Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
152. Jangan Takut


__ADS_3

"Suara siapa itu, Sayang?"


Suara Barito terdengar, dan terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah tiga perempuan dan juga satu bocah laki-laki di depan ruangan Askara. Wajah Jingga tersenyum dan anak laki-laki yang ada di sana sudah berlari.


"Daddy!"


Ternyata Askara juga Aksara yang datang. Filia sudah tegang setegang-tegangnya karena melihat ada Aksara di sana. Sudah banyak karyawan yang dia pecat hanya karena sebuah masalah sepele olehnya. Tanpa surat peringatan dan langsung dipecat secara tidak hormat.


Aska sudah menghampiri sang istri tercinta. Dia mengambil ponsel yang Jingga pegang. Ternyata bukan rekaman suara melainkan rekaman video. Mata Aska pun melebar dan dia menatap nyalang ke arah sekretarisnya itu.


"Apa kamu digaji untuk bergosip?" bentak Aska.


Baru kali ini Filia mendengar Aska membentak seorang wanita. Atasannya itu lebih sering membentak karyawan pria karena tidak becus dalam bekerja.


"Kamu kira saya ini tidak bisa marah kepada karyawan wanita?" Suara Aska sudah semakin meninggi.


Sang kakak hanya memperhatikannya saja. Dia malah asyik merangkul mesra pundak sang istri dan menggendong tubuh sang putra.


"Ma-maaf, Pak." Suara Filia sudah bergetar. Namun, dia masih mampu menatap wajah Aska yang sudah dipenuhi dengan kemarahan yang luar biasa. Itulah yang membuat Aksa berdecih.


"Menjual air mata hanya untuk mengiba," kata Aksara.


Filia pun terdiam. Kini, dia menunduk dalam. Satu kata yang keluar dari mulut Aksa akan menjadi bisa yang mematikan bagi para karyawan yang sudah berbuat salah.


"Selingkuh?" ulang Aska ketika matanya masih fokus pada video yang diputar. "Siapa yang selingkuh?"


"Antel talo malah telem," bisik Gavin di telinga sang ayah. Aksa hanya tertawa saja.


Dalam hati Aksa berkata bahwa kemurkaan Aska tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya jika tengah murka. Namun, dia tidak akan menunjukkan keburukannya di hadapan sang putra. Cukuplah dia mencontohkan hal yang baik untuk Gavin. Seorang pencuri pasti tidak akan pernah menginginkan anaknya menjadi pencuri juga. Itulah yang Aksa rasakan.


"Ini sudah termasuk ke dalam pasal pemfitnahan. Saya bisa menuntut kamu juga karyawan yang ada di video ini dengan hukuman seberat mungkin," tekan Aska.


Dua orang wanita yang berada di sana malah diam saja. Mereka malah asyik menonton Askara marah.


"Kamu gak kasihan sama perempuan itu?" tanya Aksa kepada istrinya secara berbisik.


"Ngapain?" jawab acuh Riana. "Perempuan kayak gitu tuh mending lempar aja ke Saturnus," omel Riana. Aksara malah tertawa.


"Jujur ya, dia itu mencoreng pekerjaan sebagai sekretaris," ujar Riana lagi dengan suara pelan.


"Bukan kamu juga sekretaris penggoda?" sergah Aksa dengan tatapan jahil.

__ADS_1


Riana mencebikkan bibirnya. Dia menatap tajam ke arah Aksara. Kemudian, berjinjit dan berbicara pelan di telinga kanan Aksa.


"Bukan sekretarisnya yang menggoda. Direktur utamanya yang menggoda duluan."


Aksara pun tertawa dan mencium ujung kepala istrinya. Bukan hanya Aksa dan Riana yang tertawa, anak kecil yang sedang Aksa pun ikut tersenyum. Hal kecil yang dilakukan oleh keduanya orang tuanya kini dia salin ke dalam otaknya.


Kini, Askara menatap ke arah Aksa. Meminta pendapat kepada sang kakak untuk menghukum sekretarisnya itu.


"Itu bukan urusan saya. Dia sekretaris kamu. Dia juga bekerja di bagian divisi yang kamu pegang," lanjutnya lagi.


Apa yang dikatakan sang Abang benar adanya. Tidak ada sangkut pautnya dengan Aksara. Ini murni urusannya dengan sekretarisnya. Apalagi sekretarisnya sudah melampaui batas.


"Saran saya, ingat pada slogan peraturan perusahaan. Peraturan dibuat BUKAN untuk dilanggar. Jika, terjadi pelanggaran sudah pasti akan terkena hukuman."


Jleb!


Sungguh kalimat penuh dengan sindiran yang menusuk relung hati yang terdalam. Aska setuju dengan ucapan sang kakak.


Aska mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi seseorang. Mata Filia melebar ketika mendengar nama seseorang yang bertugas sebagai HRD. Filia segera berlutut di kaki Jingga dan sontak membuat Jingga terkejut.


"Dlama!"


"Maafkan saya, Bu."


Suara Filia sudah terdengar sangat lirih. Namun, Riana malah berdecih. Begitu juga dengan Jingga yang masih bergeming. Bisa dikatakan dua wanita ini adalah wanita yang tidak memiliki hati. Buat apa juga berbaik hati kepada wanita yang tak memiliki hati seperti Filia.


"Saya akui saya salah, Bu," ujar Filia.


"Permintaan maaf Anda kurang dapat feel-nya," sahut Jingga.


Riana pun tertawa dan sontak Aska menoleh ke arah sang istri tercinta. Jingga pun melirik ke arah sang suami yang kini menggelengkan kepala sembari melengkungkan senyum.


"Bunda lapar, Yah."


"Uhuk!"


Aska terbatuk mendengar ucapan Jingga tersebut. Riana segera memukul lengan sang suami karena dia tahu itu hanyalah ledekan dari sang suami.


"Atu duda lapal," timpal Gavin.


Aksa pun mengajak Riana dan Gavin pergi dari sana sedangkan Jingga sudah merangkul mesra lengan suaminya.

__ADS_1


"Aku ingin dia dipecat," tegas Jingga tepat di depan Aska.


Filia pun terdiam, sudah dapat dia duga hal ini akan terjadi. Namun, dia juga tidak akan tinggal diam. Dia akan mengeluarkan beberapa jurus yang tidak akan membuat Aska menolaknya.


"Di perusahaan ini hanya ada dua sekretaris yang mempuni. Jadi, Pak Askara tidak akan pernah bisa memecat saya."


Sangat percaya diri sekali wanita itu hingga Jingga berdecih kesal mendengarnya.


"Kata siapa?"


Suara seseorang menggema. Tiga orang yang ada di sana menoleh ke asal suara. Mata Jingga melebar melihat seorang wanita yang kini muncul di depannya. Berbeda dengan Filia yang sudah menunduk dalam.


"Kamu memang memiliki kemampuan, tali profesionalisme kamu selalu kamu taruhkan," papar wanita itu.


Jingga semakin merangkul rata lengan Askara. Dia ingin mengatakan kepada wanita yang baru saja datang bahwa Askara adalah miliknya.


Wanita itu memberikan sebuah surat kepada Filia. Dia juga menatap sopan ke arah Aska yang sudah tersenyum ke arahnya. Filia, dia tengah mematung membac sebuah surat yang diberikan oleh wanita itu.


"P-pak Fahri," ucapnya pelan.


"Ya, dia akan mengajarkan kamu bagaimana menjadi sekretaris yang baik dan handal."


Jika, sudah berurusan dengan Fahri seperti berurusan dengan penjaga pintu neraka. Fahri adalah orang yang tidak memandang pria atau wanita. Dia menyamakan gender tersebut. Dia juga terkenal sadis karena setiap karyawan yang bermasalah, akan dia tindak dengan caranya. Jika, masih bisa diperbaiki akan dia rekomendasikan lagi. Namun, bukan di perusahaan pusat. Melainkan di perusahaan cabang.


"Silahkan kamu temui Pak Fahri."


Suara wanita itu sangat tegas. Dia adalah Fahrani. Wanita yang sangat ditakuti oleh para karyawan wanita seantero Wiguna Grup. Begitu juga dengan istri dari Askara yang merasa takut dengan kehadiran Fahrani. Takut, suaminya diambil oleh Fahrani. Secara Fahrani adalah wanita yang pernah menyukai Askara.


"Masalah Filia sudah selesai, Pak," imbuh Fahrani.


"Makasih."


Fahrani mengangguk seraya tersenyum. Dia melihat dengan ujung matanya bahwa Jingga tengah menggandeng mesra tangan suaminya dengan sangat erat.


"Anda jangan takut, Bu Jingga," ucap Fahrani. "Suami Anda tidak ada apa-apanya dengan calon suami saya."


Aska berdecih sebal dan Riana tidak akan percaya begitu saja. Suara langkah terdengar, seorang pria gagah tengah berjalan ke arah mereka bertiga. Terlihat Fahrani melengkungkan senyum yang begitu indah ke arah seorang pria yang mengenakan baju polisi.


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2