Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
230. Memanggil Nama


__ADS_3

Giondra tersenyum ke arah sang cucu. Dia menghampiri Gavin yang tengah memeluk perut Jingga.


"Kalau membantu itu harus ikhlas. Jangan mengharap imbalan." Sang kakek memberikan nasihat kepada cucu tampannya.


"Mas tahu, Pipo," jawab anak itu.


"Lalu, kenapa Mas selalu meminta imbalan kepada Uncle?" tanya sang kakek.


"Tidak ada yang glatis kalau untuk Uncle. Bial Uncle gak sepelti Engkong, manusia pelit."


Semua orang pun tertawa mendengar jawaban cerdas dari anak kecil tersebut. Wajah sendu Jingga pun kini berubah ceria berkat sang keponakan yang menggemaskan itu.


Melihat perubahan istrinya, membuat rasa kesal yang ada pada diri Aska menguar begitu saja. Apalagi sang keponakan malah mengajak istrinya bercanda dan membuat Jingga tertawa lepas.


"Berapapun akan Ayah bayar jika itu bisa membuat kamu tertawa lepas seperti ini." Begitulah batinnya berkata. Pandangannya tak terlepas dari Jingga dan juga Gavin.


"Dia terus memaksa ingin ikut menyusul lu ke sini." Sang abang sudah angkat bicara. Aska pun hanya tersenyum kecil.


"Daddy mau lihat mertua kamu."


Ucapan dari Giondra membuat Jingga terdiam. Dia menatap ke arah sang suami yang tengah bersama sang mertua juga kakak iparnya. Aska pun menatap ke arahnya.


"Di dalam masih ada dokter Radit dan tiga dokter yang lainnya, Tuan," sahut Fahri dengan sangat sopan.


"Apa ada yang emergency?" tanya Giondra.

__ADS_1


"Tadi saya melihat sendiri tangan dokter Eki bergerak. Maka dari itu, saya menekan tombol emergency," papar Fahri.


"Semoga ada perkembangan ke arah yang baik." Sebuah doa yang tulus yang terucap dari Giondra. Sungguh membuat Jingga terharu sekaligus tak menyangka.


Hatinya semakin bimbang. Dia ingin menemui ayahnya, ingin menemaninya juga. Namun, ucapan sang ayah yang sangat menyakitkan masih terngiang di telinganya hingga saat ini.


"Anteu, dedek-dedeknya gelak-gelak." Perkataan Gavin mengalihkan pikiran Jingga. Dia melihat ke arah perutnya yang terus bergerak. Bibir Jingga pun terangkat sedikit demi sedikit.


Hati Aska sangat bahagia ketika bocah kecil itu mampu membuat istrinya tersenyum untuk kesekian kali. Gavin pun tersenyum ke arah sang paman. Dia seakan tahu apa yang tengah pamannya rasakan.


Radit dan tiga dokter yang lain keluar dari ruang perawatan. Dia cukup terkejut ketika ayah mertuanya sudah ada di rumah sakit ini. Diciumnya tangan Giondra dengan begitu sopan.


"Bagaimana dengan besan Papa?"


"Semoga semakin membaik," jawab Radit dengan seulas senyum.


"Apa boleh Papa masuk?" tanya Gio. "Papa ingin melihat kondisinya," lanjutnya.


"Boleh," jawab Radit. "Maksimal dua orang," tambahnya.


Gio mengangguk mengerti. Dia menatap ke arah Aksara. Ternyata dia ingin ditemani oleh putra pertamanya. Namun, Fahri dan Fahrani menaruh curiga kepada ayah dan anak itu. Mereka berdua tahu bagaimana sikap asli atasan mereka.


"Saya bukan orang kejam." Giondra tahu apa yang dipikirkan oleh Fahri juga Fahrani. Kedua manusia itu hanya terdiam membisu. Diskak mat langsung oleh sang Tuan.


Aksara pun menggelengkan kepalanya. Menatap tajam ke arah Fahrani juga Fahri.

__ADS_1


"Beraninya kalian," sindir Aksa. Saudara kembar itupun menunduk dalam.


Radit hanya tertawa dan menyuruh salah satu dokter yang berada di sana untuk mengantarnya juga menjelaskan kondisi dokter Eki kepada mertua juga adik iparnya.


Giondra dan Aksa pun ikut dengan dokter ke ruang perawatan dokter Eki. Sedangkan Radit sudah bergabung dengan Aska dan juga yang lain.


"Semoga aja ada mukjizat," ucap Echa kepada sang suami seraya menyerahkan tisu basah.


"Kemungkinan untuk Beliau membuka mata sih ada," terang Radit. Semua orang pun menatap penuh tanya ke arah Radit. Sedangkan Jingga dia pura-pura tidak mendengar.


"Namun, sedari tadi Beliau terus memanggil nama putrinya." Radit mencoba menjelaskan.


Semua mata kini tertuju pada Jingga. Gavin yang berada di sana pun ikut bingung karena semua orang menatap tantenya. Jingga terus berpura-pura dan tidak ingin menunjukkan wajahnya.


"Melati."


Ternyata mereka semua salah mengira ketika nama orang lain yang dipanggil dokter Eki. Jingga pun tersenyum kecut. Tetap saja dia tidak dianggap. Padahal ayahnya sudah dalam keadaan seperti ini.


"Beliau ingin ikut dengan Melati."


Deg.


...****************...


Komen lagi dong ...

__ADS_1


__ADS_2