
Dokter Eki tertegun ketika dibawa oleh Fahri ke suatu daerah yang tidak jauh dari Jakarta. Mata dokter Eki berkaca-kaca karena daerah itu adalah tempat yang ingin dia temppati untuk menghabiskan masa tuanya. Kota yang sangat sejuk.
Selama perjalanan ayah dari Jingga itu tidak banyak bertanya. Dia malah terus melihat ke arah jendela samping dengan lengkungan senyum yang dapat Fahri lihat.
Mobil itu sudah berhenti di sebuah kosan yang terbilang besar. Dokter Eki tidak menyangka jika dia akan ditempatkan di kosan ini. Pikirnya Aska akan membawanya ke sebuah daerah pelosok. Nyatanya menantunya itu tidak sejahat yang dia kira.
"Ini tempat Anda, dokter." Fahri membuka pintu mobil untuk dokter Eki yang cacat.
Fahri membantu dokter Eki untuk turun dan duduk di kursi roda. Namun, dia tidak Sudi mendorong kursi roda yang diduduki oleh dokter Eki. Baginya pria difabel itu tidak patut dimaafkan dan tidak pantas disebut sebagai ayah.
Fahri berjalan terlebih dahulu dan membiarkan dokter Eki mengayuh kursi rodanya hingga menuju pintu kontrakan yang sudah Fahri buka. Sahabat Aksa itupun membuka pintu kontrakan dengan begitu lebar agar memudahkan dokter Eki untuk masuk ke dalam.
Mata dokter Eki terus berkeliling ke sana ke mari. Melihat setiap sudut kontrakan petak itu. Namun, matanya terpaku pada sebuah foto yang terletak di dinding. Foto berukuran sedang yang tengah memperlihatkan Jingga tersenyum bahagia bersama Aska dengan menggendong putri kecil mereka yang mengenakan dress berwarna pink. Di sana terlihat jelas kaki Ayna hanya satu, tetapi kedua orang tuanya tetap tersenyum bahagia dan tidak malu untuk mengabadikan momen tersebut. Seperti sentilan keras untuk dokter Eki.
"Itu foto seminggu sebelum Ayna pergi," ucap Fahri. Dari belakang Fahri terus memperhatikan gerak-gerik dokter Eki.
__ADS_1
Hati pria difabel itu perih mendengar apa yang dikatakan oleh Fahri. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Jingga juga Aska ketika harus berpisah dengan putri mereka untuk selamanya.
"Ayna adalah mata untuk Pak Aska dan Bu Jingga. Anak yang tidak sempurna di mata kakek kandungnya, tetapi menjadi anak kesayangan bagi semua orang yang berada di keluarga Wiguna."
Ucapan itu sperro tamparan keras untuk dokter Eki. Keluarga Aska yang notabene adalah keluarga kaya masih mau menerima Ayna. Sedangkan dia hanya memandang orang dari kesempurnaan fisiknya saja.
"Tak ragu Pak Giondra mengenalkan Ayna dan Bu Jingga ke khalayak umum sebagai cucu dan menantunya."
Mata dokter Eki melebar mendengar ucapan dari Fahri tersebut. Benarkah? Kata itulah yang keluar dari hati dokter Eki.
Dokter Eki menelan ludah mendengar ucapan dari Fahri. Dari segi bicaranya tidak ada kebohongan di sana. Dia membayangkan bagaimana jika Aksa tahu jikalau dia juga sering menghina Ayna malah menyumpahi Ayna.
Selepas kepergian Fahri, dokter Eki mulai murung. Terlebih di dinding kontrakan itu terpasang foto Dea juga Ayna. Dua cucunya yang tidak diakui olehnya. Dua cucunya yang terus datang ke dalam mimpinya karena ingin mengambil kakinya. Ternyata mimpinya jadi kenyataan. Dia menjadi seperti kedua cucunya. Tidak memiliki kaki dan hanya bisa bergantung pada kursi roda.
Dokter Eki mencoba untuk turun dari kursi roda. Hanya ada kasur tipis di sana. Dia duduk di atas kasur tersebut dan menyandarkan kepalanya. Matanya menatap lurus ke depan. Bayang wajah mendiang Jessi memutari kepalanya. Tak terasa air matanya menetes begitu saja. Hati yang keras, kini sudah lembek seperti tape.
__ADS_1
"Maafkan Ayah, Jingga. Maafkan Ayah, Melati."
Suara berat keluar dari mulut dokter Eki dan terdengar sangat tulus di telinga. Dentingan jam mengiringi tangisan seorang ayah yang bodoh yang baru menyesali perbuatannya.
"Nasi sudah menjadi bubur, Mas. Gelas pun sudah pecah berkeping-keping."
Suara yang mampu dokter Eki dengar, tetapi tak bisa dia lihat siapa yang mengatakannya.
"Semuanya tidak bisa diulang dan penyesalan selalu datang belakangan. Kata maaf saja tidak akan mampu mengembalikan semuanya. Terlebih hati anak kita yang sudah sangat terluka juga kecewa akan sikapmu, Mas."
"Maafkan aku, Jessi. Maafkan aku."
Itulah suara dari mendiang ibunda dari Jingga. Dia hadir hanya untuk mengingatkan juga memberitahukan bahwa hati Jingga sudah hancur sehancur-hancurnya. Perihal foto yang dipajang dan ditempel di dinding kontrakan memang itu adalah ide dari Aska agar ayah mertuanya sadar bahwa mereka berdua ikhlas dan tulus menerima ketetapan Tuhan perihal anak. Mereka menerima semuanya dengan lapang dada karena sejatinya anak adalah titipan Tuhan.
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...