
Tak ada pilihan lagi, Sam kini memutuskan untuk menerima tawaran Herman dengan membebaskan Tini
"Ya Allah semoga keputusan Aku ini tepat, Aku tahu Asri dan Chandra pasti akan salah paham, tapi Aku akan menjelaskan semuanya mengapa Aku melakukan ini"
Lalu Sam menghubungi Herman untuk membicarakan soal pinjamannya, Herman yang sedang sibuk pun ketika melihat panggilan dari Sam, Ia langsung menghentikan aktifitasnya.
"Halo Sam.. kenapa.. apa Kamu sudah putuskan"
"Saya sudah putuskan, Saya akan menerima syarat itu, tolong Anda kirim uang itu sekarang"
"Tunggu Sam.. syarat itu sebenarnya ada 3, hanya saja Saya belum mengatakan semuanya"
"Apa.. masih ada syarat lagi, sebutkan semua syaratnya Pak..?" Sam sudah tak enak pikiran, syarat ini pasti sangatlah tidak masuk akal
"Tenang dong Sam, kalem... Kamu dengar baik-baik ya, syarat yang pertama Saya minta Tini di bebaskan, yang ke dua adalah Saya minta Kamu membatalkan gugatan cerai Kamu terhadap Tini, yang artinya Kamu harus rujuk lagi dengan Tini.. dan yang ke tiga Kamu harus mengakhiri hubungan Kamu dengan Asri, harus benar-benar berakhir tanpa komunikasi lagi, dan ingat.. semua syarat ini tidak boleh ada yang mengetahui termasuk Chandra"
Sam tercengang mendengar semua syarat itu, hal itu sangatlah tidak mungkin, kalau Ia menerimanya sudah pasti hubungannya dengan Asri akan kandas, sedangkan saat ini nyawa Ibunya di ujung tanduk, Sam pun bimbang lagi untuk yang kesekian kalinya.
"Halo Sam.. Kamu masih dengar suara Saya"
Sam tak menjawab Dia bengong dengan memikirkan banyak hal
"Sam.. kalau Kamu tidak ada jawaban Saya akan tutup, dan maaf Saya tidak akan meminjamkan sepeserpun uang kalau Kamu tidak menyetujui semua syarat ini"
Lalu suster datang dan bertanya,
"Pak.. kata Dokter apakah Bapak sudah menyelesaikan administrasi untuk biaya operasi, karena operasi harus segera di lakukan Pak" Sam kini semakin bimbang, Dia harus melakukan apa,
"Ya Allah.. engkau maha tahu, Aku melakukan semua ini untuk keselamatan nyawa Ibu, maafkan Aku Asri, Aku akan memutuskan hubungan ini selamnya" ucap Sam dalam hatinya
Ini benar-benar pilihan yang sulit dalam hidupnya, tapi mau tak mau Sam harus mengambil keputusan.
Pak Herman terus memanggil Sam dan kali ini Pak Herman akan mengakhiri panggilannya jika Sam tidak menjawab ucapannya.
"Sam.. halo.. Kamu jangan buang-buang waktu Saya, Saya masih banyak pekerjaan"
"Ok Pak.. Saya akan terima semua tawaran Anda" akhirnya Sam menerima juga semua Syarat itu, kini Herman tersenyum senang
Dia tak perlu repot lagi memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan Tini dari penjara.
"Baik.. Saya akan transfer 50 juta saat ini juga, keputusan Kamu sudah tepat, Saya beri waktu Kamu sampai besok untuk menyelesaikan hubungan Kamu dengan perempuan itu"
"Baik... Saya mengerti"
"Satu lagi...." belum selesai melanjutkan ucapannya Sam langsung menyahuti
"Apa lagi Pak.. syarat itu sudah cukup banyak"
"Oh oh.. tenang Sam, Saya tidak ingin sekedar transfer dan terima uang begitu saja, semua itu harus tertulis hitam di atas putih, karena Saya khawatir di tengah jalan, Kamu tidak menepati janji Kamu" Sam kini geram dengan tingkah Pak Herman
"Saya bukan tipe orang seperti itu Pak, Saya akan tepati janji Saya, hari ini juga Saya akan ke Jakarta mencabut tuntutan Tini, dan Saya akan selesaikan urusan Saya dengan Asri"
"Sekali Saya bilang harus dengan tanda tertulis ya harus, kalau Kamu tidak mengikuti perintah Saya, Saya tidak akan kirim uang itu sekarang"
"Baik-baik terserah Anda Pak.. Saya akan ke Jakarta setelah Saya menyelesaikan administrasi ini" panggilan pun langsung di putus Sam.
__ADS_1
Sedangkan Herman hanya tertawa senang gembira, karena rencananya sungguh tidak sia-sia.
"Bagus.. Sam.. Sam.. Kamu tidak tahu, kalau Saya lah yang menyebabkan Kamu harus mengambil pilihan itu"
Pak Herman pun segera membuat surat hitam di atas putih agar memperkuat syarat tersebut.
Setalah menerima transfer uang dari Herman Sam segera ke ruang administrasi menyelesaikan pembayaran untuk operasi Ibunya
"Sudah ya Sus.. Saya mohon segera lakukan operasinya"
"Baik Pak.. Kita akan langsung memberitahu Dokter Arya"
Sam kini lega.. akhirnya nyawa Ibunya bisa di selamatkan, tapi disisi lain.. Sam pun menderita karena syarat itu, Sam pun menghubungi Arif untuk menjaga Ibunya di Rumah Sakit selama Ia menyelesaikan urusannya di Jakarta.
"Rif.. Kamu lagi sibuk gak kuliahnya?"
"Gak Mas.. bentar lagi jam kuliah Aku habis, paling sekitar 1 jam lagi Mas, kenapa Mas.."
"Setelah selesai tolong Kamu jaga Ibu ya, Mas harus ke Jakarta, karena besok Mas sudah masuk kerja, jadi Mas harus selesaikan urusan Mas sekarang juga" Arif mengerti dan paham akan perintah dari Kakaknya.
Kini Sam bergegas berangkat ke Jakarta, rasa lelah dan letih yang Sam rasakan, tidak sebanding dengan nyawa Ibunya, Sam tetap harus kuat untuk menyelesaikan urusannya, Dia pun berhenti sejenak untuk makan siang, sedari tadi Sam tak makan apapun bahkan minum pun Ia sampai tak sempat.
"Ya Allah.. lapar sekali.. " Sam makan dengan lahapnya, Ia makan hingga 2 porsi
"Alhamdulillah.. " Sam merasa kenyang, namun Ia teringat lagi akan syarat itu
"ya Allah bagaimana Aku mengatakan ini pada Asri, berikan Aku kekuatan untuk menjalani ini semua" setelah berdoa dalam hati, Sam melanjutkan perjalanannya.
Sam langsung menuju kantor Polisi untuk membebaskan Tini, Pak Herman pun bergegas ke kantor Polisi untuk menemui Sam dan meminta tandatangan surat yang berisi syarat pinjaman uang.
"Maaf Pak.. tapi ini yang menuntut atas nama Pak Chandra, jadi harus lah Pak Chandra yang mencabut tuntutan itu"
"Pak.. Saya juga korban atas musibah kemarin, tapi Saya sudah membicarakan ini secara kekeluargaan, Pak Chandra pun tahu, hanya saja saat ini Pak Chandra sedang sibuk, jadi Saya yang mewakilkan Pak"
Polisi sebenarnya masih ragu, namun melihat data kasusnya, memang Sam juga termasuk korban penganiayaan, jadi Polisi percaya apa yang di ucapkan oleh Sam, akhirnya Polisi pun menerima laporan cabutan tuntutan atas nama Tini.
"Baik.. kalau begitu silahkan tanda tangan di sebelah sini Pak" Sam terdiam sambil memegang pena, ketika Ia tanda tangan berkas ini, otomatis Tini akan bebas Sam terus berkata dalam hati semoga ini keputusan yang tepat yang Dia ambil.
"Pak... silahkan tanda tangan di sini Pak.." ucap Polisi sambil menunjukkan letak posisi tanda tangan
"Iya Pak.. baik.. " kini Sam pun menandatangani berkas itu, dan Tini akhirnya resmi bebas.
Polisi pun segera menghampiri sel dimana Tini di tahan
"Bu Tini saat ini Anda di nyatakan bebas" Tini langsung berdiri tak menyangka kalau Ia akan bebas hari ini
"Serius Pak.. Saya bebas"
"Ya.. seorang Pria mencabut tuntutan Anda" Tini pun tersenyum bahagia Dia sudah menduga itu pasti Sam yang datang, ketika keluar dari sel, Tini berlari menghampiri Sam
"Sam.. " Sam yang sedang duduk di kursi kunjungan tahanan, langsung melirik Tini saat Tini memanggilnya, Ia menatap wajah Tini dengan tatapan yang sangat tajam
"Kamu senang.. Kamu puas.. "
"Sam...tentu Aku senang dong, Aku bisa bebas Tanpa harus Papah menyogok Polisi"
__ADS_1
Sam memberikan wajah masamnya Dia berkata, jika bisa menyogok, mengapa harus memberi kesusahan dalam hidup Saya, tiba-tiba Pak Herman datang menyahuti dan menjawab ucapan Sam
"Ini taktik Sam, anggaplah ini sebagian bisnis, ketika Saya meminjamkan uang kepada seseorang kan memang harus ada syarat yang di berikan supaya orang tersebut tidak lupa dengan hutangnya" ucap Herman dengan seenaknya
"Kalian sama Kalian berdua sama-sama licik" Herman hanya tertawa sinis mendengar ucapan Sam
"Sudah.. cepat Kamu tandatangani ini, setelah itu, Kamu selesaikan urusan Kamu dengan perempuan itu, dan ingat tidak boleh ada yang tahu tentang ini, termasuk Chandra" rasanya Sam bosan mendengar ucapan Herman yang terus berulang kali Ia ucapkan
"Saya mengerti Pak.. Anda gak perlu menekan Saya seperti itu"
Sam langsung menandatangani berkas perjanjian itu dan syarat pun mulai berjalan saat ini juga.
"Tini selamat Kamu sudah bebas, Papah senang sekali"
"Iya Papah.. Aku juga bahagia sekali, apa lagi, Sam akan kembali sama Aku, itu yang paling membuat Aku bahagia Pah.." Pak Herman baru sadar jika wajah Tini ada bekas luka di bagian pinggir bibir, Pak Herman pun bertanya,
"Tini.. bibir Kamu kenapa..?" Tini pun menjelaskan jika di dalam sel Ia terus di ganggu dengan wanita bernama Rara, sudah 2 malam ini saat ingin tidur, Mereka pasti berkelahi dulu, tampar menampar, jambak menjambak hingga baku hantam.
"Ya ampun Tini Kamu benar-benar bar bar sekali" Tini pun menjawab mau bagaimana lagi, dari pada Aku bisa mati, lebih baik jika Dia yang membunuhnya.
Pak Herman pun tak menyangka Tini kini menjadi monster yang sangat mengerikan, ucap Herman dalam hatinya.
Setelah tanda tangan Sam pergi begitu saja meninggalkan Tini juga Herman yang sedang berbahagia.
Tini hanya memandangi Sam dari belakang dengan wajah yang datar, Dia pun ingin mengejar Sam, namun di halau oleh Pak Herman
"Tini ...sudah.. biarkan Sam pergi menyelesaikan urusannya, Dia pasti akan pulang ke rumah malam ini, ayo Kita pulang, Mamah mu pasti bahagia melihat Kamu sudah bebas" Mereka pun pulang dengan wajah yang senang dan bahagia.
Andi bekerja tidak konsen, Ia memikirkan hubungannya dengan Kasih, Ia pun mengeluarkan cincin nikahnya yang Ia simpan selama 2 tahun ini, Ia terus memandangi cincin tersebut, mengingat masa lalu dimana Ia melamar Kasih dengan penuh cinta dalam hatinya.
Tiba-tiba Ia mendapat panggilan dari Papahnya, yang mengatakan jika sore ini Pak Heri akan sampai di Jakarta, Andi pun memutuskan untuk bertemu Kasih membicarakan soal kelanjutan hubungannya.
Sam sudah sampai di Rumah Sakit, Ia berjalan dengan pelan, sambil melihat-lihat di sekeliling, apakah Bu Anita ada disini atau tidak, akhirnya Sam dapat melihat Asri walau dari kejauhan, sepertinya Asri sedang berlatih berjalan, Sam tersenyum haru melihat semangat Asri, namun Sam belum berani menghampirinya saat ini, karena Bu Anita masih ada bersamanya.
Ia bingung harus sampai kapan jika menunggu Bu Anita pergi meninggalkan Asri sendirian, sepertinya sangat mustahil, Ia pun mencoba menghubungi Juvi untuk meminta bantuan Juvi.
"Halo Juv.. "
"Ya Sam..kenapa..?"
"Lo balik dari kantor jam berapa..?"
"Ya biasa jam 4, memang kenapa Sam?" tanya balik Juvi kepada Sam
"Gue mau minta tolong sama Lo, untuk bawa Asri ke taman rumah sakit, Gue harus bicara penting sekali dengan Asri, tapi Lo tau sendiri kan, Tante Anita gak memperbolehkan Gue bertemu Asri saat ini" Juvi mengerti maksud dari ucapan Sam
"Ok.. Iya Gue akan bantu Lo, Lo tenang ya, sekalian juga Gue mau ke Rumah Sakit, jenguk Lia"
"Lia.. memang Lia sakit juga..?" lalu Juvi menceritakan musibah yang terjadi pada Lia
"Astagfirullah.. jadi saat ini Lia koma, Dia di rawat di Rumah Sakit yang sama dengan Asri..?"
"iya Sam, atau Lo bisa jenguk Lia saja dulu, sambil menunggu Gue pulang".
Setalah di pikir-pikir ide Juvi ada benarnya, dari pada Ia bosan menunggu Juvi, ada baiknya Ia menjenguk Lia sambil menunggu.
__ADS_1