Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
273. Lelah (Karena Selalu Dimanja)


__ADS_3

Aksa baru merasakan betapa sulitnya meninggalkan sang keponakannya kali ini. Gavin sudah seperti putranya sendiri. Anak itupun tak mau lepas dari sang paman. Dia terus menangis karena tida memperbolehkan sang paman pergi.


"Uncle, harus pergi." Seketika anak itu minta diturunkan dan menatap sendu ke arah Aska.


"Sekali lagi ... Mas mohon ... jangan pergi Uncle," pintanya. "Mas janji, Mas gak akan minta seribu dollar lagi."


Ucapan Gavin kali ini membuat Aska sedih. Dia menatap wajah keponakannya yang juga sendu.


"Uncle malah akan merindukan hal itu." Gavin malah menunduk dalam.


Aksa segera mendekat ke arah sang putra. Dia menggendong tubuh Gavin dan memeluknya dengan begitu erat.


"Biarkan Uncle pergi, ya. Daddy janji ketika akhir pekan datang kita ke Singapur ke rumah si kuartet." Anak itu tidak menjawab. Dia malah merangkulkan lengannya di leher sang ayah. Juga meletakkan kepalanya di pundak sang ayah tercinta.


"Semuanya, Adek berangkat, ya."


Sedari tadi Jingga tidak dapat berkata. Dia hanya diam seribu bahasa karena menahan sesak di dada. Membawa empat anaknya ke negara orang dan mengurusnya seorang diri. Dia akan berusaha semampunya. Dia harus bisa.


Hanya Gavin yang tidak mau melihat sang paman masuk ke dalam pesawat. Hanya Gavin yang terus memeluk tubuh ayahnya ketika semua orang melambaikan tangan kepada Aska dan Jingga.


Selepas dari bandara, Gavin terus berdiam diri di kamar. Pak Joe merasa bosan, biasanya anak majikannya itu akan meminta diantar ke sini dan ke sana. Namun, hari ini anak itu seakan tidak mau keluar.


Sama halnya dengan Joe. Riana pun sedikit cemas dengan keadaan putranya. Tidak biasanya anak itu mengurung diri di kamar.


Sudah dua hari ini Gavin selalu bersikap seperti ini. Tidak mau keluar juga susah makan.


"Mas, makan dulu, ya. Nanti Mas sakit," ujar sang ibu. "Mas mau makan apa? Apa kita makan di luar saja?" Gavin pun menggeleng.


"Mas tidak lapar."


Untuk kesekian kalinya Riana menghela napas kasar. Dia menatap ke arah sang putra dengan tatapan tak terbaca.

__ADS_1


"Daddy 'kan udah janji, kalau weekend nanti kita akan ke rumah Uncle," ucap Riana. Putranya pun masih terdiam.


.


Di negeri Singa pun kepanikan tengah melanda Jingga. Bagaimana tidak, keempat anaknya demam secara bersamaan. Ingin menghubungi Aska, tapi suaminya sedang ada rapat penting dan tak bisa diganggu. Sungguh Jingga panik. Tidak biasanya keempat anak ini demam secara bersamaan.


Langkah pertama Jingga melakukan kompres dengan air dingin. Dia berharap demam keempat anaknya turun. Untungnya si kuartet anak-anak anteng. Mereka sama sekali tidak rewel. Jadi, Jingga bisa bersih-bersih rumah.


Memasak sambil mondar-mandir melihat Keempat anaknya kini telah dilakukan Jingga. Betapa repotnya memang. Namun, dia tetap berusaha menjadi ibu yang kuat. Baru dua hari di Singapura dia merasa sangat kelelahan.


"Aku terlalu dimanja di rumah mertua," gumamnya.


Jingga harus kembali kepada Jingga yang dulu. Jingga yang kuat dan pantang mengeluh. Dia yakin bisa melalui semua ini dengan baik. Dia harus menjadi ibu yang hebat. Dia harus menjadi ibu yang kuat.


Selesai sang bunda memasak keempat anaknya terbangun secara bersamaan. Mereka seolah mengerti ibunya tengah sibuk. Mereka hanya terduduk lemah sambil memainkan handuk bekas kompresan.


"Anak-anak Bunda sudah bangun." Jingga segera menghampiri keempat anaknya. Mengecek satu per satu suhu tubuh si kuartet. Dia dapat bernapas lega ketika demam keempat anaknya mulai turun.


Melihat anak-anaknya tidak rewel seperti ini membuat hati Jingga lega. Dia teramat bahagia karena anak-anaknya sangat mengerti dirinya.


"Jangan nakal ya, Nak. Di sini kita hanya berenam saja. Bunda, Ayah, Mas, Abang, Kakak dan juga Adek. Kita harus saling kerja sama. Ketika Bunda masak, kalian gak boleh nakal apalagi bertengkar. Nanti, akan Bunda putarkan serial Ninja Hatori kesukaan kalian. Juga akan Bunda buatkan puding cokelat dan mangga kesukaan kalian." Keempat anak Aska dan Jingga yang tengah memegang botol susu hanya mendengarkan. Mereka menatap ke arah sang bunda, mereka seakan mengerti dengan apa yang bunda mereka katakan.


"Mas."


Jingga sudah memegang tangan Abdalla. Dia mencium punggung tangan putra pertamanya.


"Jadilah kakak yang baik dan panutan untuk adik-adik ya, Mas. Bunda yakin Mas akan menjadi kakak yang hebat." Seulas senyum Jingga sunggingkan. Kini, dia beralih pada Ahlam. "Nak, tebarkan terus senyum kepada semua orang. Senyum kamu begitu manis. Penyejuk hati Bunda dan Ayah."


Anak ketiga, Arfan. Sebelum berbicara Jingga malah tertawa melihat anaknya yang super ini.


"Bunda kadang mengkhayal, bisa gak sehari saja kamu jadi anak manis seperti Mas. Gak petakilan, gak buat onar, gak buat adik kamu nangis kejar." Anak itu malah tertawa terbahak membuat Jingga ikut tertawa. "Tapi, kalau kamu diam dan anteng, rumah malah terasa sepi. Seperti tidak berpenghuni."

__ADS_1


Terakhir, Balqis. Jingga seperti melihat perpaduan antara Dea dan Ayna. Jingga mencium gemas pipi Balqis.


"Berhentilah mainin kosmetik Bunda, Nak. Gincu Bunda malah dicampur-campur. Pas dipake udah kaya hantu berbibir gelap. Belum lagi eyeshadow Bunda. Warnanya udah kayak pelangi."


Setiap anak memiliki karakter berbeda-beda. Jingga dan Aska tidak pernah mempermasalahkannya. Mereka menganggap itu adalah karKter anak mereka masing-masing.


.


Rasa lelah setiap malam melanda tubuh Jingga. Sudah sebulan dia tinggal di rumah sederhana di negeri Singa. Setelah selesai menidurkan keempat anaknya, Jingga akan selalu mengoleskan minyak angin di tengkuk lehernya. Juga memijat lembut telapak kakinya. Dia seperti kembali ke kehidupan yang dulu. Setiap malam selalu mengeluh lelah karena pagi hingga jam sepuluh malam harus sekolah dan bekerja.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, sang suami belum juga pulang. Ingin rasanya dia merebahkan tubuh di atas kasur empuk, tapi dia harus menunggu suaminya pulang.


Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan. Jingga masih duduk di sofa kamar sambil terkantuk-kantuk. Dia melihat ke arah jam dinding lagi. Jarum jam semakin bergerak ke arah kiri. Suaminya tak kunjung kembali.


Mata Jingga sudah tak bisa diajak terjaga. Akhirnya dia memejamkan mata. Dia pun tak tahu kapan suaminya pulang. Ketika pagi menjelang, dia terkejut


ketika meliha tubuhnya sudah ada di atas tempat tidur. Dia melihat ke arah sampingnya. Sang suami masih terpejam dengan memeluk tubuhnya. Jingga tersenyum. Perlahan dia hendak menurunkan kakinya. Namun, tangan kekar itu menahannya.


"Temani Ayah tidur, Bun. Ayah masih ngantuk." Aska malah membenamkan wajahnya pada tengkuk leher Jingga.


"Bunda harus lihat anak-anak, Yah." Bukannya memberikan kelonggaran, suaminya malah semakin erat memeluk tubuh Jingga dari belakang.


"Ada Mommy. Hari ini mereka berempat akan ditemani Mommy dan Daddy."


Mendengar kalimat dari sang suami membuat mata Jingga hampir melompat dari tempatnya. Dia malah memaksa suaminya untuk melepaskan pelukannya.


"Kenapa Ayah gak bilang? Bunda 'kan harus siapkan--" Aska membungkam mulut istrinya dengan kecupan hangat. Dia tersenyum dan mengusap lembut pipi Jingga.


"Mommy bukan mertua judes yang akan menuntut ini dan itu ketika datang ke rumah menantunya. Mommy juga tidak ingin disambut layaknya mertua pada umumnya. Jadi, jangan takut. Anggaplah Mommy seperti ibumu, bukan mertuamu." Seulas senyum Jingga berikan kepada Aska.


"Hari ini adalah waktu untuk kita berdua. Kalau perlu, Bunda harus tetap di dalam kamar ini tanpa memakai baju."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


__ADS_2