Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
180. Anak Kucing


__ADS_3

"Dokter obgyn."


Aska terkejut dengan diagnosa dokter tersebut. Dia menatap Jingga dengan tatapan bingung. Begitu juga dengan Jingga yang memang tidak tahu apa-apa. Kejutan melintasi hatinya sekarang ini. Apa ada yang tejadi dengan rahimnya? Apa dia tidak bisa mengandung lagi?


"Dokter serius?" Aska seperti orang bodoh sekarang ini. Sang dokter hanya tersenyum.


"Ini baru dugaan saya saja," jawabnya. "Makanya biar lebih jelas lagi silahkan mengunjungi dokter obgyn." Seulas senyum dokter itu berikan kepada Aska dan juga Jingga.


Jingga terkejut mendengar ucapan dari dokter tersebut. Kini, Jingga yang kebingungan. Dia menatap penuh tanya kepada sang suami. Sedangkan suaminya pun tidak memiliki jawaban atas hal ini.


"Semoga dugaan saya benar, ya."


Aska dan Jingga hanya terdiam. Apa secepat ini Tuhan memberikan kepercayaan kepada mereka. Begitulah batin mereka berdua. Sentuhan lembut tangan Jingga membuat Aska tersadar. Aska mengangguk pelan dan beranjak dari duduknya. Diikuti oleh Jingga.


Aska menggenggam tangan Jingga dengan begitu erat. Mereka saling pandang dengan tatapan tak percaya. Sorot mata kebingungan terpancar di manik mata mereka.


"Aku tidak ingin terlalu berharap," ucap Jingga. Aska mengangguk mengerti. Dia juga sama, menyakitkan itu ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan.


Aska terus menggenggam tangan Jingga. Dia melihat wajah istrinya yang masih pucat. Wajahnya pun bapak tirus.


"Masih pusing?" Jingga pun mengangguk.


Aska meletakkan kepala Jingga di pundaknya. Tangannya terus menggenggam erat tangan sang istri tercinta. Mengusap lembut punggung tangan Jingga yang putih.


Ketika nama Jingga dipanggil, mereka segera menuju ruang pemeriksaan. Dokter wanita seusia Ayanda menyambut mereka berdua. Senyumnya sangat menenangkan.


Dokter wanita itu menanyakan perihal gejala yang Jingga rasakan. Dia pun tersenyum mendengarnya.


"Ibu silahkan berbaring."


Sang dokter mengajak Jingga menuju sebuah bed yang tersedia di sana. Aska ikut serta membantu istrinya.


"Saya singkap bajunya, ya." Dokter itu sangat lembut. Dia membubuhkan gel dingin di atas perut Jingga. Kemudian, menggerakkan alat di atas perutnya. Mata dokter itu terus tertuju pada layar monitor. Terlihat wajah dokter itu berbinar.


"Ya Tuhan, sungguh luar biasa sekali anugerah yang kalian dapat," ujar dokter tersebut.


Aska dan Jingga saling pandang. Mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh dokter tersebut.


"Lihatlah!" Dokter menunjuk ke arah titik kecil yang ada di monitor. Aska dan Jingga pun melihat ke arah monitor tersebut.


"Hitunglah jumlah titik yang ada di sana."


Aska dan Jingga mengikuti arahan dokter tersebut.


"Satu."


"Dua."


"Tiga."

__ADS_1


"Empat."


Mereka bagai anak kecil yang berjajar menghitung. Lengkungan senyum terukir di wajah dokter tersebut.


"Ada empat gumpalan darah yang berada di rahim istri Anda, Pak."


Aska benar-benar tak percaya mendengar ucapan dokter tersebut. Begitu juga dengan Jingga. Apa mereka ini bermimpi?


Melihat reaksi sepasang suami-istri itu yang datar membuat dokter itu terheran-heran. Biasanya mereka akan bahagia, tetapi beda dengan reaksi Aska dan Jingga saat ini.


"Apa Ibu Bapak tidak bahagia?" tanya sang dokter.


"Apa ini nyata, dok? Atau kami sedang bermimpi," jawab Jingga dengan mata yang nanar.


"Baru seminggu lalu kami kehilangan putri kami, dan sekarang ... saya dinyatakan hamil dan ada empat janin yang akan berkembang di dalam rahim saya. Apa kami sedang bermimpi, Dok?"


Suara Jingga begitu lirih. Dokter itu mengerti dengan kondisi Jingga sekarang ini. Antara percaya dan tidak. Dokter itu menggenggam tangan Jingga. Mengusap lembut punggung tangan Jingga seraya menenangkan.


"Inilah yang dinamakan pelangi setelah badai. Ada kebahagiaan setelah kesedihan." Ucapan lembut dokter itu membuat Jingga menitikan air mata. Sungguh dia tidak percaya.


"Bang," panggilnya.


Sama seperti Jingga. Aska pun sudah berkaca-kaca. Mereka berdua menitikan air mata bahagia.


Setelah diberi resep oleh dokter, Jingga dan Aska keluar dari ruangan tersebut. Mereka saling menggenggam dengan hati yang bercampur aduk.


"Bang, pengen mangga muda," pinta Jingga.


"Ya udah, setelah ini kita cari mangga mudanya." Jingga tersenyum bahagia. Aska pun ikut bahagia. Ternyata ini alasan kenapa istrinya menginginkan mangga muda dan buah-buahan yang masam.


Setelah obat didapat, Aska menjelma menjadi suami yang sangat protektif. Dia sangat melindungi Jingga.


"Mau makan apa? Kamu harus makan dulu, baru boleh makan mangga muda."


Perintah Aska tidak bisa Jingga bantah. Sesaat dia teringat bahwa ada soto kaki sapi yang super besar dan enak. Itu adalah makanan kesukaannya. Jingga mengeluarkan ponsel pintarnya dan mengetikkan sesuatu. Dia memperlihatkan video YouTuber yang sedang memakan soto tersebut.


"Mau itu?" Jingga pun mengangguk.


Aska tersenyum dan melajukan mobilnya menuju tempat di mana kedai soto itu berada.


"Wilayah Bogor, Bang." Aska pun mengangguk.


"Abang beneran mau nemenin aku?" tanya Jingga.


"Ke ujung dunia pun pasti akan aku kejar." Jingga pun tertawa. Suaminya benar-benar manis sekali.


"Ah, Ayah Tae Mo, manis sekali." Jingga mengedipkan matanya dengan cepat. Aska tertawa melihat tingkah istrinya tersebut.


Jingga tak henti menyunggingkan senyum. Tangannya pun selalu mengusap lembut perutnya yang masih rata. Sungguh bahagia sekali dirinya saat ini.

__ADS_1


.


Sudah sore, tetapi Aska tak kunjung kembali. Ayanda dan Gio sudah khawatir. Sedangkan ponsel keduanya tidak bisa dihubungi.


"Dad, apa Jingga diopname?"


Walaupun hanya mertua, Ayanda tetap cemas dengan keadaan Jingga. Apalagi dia sudah menganggap Jingga seperti anaknya sendiri.


"Kalau ada apa-apa pasti Aska hubungi kita."


Apa yang dikatakan Gio memang benar. Tetap saja dia cemas. Dia takut terjadi sesuatu dengan menantunya.


Kecemasan mereka melebur karena kehadiran Gavin. Suara Gavin memecahkan keheningan yang ada.


"Pipo, Ayo belajar lagi."


Gavin malah merengek ingin belajar. Gio malah tertawa dan Aksa menggelengkan kepala.


"Bang, Adek hubungi kamu gak?" Raut wajah sang ibu sudah terlihat berbeda.


"Tadi cuma bilang mau ke dokter bawa Jingga," jawabnya. "Memangnya belum pulang?" tanyanya lagi. Ayanda hanya menggeleng.


"Mommy takut terjadi apa-apa sama mereka."


Riana merangkul pundak sang ibu mertua dengan begitu lembut. Mengusap pundaknya dengan penuh cinta.


"Jangan berpikiran aneh-aneh, Mom," ujar Riana. "Pasti Kak Aska dan Jingga baik-baik aja. Mungkin saja ponselnya mati atau susah signal."


"Pipo, Mimo," panggil Gavin.


Kakek nenek itupun menoleh. Mereka melihat wajah Gavin yang sangat berbinar.


"Nanti lumah ini Banat anat-anat."


Dahi kedua manusia paruh baya itu mengerut. Mereka tidak mengerti dengan ucapan Gavin.


"Potona di Tini Atan lamai."


Anak itu bersorak gembira membuat empat orang dewasa mengerutkan dahinya tak percaya .


.


Aleesa menyunggingkan senyum ketika dia melihat secara langsung kucing peliharaan Beeya melahirkan. Dia menghitung jumlah anak kucing tersebut.


"Satu, dua, tiga, empat."


Bibirnya tersenyum sangat lebar. Dia teringat akan ucapan Dea ketika Dea datang menghampirinya.


"Jumlahnya sesuai dengan anak kucing kakak itu ketika melahirkan."

__ADS_1


...****************...


Komen dong ...


__ADS_2