
Aksa dan Riana mengerutkan dahi ketika melihat wajah bingung Jingga dan Aska ketika mendengar nama Rangga.
"Ada apa?" tanya Aksa.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aska. Dia menatap ke arah kedua kakaknya.
"Bisa lu bawa gua ke rumah sakit di mana anak itu dirawat?" Kini, Aksa yang bingung. Dahinya pun mengkerut. Begitu juga dengan Radit dan Echa.
"Ada apa, Dek?" tanya Echa.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Itulah yang dikatakan oleh Aska. Tanpa penjelasan apapun dia malah mengajak semuanya ke rumah sakit.
Meskipun dilanda kebingungan, tetapi mereka berempat juga Gavin mengikuti ajakan dari Aska. Mereka menggunakan mobil yang berukuran besar agar mereka ke sana hanya dengan menggunakan satu mobil.
Selama di perjalanan tidak ada pertanyaan apapun. Mereka merasa bingung. Kenapa Aska yang tiba-tiba mengajak mereka ke rumah sakit di mana Rangga dirawat.
Tibanya di rumah sakit, mereka segera menuju kamar perawatan di mana Rangga dirawat. Aksa mengetuk pintu kamar karena di dalam sana dan ibu panti yang tengah menjaga Rangga.
Terkejut itulah yang ditunjukkan oleh ibu panti. Apalagi Aksa membawa keluarganya.
"A-ada, Pak?" tanya ibu panti dengan penuh ketakutan.
"Maaf, Bu," ucap sopan Aska. "Boleh saya bertemu dengan Rangga?"
Ibu panti itupun mengangguk. Aska yang menggenggam tangan Jingga masuk terlebih dahulu diikuti yang lain. Aska dan Jingga melihat luka anak itu cukup parah. Ada kepiluan di hati mereka berdua.
__ADS_1
"Apa ini alasan Aleena sedih?" bisik Jingga.
"Bisa jadi," sahut Aska.
Mata Rangga yang terpejam pun mulai terbuka perlahan. Dia sedikit terkejut ketika melihat wajah pria yang membawanya ke rumah sakit di sampingnya. Namun, ketika melihat wanita yang ada di samping pria itu dia tersadar jika itu bukan ayah dari Gavin.
"Hai," sapa Jingga dengan senyum tulus. Rangga pun membalasnya dengan senyuman manis.
"Kak Langga, katanya Uncle ingin beltemu Kak Langga." Gavin berbicara kepada Rangga dengan ucapan cadelnya.
Aska masih terdiam dan menatap intens ke wajah Rangga. Anak itu terlihat santai walaupun hatinya berdegup kencang,
"Uncle, cepat ngomong," titah Gavin. "Kak Langga halus istilahat," ucapnya lagi.
"Jangan malahin Kak Langga. Kak Langga anak baik," kata Gavin.
Rangga sudah menelan ludahnya mendengar ucapan dari Gavin. Dia juga kepikiran dengan Aleena.
"Nana tidak apa-apa 'kan, Om?" tanya Rangga. Dahi Aska mengkerut. Begitu juga dengan Jingga. "Maksud saya Aleena."
Mendengar nama Aleena disebut, kedua orang tua Aleena pun mendekati Rangga.
"Kenapa dengan Aleena?" Kalimat yang terdengar sangat garang di telinga Rangga. Di mata Rangga, Radit terlihat sangat garang.
"Anak ini yang bantu Aleena." Rangga terkejut mendengar ucapan dari paman Gavin. Dia mengira akan dimarahi.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Radit kepada Aska.
Aska pun menatap Rangga dengan sangat tajam. Sorot matanya mengatakan jika dia harus menceritakan semuanya kepada ayah dari Aleena tersebut.
"Kenapa kamu pergi?" sergah Aska. Dia geram sendiri karena Rangga tak membuka suara sedikit pun.
Rangga pun terkejut lagi mendengar ucapan dari Aska yang tak lain adalah paman Aleena juga. Dia tidak berani menatap dua pria yang tengah menatapnya tajam.
"Katakan Rangga," pinta Aksa.
Rangga merasa tengah diinterogasi kali ini. Dia menguatkan hati terlebih dahulu sebelum menjawab. Tarikan napas cukup kencang pun mampu terdengar.
"Saya ikhlas membantu Aleena. Itupun karena kebetulan saya tengah lewat dan melihat ada anak perempuan yang diganggu anak punk," ujar Rangga.
"Pertanyaan saya, kenapa ketika saya dan istri saya datang kamu malah hilang?" tekan Aska. Tatapan tajam pun dia berikan kepada Rangga.
"Tugas saya sudah selesai. Saya sudah menolong Aleena. Juga Aleena sudah berada di tangan keluarganya. Maka dari itu, saya pergi."
"Kenapa kamu lakukan itu, Rangga?" Kini, suara lembut yang Rangga duga ibunda dari Aleena terdengar. "Kamu terluka dan paman dari Aleena belum mengucapkan terima kasih."
"Ketika kita berbuat baik, tidak perlu diketahui oleh orang lain." Jawaban yang keluar dari mulut Rangga.
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1