Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
290. Segenap Jiwa Raga


__ADS_3

Tak terasa waktu cepat sekali berputar. Keempat anak Aska sudah beranjak remaja sekarang. Mereka sudah memasuki kelas tiga SMP.


"Adek, apa-apaan itu?" Ahlam sudah berkacak pinggang ketika melihat adiknya mengenakan baju kurang bahan. Tidak ke atas tidak ke bawah.


"Model ini, Bang," jawan Balqis.


"Ganti!!" Perihal pakaian Ahlam akan sangat protektif kepada Balqis. Dia tidak ingin adiknya terjerumus pada fashion yang semakin hari semakin tak mendidik.


Balqis menghentakkan kakinya dan meninggalakan Ahlam. Baru saja masuk ke kamarnya, dia dihadang oleh sang kakak ketiga.


"Ini apa?" Arfan sudah menunjukkan sebuah foto kepada Balqis. Foto di mana dia tengah bersama sang teman sekolah. "Apang bilangin ke Ayah, ya. Atau Apang samperin orangnya."


"Jangan, Apang. Jangan!" Balqis sudah memohon.


"Putusin!"


Balqis hanya dapat menghela napas kasar. Memiliki dua kakak over protektif sangat menyebalkan. Beda halnya dengan sang kakak pertama yang santai. Namun, perihal pelajaran dia sangat keras.


"Atuhlah, Mas. Aqis 'kan anak keempat, makanya pas pembagian otak dapatnya cuma sedikit."


Abdalla segera menatap ke arah Balqis dan membuat nyali Balqis menciut seketika. Kakak yang paling Balqis takutkan adalah Abdalla. Dia jarang berbicara, tapi sekalinya berkata terasa menakutkan untuk Balqis.


Keempat anak Aska dan Jingga saling menjaga. Terutama tiga laki-laki yang akan menjaga Balqis dengan sangat ketat.


"Ayah, Bunda." Balqis sudah masuk ke kamar kedua orang tuanya. Naik ke atas tempat tidur mereka dan dengan sengaja memisahkan kedua orang tuanya yang tengah berpelukan.


"Apa sih, Qis," sungut sang ayah.


Belum juga menjawab, suara Arfan dan Ahlam terdengar.


"Terus aja, Qis. Terus ngadu!" Mereka berdua mengomel dan ikut-ikutan naik ke atas tempat tidur ayah dan bunda mereka. Aska hanya menghela napas kasar. Sedangkan Jingga sudah tertawa.

__ADS_1


"Kenapa sih, kok anak-anak Bunda pada main adu-aduan." Jingga sudah berkata ketika kedua putranya memeluk tubuhnya.


"Aqis selalu ditindas sama Apang dan Iam." Balqis mengadu kepada sang ayah.


Dua nama yang disebut itupun saling pandang. Mereka tak mau kalah. Arfan menyerahkan ponselnya kepada sang ayah. Mata Aska melebar melihatnya.


"Itu kelakuan anak bungsu Ayah. Kayak jamet." Arfan berkata dengan begitu lancarnya dan membuat Balqis menarik rambut Arfan dengan begitu kencang hingga Arfan mengaduh. Foto Balqis memakai baju sok kekinian.


Ahlam tak mau kalah, dia juga menunjukkan foto yang ada di ponselnya kepada Aska.


"Tuh, anak bungsu Ayah udah berani pacar-pacaran." Mata Aska hampir terlepas dari tempatnya. Dia menatap tajam ke arah Balqis.


"Cuma teman, Ayah."


"BOHONG!!" balas Ahlam dan Arfan bersamaan.


"Tuh anak Ayah pacarnya kayak balonku ada lima." Ahlam membeberkan semuanya.


"Mulai," balas Askara.


"BALQIS LALITA BANIA LAILA!!"


Teriakan dari arah luar kamar terdengar. Siapa lagi jika bukan Abdalla yang memanggilnya. Remaja laki-laki itu melangkahkan kaki dengan begitu lebar. Menatap tajam ke arah adik yang sudah bersembunyi di dada bidang sang ayah.


"Kenapa lagi, Mas?" tanya Askara. Sudah biasa keempat anaknya seperti ini.


"Nilai Aqis jelek," tebak sang ayah.


"Udah gak aneh," sahut Abdalla dengan ketus.


"Lalu?"

__ADS_1


Abdalla menunjukkan ponselnya kepada sang ayah. Aplikasi pesan singkat sang putra dipenuhi chat dari nomor tak dikenal. Baru saja Aska meraih ponsel sang putra, panggilan dari nomor tak dikenal muncul.


"Itu semua gara--gara Aqis!" tekan Abdalla.


Aska memundurkan wajah Balqis yang tengah menelusup di dada bidangnya. Dia menatap ke arah sang putri dengan begitu tajam.


"Ya ... Aqis jual nomor Mas Dalla ke teman-teman cewek Aqis juga anak-anak SMA yang cewek. Soalnya banyak yang suka sama Mas. 'Kan lumayan duitnya bisa buat beli bala-bala."


Begitulah keseruan juga kekisruhan keluarga Askara dan Jingga. Memiliki empat anak kembar membuat rumah besar selalu ramai dengan gelak tawa juga pertengkaran mereka berempat.


Tiga tahun kemudian ...


"Mau ke mana udah rapih?" Langkah Balqis terhenti ketika Ahlam sudah menatap tajam ke arah adik bungsunya.


"Mau nongkrong doang." Balqis pun berlalu begitu saja. Namun, langkahnya terhenti ketika Arfan sudah menjadi penjaga pintu.


"Apang!" rengek Balqis.


Arfan pun membukakan pintu. Tubuh Balqis melemah ketika melihat laki-laki yang menjemputnya berhadapan dengan Abdalla.


"Syarat mutlak jadi pacar kamu itu PINTAR," tegas Abdalla.


"Biar apa, Pang?" tanya Ahlam yang mulai menghampiri Arfan dan Balqis.


"Memperbaiki keturunan biar gak makin Oneng." Mereka bertiga pun tertawa dengan kompak. Sedangkan Balqis sudah merengut kesal.


Begitulah cara ketiga kakak laki-laki Balqis melindungi Balqis. Mereka akan menjaga adik perempuan mereka satu-satunya dengan segenap jiwa dan raga.


Sampai di sini kisah mereka semua. Ke depannya insha Allah mereka akan hadir setelah kisah Mas Agha dan Ghea. Sekarang, lebih baik baca kisah Aleesa dan Yansen yang penuh teka-teki dulu, ya. Dijamin seru.


Makasih semuanya, udah mau baca karya remahan aku ini. Makasih udah mengikuti karyaku. See you again ... 👋

__ADS_1


...T A M A T...


__ADS_2