
Melihat semua yang terjadi hari ini, Asri bersikeras harus bisa berjalan, dan mencari pekerjaan supaya dapat membantu Ibunya, lalu Ia berusaha bangun dan berdiri lagi, melakukan hal yang sama di Rumah Sakit tadi.
Kini Ia sudah mampu berjalan lebih dari 5 langkah, Asri tersenyum senang, Ia terus berusaha hingga langkah ke 10
"Alhamdulillah... Aku rasa ini lebih dari cukup.. tapi Aku harus sering-sering berlatih, Aku akan coba lagi" ucap Asri pada dirinya sendiri
Saat Ia sedang mencoba berlatih Chandra pun datang, terdengar suara ketukan pintu, Asri berusaha berjalan dengan pelan, menuju pintu depan
"Sedikit lagi, ayo semangat..."
Asri terus berusaha walaupun kakinya kini mulai terasa sakit lagi
"Pelan-pelan Ayo.."
Asri berkata pada dirinya sendiri untuk menyemangati dirinya sendiri, akhirnya Ia pun sampai dan dapat meraih gagang pintu, lalu Ia membukakan pintu dan saat pintu terbuka, Chandra terkejut melihat Asri yang membuka pintu tanpa bantuan kursi roda
"Asri.." Chandra tersenyum haru
"Kamu berjalan sendiri ke pintu ini"
"Iya.. Aku bisa Chan.."
Asri tersenyum pada Chandra, membuat Chandra bangga akan semangatnya
"Sakit tidak kakinya?"
"Lumayan, tapi Aku harus lakukan ini, aku ingin membantu Mamah, Aku ingin cari pekerjaan"
"Pekerjaan..?"
Chandra bingung mengapa Asri mengatakan hal seperti itu, padahal kemarin-kemarin Ia membantu Asri tidak dengan paksaan
"Ayo Aku bantu Kamu duduk dulu"
"Tidak Chan...Aku ingin berusaha sendiri, Kamu masuklah duduk di kursi"
Asri berusaha berjalan sendiri lagi, tanpa bantuan Chandra dan akhirnya ia bisa berjalan ke arah sofa lalu duduk
"Akhirnya Aku bisa"
Asri kemudian tersenyum namun terlihat sedih dari raut wajahnya, Asri mengatur nafasnya lalu kemudian Ia membahas lagi tentang pekerjaan
"Chan.. Aku besok ingin cari pekerjaan"
"Apa.. Asri jangan gila, Kamu memang berhasil bisa berjalan tadi, tapi kalau untuk cari pekerjaan rasanya mustahil Asri, Kamu belum begitu lancar, paling tidak seminggu baru Kamu boleh pergi dan berjalan dengan baik"
"Tapi Aku harus bantu Mamah, seminggu rasanya terlalu lama Chan" Chandra bingung dari tadi Asri selalu mengatakan hal ini terus menerus
"Aku bingung dari tadi Kamu mengatakan pekerjaan, membantu Tante Anita, memangnya Mamah Kamu sedang mengalami masalah apa Asri?"
Asri terdiam dengan raut wajah bersedih, lalu Ia pelan-pelan menceritakan kejadian yang baru saja di alami Ibunya.
Chandra terkejut dengan cerita Asri
"Apa.. perusahaan tempat bekerjanya Sam membatalkan kontrak sepihak, mengapa Sam melakukan itu"
"Aku juga gak tahu pasti alasan yang sebenarnya, yang Aku tahu saat ini Mamah butuh banyak uang, tadi saja Mamah sampai cerita kemungkinan Mamah akan menjual tokonya Chan.."
"Ya Allah sampai separah itu ya" Chandra ingin sekali membantu Asri, dalam hatinya berkata,
"Saat pulang saja nanti Aku akan berikan bantuannya" lalu Chandra mulai membuka laptop dan memulai pekerjaan yang belum selesai hari ini
"Asri.. Kita kerja dulu ya, nanti habis Maghrib Aku akan bantu Kamu lagi, berlatih berjalan"
Asri menganggukkan kepalanya, kemudian Ia mulai melakukan pekerjaan Chandra, sambil bekerja, Asri bertanya mengenai keadaan Lia
"Lia bagaimana Chan..?"
"Aku belum tahu kabarnya, Aku belum menjenguk juga"
"Aku pun sama, mau bagaimana menjenguk sedangkan Aku saja sulit berjalan"
Chandra menoleh menatap wajah Asri, lalu Ia mengajaknya untuk menjenguk Lia besok
__ADS_1
"Apa.. Kamu mau temani Aku jenguk Lia, tapi boleh tidak Aku pakai tongkat saja besok, pakai kursi roda terlalu ribet Chan"
"Ya boleh dong, tongkat kemarin yang Aku belikan untuk Kamu masih ada kan?"
"Masih Chan.. terimakasih ya Chan, Kamu baik sekali sama Aku.. kalau tidak ada Kamu, Aku tidak tahu siapa lagi yang akan menyemangati Aku" Chandra pun memegang tangan Asri lalu Ia tersenyum hangat pada dirinya
"Ayo lanjutkan lagi kerjanya, supaya cepat dapat gaji" Asri tersenyum mendengar gurauan Chandra.
Andi datang menjemput Kasih, Ia mengetuk pintu Rumah Makmun
"Assalamualaikum..." Kasih tersenyum saat mendengar suara Andi dari kejauhan
"Itu pasti Andi" lalu Kasih dengan segera membuka pintu
"Hay..." sapa Kasih sambil tersenyum
"Hay.. Kamu sudah siap, Kamu cantik sekali Kasih.. sederhana tapi menarik" Kasih senyum-senyum sendiri saat di puji sang kekasih
"Sebentar ya, Aku izin dulu dengan Bu Alya" Kasih pun meminta izin untuk pergi sebentar kepada Bu Alya
"Bu.. Aku berangkat ya, Andi sudah berada di depan menjemput Aku"
"Ya Kasih...Kamu sudah masak kan"
"Tenang Bu.. semua sudah Aku kerjakan, masak, beres-beres rumah, membersihkan toilet, dan Aku membuat kue ada di dalam kulkas ya Bu" ucap Kasih meminta izin dengan panjang lebar
"Ya sudah.. Kamu berangkat sana, berbahagia ya Kasih.. semoga niat Kamu dan Andi di mudahkan"
"Amiin.. salam dengan Mas Makmun ya Bu, kalau begitu Aku pamit dulu"
Kasih pun pergi bersama Andi dengan membawa segenggam plastik di tangannya, Andi penasaran apa yang di bawa Kasih karena plastik itu berwarna hitam, jadi Andi tidak bisa menebaknya
"Itu apa Kasih?" Kasih tersenyum lalu menjawab,
"Ini hadiah sepesial untuk Kamu nanti" kini Andi yang tersenyum senang
"Oh ya.. Aku jadi gak sabar untuk membukanya"
"Sudah ayo.. Kita jalan"
"Andi.. Kamu gugup gak sih?" Kasih bertanya dengan wajah memelas
"Sama...Aku juga gugup.. Semangat.. apapun jawaban Papah, Aku akan tetap bersama Kamu" Kasih menganggukkan kepalanya.
Sam sudah sampai di kantor, Ia langsung menuju ruang Pak Faris
"Ini Pak.. surat kontrak pembatalannya" Sam datang dan langsung memberikan surat tersebut
"Sudah.. bagus.. Terimakasih ya Sam, respon Bu Anita bagaimana..?" Sam merasa kesal dengan ucapnya Pak Faris, sudah tahu tapi malah bertanya
"Kalau Bapak yang tiba-tiba di putuskan kontrak sepihak kira-kira Bapak bagaimana reaksinya?" Sam malah berbalik bertanya pada Pak Faris
"Ya ya ... Saya mengerti.."
"Jangan lupa uang ganti ruginya, Saya akan cek jika Bapak belum memberi itu semua, Saya sendiri yang akan urus ke bagian keuangan" Pak Faris menatap wajah Sam dengan banyak pertanyaan
"Kenapa Sam jadi marah-marah, mengapa sepertinya Dia tidak terima jika Saya membatalkan kontrak kerja itu" ucap gerutu dalam hati Pak Faris
"Kamu tenang Sam, Saya akan ganti rugi itu, uangnya sudah saya siapkan kok"
"Bagus.. kalau begitu Saya pamit pulang, ini sudah jam pulang"
Sam pun pergi dengan hati yang dongkol, dan di tengah jalan Ia berpapasan dengan Fahmi anak dari Pak Faris
"Eh.. ada Manager umum lewat, mau kemana pulang ya, enak tidak menempati ruangan bekas Saya" Sam belum menjawab Dia hanya diam, menatap sinis wajah Fahmi
"Kamu tidak ada urusan dengan Saya bukan, jadi sebaiknya Kamu cepat jalan, temui Papah Kamu"
"Iyalah, Gue datang kesini yang pasti ingin bertemu Papah Gue"
Tak ingin meladeni orang macam Fahmi, Sam pun pergi dengan berjalan cepat, hal itu membuat Fahmi bertanya-tanya,
"Kenapa tuh orang, sepertinya sedang marah pada seseorang" Fahmi terdiam memikirkan hal itu
__ADS_1
"Aduh..ngapain juga ya, Gue harus pikirkan Dia kenapa, tidak penting" lalu Fahmi berjalan menuju ruang kerja Papahnya.
Sebelum datang ke acara, Andi membawa Kasih pergi ke salon sebentar, untuk meriasnya dan membelikan gaun yang indah
"Andi.. memangnya baju Aku jelek ya.. atau tidak enak di pandang" Andi tersenyum lalu mengatakan,
"Kata siapa..? Kamu cantik kok.. Aku suka Kamu apa adanya, tapi ini kan acara penting, alangkah baiknya Kamu berdandan sesuai dengan tempatnya, Kamu mengerti kan maksud Aku"
Sesampainya di salon kecantikan Andi meminta pada pegawai salon untuk make over Kekasihnya
"Aku ingin Dia tampil beda, tolong berikan kualitas Kalian yang terbaik"
"Baik Mas.. Mbak ini pasti akan Kami buat secantik mungkin"
Dan mulailah pegawai salon bekerja untuk mempercantik Kasih.
Sam kini sudah berada di rumah, Ia langsung mandi membersihkan badan setelah itu bersiap untuk berangkat lagi ke Jakarta mendatangi acara ulang tahun Andi
"Bu.. Ibu di tinggal sebentar gak apa-apa kan Bu" tiba-tiba Sam datang dan langsung menyahuti
"Di tinggal, Ibu harus ikut, Kasihan Ibu sendirian di rumah, Bu Ikut saja ya ini kan acara keluarga, kalau Pak Herman meminta Aku jadi menantunya lagi, berarti Ibu besannya, jadi Ibu Aku ajak"
Tini bukanya senang malah memberikan wajah masamnya, Bu Fatma menjadi tak enak karena melihat wajah Tini yang seperti itu
"Sam.. Ibu di rumah saja, Ibu kan masih dalam masa pemulihan, memangnya Kamu menginap?"
"Ya pasti Bu... Kita menginap karena tidak mungkin Sam bulak balik, Dia pasti capek" jawab Tini dengan ketus, kemudian Sam menjawab,
"Aku gak masalah Ibu tidak ikut, tapi Aku akan pulang setelah acara selesai"
"Tapi Sam..." Sam langsung memotong ucapan Tini
"kalau Kamu mau menginap silahkan.. lagi pula Aku kan bekerja besok, kalau menginap akan repot nanti"
Tini tak dapat menjawab ucapan Sam, akhirnya Ia menuruti saja keinginan Sam
"Baik.. Kita berangkat sekarang.. Bu Aku tinggal sebentar ya"
Sam mencium tangan Bu Fatma lalu mengucap salam, Mereka pun bergegas pergi.
Akhirnya yang di tunggu-tunggu telah selesai juga, Kasih sudah di make over, Dia terlihat cantik seperti putri bangsawan, Kasih berjalan menghampiri Andi dengan perlahan, Andi merasa terkesima melihat aura kecantikan dari Kasih.
Tentu sudah pasti Kasih sangat cantik, Dia gadis desa yang kulitnya putih alami, dan yang terpenting Dia masih perawan sampai saat ini
"Kasih.. Kamu cantik sekali, Aku sampai terkesima melihatnya" Kasih tersenyum malu saat di puji Andi
"Kamu bisa saja, tapi memangnya benar ya, Aku cantik"
"Cantik.. cantik sekali, Kamu terlihat elegan dengan gaun ini, semua orang rumah pasti akan terkesima melihat Kamu"
Kasih hanya tersenyum mendengar ucapan Andi, padahal yang ada di pikirannya adalah bagaimana tanggapan Pak Heri terhadapnya nanti.
"Ayo...Kita harus segera sampai di rumah, Papah tadi sudah mengirimkan pesan".
Tujuh menit perjalanan, akhirnya Andi dan Kasih sampai di kediaman Rumah Herman Sanjaya
"Oh.. disini Rumah Bu Heni"
"Iya.. oh ya.. Kamu tahunya Rumah yang dulu ya" Kasih menganggukkan kepalanya
"Andi tunggu.. " Kasih merasa gugup keringat dingin mulai bercucuran
"Ya ampun.. Kamu berkeringat, sudah Sayang, Kamu jangan gugup rileks ya" Kasih menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan perlahan
"Baik.. Aku sudah siap" Andi mengelap keringat Kasih terlebih dahulu
"Nah.. kalau begini sudah tak terlihat keringatnya, ayo masuk"
Kasih dan Andi masuk ke dalam mengucapkan salam kepada semua orang yang ada di dalam rumah
"Assalamualaikum.." semua orang menoleh dan melihat
"Wa'alaikum salam"
__ADS_1
Hanya Bu Heni yang menjawab salam dari Mereka, Herman dan Heri hanya terdiam melihat seseorang yang tengah di gandeng oleh Andi.