Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
BERDARAH


__ADS_3

Terdengar dari kejauhan langkah kaki mendekat ke arah ruangan dimana Asri di rawat. Sam mulai panik, Ia berfikir langkah kaki itu adalah langkah kaki Bu Anita.


"Asri.. sepertinya Mamah Kamu sudah ada di luar, Aku harus segera bersembunyi supaya Tante Anita gak lihat Aku"


"Iya.. kalau Mamah tahu, pasti Kita akan semakin di persulit, Sam... Kamu bersembunyi di toilet saja, sebisa Aku..pasti Mamah Aku tahan jika ingin ke toilet" lalu Sam berlari dengan cepat.


Ketika suara langkah itu sudah tepat di depan pintu, Asri semakin panik.. tapi Ia berusaha untuk terlihat tenang.


"Juvi...." Asri kaget seketika ternyata suara langkah kaki itu adalah langkah kaki Juvi


"Iya.. kenapa...?, kok kaget begitu" Asri menghela nafasnya kemudian Ia memanggil Sam untuk keluar dari persembunyiannya


"Sam.. keluar deh.. ini Juvi bukan Mamah"


Suara Asri terdengar kecil, Sam tak mengerti apa yang di ucapkan Asri


"Sam...?? memang ada Sam disini..?" tanya Juvi yang sedang kebingungan


"Iya..Sam ada disini, Dia mau melihat Aku"


"Aduh.. Kalian ini.." Juvi segera menghampiri Sam yang sedang bersembunyi di toilet


"Woy.. keluar.. ini Gue Juvi bukan Tante Anita" mendengar suara Juvi Sam kini keluar, Ia pun keluar dengan wajah menyeringai


"Ketahuan ya.. diam-diam temui Asri"


"Ah Juv Lo buat gue panik saja"


Asri dan Sam saat ini malah jadi malu dengan kehadiran Juvi


"Untung Gue yang datang, kalau Tante Anita bagaimana..?"


"Ya maka dari itu Gue sembunyi"


"Sudah.. sekarang Kalian bebas bertemu, biar nanti Gue yang pantau" Asri juga Sam pun tersenyum dan berterimakasih pada Juvi karena berjanji tak akan berbicara dengan Bu Anita soal ini.


Melihat jam sudah tepat jam 2 siang, Sam kini pamit pada Asri harus pulang saat ini juga.


"Sayang.. Aku pamit ya.. Aku harus pulang sekarang"


"Harus sekarang...?" Sam tersenyum lalu membelai rambut Asri sambil mengatakan,


"Aku pasti kembali lagi untuk Kamu.. Kamu tunggu Aku ya"


Juvi hanya menyimak percakapan Mereka


"Eh Sam.. sebenarnya Gue kesini bersama Chandra juga Rahma, Lo gak mau bertemu Mereka dulu"


"Gak Juv.. Gue harus pulang sekarang, karena ini hampir sore, Gue masih banyak kerjaan besok"


Setelah berbincang Sam kembali ke ruang Kamar rawatnya, kemudian tak lama Ia berangkat pulang ke kampung.


Selang beberapa waktu Chandra juga Rahma pun datang


"Assalamualaikum.." Juvi dan Asri menjawab salam Chandra


"Asri.. apa kabar Kamu..?" tanya Rahma dengan senyum yang ramah


"Rahma.. Alhamdulillah Aku sudah membaik"


kemudian Chandra menanyakan keberadaan Sam


"Sam mana..?" lalu Juvi menjelaskan kepulangan Sam ke kampungnya


Kemudian Asri menanyakan kepada Chandra mengenai kasus dirinya apakah sudah di proses atau belum.

__ADS_1


"Sudah Asri.. Kamu tenang, tadi Kepolisian telepon Aku, Mereka bilang Mereka sudah menangkap Tini" Asri terdiam seakan tak percaya bahwa Tini adalah dalang di balik semua ini


"Aku gak nyangka sih Tini akan melakukan semua ini sama Aku" Chandra juga Juvi menegaskan jika Dia memang pantas mendapatkan hukuman atas perbuatannya.


Lalu Chandra menceritakan tentang Andi yang sudah bertemu dengan Istrinya


"Oh ya.. jadi Kasih itu Istri Andi yang sekarang menjadi Asisten Rumah tangga Lia" Asri ikut senang mendengarnya jika Andi sudah menemukan Cintanya lagi.


Sam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan Mata-mata Herman terus mengawasi Sam sampai di Cirebon.


Setelah sampai di kampung halamannya Sam langsung masuk ke dalam rumah, namun Bu Fatma sedang berada di Rumah Sakit, sambil menunggu kepulangan Bu Fatma Sam beristirahat sejenak.


Andi terdiam berdiri di teras rumah kediaman Herman, Dia sedang memikirkan kata-kata Kasih yang ingin kembali menjalin rumah tangga, tiba-tiba Bu Heni menyapa dan berkata,


"Andi.. Kamu sedang apa disini, lebih baik Kamu istirahat habis dari acara Retro kan..?"


"Iya Tante, Tante... Aku mau cerita sama Tante"


"Kamu mau cerita apa.. silahkan saja Andi, anggaplah Tante ini seperti Mamah Kamu" Andi tersenyum lembut pada Bu Heni


"Begini Tante, Tante tau Kasih kan, Istri Aku yang sudah 2 tahun lamanya terpisah dari Aku, saat ini Dia ada sini, di Jakarta Tante" ekspresi Bu Heni sangat kaget ketika mendengar Kasih ada di Jakarta


"Yang benar Sam.. lalu Kalian bagaimana?" tanya Bu Heni penasaran dengan cerita selanjutnya


"Ya Kita bicara dari hati ke hati Tante, Dia butuh penjelasan ketika Aku meninggalkan Dia tanpa kabar, dan Dia juga mengajak kembali untuk membangun rumah tangga yang sempat tertunda, Dia masih seperti dulu, masih sangat mencintai Aku"


"Ya bagus dong kalau Dia masih mencintai Kamu, Lalu Kamu sendiri bagaimana Andi..? Andi bingung bagaimana cara mengatakannya jika setengah hatinya sudah di curi wanita lain.


"Andi.. kok Kamu diam.. Kamu gak percaya ya sama Tante, sebenarnya.. Tante itu dulu mendukung hubungan Kamu dengan Kasih, hanya saja Om Herman dan Mas Heri sangat melarang hubungan Kalian, mau gak mau Tante harus ikut aturan dari Om Herman, Tante minta maaf ya Andi"


lalu Andi mengatakan tidak masalah untuk hal itu, karena yang sebenarnya bukan itu masalah hati Andi.


"Aku hanya ingin cerita kok Tante, Andi hanya saat ini masih kaget dengan semua ini"


"Tante Aku pergi sebentar ya, ada urusan"


"Kamu mau kemana, gak capek..?"


"Sebentar kok Tante, ya sudah Andi pergi ya"


padahal yang sebenarnya Andi pergi ingin menemui Asri melihat kondisi Asri saat ini.


Sesampainya di rumah Lia langsung berganti baju dengan pakaian yang lebih santai, dan langsung membuka laptopnya, sedangkan Makmun masih terus bicara meminta maaf supaya tak ada pertengkaran yang terjadi.


Namun Lia sepatah kata pun tetap tak menjawab ucapan dari Makmun, dan tiba-tiba terdengar suara Bu Alya memanggil Lia dengan suara sangat lantang.


"Lia.. Mamah panggil Kamu" ucap Makmun, Lia tetap diam membisu, di dalam hati Lia berkata,


"Ada apa lagi sih Mamah, tambah buat mood Aku makin gak enak saja" Lia pun langsung bangkit dari duduknya dan berjalan dengan cepat.


"Ada Mah... kok teriak panggil Aku"


"Makmun sedang apa?"


"Mandi.." jawab Lia dengan ketus, hal itu pun membuat Bu Alya jadi malas melihat Lia


"Ini loh.. gorden ruang tamu putus, Karena Kamu tadi bilang Makmun sedang mandi, Mamah minta tolong deh Kamu yang pasangkan gorden baru"


"Aku Mah.. tapi ini tinggi sekali Mah"


"Ini Mamah sudah bawakan kursi, ayo di pasang.. Mamah gak bisa lihat sesuatu yang gak sesuai di mata Mamah" Lia semakin kesal saja melihat kelakuan Ibu mertuanya itu


"Ya sudah Aku pasangagkan" Lia berbicara dengan suara jutek.


Lia kini memanjat kursi memasang gorden, kursi yang biasanya kokoh dan kuat, tiba-tiba terasa koyak saat di pijak.

__ADS_1


"Mah.. Kursinya goyang, Aku takut..."


"Goyangan bagaimana Lia.. Mamah biasa pakai kursi ini kok setiap hari, sudah Mamah bantu pegang dari bawah"


Sebenarnya Lia khawatir takut akan jatuh, namun Ibu mertuanya terus mendesak Lia untuk memasangkan gorden, jadi mau tak mau Lia mengikuti saja perintah itu.


Kaki Lia menjinjing tinggi untuk menggapai rel besi gorden, kursi itu semakin terasa koyak, Lia sedikit tegang merasa takut, tiba-tiba ponsel Bu Alya berbunyi, Bu Alya pun hendak mengangkat panggilan itu.


Ketika kedua tangan Bu Alya tak memegang kursi yang sedang di naiki Lia, kursi itu pun koyak sebelah kaki kursi patah, Lia pun terjatuh dengan posisi tengkurap dan perutnya menghentak ke lantai.


"Aaaa....." Lia spontan teriak Merasa kesakitan dan Ia memegang perutnya dengan wajah meringis


"Sakit...Makmun... perut Aku.."


Mendengar suara teriakan Lia, Makmun yang sedang menyisir rambut pun langsung berlari menghampiri sumber suara tersebut.


Sungguh sangat terkejut Makmun melihat Lia sudah terkapar di lantai sambil memegangi perutnya dengan wajah meringis kesakitan


"Astagfirullah Lia.. Kamu kenapa..?"


Bu Alya terdiam panik, tak menyangka Lia akan jatuh dari atas kursi, lalu Bu Alya mendekati Lia dan memangku kepala Lia di pahanya.


"Lia.. ya ampun, kenapa bisa jatuh" Makmun pun bertanya kepada Ibunya


"Mamah sebenarnya ini kenapa, kenapa dengan Lia" Bu Alya ketakutan ketika ditanya oleh Makmun perihal peristiwa ini


"Tadi Mamah suruh Lia untuk memasang gorden, tapi Mamah gak tahu kalau Lia akan jatuh Mun... maafkan Mamah Mun" Bu Alya kini meminta maaf karena kecerobohannya yang tidak menjaga Lia dari bawah.


Lia terus mengatakan jika perutnya sakit


"Sakit....perut Aku sakit Mun.." Makmun pun langsung menggendong Lia bermaksud ingin membawa Lia ke Rumah Sakit.


Namun ketika di angkat tubuh Lia, darah kini bercucuran di kaki Lia, Makmun semakin panik melihat darah yang tercucur deras


"Ya Allah kenapa ada darah" Bu Alya semakin merasa bersalah dengan keadaan ini.


Dengan secepatnya Makmun membawa Lia ke rumah sakit, dan Bu Alya juga ikut bersama menemani Anaknya.


Makmun langsung berteriak ketika sampai di Rumah Sakit


"Suster.. suster.. cepat.. tolong Istri Saya" Lia langsung di tangani oleh Dokter, namun sayang saking banyaknya mengeluarkan darah Lia pun pingsan saat di jalan.


Makmun sungguh khawatir dengan keadaan Lia, lalu Makmun menatap wajah Bu Alya dengan sangat tajam


"Makmun.. kenapa Kamu melihat Mamah seperti itu"


"Mamah.. Mamah ini kenapa sih.. Mamah kenapa selalu menyuruh Lia melakukan sesuatu yang di luar nalar"


"Maksud Kamu apa...? Mamah gak mengerti"


Makmun pun menjelaskan jika Bu Alya egois dan tidak pernah sayang dengan Lia sebagai menantunya, Makmun pun sudah mengetahui jika waktu Lia membersihkan kamar mandi malam-malam itu juga Bu Alya yang menyuruh.


"Dan sekarang Mamah menyuruh Lia untuk pasang gorden, apa gak bisa Mamah suruh Aku, Lia sedang hamil Mah.. lihat.. apa yang terjadi pada Lia sekarang" tak terima di salahkan Bu Alya pun berkata,


"Jadi Kamu menyalahkan Mamah atas kejadian ini" Makmun terdiam tak menjawab, dalam hatinya sangatlah kesal dengan Ibunya, namun disisi lain Ia tak ingin berbicara meninggi dengan Ibunya.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Lia, Aku gak akan mau memaafkan Mamah"


Bu Alya diam tak bergeming mendengar ucapan dari mulut Anaknya, rasanya seperti di tusuk duri saat mendengar kata-kata terakhir yang Makmun ucapkan.


Bu Alya pum duduk perlahan di kursi, dengan raut wajah bersedih


"Baru kali ini Kamu buat hati Mamah sakit Makmun, Lia.. Mamah gak ada maksud ingin mencelakai Kamu, tapi kenapa malah jadi begini ya Allah"


Makmun tak dapat berpikir, yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana keadaan Lia.

__ADS_1


__ADS_2