
Bu Anita terdiam dengan wajah bingung, memandangi wajah sang Dokter yang familiar sekali
"Maaf Bu.. tadi Saya hanya membantu terapi pijat untuk kaki Mbak ini"
"Ya Dok tidak masalah"
Bu Anita penasaran siapa Dia, karena wajahnya sangat mirip sekali dengan Mantan suaminya Fery Tanoto
"Kamu Dokter disini?"
"Bukan Bu.. Saya hanya sedang kunjungan kesini, karena siang nanti Saya mau seminar, perkenalkan Saya Farhan, Saya Praktek di Rumah sakit Bandung"
"Bandung"
Bu Anita merasa terheran karena tepat sekali Dokter ini tinggal di Bandung dan mirip dengan Papahnya Asri
"Mah.. ayo pulang, Aku sudah ingin istirahat, Dokter Farhan Kami pulang ya, terimakasih untuk pijat terapinya"
"Ya sama-sama"
Dan pulanglah Mereka, di sepanjang perjalanan Bu Anita memikirkan mengapa Dia bisa mirip dengan Fery, melihat Ibunya dari tadi bengong saja Asri pun menegur Bu Anita
"Mah.. Mamah kenapa sih..? dari tadi bengong terus, mikirin apa?" lalu Bu Anita menatap wajah Asri
"Memang Kamu gak sadar ya"
"Sadar.. maksudnya" setelah di pikir-pikir Bu Anita mengurungkan niatnya untuk membicarakan isi hatinya
"Tidak ada Asri, oh ya.. Mamah dapat pesan katanya Sam datang ke toko ada apa ya"
"Apa Mah.. Sam..." Bu Anita langsung melirik Asri
"Ya.. Sam.. Dia datang kesini, pasti perintah dari Pak Faris" Asri langsung terdiam, tak ingin melanjutkan pembicaraan
"Kamu pulang, Mamah mau ke toko"
"Aku ikut ya Mah" Bu Anita mengerutkan keningnya saat Asri meminta ikut ke toko
"Kamu mau apa ikut, pasti hanya ingin bertemu Sam, gak Asri.. Mamah melarang itu"
"Tapi Mah.."
"Pak Stop" Bu Anita meminta supir taksi berhenti, karena Ia sudah sampai di depan toko
"Pak.. tolong bawa Anak Saya ke alamat ini ya, Saya titip Anak Saya tolong sekalian jika turun dari taksi di bantu ke kursi roda ya Pak.. ini Saya beri lebih untuk Bapak"
"Baik Bu.. nanti akan Saya bantu" ucap supir taksi
"Asri.. Mamah ke toko dulu, Kamu pulang ya.." Bu Anita mencium kening Asri lalu turun dari taksi, sedangkan Asri melihat-lihat dari dalam kaca jendela mobil mencari keberadaan Sam.
Ketika sudah masuk toko, Bu Anita bertanya pada salah satu karyawan,
"Pak Sam sedang berada dimana?"
"Pak Sam tadi bilang akan kesini lagi setelah Dzuhur Bu"
"Ya sudah.." Bu Anita masuk ke ruangannya lalu Ia menelpon Sam lewat nomor kantor.
Sam belum sampai di mall Ia berhenti sejenak untuk mengangkat telepon
__ADS_1
"Halo.."
"Sam ini Saya Anita, Saya sudah ada di toko, memangnya ada hal penting yang ingin dibicarakan, bukankah produksinya tinggal menunggu 2 Minggu lagi"
"Ini bukan soal produksi Bu, tapi Saya ingin menyampaikan pesan Pak Faris tentang kontrak kerja" Bu Anita penasaran apa yang sebenarnya ingin di sampaikan Pak Faris
"Baik.. Saya ada di toko sampai jam 2, karena Saya harus pulang, Asri pasti belum makan"
Sebenarnya Sam ingin sekali bertanya keadaan Asri, tapi Ia takut jika Bu Anita malah emosi terhadapnya
"Baik Bu... Saya akan segera kesana sekarang"
Sam tak jadi membeli kado, Ia langsung putar balik untuk kembali ke toko Bu Anita.
Setelah sampai Sam turun dari mobil dengan hati yang gugup, dalam hatinya berkata,
"Pasti Tante Anita tidak akan terima dengan semua ini"
Sam masuk toko, dan langsung menuju ruangan Bu Anita, Ia mengetuk pintu dan memberi salam
"Assalamualaikum.." Bu Anita menoleh dan menjawab salam Sam
"Ya Sam Silahkan masuk, pesan apa yang ingin disampaikan Pa Faris"
Bu Anita langsung bertanya pada inti pembicaraan, Sam terdiam Ia merasa gugup menjawabnya, tapi ini harus di bicarakan karena ini tugas
"Bu Anita Saya mewakili perusahaan ingin meminta Maaf sebesar-besarnya kepada Ibu, karena Pak Faris ingin membatalkan kontrak kerjasama saat ini juga" Bu Anita sangat terkejut dengan apa yang di ucapkan Sam
"Tunggu ini ada apa, kenapa main batal kontrak begitu saja, Saya sudah menjalankan setengahnya dari isi kontrak loh"
"Saya mohon maaf sekali Bu, ini perintah Pak Faris, bukan kehendak Saya, Pak Faris bilang Dia tak jadi ingin mengiklankan minuman herbal"
"Tante tenang, Pak Faris akan mengganti setengahnya dari uang yang Tante sudah pakai" Bu Anita tertawa sinis dan menjawab,
"Saya sungguh tidak mengerti, kenapa harus di batalkan kontrak ini, biarpun Pak Faris membayar setengahnya tetap saja Sam, Saya rugi banyak" Sam terdiam ketika Bu Anita mulai emosi
"Tante.. sungguh ini bukan kemauan Saya, Saya sangat minta maaf sebesar-besarnya"
"Tidak perlu, mana surat pembatalan kontraknya, Saya akan tandatangani sekarang"
Bu Anita berbicara dengan suara meninggi, lalu Sam memberikan surat pembatalan kontrak dari Pak Faris, Bu Anita dengan cepat menandatangani surat tersebut.
"Ini.. Silahkan Kamu ambil, lalu silahkan Kamu pergi dari toko Saya sekarang juga"
Bu Anita berbicara dengan tegas, lalu Sam mengucapkan permintaan maaf lagi untuk yang kesekian kalinya, namun Bu Anita yang sedang emosi menjawab dengan nada Tinggi
"Sudah Sam lebih baik Kamu pergi sekarang, Saya bersyukur sekali Asri tidak jadi dengan Kamu, Karena Kamu hanya merusak Anak Saya, kamu membuat Anak saya Patah hati, Kamu meninggalkannya begitu saja, jauh sekali dengan janji-janji yang Kamu ucapkan kepada Saya waktu itu"
Sam hanya terdiam saat mendapat ocehan dari Bu Anita, Ia sadar jika dirinya memang bersalah, ingin sekali rasanya Sam mengatakan yang sebenarnya, namun saat ini tetap saja jika Bu Anita sudah membencinya alasan apapun tidak akan Ia terima, akhirnya Ia memutuskan untuk pamit
"Saya permisi Tante" sebelum Sam keluar dari ruangan, Bu Anita mengatakan sesuatu,
"Jauh-jauh mulai saat ini dari Jakarta, Saya muak lihat wajah Kamu"
Sam hanya bisa menghela nafas menerima kebencian dari Bu Anita pada dirinya saat ini, lalu Sam pergi dengan hati yang bersedih.
Bu Anita benar-benar tidak menyangka bahwa hari ini Ia akan menadapat masalah yang tak terduga, Bu Anita merasa kesal, lalu Ia berteriak untuk menghilangkan rasa kesalnya
"Aaaaaaaa..... kenapa.. kenapa baru sekarang, Aku sudah mengeluarkan banyak biaya, kalau seperti ini bagaimana ya Allah"
__ADS_1
Rasanya Bu Anita lelah dengan semua ini, masalah dalam hidupnya tak berhenti, Ia sudah habis-habisan mengeluarkan biaya rumah sakit Asri, dan juga alat produksi serta merekrut karyawan lebih, harapan yang diinginkan kini telah sirna, bisa dikatakan saat ini Bu Anita mengalami kebangkrutan cukup besar.
Tak terasa Bu Anita menangis dengan sendirinya, suara teriakan tadi terdengar oleh Para karyawannya, Mereka mendatangi ruang Bu Anita
"Bu.. ada apa, Ibu gak apa-apa kan?" Bu Anita terdiam memandangi semua Karyawannya
"Panggil Tika, Saya ingin bicara penting"
Lalu semua karyawan Kembali bekerja dan memangil Tika Manager toko organik, Tika pun masuk dan langsung bertanya hal penting apa yang ingin di bicarakan
"Tika.. Kita bangkrut" Tika kaget dengan ucapan Bu Anita
"Bangkrut.. tapi kenapa bisa Bu"
"Pak Faris membatalkan kontrak sepihak, tadi perwakilan perusahaannya datang kesini, untuk membicarakan hal ini, Saya minta saat ini juga hentikan proses Produksi, dan suruh semua Karyawan pulang, besok suruh Mereka datang untuk mengambil gaji Mereka"
Tika sungguh tidak mengerti apa yang baru saja terjadi dengan Bu Anita, Ia merasa tak percaya jika toko organik ini akan bangkrut
"Bu.. tolong bicara yang jelas, kalau Kita masih bisa memperbaiki ini semua, Kita harus semangat Bu, sayang sekali kalau toko ini harus tutup" Bu Anita terdiam dengan wajah yang bersedih
"Saya juga tidak tahu Tika, apa bisa toko ini masih berdiri, bahkan Saya mungkin harus menjual toko ini, untuk membayar Kalian semua" Tika ikut bersedih dengan apa yang terjadi dengan toko Bu Anita ini
"Sudah, Saya tidak ingin membahas masalah ini lagi, Saya ingin pulang, tolong Kamu pegang kunci toko, besok Kita bertemu jam 8 pagi"
Bu Anita pun pergi begitu saja, sedangkan Tika masih terdiam tak percaya dengan semua ini.
Lalu Tika langsung menyampaikan pesan dari Bu Anita jika saat ini, proses produksi di hentikan, Mereka semua juga bertanya-tanya mengapa di hentikan dan mengapa Mereka semua di berhentikan bekerja
"Sudah.. intinya, toko ini mengalami kebangkrutan, jadi Bu Anita menyuruh Kalian untuk pulang saja, besok datang jam 8 untuk pengurusan gaji, dan pesangon Kalian"
Semua hanya bisa mengikuti aturan dari atasan, dan Mereka pun pulang dengan harapan yang tak pasti.
Sesampainya di rumah Bu Anita langsung duduk di ruang tamu, dengan mengusap-usap wajahnya, melihat ada yang tidak beres dengan Ibunya Asri pun bertanya,
"Mah... kenapa sih.. ada apa..?" Bu Anita memandangi wajah Putrinya dengan nelangsa
"Mah.. tolong cerita sama Aku, Aku gak bisa lihat Mamah seperti ini" tak lama Bu Anita mewek lalu memeluk Asri dengan air mata berjatuhan
"Asri.. toko Mamah bangkrut Nak" Asri kaget akan hal itu
"Apa Mah.. Mamah gak lagi mengigau kan..?" Bu Anita menarik nafasnya lalu bicara
"Gak sayang, Mamah benar-benar bangkrut, tadi Sam kesini itu... karena ingin membatalkan kontrak kerjasama dengan toko Mamah"
"Apa....." Asri sangat terkejut mendengar hal itu
"Iya...Mamah gak habis pikir dengan apa yang di minta oleh Pak Faris, walaupun Pak Faris membayar setengahnya untuk ganti rugi, tetap saja Nak, Mamah sudah habis-habisan keluar uang banyak, dan sekarang Mamah harus memikirkan 20 karyawan Mamah, harus mendapatkan gaji yang sesuai"
"Ya Allah Mah.. kenapa semua ini mendadak sekali"
"Itulah yang Mamah gak mengerti, kalau hanya mengandalkan dari uang ganti rugi Pak Faris, itu gak akan cukup Asri, mau gak mau Mamah mungkin akan menjual toko" Asri terkejut kesekian kalinya
"Mah.. apa harus menjual toko"
"Sayang, Kamu harus tetap cek rutin Rumah sakit, sampai Kamu bisa berjalan, dan itu semua butuh biaya Nak, yang kedua Kehidupan Kita terus berjalan Kita butuh makan, dan bayar yang lainya itu juga butuh biaya" Asri bersedih dengan ucapan Ibunya
"Mah.. Aku hanya menjadi beban untuk Mamah, kalau begitu Aku mau berhenti cek Dokter saja Mah, untuk mengurangi biaya pemasukan hidup Kita" Asri berbicara sambil menagis kecil
"Gak sayang kesehatan Kamu lebih penting, sudah.. Mamah hanya cerita saja sama Kamu, semua ini biar Mamah yang urus, pokoknya Kamu hanya harus rajin berlatih berjalan supaya cepat beraktivitas seperti biasanya, Kamu mengerti kan" Bu Anita berbicara pada Asri dengan lembut
__ADS_1
Setelah itu Bu Anita masuk ke kamarnya dan beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa stres dalam pikirannya.