Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
DI PERKOSA


__ADS_3

perempuan-perempuan jalanan yang kerjanya ngamen dan minta-minta, tapi Tini butuh informasi obat itu, jadi Ia mau tak mau harus berkomunikasi dengan Mereka


"Tadi Aku dengar Kalian sedang membicarakan obat perangsang sebelum melakukan hubungan intim, boleh Aku tahu barang itu di jual di mana?"


Mereka berdua terlihat bingung mengapa wanita cantik ini menanyakan hal itu, tiba-tiba salah seorang itu tertawa


"Hahaha... " Tini agak kesal dengan Mereka berdua


"Heh.. jawab bukan ketawa!!"


"Gak sory... Gue heran saja, untuk apa wanita seperti Lo mencari obat itu?"


"Memang Gue wanita apa maksud Lo"


"Ya kalau di lihat dari penampilan sih, Lo seperti anak bangsawan agak aneh gitu ya, bertanya tentang obat perangsang"


"Sudah.. beritahu saja, Aku bisa bayar Kalian 2 kali lipat, jika mau memberitahu di mana obat itu di jual" Para wanita ini sepertinya tergiur dengan tawaran Tini


"Boleh tuh.. Sebenarnya Kita juga dapat dari orang lain Mbak.."


"Siapa..? cepatlah katakan, Saya butuh obat itu"


"Ya sabar Mbak.. Kami dapat obat itu dari teman lelaki Kita, namanya Fahmi"


"Dimana Fahmi itu berada?"


"Kalau sekarang Dia sepertinya sedang berkumpul bersama gengnya di depan gang sana"


Salah seorang wanita menunjuk arah ujung depan di sebelah pasar


"Ayo antar Saya, Saya butuh obat itu malam ini juga"


Mereka berdua hanya saling memandang saat Tini mengatakan ingin cepat-cepat bertemu Fahmi


"Baik.. ikuti Kami" Tini pun mengikuti Mereka dari belakang.


Setelah Mereka mengajak ke tempat yang di tuju, ternyata Fahmi yang sedang masih dalam keadaan mabuk tengah marah-marah dengan temannya


"Sialan itu orang, baru beberapa jadi Karyawan Papah Gue saja sudah belagu"


"Sabar Fahmi, sudah mending kita minum lagi, lanjutkan nih.."


Lalu Fahmi meminum minuman keras sekali lagi yang di berikan oleh temannya.


Tiba-tiba salah seorang teman Fahmi melihat 2 wanita yang biasa menjadi teman ranjangnya, saat ini membawa seorang gadis yang cantik dan elegan berada di samping Mereka


"Lo bawa siapa..?"


Lalu si wanita itu mendekati teman Fahmi, dan membisikan sesuatu yang di minta oleh Tini


"Hah.. cewe model Dia meminta barang itu, ada sih.. tapi di kostan Gue"


Fahmi yang tengah minum merasa terusik dengan bisik-bisik temannya


"Heh.. Kalian sedang membicarakan siapa..? Gue ya..!!"


"Bukan Fahmi bukan.. Kita sedang membicarakan wanita yang ada di belakang Lo"


Fahmi pun menoleh dan melihat Tini dari atas hingga bawah, walau tengah mabuk, Ia mengenali sosok Tini sewaktu di mall saat bertabrakan itu


"Lo cewek yang Gue tabrak di mall kan?"


Tini sempat lupa dengan kejadian itu, namun Fahmi mengingatkannya lagi, Tini pun kini mengingatnya


"Oh ya.. Saya ingat itu, maaf Saya tidak punya banyak waktu, cepat mana obatnya, Saya akan bayar 2 kali lipat"


Fahmi yang berada dalam pengaruh miras merasa terpesona dengan kecantikan Tini, tiba-tiba pikiran jahat muncul dalam benaknya


"Tunggu Lo butuh obat apa?"


Lalu salah seorang teman wanita itu membisikan sesuatu yang di minta Tini di telinga Fahmi, Fahmi sedikit tertawa dengan permintaan Tini


"Oh.. jadi itu, man....biar Gue deh yang ambil obatnya dimana?"


"Di kostan Gue Fahmi, ya sudah nih kuncinya, Gue juga agak malas mengambilnya, kalau Lo ingin mengambilnya silahkan"


Teman Fahmi pun memberikan kunci kost untuk mengambil barang tersebut

__ADS_1


"Ayo ikut Gue"


Tini sedikit takut dengan keadaan Fahmi yang setengah sadar dan setengah mabuk, dalam pikirannya apa orang ini akan benar-benar mengambilkan obat yang Ia minta.


Sambil berjalan mengikuti Fahmi dari belakang Fahmi pun bertanya untuk apa Kamu ingin menggunakan obat itu, lalu Tini menjawab untuk suaminya, dengan spontan Fahmi tertawa


"Haha... memang suami Lo gak bisa memuaskan Lo ya"


"Itu bukan urusan Kamu, yang terpenting Saya butuh obat itu untuk memancing suami Saya"


"Ya ya ya.."


Akhirnya Mereka pun sampai di kostan nya teman Fahmi, sementara Fahmi masuk, Tini hanya menunggu di depan pintu


"Eh.. Lo masuk ikut sini, Gue gak mungkin kasih Lo obat itu, di depan banyak orang, bisa-bisa Gue tertangkap polisi"


Tini percaya saja dengan ucapan Fahmi, padahal itu hanyalah jebakan Fahmi memancing Tini untuk masuk ke dalam kamar, Tini pun masuk kemudian Fahmi mencari obat tersebut, tanpa sepengetahuan Tini, Ia meminum satu obat itu, kemudian Ia mengambil sebagian untuk diberikan kepada tini, reaksi obat itu sekitar 10 menit.


Fahmi berusaha menunda dengan berpura-pura mencari obat itu, padahal yang sebenarnya Ia sedang menunggu reaksi obat itu berjalan


"Duh.. dimana ya"


"Cepatlah, Aku tidak ingin lama-lama disini"


"Sebentar"


Dirasa obat itu mulai bereaksi Fahmi mulai naik birahinya, kemudian Ia memberi obat itu kepada Tini


"Nih.. sudah ketemu"


Tini mengeluarkan sejumlah uang lalu di berikan pada Fahmi, namun Fahmi menolak Ia berkata,


"Gue gak butuh uang Lo, Gue bisa dapat uang ini hanya dengan meminta sama Bokap Gue"


"Lalu..?"


"Lo cantik.. dan.."


Fahmi mengelus pipi Tini, tentu Tini marah dan langsung menepis tangan Fahmi


"Yang sopan ya!!!"


Tini mulai panik, Ia menganggap Fahmi mulai tidak waras


"Heh.. jangan kurang ajar Kamu"


Tini merasa sudah tidak beres dengan Pria ini, Tini pun mundur perlahan lalu ingin membuka pintu, namun Fahmi menghalangi


"Mau kemana?" Fahmi bicara slengean dengan sambil senyum-senyum


"Awas.. Gue mau pulang"


"Pulang.. seorang cewek yang sudah masuk di kamar ini gak akan bisa pulang sebelum Gue mencobanya"


Merasa Fahmi sangat kurang ajar Tini pun menampar wajah Fahmi dengan kencang


"Sialan Lo" Fahmi merasa tak terima baru ini ada wanita yang menolaknya


"Heh.. baru Lo ya, cewek yang menolak Gue, Lo tahu gak semua cewek antri Pengan tidur sama Gue"


"Stop jangan sentuh Saya!!" Tini kini mulai teriak


"Tolong... tolong"


Dirasa Tini sudah bermain main dengannya, Fahmi pun mengunci pintu kamar, lalu mendorong Tini ke belakang hingga Tini jatuh di atas kasur


"Lo mau apa.. tolong... tolong.."


Tini berusaha teriak meminta tolong dengan orang di sekitar, tapi sayang semua orang yang berada di kostan teman Fahmi sudah terbiasa mendengar teriakan di kamar itu, yang Mereka kira teriakan itu berasal dari dua pasangan yang tengah melakukan hubungan intim.


Di dalam hati Tini mengapa tidak ada yang datang, Tini mulai ketakutan dengan sikap Fahmi


"Lo mau apa...jangan dekat-dekat Gue"


"Kita ingin bersenang-senang sebentar" Fahmi membuka bajunya, dan kini rasa birahinya sudah memuncak


"Bagus.. obatnya berfungsi" ucap Fahmi dalam hatinya

__ADS_1


"Tidak.. Lo mau apa.."


"Ayolah.. sebentar 15 menit saja, Aku sudah meminum obat perangsang itu, kalau Kamu tidak melayani Aku, Aku bisa kesakitan"


"Gak.. lepaskan Saya, jangan sentuh Saya"


Tini tampaknya melawan Fahmi, karena tak sabar Fahmi pun menampar Tini dengan keras hingga Ia sedikit terluka di bagian pinggir bibirnya, Tini kesakitan akibat tamparan itu


"Bajingan.. jangan sentuh Aku, tolong.. tol...."


ketika ingin teriak lagi, Fahmi membekap mulut Tini dengan keras, hingga Tini tak dapat berteriak lagi, namun tangan Tini memukul pukul badan Fahmi hingga Fahmi kesulitan untuk membuka celananya


"Wanita ******...!!" Jedar..... Tini lagi-lagi di tampar oleh Fahmi dengan keras hingga membuat dirinya lemah tak berdaya


"Diam Lo disitu" Fahmi segera membuka celananya lalu saat ini Ia berusaha membuka celana Tini


"Gak.. jangan perkosa Saya.. Saya mohon lepaskan Saya"


Geram dengan tingkah Tini yang tak mau diam Fahmi kini menampar lagi wajah Tini, tamparan kali ini sangatlah dengan sekuat tenaga, hingga Tini pun pingsan tak sadarkan diri


"Bagus.. kalau begini Aku bisa leluasa kan"


Akhirnya Fahmi dapat melakukan kelakuan bejatnya terhadap Tini, habis sudah Tini di perkosa oleh Fahmi dengan liar tak sadarkan diri, kini Fahmi merenggut kehormatan Tini dengan paksa.


Setelah melakukan aksi bejatnya, Fahmi merasa terpuaskan, lalu Fahmi berusaha membangunkan Tini


"Heh.. bangun.. bangun.."


Namun Tini tetap belum sadarkan diri, Fahmi melihat segelas air kemudian Ia ciprati air itu ke wajah Tini, Tini pun sedikit demi sedikit terbangun dan sadar.


Namun saat Ia sadar, Ia kaget bukan main, dirinya kini hanya berbalut selimut dengan keadaan telanjang tak berpakaian


"Apa yang sudah Kamu lakukan terhadap Saya" Fahmi malah tertawa mengejek


"Terimakasih sudah melayani nafsu Ku" Tini menangis saat Fahmi bicara seperti itu


"Dasar lelaki mesum, kurang ajar kamu, Kamu memperkosa Saya!!"


Fahmi hanya tersenyum-senyum mendegar rintihan tangis Tini


"Sudahlah kalau saja Kamu tadi tidak melawan, Kamu bisa rasakan kenikmatan dari si jago ini" Fahmi menunjuk *********** terhadap Tini


"Binatang Kamu..!!!"


Tini menangis tak bersuara, Ia merasa menyesal telah datang ke pasar hingga membawanya sampai ke tempat ini


"Sudah pakai baju Kamu, Aku ingin keluar"


Kalau Kamu sadar tadi, pasti permainan Aku lebih jago dari pada suami Mu itu"


Fahmi pun tertawa sambil meminum miras lagi, Tini merasa jijik dengan kelakuan Fahmi


"Dasar lelaki laknat bajingan, penipu"


Fahmi merasa geram dengan hinaan Tini, Ia pun mendekati wajah Tini lalu berkata,


"Gue penasaran dengan sosok suami Kamu, kenapa wanita secantik Kamu mendapatkan lelaki lemah seperti Suami Kamu itu"


Muak jijik benci yang kini Tini rasa terhadap Fahmi, Ia pun menampar wajah Fahmi untuk kedua kalinya, Fahmi terdiam saat di tampar oleh Tini, lalu Tini mengatakan sesuatu


"Kamu belum tahu sudah berhadapan dengan siapa?"


Tini menatap tajam mata Fahmi, kebencian telah muncul di hatinya, Tini segera memakai bajunya lalu Ia secepatnya pergi dari tempat maksiat ini, sebelum Ia melangkah kaki keluar pintu, Tini berkata,


"Ingat.. apa yang Kamu telah lakukan kepada Saya, itu semua ada harganya, lihat pembalasan Saya!!"


Tini bicara begitu sadis kepada Fahmi, sempat membuat takut hati Fahmi, setalah Tini pergi Ia menjadi kepikiran dengan kata-kata Tini yang tajam itu


"Siapa Dia.. kenapa sepertinya Dia yakin sekali jika Dia bisa membalas Aku"


Tini marah Tini mengamuk di dalam mobil merasa jijik pada dirinya sendiri karena kehormatannya kini telah di ambil paksa oleh orang yang tidak sama sekali Ia kenal


"Bajingan... bajingan Kamu Fahmi... iya.. Fahmi namanya.. lihat saja.. apa yang akan Saya lakukan untuk membalas Kamu"


Tini memukul pukul pahanya sendiri sambil menangis tanpa suara


"Sialan.. Aku pikir dengan punya obat itu, Sam akan melayani Aku, tapi ini semua di luar rencana Aku, obat Aku tidak dapat, lalu bagaimana Aku bisa Aku membuat Sam mau tidur dengan Aku....."

__ADS_1


Tini menangis tak karuan di dalam mobil.


__ADS_2