asri, tapi Pria misterius itu terus menatapnya tiba-tiba Dia mengeluarkan sebuah pisau yang sangat tajam dan di tunjukan di depan wajah Asri, Asri kini semakin takut ketika melihat pisau ada di depan matanya
"Kamu mau apa, Kamu ini sebenarnya siapa, tolong jangan ganggu Saya" ucap Asri dengan suara gemetar setelah itu si pria misterius membekap mulut Asri dan mengatakan sesuatu, di telinga Asri
"Kamu harus mati, kalau tidak Saya akan kena marah oleh Bos ku" bicara berbisik di telinga Asri, suara itu sangat menggelegar di ditelinga Asri.
Asri ingin teriak meminta tolong, namun karena mulut di bekap jadi suaranya tak akan bisa terdengar oleh orang sekitar, lalu pria misterius itu kini menaruh pisau di sekitar leher Asri, Dia ingin menggorok leher Asri dan memutus urat nadi di lehernya, Asri berusaha untuk melepaskan diri namun genggaman pria misterius itu sangatlah kuat.
Kini Asri ketakutan lalu menangis meneteskan air mata, keadaan kaki yang tidak bisa berdiri sempurna di tambah mulut di bekap dan sebuah pisau sudah dileher rasanya Asri menyerah dan pasrah, Dia terus berdoa dalam hatinya lalu memanggil nama Sam juga nama Chandra di dalam hatinya,
"Sam... tolong Aku, Chadra Aku mohon datang tolong Aku" lalu Asri di seret untuk bersembunyi di balik pohon besar itu, supaya aksi pembunuhan tak terlihat orang di sekitar.
Rahma kini hampir mendekati tempat dimana Asri duduk, namun setelah sampai Rahma tak melihat siapapun di kursi di bawah pohon ini, hanya kursi kosong yang terlihat
"Asri kemana ya, kok gak ada" ucap Rahma yang sedang bertanya-tanya dalam hatinya
"mungkin saja Asri sudah di dalam" ucap rahma dengan suara pelan.
Lalu Rahma memutuskan untuk kembali ke tempat bazar, namu saat ingin melangkah dia menyenggol tongkat yang dipakai Asri untuk berjalan, kemudian Rahma mengambilnya dan memperhatikan apa tongkat ini milik Asri atau bukan, setelah di perhatikan ini memang milik Asri namun Rahma bertanya-tanya dalam hati mengapa Asri pergi tanpa membawa tongkat, Dia pun menengok ke kanan, ke kiri ke depan dan ke belakang melihat sekeliling namun tak juga menemukan keberadaan Asri.
Asri tak ingin mati konyol seperti ini Dia pun berusaha untuk melepaskan diri dari bekapan pria misterius itu, kaki kiri Asri masih kuat jika untuk melangkah, lalu Ia menginjak kaki pria misterius itu dengan sangat kuat, hingga membuat pria misterius itu kesakitan lalu seketika melepas Asri.
Saat ada kesempatan Asri pun menjauh sambil memegangi lengannya yang terluka, namun karena kaki kanan yang susah melangkah lalu kaki Asri di tarik lah oleh pria misterius itu dengan sangat kuat, Asri pun berteriak
"Lepaskan Aku, lepaskan, tolong... Tolong" teriak Asri dengan Sangat kencang meminta tolong agar ada seseorang yang mendengarnya.
Rahma pun mendegar teriakan Asri, Rahma langsung menoleh ke belakang dimana suara Asri tadi terdengar, Rahma pun berjalan dengan pelan untuk melihat di balik pohon tersebut, tak disangka Rahma melihat Asri yang sedang di tarik kaki nya oleh seorang pria misterius yang tadi Dia lihat dari dalam bazar, kemudian Rahma melihat Asri dengan bersimbah darah di lengannya membuat Rahma semakin terkejut.
Tapi Rahma belum mengeluarkan suara apapun dia hanya menutupi mulutnya karena kaget melihat keadaan Asri, Dia bingung harus bagaimana saat ini, kalau dia berteriak sekarang belum tentu orang di dalam bazar mendengar teriakan, kemudian Rahma melihat sebuah batu besar, lalu Rahma berusaha mengambil batu tersebut dengan pelan-pelan agar keberadaannya tak diketahui oleh si pria misterius.
__ADS_1
Setelah batu di genggam di tangannya Dia pun memulai untuk memukul pria misterius itu dari belakang, dan akhirnya batu itu mengenai kepala si pria misterius, kemudian Rahma mendekati Asri dan membantu Asri untuk Bagun
"Asri Kita harus pergi dari sini, ayo Kamu harus bangun Kamu pasti bisa" ucap Rahma terhadap Asri sambil membantu Asri bangun.
Asri merasa kesakitan dengan luka di lengannya, pria misterius itu pun merasa kesakitan Dia memegangi kepalanya dan ternyata darah mengucur dari kepala pria itu, merasa tak terima dirinya di pukul dari belakang, pria itu pun berusaha mencegah Rahma dan Asri pergi dari tempat ini.
Kini pria itu tak main-main lagi, langsung saja Dia mengarahkan pisau tepat di hadapan Asri supaya tugasnya cepat selesai, namun ternyata di halau oleh tangan Rahma, karena kekuatan lelaki dan wanita berbeda Rahman pun terdorong dengan kencang oleh Pria itu, Asri merasa tak sanggup jika untuk berdiri sendiri tanpa ada yang membantu, lalu tiba-tiba pria itu mengarahkan pisau di perut Asri, melihat itu Rahma langsung bangun lalu menghadang untuk melindungi Asri alhasil perut Rahma lah yang tertusuk.
Rahma terdiam menatap perutnya dengan mata yang terbelalak lebar, rasa sakit saat di tusuk pun mulai terasa, Asri menjerit mengatakan,
"Tidak... Rahma" Asri menutup mulutnya lalu Asri menangis, tak lama Rahma terjatuh ke bawah dengan posisi berlutut sambil memegangi perutnya yang tertusuk pisau.
Pria misterius itu pun bengong, Dia salah sasaran mengapa jadi temannya yang terkena tusukan, lalu Dia melihat keadaan di balik pohon, Dia melihat dari kejauhan ada sesosok pria mendekati tempat ini, karena takut aksinya tertangkap Dia pun lari terbirit-birit dengan kencangnya tak lupa pria itu mencabut pisau dari perut Rahma.
Lalu Chandra tak sengaja melihat Pria tersebut berlari dari balik pohon ke arah keluar bazar, merasa curiga Chandra pun berlari menghampiri tempat dimana Asri juga Rahma mengobrol, namun Chandra tak menemukan siapapun disini, lalu Chandra melihat tongkat Asri yang pernah Ia belikan untuk Asri, Dia pun bertanya-tanya mengapa tongkatnya ada disini sedangkan orangnya tidak ada disini, dan tiba-tiba saja Asri pun berteriak meminta tolong
"Tolong... Tolong" teriak Asri berulang-ulang namun belum ada juga seseorang yang datang kesini.
Chadra mendengar suara teriakan kecil itu, Chandra pun menoleh kebelakang lalu berlari ke arah di balik pohon, betapa terkejutnya Chandra ketika melihat Rahma yang sudah tak berdaya dengan bersimbah darah di perutnya, begitu pun Asri yang sedang duduk di samping Rahma yang juga berdarah di bagian lengannya, Chandra menghampiri dan berkata,
"Ya Allah Asri ini kenapa, kenapa Kalian berdarah, Rahma ya Allah" Chandra syok melihat Rahma yang sudah jatuh pingsan karena tak tahan merasakan sakit.
Chandra memeluk Rahma seakan kini Chandra takut kehilangan Rahma, lalu Chandra melihat Asri dengan wajah yang tak berdaya, penuh dengan luka juga darah Dia merasa terluka melihat keadaan Asri, Chandra pun langsung menghubungi Sam.
Sam sudah dalam perjalanan menuju tempat bazar lalu Ia mendengar getaran panggilan di ponselnya, langsung saja telepon Chandra pun diangkat
"Sam.. Lo cepat kesini Asri dan Rahma terluka dan Rahma kini pingsan karena perutnya tertusuk pisau, Lo cepat datang kesini Sam" ucap Chandra dengan suara yang gemetar.
Mendengar tragedi itu seketika Sam menginjak rem mendadak karena kaget
__ADS_1
"Apa Chan ya Allah kok bisa Chan, tapi Asri baik-baik saja kan" Sam kini merasa khawatir dengan kekasihnya
"Gue gak bisa jelaskan di telepon, sudah Lo cepat kesini, Gue ada di balik pohon besar di depan tempat bazar, Gue tunggu cepat kedatangan Lo" tak ingin terlambat Sam pun menginjak gas dengan cepat, sambil melihat ponselnya ternyata ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari Asri.