Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
286. Ke Sekolah (Si Quartet)


__ADS_3


"Hi Uncle!"


Keponakan tampannya ternyata ikut menjemput dirinya. Dia terkejut sekaligus bahagia.


"Makin ganteng banget sih," ujar Aska berkaca-kaca.


"Jangan nangis. Malu udah tua."


Tak Gavin pungkiri dia sangat merindukan sang paman. Dia pun memeluk tubuh Aska dengan begitu erat.


"I Miss you." Lirih. Begitulah kalimat yang anak itu katakan.


"Uncle juga sangat merindukan kamu."


Hari yang teramat membahagiakan untuknya. Hari di mana banyak kejutan yang Aska terima.


"Sekolahan anak lu di mana? Gua kagak tahu."


Pelukan antara paman dan keponakan pun harus terurai. Itu semua karena perkataan Fahri yang sangat menyebalkan, dan mengganggu kegiatan lepas rindu yang menggebu yang mereka berdua rasakan.


"Mending bawa aja nih mobilnya. "Fahri malah membuka seatbelnya dan keluar dari mobil. Dia menyuruh Aska untuk membawa mobil tersebut. Aska pun mendengkus kesal.


Mobil melaju ke arah sekolah si quartet. Lengkungan senyum terus terukir di wajah Aska yang masih terlihat sangat tampan. Namun, sedikit kurus karena harus terus bekerja tanpa tahu waktu untuk mencapai kesuksesan yang tengah dia rasakan sekarang.


Mobil berbelok ke arah sekolah yang cukup besar dan sekolah yang bisa dibilang ternama di Singapura. Aska dan Jingga tidak main-main untuk menyekolahkan keempat anak mereka. Merogoh kocek sangat dalam tidak akan mereka permasalahan untuk pendidikan.


"Mas, mau ikut masuk nggak?" tanya Aska kepada Gavin.


"Mas tunggu di sini aja biar Mas kasih kejutan ke si kuamplet."

__ADS_1


Masih saja menyebut kuamplet. Padahal dia sudah bisa memanggil quartet sedari umur 5 tahun. Namun, sebutan itu adalah sebutan kesayangan dari seorang Gavin Agha Wiguna untuk keempat putranya, yakni keluarga gorengan.


Kedatangan Aska membuat para guru sedikit terkejut. Begitu juga dengan keempat anaknya mereka saling tatap.


"Ayah mau ngapain?" tanya Arfan kepada Ahlam. Sang kakak pun menggedikan bahu. Dia menatap ke arah sang kakak pertama, yakni Abdalla. Sama saja jawaban dari sang kakak yang jarang berbicara itu. Dia hanya menjawab dengan gelengan kepala. Jangan ditanya bagaimana wajah Balqis sedari tadi. Dia terlihat yang terlihat bingung.


"Itu siapa?" tanya Arfan lagi.. Ternyata Aska tidak sendiri, Fahri pun ikut turun dan masuk ke dalam sekolah anak-anak Askara. Lagi-lagi Abdalla menggeleng. Dia tidak tahu pria itu, wajahnya terasa sangat asing


"Salah satu diantara kita tidak ada yang dipanggil oleh pihak sekolah 'kan?" Kini Abdalla mulai ketakutan.


"Enggak ada. Bunda juga nggak bilang apa-apa," sahut Ahlam..


Abdalla berpikir sejenak. Dia masih teringat akan ucapan sang ayah semalam di sebuah restoran ketika mereka makan malam bersama.


"Apa kita jadi ke Indonesia?" Kalimat yang Abdalla ucapkan membuat ketiga adiknya menoleh sebentar.


"'Kan cuma nanya. Apa jadi?" ulang Abdalla. Mereka bertiga pun menggelengkan kepala menandakan tidak tahu. Mereka sudah tidak mau terlalu banyak berharap karena terkadang harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan akan membuat mereka kecewa.


Tak lama kemudian, mereka berempat dipanggil oleh wali kelas mereka. Hati mereka berdegup sangat cepat. Apalagi melihat sang ayah dengan seorang pria yang bisa dibilang gagah tengah menemani ayah mereka.


"Ayah sudah mengurus surat pindah kalian. Sekarang, kalian masukkan buku-buku kalian dan kita akan berangkat ke Jakarta hari ini juga."


Mereka berempat tercengang. Mereka tidak percaya. Apa benar semua ini? Apa ini hanya mimpi? Begitulah batin mereka.


"Mas, coba cubit Aqis. Aqis mimpi enggak?" ucap Balqis kepada Abdalla


"Mas juga mendengar hal yang sama, Kis," sahut Abdalla. Arfan dan Ahlam sudah saling pandang, mereka bagai orang kebingungan.


"Kalian tidak mimpi ini nyata. Semalam Ayah sudah bilang 'kan bahwa tugas Ayah di sini sudah selesai. Kita akan kembali ke rumah Mimo dan Pipo. Kita akan kembali bersama keluarga kita di sana. Berkumpul bersama mereka, tertawa bersama dan bermain bersama mereka lagi." Sang ayah sudah menyunggingkan senyum dengan begitu lebar. Wajahnya sangat berbinar menandakan ayahnya sangat bahagia.


"Kalian memang akan pindah," ucap sang wali kelas. "Sekarang kalian kemasi buku-buku kalian dan ucapkan kata perpisahan kepada teman-teman kalian di sin.i Semoga lain waktu kalian bisa bertemu dengan mereka lagi. Juga dengan guru-guru yang ada di sini," ucap wali kelas tersebut. Mereka berempat pun terlihat gembira, tapi belum mau menunjukkan kegembiraan mereka kepada orang lain.

__ADS_1


Aska dan Fahri pun menunggu mereka di luar kelas, menunggu si kuartet yang tengah mengucapkan kalimat perpisahan kepada teman-teman sekelas mereka.


Mereka berempat pun sudah keluar beriringan. Senyum mereka mengembang. Aska terlihat sangat bahagia karena selama 7 tahun ini Aska tidak pernah melihat senyum yang begitu tulus yang keempat anaknya tunjukkan. Senyum yang begitu bahagia mereka ukirkan.


Mereka berlari menuju arah Aska. Mereka pun memeluk tubuh ayahnya dengan begitu. Hati Aska mencelos ketika dipeluk oleh keempat anak-anaknya.


"Kalian bahagia?" tanya Aska.


"Tentu Ayah. Kami sangat bahagia," ucap mereka kompak. Aska pun menggenggam tangan mereka berempat menuju mobil yang sudah terparkir di parkiran mobil sekolah. Mereka berempat memicing ketika melihat ada seseorang yang tengah berdiri di samping mobil dengan menggunakan hoodie. Wajahnya tidak terlihat. Tangannya pun dilipat di atas dada.


"Itu siapa, Ayah?" tanya Balqis.


"Coba kalian dekati," titah sang ayah.


Arfan dan Ahlam lah yang pertama kali maju. Mereka akan menjadi pelindung pertama untuk anggota keluarga mereka. Di jarak tinggal beberapa meter, Ahlam dan Arfan menghentikan langkah mereka. Anak lelaki itu membuka hoodie yang menutupi kepalanya. Dia tersenyum dengan begitu manis dan membuat Arfan serta Ahlam terdiam dan tak berkutik.


"Mas Agha!!!" teriak Balqis. Anak itu berlari menuju Gavin dan memeluk tubuh Sang sepupu.


"i miss you so much," ucapnya. Anak itu menangis di dalam pelukan Gavin. Gavin hanya bisa membelai lembut rambut sang sepupum


Arfan dan Ahlam pun kini berlari. Dia memeluk tubuh Gavin dengan begitu erat, dan Abdalla pun ikut memeluk tubuh Gavin.


"Kami merindukan, Mas. Kami rindu Kak Ghea." Gavin tersenyum.


"Sekarang kita akan tinggal dalam satu kota yang sama lagi. Jadi kita bisa sering ketemu kalian. Enggak usah sedih karena kita akan sering ketemu."


Sebuah tali persaudaraan yang begitu erat. Itulah yang Gavin ajarkan kepada anak-anak Askara. Sang ayah dan juga asisten dari ayahnya Gavin menyeka ujung mata mereka. Mereka melihat betapa tulusnya kasih sayang kelima anak itu terutama Gavin yang selalu mengayomi keempat adik-adik sepupunya


"Akhirnya," ucap Aska begitu lega.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


Jangan lupa baca bab-bab sebelumnya, ya. Udah direvisi semua ...


__ADS_2