
Mengurus empat buah hati sungguh melelahkan. Bangun sebelum matahari terbit, dan ketika orang terlelap Jingga harus terjaga. Untungnya saja Aska menjadi suami siaga. Walaupun pada akhirnya mata panda hinggap di bawah matanya.
Jingga merasakan kegelisahan yang tak bisa diungkapkan. Dirinya tidak mengerti ada apa ini. Dia mencoba menyibukkan diri dengan keempat anaknya yang sudah berusia dua bulan.
"Aduh kenapa Mas Dalla kalem banget sih, 'kan Bunda jadi gemas." Abdalla, putra pertama Jingga dan Aska yang paling anteng di antara yang lain. Walaupun terjaga, dia akan main sendiri atau menghisap jari. Sedangkan dua yang lain, Ahlam atau biasa disebut dua singgit oleh Gavin adalah anak yang sangat murah senyum. Dia selalu tertawa jika ada yang mengajak bicara. Putra ketiganya, Arfan adalah anak yang sering sekali membuat Balqis menangis. Sedangkan Balqis sendiri adalah bayi cengeng nan bawel.
Betapa senangnya hati Jingga dikala melihat empat anaknya terjaga seperti ini. Tumbuh kembang mereka sangatlah cepat. Itulah yang membuat Jingga tidak ingin menggunakan jasa baby sitter.
"Assalamualaikum!"
Suara keponakan tampannya terdengar. Kebiasaan Gavin jika pulang sekolah langsung ke rumah besar.
"Mail oh Mail." .
Ada saja sebutan baru dari bocah itu. Ahlam adalah bayi yang sering Gavin ubah namanya. Sekarang malah menjadi karakter kartun di film animasi negara tetangga.
"Kamu tuh, kalau ada Uncle pasti dimarahin." Jingga sudah memberikan peringatan kecil kepada keponakannya
"Kan namanya Gamail Ahlam Wiguna. Bisa juga kan dipanggil Mail." Gavin tertawa dan bermain bersama Ahlam. Bayi itu malah tertawa ketika dipanggil Mail.
"Anteu, kalau lambutnya udah banyak. Belah dua, ya. Bial sama kaya si Mail dua singgit dua singgit dua singgit." Gavin menunjukkan dua jari membentuk huruf V.
Jingga hanya tertawa dan mencium gemas pipi Gavin. Anak itu masih menjadi pelipur sedih dan kesepian. Sang mertua sedang ada kunjungan untuk tiga hari ke depan ke Singapura. Terkadang Riana yang datang menemaninya.
.
Setiap seminggu sekali Jingga dan Aska pasti akan membawa si quartet ke rumah sang ayah. Dokter Eki terlihat sangat bahagia. Namun, jika dia melihat Balqis ada rasa bersalah yang bersarang di dada. Dia teringat akan Ayna dan Dea.
Dokter Eki sangat ingin menggendong Balqis. Namun, bayi itu tidak mau dan malah menangis kencang. Diambil oleh Jingga pun tangisnya tak mau reda. Aska mencoba untuk menggendongnya dan seketika tangis Balqis mereda.
"Kenapa sih anak Ayah ini?' Aska mengusap lembut punggung sang putri. "Gak boleh gitu dong sama Opa." Ketika menyebut nama opa Balqis menangis.
"Cup, cup, cup." Aska mencoba menenangkan.
__ADS_1
"Mungkin benar Balqis adalah reinkarnasi Ayna dan Dea. Mereka masih marah sama Ayah."
Perkataan itu membuat Jingga dan Aska menatap wajah ayah mereka. Hanya senyum kecut yang dokter Eki tunjukkan.
"Ayah tidak boleh bicara seperti itu." Jingga memeluk tubuh sang ayah. Hatinya sakit ketika ayahnya berkata seperti itu.
"Iya, Ayah. Balqis emang dekatnya sama tiga orang aja. Aku, Abang dan Daddy." Aska menjelaskan kepada dokter Eki. Dia juga tidak ingin d
mertuanya memikirkan hal yang tidak-tidak.
Jingga dan Aska sudah mulai berdamai dengan masa lalu. Mereka tidak ingin mengingat kejahatan yang pernah dokter Eki lakukan. Mereka ingin membangun rumah tangga yang damai dan tenang.
"Mending kita jalan-jalan ke mall, ya. Ayah mau makan apa?"
Ada rasa tidak percaya ketika mendengar ucapan istrinya. Tidak biasanya dia mengajak ayahnya keluar. Biasanya dia hanya memesan makanan.
"Ayah gak keberatan 'kan?" Aska menggeleng dan tersenyum manis..
"A, tolong ya gantiin baju Ayah."
"Bunda gak apa-apa 'kan?" tanya Aska yang sedikit cemas. Dia masih menggendong Balqis.
"Sudah beberapa hari ini Bunda gelisah," terang Jingga. "Selalu kepikiran Ayah." Aska memeluk istrinya dan mengecup ujung kepala istrinya.
"Jangan banyak pikiran. Kasihan anak-anak."
Mereka berangkat ke sebuah mall besar. Dokter Eki dan cucu-cucunya yang laki-laki di bangku penumpang belakang. Anak-anak Jingga dan Aska tiga itupun anteng sekali. Dokter Eki tak hentinya bercanda dengan mereka bertiga. Jingga yang dapat melihat dari spion depan tersenyum bahagia. Hanya Balqis yang tidak ingin lepas darinya atau ayahnya.
Tibanya di sana Aska menggendong Balqis, Jingga menggendong Ahlam si murah senyum. Arfan dan Mas Dalla berada di stroller yang didorong oleh Aska.
"Ayah mau belanja gak?" Mereka sudah berada di depan toko baju.
"Tidak. Baju ayah juga banyak yang tidak terpakai." Jingga mengangguk. Namun, ketika berada di toko baju bayi dokter Eki meminta perawatnya untuk berhenti mendorong kursi rodanya.
__ADS_1
"Kita ke dalam."
Jingga dan Aska saling pandang. Mereka pun ikut masuk ke dalam toko tersebut. Dokter Eki menuju baju wanita juga aksesorisnya.
"Baju Balqis dan ketiga kakaknya masih banyak, Yah. Di rumah sudah disediakan stok hingga berumur enam bulan," paparnya.
"Ayah ingin memberikan kenang-kenangan kepada cucu-cucu Ayah."
Ucapan itu terasa sangat menyedihkan di telinga Jingga. Sudah hampir seminggu ini dia selalu mimpi buruk tentang ayahnya. Dia tidak ingin kehilangan ayahnya. Masih ingin bersama ayahnya..
Dokter Eki memilih baju yang senada untuk keempat cucunya. Dia terlihat sangat bahagia. Aska dan Jingga hanya mengikutinya saja. Ketika Jingga hendak membayar, dokter Eki melarang.
"Ayah juga punya uang." Senyum terukir di wajahnya yang sudah tak muda.
.
Jingga sudah mengganti pakaian dengan baju tidur piyama pendek. Pakaian yang sangat nyaman untuknya ketika malam hari. Naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh Aska yang tengah memangku laptop.
"Udah, jangan dipikirin apa yang dikatakan Aleesa." Aska sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Aleesa tadi.
Ketika mereka tiba di rumah ternyata Aleesa sudah menunggu mereka. Raut wajah Aleesa nampak sendu. Dia ingin berbicara empat mata dengan Jingga. Namun, Aska melarang. Dia juga ingin ikut mendengar apa yang dikatakan oleh keponakannya tersebut.
"Aleesa bukan Tuhan. Jadi, jangan terlalu dipercaya ucapan Aleesa." Perkataan itu hanya untuk menenangkan Jingga saja. Pada nyatanya dia pun kepikiran tentang apa yang dikatakan oleh Aleesa. Dia meminta kepada perawat sang ayah untuk dua puluh empat jam mengecek ayah mertuanya.
"Tapi, itu sama juga kayak di mimpi Bunda," sahutnya.
"Mimpi itu hanya bunga tidur, Bun. Udahlah, jangan dipikirin. Kita sebagai anaknya harus terus mendoakan supaya Ayah panjang umur dan sehat selalu. Meskipun, ada hal buruk yang akan terjadi percayalah ini adalah takdir dari Tuhan. Ada yang datang pasti ada yang pergi."
Jingga memeluk erat tubuh Aska dari samping. Ada rasa takut dan cemas yang menjadi satu di hatinya. Sejujurnya dia belum siap kehilangan ayahnya.
"Awan hitam dan bendera kuning. Kak Jing-jing harus kuat. Inilah jalan Tuhan."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ....