Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
242. Masa Lalu Datang Kembali


__ADS_3

"Bang sat!" geramnya. "Gak akan gua biarin hidup!"


Jingga terkejut dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Apalagi Aska berkata kasar di depan keluarganya sendiri. Jingga segera menoleh ke arah Aska dan sangat jelas terlihat wajah Aska merah padam. Urat-urat kemarahannya muncul dengan begitu tegas.


"Ayah," panggil Jingga dengan begitu lembut. Mencoba untuk menenangkan sang suami. Namun, itu tidak berhasil.


"Jaga istri saya." Fahrani mengangguk.


"Kamu sama Remon." Sang ayah sudah membuka suara. Aska menatap ke arah sang tangan kanan ayahnya. Anggukan kecil membuat Aska segera melangkah pergi. Sebelumnya dia mencium kening Jingga dengan begitu dalam.


"Ayah." Jingga menggeleng dengan pelan. Mencoba melarang sang suami.


"Sudah melewati kesabaran ku," sahut Askara.


"Biarkan dia pergi," ujar Arya. "Ketika semuanya sedang rapuh harus ada yang menjadi pelindung."


Aska setuju dengan ucapan ayah dari Beeya. Dia pun meninggalkan istrinya juga keluarganya.


"Uncle!" panggil anak kecil yang berlari ke arah Askara.


"Bunuh olang itu, Uncle," ujar Gavin. "Olang itu udah buat Daddy Mas beldalah." Ucapan anak itu penuh dengan amarah bercampur dendam.


Aska tersenyum sedangkan Remon hanya menggelengkan kepala. Keturunan Genta Wiguna tulen. Begitulah batin Remon berkata. Aska mensejajarkan tubuhnya dengan Gavin. Dia mengusap lembut rambut sang keponakan.


"Gak boleh berkata seperti itu," ucap Aska menasihati sang keponakan.


"Boleh!" sahut Gavin. "Tidak boleh ada yang menyakiti kelualganya Mas." Perkataan anak itu terdengar sangat tegas.


Aska terharu dengan ucapan sang keponakan. Calon pria bertanggung jawab di masa depan. Juga sayang keluarga.


"Anak pintar." Aska mencium puncak kepala Gavin. "Uncle pergi dulu, ya. Jaga Anteu." Gavin mengangguk.


"Hati-hati, Uncle!" teriak Gavin ketika sang paman sudah menjauh.


.


"Ken dan Juno sudah di rumah sakit." Remon baru saja mendapat kabar dari Fahri.


"Luka mereka tidak terlalu parah," sahut Aska. Dia sudah mendapat kabar dari kedua sahabatnya.


"Target sudah diamankan." Remon berkata lagi.


"Siksa dulu saja." Aska berkata dengan nada penuh kemarahan. "Kita ke rumah sakit dulu."

__ADS_1


.


Ken dan Juno tengah terbaring di ranjang pesakitan. Sebelum terjadinya pembakaran Jomblo's kafe, mereka berdua adu mulut dengan seorang pria yang tidak mereka kenali. Pria itu datang dan merusak kafe. Ken dan Juno yang mencoba menangkap pria itu malah harus adu jotos dengannya. Dia tidak tahu saja dua sahabat Aska itu adalah ahli dalam tawuran. Namun, pria itu membawa pisau lipat dan mengenai lengan mereka berdua. Kemudian, orang itu langsung membakar kafe.


"Masih jauh ke usus," canda Ken. Aska tidak merespon apapun. Dia melihat jelas goresan pisau di tangan Ken yang cukup panjang. Perawat pun sedang berusaha menjahit luka tersebut.


"Ini gak seberapa dari kerugian yang lu derita," timpal Juno. Pria itu pun terkena goresan pisau di lengan bagian belakang.


"Kafe bisa dibangun lagi, tapi teman-teman kaya lu gak akan bisa terganti."


Ken dan Juno terdiam. Mereka kompak menatap Aska yang berwajah serius. Tidak pernah melihat Aska seserius ini.


"Gua gak akan tinggal diam ketika lu berdua dilukai oleh orang lain."


"Ka-" Dua sahabat itu tidak dapat berkata. Mulut mereka kelu.


"Apa ini orangnya?" Remon sudah menunjukkan foto seroang pria kepada Ken dan Juno. Dua sahabat Aska pun mengangguk. Kini, mereka melihat ke arah Aska dengan penuh tanya.


"Jangan bilang kalau lu-"


"Jangan gila, Ka!" pekik Ken. "Ingat istri lu lagi hamil gede," lanjutnya lagi.


"Apa gua harus diam aja ketika lu dilukain sama dia?" sanggah Askara. "Bukan hanya kalian, Abang gua!" tekannya. "Abang gua ditusuk dan sekarang masuk ruang operasi."


"Dia salah sasaran?" tebak Juno. Aska mengangguk.


"Kalau orang kaya Abang lu punya musuh gua sih percaya, tapi siapa yang musuhin lu?" Heran, begitulah yang dirasakan Ken.


.


"Lepas!"


Pria yang sudah diikat di kursi terus meronta. Dia dikelilingi oleh pria berbadan kekar. Tidak ada rasa takut sama sekali.


"Punya nyali berapa Anda?" hardik Fahri.


"Gua bukan pengecut!" teriaknya. "Lu aja bisa gua celakain!"


Tangan Fahri sudah mencengkeram rahang pria itu dengan sangat kencang. Terlihat jelas dia sangat kesakitan. Ingin pria itu memberontak, tapi tidak bisa karena tangannya diikat ke belakang.


"Anda salah cari masalah!" tekan Fahri. Dia pun terbawa emosi. "Rasakan akibatnya!" Cengkeramannya dia lepaskan dengan begitu kasar. Baru saja pria itu hendak meludahi Fahri sebuah pukulan tepat di wajah mengenai pria itu sehingga sudut dan hidungnya mengeluarkan darah.


"Satu buah kata yang keluar dari mulut Anda sama dengan satu buah pukulan yang mengasyikan." Pria itu tidak bisa menjawab apapun perkataan dari pria berbadan kekae. Rasa sakit menjalar di wajahnya. Darah pun mengucur cukup deras.

__ADS_1


Baru mendapat satu buah bogem mentah saja pria itu sudah tak berdaya. Fahri berdecih mengejek. Hanya jago ribut tanpa memiliki fisik kuat.


Derap langkah kaki terdengar mendekat. Fahri dan orang-orang yang berada di gudang tersebut menoleh. Termasuk pria payah yang tengah diikat di atas kursi. Semua orang yang berada di sana menunduk sopan kepada yang baru saja datang.


Pria yang tengah diikat itu memicingkan mata. Mencoba menajamkan matanya untuk melihat sosok yang baru saja datang.


"D-dia-"


Seringai pun terukir di depan matanya. Dia mencoba untuk melebarkan matanya lagi.


"Bu-bukannya-"


"Dasar BO-DOH!" Bogem mentah dilayangkan kepada pria yang terikat.


"ITU ABANG GUA!" Aska menghajar pria itu dengan membabi-buta. Dia benar-bense tidak terima.


Pria itupun terkulai lemah dengan bersimbah darah. Aska benar-benar tidak memberi ampun. Semua emosinya dia luapkan.


"Dek, sudah." Akhirnya Remon menarik tubuh Aska. Menjauhkannya dari pria tersebut.


"Ingat Dek, istri kamu sedang hamil. Jangan sampai kamu yang masuk penjara." Remon mencoba untuk memperingatkan.


"Ha-hamil." Begitu lemah suara dari pria yang tak berdaya itu. Dia masih mampu mendengar apa yang dikatakan oleh Askara.


"Kenapa? Lu terkejut!"


.


Tubuh Jingga limbung ketika Gio menceritakan semuanya. Untung ada Arya yang mampu meraih tubuh ibu hamil itu.


"Di-dia kembali." Suara yang penuh kelemahan juga ketakutan.


"Dia kabur pas lapas itu terbakar. Dia melacak keberadaan kamu," terang Gio. "Namun, dia salah sasaran. Dia kira Aksa itu Aska."


Jingga tidak bisa berkata lagi. Dia amat merasa bersalah mendengar apa yang diterangkan oleh mertuanya. Terlebih banyak orang yang sedih karena masa lalunya yang kembali lagi.


"Maafkan aku, Mbak." Jingga meminta maaf dengan begitu tulus. "Aku gak menyangka jika Fajar akan kembali."


...***To Be Continue***...


Sudah terjawab kan ...


Sekarang si Fajar enaknya diapain?

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2