
Rumah Ayanda dan Giodra seperti play group. Ada sembilan anak-anak di sana yang tengah membuat onar. Jangan ditanya bagaimana keadaan rumah besar tersebut, mainan di mana-mana, makanan berceceran juga keributan juga terdengar.
Jingga tersenyum ketika melihat Arfan kembali aktif. Selama 5 bulan ini Jingga melihat perbedaan Arfan yang signifikan. Anak itu lebih cenderung diam seperti ada yang tengah dia pikirkan. Ternyata Arfan merindukan keluarganya yang berada di Indonesia.
Jingga bahagia bisa berada di dalam lingkungan keluarga yang begitu hangat dengan kekeluargaan yang begitu erat. Ini bagai mimpi untuknya. Benar kata sang Bunda, setelah hujan pasti akan ada pelangi. Setelah kesedihan pasti akan ada kebahagiaan yang menghampiri.
Kedua mertuanya pun sangat menyayangi Jingga. Bukan hanya Jiingga, menantu-menantunya yang lain pun diperlakukan sama. Itulah yang membuat Jingga seakan memiliki ayah dan bunda. Inilah jawaban atas setiap doa yang selalu dia panjatkan. Dia ingin bahagia. Doa yang sangat sederhana, tetapi Tuhan mengabulkannya dengan cara yang cukup rumit dan dalam waktu yang lama. Membawa Jingga menyusuri hidup di dalam kesusahan, masalah yang tak kunjung reda, juga kesedihan yang terus menerpa. Barulah dia menemukan sebuah kebahagiaan yang memang semenjak sekolah harusnya sudah dia dapatkan. Akan tetapi, jalan menuju kebahagiaan itu Tuhan putar balik dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Pada akhirnya berakhir pada sebuah pernikahan yang tidak Jingga duga-duga, yakni menikah dengan pria yang masih selalu dia cinta.
"Bala-bala!" teriak Aleeya.
Bocah dua tahun itu terus berlari sambil tertawa. Ternyata anak bungsu dari Aska sudah mencoret-coret boneka yang tengah dimainkan oleh Aleeya. Anak ketiga dari Radit itu terus mengejar Balqis yang juga terus tertawa bahagia. Tawa itu pun menular kepada orang-orang yang melihat mereka.
Arfan si bocah pembuat onar sedari tadi tidak mau duduk. Berlari ke sana ke mari. Banyak air yang sudah dia tumpahkan, banyak makanan yang tidak sengaja Arfan tendang . Namun, tidak ada yang memarahinya. Kakek dan neneknya seolah membiarkan anak itu berekspresi.
Ayanda dan Gio merasa sangat bahagia ketika melihat rumah besar yang mereka bangun dihuni oleh makhluk-makhluk lucu seperti sembilan cucunya ini. Andai Dea dan Ayna masih ada sudah terbentuk kesebelasan seperti pemain sepak bola. Namun, Tuhan berkata lain. Dea dan Ayna lebih disayang oleh Tuhan, pergi terlebih dahulu meninggalkan mereka semua.
Gavin, anak itu sedari tadi terus menjahili Aska. Mereka berdua akan tengah melepas rindu. Aska seakan pasrah dijahili oleh keponakan juga anak ketiganya. Wajah Aska bagai kanvas lukis. Aska masih memejamkan mata, biarkanlah mereka berekspresi. Kebahagiaan yang tidak bisa dibeli oleh uang yaitu sebuah kebersamaan.
"Uncle tinggal di Singapura mah berarti uncle udah kaya dong." Pertanyaan Gavin membuat Aska tersenyum.
"Uncle masih menjadi rakyat jelata," sahutnya.
"'Kan di sana pakainya dolar, Uncle. Jadi, pasti di dalam dompet uncle isinya dolar semua." Aska malah tergelak. Dia membuka mata dan menatap sang keponakan yang begitu tampan
"Terus kamu mau dolar?" Anak itu berpikir sejenak.
"Banyak nggak dolarnya?" Anak itu malah balik bertanya.
"Sepuluh dolar." Jawaban sang Paman membuat Gavin mulai menghitung jarinya.
__ADS_1
"Cuma buat beli gorengan doang itu mah," sahutnya dengan begitu sombong. Aska pun terperang yang mendengar jawaban dari Gavin.
"Kirain Uncle kamu sudah berubah ternyata makin parah," cibirnya.
"Apanya?" Anak itu bingung mendengar ucapan sang paman.
"Mata duitannya."
Gavin malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan sang paman. Aska terus menatap wajah Gavin yang semakin ke sini wajah anak itu semakin tampan.
"Ma-ma Mas, mau ado," ucap Balqis.
"Aqis mau kado?" tanya Gavin. Anak itu seolah mengerti apa yang dikatakan oleh sepupunya. Balqis pun menggangguk dan membuat Gavin tersenyum
"Nanti, ya. Ketika Aqis ulang tahun Sas akan kasih Aqis kado."
"Iya." jawab Gavin begitu tegas.
Ayanda dan Giondra yang melihat sikap Gavin merasa sangat bangga. Cucu laki-laki pertama mereka adalah cikal bakal seorang laki-laki penyayang, penyabar juga bertanggung jawab. Sifat Gavin sudah terbentuk sedari kecil dan sudah terlihat di mata semua orang.
.
Persiapan ulang tahun si quartet membuat semua orang yang berada di rumah besar sangat sibuk. Terutama para pembantu rumah tangga yang bertugas di sana. Giondra sengaja memanggil koki terbaik untuk membuat kue ulang tahun untuk keempat cucunya. Namun, tingkah Arfan selalu saja membuat semua orang berteriak. Dia tidak mau diam. Terkadang ayahnya pun memijat kening karena pusing melihat tingkah Sang putra yang sangat aktif.
"Uncle, Mas bawa kandang kucing."
Aska kira keponakannya bercanda, ternyata benar-benar kandang kucing super besar yang Gavin bawa. Kandang itu dibawa oleh bodyguard Gavin yang dibantu oleh satpam depan.
"Itu kandang buat gorila," ujar Aleesa karena melihat kandang besi yang tidak seperti kandang besi pada umumnya.
__ADS_1
"Tapi, ini untuk cucunya gorilla, Sasa. Buat ngurungin si cimol."
"Mas ngatain Mimo gorila?" Suara sang nenek menggema. Sang nene sudah naik pitam mendengar ucapan cucu laki-laki pertamanya itu. Aleesa tersenyum dan perlahan dia mundur meninggalkan Gavin sendirian. Mampukah Gavin menghadapi singa betina yang akan mengeluarkan taring tajamnya seorang diri?
"Bu-bu-bukan begitu, Mimo," sahut Gavin terbata-bata. Baru kali ini dia melihat sang nenek marah.
"Itu tadi Mas bilang Arfan adalah cucunya gorila. Neneknya Arfan siapa?" tanya Ayanda dengan mata yang sudah melotot. Gavin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia ingin mundur ketika sang nenek mulai melangkahkan kaki.
"Aduh gimana ini? Kenapa harus salah bicara?" batinnya.
"Mana ada gorila cantik kayak Mimo." Gavin berharap sang nenek menyudahi marahnya.
"Tuh kan sekarang mas bilang Mimo gorila." Serba salah, itulah yang tengah Gavin rasakan.
Aska dan Giondra yang sudah dari tadi melihat cucu dan nenek beradu argumen hanya mengulum senyum dari kejauhan. Sungguh pertunjukan yang pastinya membuat bibir terangkat dengan sempurna.
"Lucu ya wajah si Gavin kalau ketakutan," ujar Aska. Gio hanya tertawa
"Selain daddy-nya ternyata dia takut sama mimo-nya," sahut Gio.
Gavin sudah celingak-celinguk Dia seakan meminta bantuan kepada orang-orang yang berada di sana. Namun, kesibukan yang luar biasa membuat mereka tidak memperhatikan kode dari Gavin.
Langkah Ayanda sudah mulai dekat. Tubuh Gavin mulai bergetar. Sang nenek yang biasanya baik dan lembut kini menjadi singa betina yang sangat garang. Benar kata sang ayah, benar juga kata Sang paman. Jangan membuat kesalahan kepada Mimo jika tidak ingin diterkam oleh keganasan Mimo yang sesungguhnya.
"Mimo cetop!!" seru anak berusia dua tahun yang sudah mengakat tangannya ke depan. Dia melarang sang nenek untuk menerkam Kakak sepupunya.
"Mimo mau bicara sama, Mas." Mail atau alam atau cireng pun menggeleng. menandakan dia tidak mengizinkan.
"Mas dak cayah, yan caya tata," belanya. Anak itu akan berada di garda terdepan untuk melindungi Gavin, Kakak sepupunya.
__ADS_1