Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
268. Kamar dan Kasur


__ADS_3

"Bun--"


Aska menunjukkan testpack itu ke arah Jingga. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Aska mengecup ujung kepala Jingga. Jingga tak bergerak. Dia juga merasa tak percaya. Aska m segera membawa istrinya menuju lantai bawah.


Tangan mereka bertaut. Raut wajah Jingga masih tak terbaca. Bahagia bercampur tidak menyangka. Pikirannya masih melayang-layang.


"Bagaimana?" Ayanda menanyakannya lagi ketika anak dan menantunya tiba di ruang makan. Aska pun segera memberikan test pack itu kepada sang ibu.


Reaksi Ayanda hampir sama seperti anak dan menantunya. Dia menganga tak percaya sedangkan Gio dia tengah santai menyantap makanannya. Seolah tidak ingin tahu hasilnya..


"Alhamdulillah," ucap Ayanda dengan penuh syukur.


"Iya, Mom. Alhamdulillah banget," timpal Aska.


"Pada parno," ucap Gio. Anak dan istrinya menatap ke arah Gio yang seakan tak menggubris keberadaan mereka berdua.


"Doyan ngelakuin, tapi gak mau istrinya hamil," sindir Gio. Aska pun berdecak pelan. "Otak kamu tuh kadang gak berfungsi," ejek sang ayah.


"Atuhlah, Dad," keluh Aska. Dia merasa dibongkar kebobrokannya di depan istrinya.


"Lah emang begitu," ujar Giondra. "Emang kamu gak sadar semalam obat yang kamu tebus itu apa?" tanya Gio kepada Aska. Sang putra pun menggeleng.


"Itu obat PCT dan pereda mual untuk mag." Aska, Ayanda dan juga Jingga tercengang mendengar ucapan dari Giondra.


"Kenapa Daddy gak bilang?" sentak Ayanda.


"Biar kalian panik." Setelah mengatakan itu Gio pergi dari ruang makan dan pekikan Ayanda juga Aska terdengar.


"Daddy!"


Gio malah tertawa dan bermain bersama keempat cucunya. Begitulah istrinya, panikan. Putranya maniak . Jadi, wajar sekali-kali mengerjai.


Kembali ke ruang makan. Ayanda masih menatap tajam ke arah Aska dan juga Jingga.

__ADS_1


"Ganti jangan minum pil." Peringatan keras daari seorang ibu dan juga mertua. "Ingat, anak-anak kalian masih pada piyik." Kedua anak manusia itu mengangguk.


"Jangan keseringan. Kasihan istri kamu," tekan sang ibu.


"Iya, Mom.".


"Jangan iya-iya doang. Entar kumat lagi. Beneran Mommy gunting ini burung kamu nantinya."


Aska mengedipkan mata dengan begitu cepat. Dia baru tahu ibunya segarang ini.


"Pantas si Abang selalu ngedumel, begini toh kelakuan emaknya si Abang."


Jika, Aksa mendengar ucapan batin adiknya itu sudah pasti Aska akan mengoceh bagai beo. Ibunya Aksa adalah ibu dari Aska juga. Memang benar ucapan dari sang ayah jikalau otaknya Aska kadang tidak dipakai.


.


Ketika masuk ke dalam ruangannya, Aska dikejutkan dengan keberadaan Aksa juga Radit. Kedua alisnya menukik dengan sempurna.


"Kerja! Ngapain pada nongkrong di ruangan gua," sungut Askara.


"Istri lu beneran hamil?" Aksa sudah membuka suara.


"Kerja rodi dong tiap malam bini lu Ampe tokcet begitu," ujar Radit.


"Set dah mulut lu berdua kayak emak-emak tukang ghibah," ejek Askara. Bukannya duduk di kursi kebesarannya, dia malah ikut nimbrung bersama Aksa dan Radit.


"Lagian kenapa teledor sih," omel sang Abang. "KB yang bener kalau perlu pake pengaman."


"Gak enak lah, Bang. Masa encrotnya di balon begituan. Beda vibes-nya." Radit sangat gemas dan ingin menampar mulut Askara yang tidak ada saringannya.


"Dari pada begitu lu," lanjut sang kakak. "Anak lu aja masih pada orok."


"Ngapa nasihatin gua sih, Bang. Lu juga pernah 'kan ngalamin kayak gua. Kebablasan akhirnya jadi," balas Askara. Aksa pun terdiam.

__ADS_1


"Gua ngerasain apa yang lu rasain dulu," tuturnya.


"Apa?" jawab Aksa dan Radit secara bersama.


"Emak lu omongannya pedas banget kayak cabe setan," jawabnya. Aksa dan Radit pun tertawa. "Mau berangkat kerj aja gua masih diocehin sama emak lu. Mana bapak lu malah nge-prank gua."


"Bocah be go!" seru Radit.


"Emak bapak lu berdua itu sama Jiang!" lanjutnya lagi. Si kembar itupun tertawa.


"Bang, rasanya make istri yang udah diangkat rahimnya gimana?" Bukannya meledek, tapi Aska hanya ingin tahu.


"Sama aja, malah lebih enak karena bisa keluar di dalam sampe puas." Radit tidak berbohong. Itulah yang dia rasakan.


"Lu, Bang?" Aksa mengerutkan dahi mendengar ucapan dari Askara.


"Apaan?" Aska pun berdecak kesal.


"Enak gak make bini yang pasang IUD."


"Ya enaklah. Kalau mentok ada sensari gimana gitu."


Ternyata tiga orang pria itu memiliki otak yang sama, yakni ngeres. Obrolan mereka hanya seputar itu-itu saja, kamar dan kasur. Tidak ada obrolan lainnya.


"Sebenarnya bini lu bunting kagak?" Sedari tadi malah cerita hot yang mereka obrolkan. Gaya yang paling enak, ukuran anconda, suara setan termedu.


"Kagak. Jingga cuma masuk angin."


"Jelaslah masuk angin, tiap malam tidur gak pernah pake baju. Untung aja perutnya gak kembung," timpal Aksada dengan senyum mengejeknya.


"Siyalan!"


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2