
Benar apa yang dikatakan oleh keempat anak Aska. Mereka belum berkemas begitu juga dengan Jingga. Sepertinya rasa kecewa mereka sangatlah besar sehingga mereka tidak ingin berharap besar akan perkataannya semalam.
Aska juga sebenarnya masih ragu dengan ucapan sang ayah. Dia masih takut jika nantinya dia akan kecewa untuk kesekian kalinya. Keempat anaknya pun masih berangkat ke sekolah diantar olehnya..
"Ayah beneran gak ke kantor hari ini?" Aska yang tengah Menyesap kopi dan memperhatikan iPad di tangannya pun mengangguk.
"Yah," panggil Jingga. Dia sudah duduk di samping sang suami yang sedang fokus mengecek pekerjaan.
Aska pun menoleh. Wajah istrinya terlihat penuh dengan tanya. "Apa benar tugas Ayah sudah selesai di sini?" Sebuah pertanyaan yang semalam sudah mendapat jawaban, tapi istrinya masih tetap tidak percaya. Aska mengusap lembut pipi sang istri.
"Iya. Sudah selesa." Senyum terukir si wajah Aska ketika menjawabnya. Aska pun menunjukkan grafik perusahaan kepada istrinya agar istrinya percaya. Jingga pasti mengerti sedikit demi sedikit tentang grafik perusahaan.
Mata Jingga melebar,.dia tidak bisa berkata. Sama halnya dengan Aksa ketika pertama kali ditunjukkan oleh sang ayah. Dia menatap ke arah sang suami yang sudah tersenyum.
"Ini beneran?" Jingga masih saja tidak percaya. Saking gemasnya, Aska mencubit pipi Jingga.
"Beneran dong, Bun." Wajah berseri Aska tunjukkan.
"Jadi--" Aska mengangguk.
"Kita memang harus kembali dan ayah bisa mengecek perusahaan ini sebulan sekali di sini. Selebihnya work from house." Senyum pun perlahan mengembang di bibir Jingga. "Selamanya kita akan menetap di Jakarta. Menemani dan mengurus Mommy dan Daddy di hari tua mereka."
__ADS_1
Bulir bening menetes begitu saja di pelupuk mata Jingga. Bahagia bercampur tidak percaya ini seperti mimpi baginya. Keinginan yang sudah dia kubur dalam-dalam malah Tuhan mewujudkan di saat dia sudah tidak mengharapkan.
"Terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang Tuhan rencanakan.Sama halnya dengan rencana Tuhan. Ketika kita sudah tidak menginginkan, tapi Tuhan malah melancarkan dan mewujudkan." Jingga setuju dengan ucapan sang suami. Ada rasa lega juga rasa bahagia di hati Jingga. Akhirnya dia kembali ke tempat di mana dia dilahirkan.
"Kemasi baju anak-anak juga baju Bunda."
"Tapi, anak-anak kan sekolah." Aska pun tersenyum. Nanti ayah jemput sekalian urus surat pindah. Jingga menggangguk dengan cepat istrinya terlihat sangat bahagia dan kebahagiaan itu menular kepadanya
Sebelum meninggalkan sang suami, Jingga mengecup bibir Aska dengan begitu singkat. "I love you, Ayah!" Jingga pin segera berlari.
"Kurang lama, Bun!" teriak Aska ketika istrinya sudah meninggalkannya. Senyum bahagia terpancar di wajah Aska.
Tuhan tidak langsung menjawab doa umat yang mengadahkan tangan, tetapi Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan doa tersebut.
"Dih, kenapa belum siap-siap? Tuh pesawat nungguin lu dari tadi," sungut pria itu.
"Emangnya jadi?" Fahri ingin mencekik leher adik dari bosnya ini.
"Buka hape lu! Punya hape cuma buat pajangan doang. Heran gua." Pria itupun sudah mengoceh bagai burung.
"Anter gua!" Aska sudah menarik kerah kemeja Fahri hingga Fahri pun mendengkus kesal.
__ADS_1
"Bun, Ayah jemput anak-anak!"
"Iya!!"
Fahri tercengang. Dia menggelengkan kepala tak percaya dengan Askara. Sudah tahu harus kembali ke Jakarta. Masih membiarkan anak-anaknya sekolah.
"Be go amat sih lu. Gua jemput tuh lu harus udah siap."
"Berisik!" bentak Aska yang sudah membuka pintu mobil penumpang depan.
Aska sudah memasang seatbelt-nya. Sedangkan Fahri baru saja masuk ke dalam mobil.
"Mau ke mana kita, Om?"
Suara anak laki-laki pun terdengar. Aska segera menoleh ke kursi penumpang belakang. Senyum melengkung indah di wajah tampan anak itu.

"Hi, Uncle!"
__ADS_1
...****************...
Komen dong ....