
Setelah selesai memakai baju dan celananya Makmun berkata,
"Ya sudah Kamu boleh lihat"
"Hah.... lihat.. gak Mas.. Aku takut" Makmun pun tertawa mendengar ucapan Kasih
"Takut.. Kamu takut apa..?"
"Ya Mas kan belum pakai baju, dan masih pakai handuk, Aku takut salah lihat Mas" Makmun semakin tertawa terpingkal-pingkal dalam hatinya berkata,
"Ya ampun.. selain Dia itu lembut dalam bicara, ternyata Dia humoris juga, bisa sampai membuat Ku tertawa" tak jauh beda dengan tingkah konyol Lia sewaktu dulu pertama bertemu.
"Aku sudah pakai baju dan celana Kasih, Kamu boleh lihat, dan lepas tangan Kamu begitu maksud Aku"
Kasih perlahan melepaskan tangannya dari wajahnya, lalu Ia tersenyum malu dengan kejadian ini, Ia kini membalikan badannya dan berhadapan dengan Makmun
"Maaf ya Mas Makmun, lain kali Aku berjanji tidak akan masuk sembarangan"
"Iya.. gak apa-apa, sudah selesai menyiapkan baju Lia..?"
"Belum Mas.. sebentar lagi" lalu Kasih melanjutkan pekerjaannya menyiapkan baju ganti Lia, sedangkan Makmun masih tersenyum senyum sendiri karena hal tadi.
Setelah selesai Lia pamit untuk kembali ke dapur lalu mengajak Makmun untuk makan bersama
"Mas.. habis ini ke meja makan ya, Ibu bilang sudah masak masakan kesukaan Mas"
"Oh iya.. nanti Aku akan kesana" Lia pun pergi dengan perasaan malu.
Karena hari semakin malam Sam kini pamit untuk kembali ke Cirebon
"Pak Herman, Mamah Heni, Aku harus pulang.. Aku harus jenguk Ibu, kasihan Arif disana sendirian menjaga Ibu"
"Iya Sam, Andi.. Kamu bisa bantu bawakan koper Tini, Tante minta tolong ya" Andi melakukan seusai perintah Bu Heni
Pak Heri bertanya mengapa Sam memanggil kedua orang tua Tini dengan sebutan Pak dan Bu, namun Sam tak menjawab Dia hanya tersenyum dan malah berpamitan dengan Pak Heri.
"Om.. Saya dan Tini pamit ya, Tini Aku duluan ke mobil" setelah itu Tini berpamitan dengan Ibunya
"Mah.. Aku pamit ya, nanti Aku akan kabari Mamah jika sudah sampai"
"Ya sayang.. salam dengan Bu Fatma ya, semoga Kamu betah tinggal disana" Tini pun memeluk sang Ibu dengan penuh rasa cinta
"Mah...Pah...Aku pasti akan sangat rindu Kalian" lalu Pak Herman menyahuti
"Tini.. sudah kenapa Kamu jadi cengeng begini, Kamu tinggal di penjara saja bisa bertahan apalagi hanya di rumah Sam" Pak Heri yang tak tahu menahu soal penjara pun bertanya
"Penjara..? ini maksudnya apa?" tanya Heri dengan wajah yang bingung
"Nanti Aku ceritakan Heri, sudah Tini Kamu ke depan sekarang, Suami Kamu pasti sudah menunggu" Tini pun bergegas berjalan ke depan rumah
Sambil membantu memindahkan koper Andi pun bercerita pada Sam jika dirinya ingin menikah kembali dengan Kasih, Sam sangat senang mendengar berita itu.
__ADS_1
"Bagus dong Andi.. Kalau Kamu bisa pertahankan cinta Kamu, berarti Kamu sangat hebat, tidak seperti Aku" ucap Sam dengan raut wajah bersedih
"Sam.. sebenarnya Kamu juga bisa perjuangkan cinta Kamu, hanya saja Kamu pasti di hadapkan situasi yang rumit saat inj, iya kan..?" Andi bicara lalu tersenyum pada Sam
Sedangkan Sam hanya terdiam tak menjawab apapun sebab Ia terikat janji kontrak, yang tidak membolehkan siapapun tahu soal perjanjian itu.
"tapi kalau Aku boleh tahu, Kamu acuh terhadap Aku itu karena marah atau bagaimana?" Sam bertanya mengenai benaknya yang sejak tadi ingin sekali Ia tanyakan kepada Andi
"Aku sebenarnya tidak marah dengan Kamu Sam, tapi ada sesuatu yang membuat Aku marah pada Kamu" Sam penasaran akan ucapan Andi
"Apa itu Andi..?"
Andi hanya melirik Sam, Dia tak berani mengatakan tentang kehamilan Asri, Dia sudah berjanji pada Bu Anita untuk tidak memberitahukan hal ini pada Sam, Tini pun datang dan menyahuti percakapan Mereka
"Ngobrolin apa sih..serius sekali" Andi langsung mengalihkan pembicaraan
"Sudah.. semua sudah Aku pindahkan, Kalian hati-hati ya, semoga Lo hidup bahagia Tin.. dan Lo Sam.. semoga Lo bisa jalankan ini semua dengan hati yang lapang"
Sam masih penasaran dengan perkataan Andi tadi, tapi Ia tak mungkin bertanya lagi, sebab ada Tini di sebelahnya, akhirnya Sam berniat menanyakan hal itu lain kali saja, kini Sam dan Tini pun berangkat.
Di dalam perjalanan Tini bertanya soal perasaan Sam yang kini kembali lagi dengan Tini
"Untuk apa Kamu tanyakan hal itu pada Aku"
"Sam...Aku hanya ingin tahu.. sudahlah Sam lupakan Asri, Dia bukan jodoh Kamu" Sam pun tertawa sinis mendengar ucapan Tini
"Memang Kamu tuhan yang tahu jodohku siapa dan sampai kapan?"
"Aku dan Kamu hanya sementara, kalau bukan karena Ibu, Aku tidak akan pernah melakukan hal ini, apalagi sampai meninggalkan Asri, biarpun Aku hidup dengan Kamu dan tinggal dengan Kamu, tapi hati ini.. akan tetap milik Asri, tetap milik Asri" ucap Sam dengan tegasnya sambil menatap mata Tini dengan tajam.
Hal itu pun semakin membuat Tini membenci Asri, tapi Ia sudah berjanji pada Sam jika kembali lagi dengan Sam, Dia tidak akan menyakiti Asri dan mengganggu Asri lagi.
Dua jam sudah perjalanan akhirnya Sam dan Tini sampai di Rumah Sakit, Sam langsung menuju ke ruang dimana operasi Ibunya di lakukan, disana terlihat ada Arif yang sedang duduk menunggu Ibunya dan kepulangan sang Kakak.
"Arif.. " panggil Sam
"Mas.. Alhamdulillah sudah pulang"
"Ibu bagaimana, operasi berjalan lancar?" tanya Sam dengan rasa khawatir
"Alhamdulillah Mas... operasi berjalan lancar dan Ibu sudah siuman" Sam tertawa bahagia, lalu dengan segera Ia masuk ke ruangan Ibunya
"Ibu..." panggil Sam dengan suara bersemangat, Bu Fatma menoleh dan tersenyum
"Ibu.. bagaimana keadaannya Sam sangat khawatir"
"Ibu baik Nak.. Ibu merasakan kondisi Ibu semakin baik, Arif bilang Kamu sudah membayar operasi ibu, Kamu dapat uang dari mana Nak..? tanya Bu Fatma dengan suara nelangsa.
Sam terdiam Ia tak ingin menceritakan hal itu dulu, sebab kondisi Ibunya saat ini sedang membaik, lalu tiba-tiba Tini masuk ke dalam dan berdiri di depan pintu, hal itu pun membuat Bu Fatma bingung mengapa Tini ada disini.
"Sam.. Tini ada disini.." Sam langsung menoleh lalu menjawab,
__ADS_1
"Iya Bu.. Dia disini, Bu.. nanti Aku ceritakan semuanya ya... untuk saat ini, Ibu harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran" lalu Tini mendekati Bu Fatma dan menyapa Bu Fatma
"Ibu.. apa kabar..? mulai sekarang Aku akan tinggal disini bersama Sam selamanya dan menjadi menantu Ibu selalu, serta Aku yang akan menjaga Ibu selama di Rumah Sakit" Bu Fatma semakin tak mengerti dengan apa yang diucapkan Tini
"Sam.. jelaskan semua ini, Ibu tidak mengerti" lalu Tini menyahuti
"Bu.. sudah.. Sam bilang kan Dia akan menjelaskan nanti semuanya, Ibu lebih baik istirahat saja" lalu Sam mengajak Tini untuk keluar dan bicara sebentar
"Ada apa Sam..?"
"Kamu tidak usah sok baik dengan Ibu Aku, atau cari perhatian dengan Ibu ku.."
"Apa salah Aku Sam, Aku hanya ...." Sam langsung memotong ucapan Tini
"Lebih baik Kamu pulang sekarang, biar Ibu Aku yang jaga, Arif.. antar Tini pulang sekarang, Kamu dan Tini lebih baik di rumah"
"Iya Mas...tapi kalau Mas capek.. telepon Aku ya, biar gantian Aku yang menjaga Ibu"
Lalu Arif mengajak Tini untuk pulang sekarang juga, sebenarnya Tini agak kesal dengan Sam Dia hanya berniat ingin membantu Sam namun Sam sangat menolak dengan kehadiran Tini.
Sesampainya di rumah Tini terdiam sambil melihat-lihat seisi Rumah Sam, Dia baru pertama kalinya tinggal disini, dulu pernah datang kesini saat meminta pada Bu Fatma untuk menikahkan dirinya dengan sam, karena Tini sangat tergila-gila dengan Sam hingga Ia melakukan apapun agar demi menikah dengan Sam.
Kejadiannya tak jauh beda dengan saat ini, dulu Ibunya kritis saat di vonis terkena penyakit jantung, keluarga Mereka hanyalah dari keluarga biasa-biasa saja, Sam pun bekerja hanya sebagai cleaning servis di anak perusahaan Retro.
Dari situlah Mereka bertemu, Tini pun jatuh hati pada Sam, namun tidak untuk Sam, Ia hanya menganggap Tini adakah anak atasnya, namun karena penyakit Ibunya yang harus segera di tangani dan butuh biaya besar, Tini dan Herman pun mengambil kesempatan ini untuk mendesak Sam, akhirnya mau tak mau demi sang Ibu Sam mengiyakan untuk menikah dengan Tini, Bu Fatma pun merestui pernikahan tersebut.
Seiring berjalannya waktu, Sam mulai masuk dan bergabung di perusahaan Retro Advertising, perusahaan ternama di Jakarta, Dia di tempatkan di bagian Manager Marketing, Sam banyak belajar cara menghandle klien dan berkomunikasi dengan klien, Ia pun belajar sedikit demi sedikit bahasa Inggris supaya mempermudah dirinya berkomunikasi dengan klien dari luar negeri.
Secara hidup Ia berkecukupan dengan semua fasilitas yang Herman berikan, namun tetap jika Sam melakukan kesalahan atau menyakiti Tini, Herman selalu mengungkit-ungkit semua yang pernah Ia berikan untuk Sam, disitulah hati Sam tertekan, Dia merasa tak ada kebahagiaan dalam hidupnya, begitulah kira-kira cerita masalalu Tini dan Sam hingga terjadinya pernikahan tanpa cinta.
Arif memanggil-manggil Tini berkali-kali, namun Tini tak mendengar panggilan itu, akhirnya Arif menepuk pundak Tini hingga membuat tini kaget.
"Arif.. Kamu mengagetkan Mbak saja"
"Maaf Mbak.. habis dari tadi Aku panggil Mbak tak jawab, Aku hanya ingin menunjukkan itu kamar Mbak dan Mas Sam"
"Oh.. ya sudah.. Aku masuk ke kamar ya"
Tini pun masuk ke kamar Sam, dan Ia terkesima dengan penampilan kamar Sam yang sangat rapih resik, dan harum.
"Sam memang dari dulu tidak pernah berubah Dia selalu bersih dan wangi, hingga kamarnya pun wangi" ucap Tini pada dirinya sendiri.
Tak sengaja Ia melihat foto Asri dan Sam sewaktu di Bandung terpampang di meja samping dekat tempat tidur, dengan segera Ia mengambil foto tersebut dan melepaskannya dari frame, kemudian Ia menyobeknya hingga berkeping-keping.
"Dasar wanita murahan, jauh-jauh Kamu dari suami Aku, Aku akan selalu menang Asri.. ingat itu" ucap Tini dengan hati yang dongkol.
Tini merasa lelah Ia ingin beristirahat namun Ia bingung karena kopernya ada di mobil Sam, sedangkan Ia merasa gerah memakai baju yang sedang di pakainya ini, Tini pun membuka lemari Sam, lalu Ia melihat lagi kenangan Asri bersama Sam yaitu baju couple
"Ini apa lagi...Aku harus singkirkan" Tini pun menggunting pakaian tersebut, saking kesalnya Ia memotong pakaian itu hingga berkeping-keping.
"Aku benci Kamu Asri.. Aku benci... Aku harus hilangkan Kamu dari sisi hidup Sam, kalau bukan karena janji Aku, mungkin Aku sudah menyuruh orang lagi untuk menghabisi Kamu"
__ADS_1
Setelah terpotong kain tersebut di buanglah ke tong sampah, lalu Ia memfoto momen ini dan mengirimkannya ke Chandra, tujuannya agar Chandra memberitahukan semua itu pada Asri, hingga Asri akhirnya akan frustasi dan mungkin saja bisa gila.