
Pada akhirnya, setelah banyak drama yang dialami Riana dalam proses melahirkan (baca Jodoh Rahasia bab-bab terakhir). Akhirnya seorang putri cantik terlahir ke dunia. Nama bayi mungil itu masih Aksara sembunyikan. Jangan ditanya bagaimana wajah Gavin. Dia sangat bahagia.
"Atu Puna Adit."
Itulah yang bocah itu katakan. Aska dan Jingga tersenyum. Istri dari Aska itu tak hentinya memandangi wajah putri kedua dari Aksa dan Riana. Anak itu teramat cantik juga imut. Wajahnya sangat mirip dengan sang kakak ipar perempuan.
"Wajah anak kita nanti seperti apa, ya?" tanya Jingga kepada Aska.
"Pastinya perpaduan kita berdua." Jingga pun tersenyum. Aska memeluk tubuh Jingga dengan begitu erat. "Aku gak sabar menanti kelahiran anak kita," ujar Aska.
Ketika Riana sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Aksa masih duduk di kursi roda. Sedangkan dua pria paruh baya malah berdebat perihal nama cucu mereka.
"Gua gak mau tahu pokoknya," langtang Rion. "Nama belakangnya kudu pake nama gua," kekeh Rion.
"Gak gitu cara bermainnya Rion Oon." Akhirnya Gio mengikuti Arya jika memanggil Rion.
"Nama bapaknya yang kudu menjadi nama belakang anak kedua dari Aksa," papar Gio lagu.
"Anak pertama Aksa udah pake nama belakang lu. Sekarang giliran nama belakang gua dong yang disematkan di nama cucu kelima gua," pinta Rion.
"Gak bisa dong," sahut Gio.
"Bisalah! Kata siapa gak bisa," ujar Rion. Dia masih menjelma menjadi manusia ngeyel.
"Bang, lerai tuh. Pala Mommy pusing," ucap Ayanda. Dia sudah memijat kening. Apalagi kini mereka berada di luar Kota.
Akhirnya Aksara membuka suara. "Udah jangan ribut," ujar Aksa
"Abang bapaknya, Abang berhak memberikan nama untuk anak Abang." Ketegasan yang Aksa tunjukkan walaupun dia tengah duduk di kursi roda. Bukan apa, dia sendiri pusing mendengar perdebatan antara ayahnya juga mertuanya.
"Abang akan memberi nama anak Abang dengan nama GHEA AUVKI WIGUNA."
"Yeay! Adek tetil utah ada nama. Adek Dhea," panggil Gavin.
"Auvki, Mas," ralat sang ayah.
"Tutah, Dad."
Semua orang menyambut bahagia kehadiran Ghea. Terlebih Aska dan Jingga. Mereka tak sabar menunggu buah hati mereka lahir ke dunia.
.
Tiga bulan berlalu, Ghea sedang lucu-lucunya. Bayi mungil itu bagai piala bergilir apalagi Jingga yang sangat menyukai anak perempuan.
__ADS_1
Pagi hari Jingga meminta izin kepada Aska untuk ke rumah Riana. Namun, ada sebuah insiden di mana Jingga terpeleset di rumah besar Giondra. Jingga berteriak karena darah mengucur deras di pangkal kakinya.
Ayanda yang tengah berada di halaman belakang segera menghampiri Jingga dan meminta bantuan. Dia buru-buru membawa Jingga ke rumah sakit. Selama di perjalanan Ayanda menghubungi Aska. Dia sangat yakin, Aska dan ayahnya belum tiba di kantor.
Ringisan kecil terlihat di wajah Jingga. Ayanda terus mengusap lembut kepala sang menantu.
"Bertahan ya, Sayang."
Hati Jingga terenyuh mendengar ucapan dari ibu mertua. Dia merasakan kelembutan juga ketulusan Ayanda dalam berucap.
"Tuhan, jangan ambil nyawaku sekarang. Aku ingin mendapat kebahagiaan lebih lagi. Aku masih ingin merasakan usapan lembut dari seorang ibu."
Doa yang sederhana dari seorang anak yang merindukan belaian lembut orang tuanya. Jingga melihat betapa khawatirnya Ayanda kepada dirinya.
Aska benar-benar panik. Dia segera memutar mobilnya menuju rumah sakit yang paling dekat dengan rumahnya. Gio terus menenangkan sang putra walaupun dirinya juga tidak tenang.
"Jangan panik, Dek."
Ucapan ayahnya tak Aska dengar. Hatinya benar-benar tak karuhan. Dia terus merapalkan doa agar tidak terjadi sesuatu kepada Jingga.
Brankar rumah sakit sudah membawa tubuh Jingga. Darah di pangkal kakinya terus mengalir cukup deras. Ayanda ketar-ketir, dia sungguh takut. Dia pun menghubungi kedua anaknya yang lain.
Tak lama berselang, suara langkah orang berlari menghampirinya. Raut wajah Aska sudah tak karuhan.
"Di mana istri Adek, Mom?" tanya Aska.
"Dengan keluarga Nyonya Jingga Andhira?"
"Saya suaminya, dok."
Dokter meminta Aska untuk mengikutinya. Ketika masuk ke ruang IGD dia melihat istrinya yang tengah menangani sakit. Hati Aska sangat sakit melihatnya. Dokter menjelaskan semuanya.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya, Dok."
Hanya itu yang dapat Aska lakukan. Aska menghampiri istrinya. Menggenggam tangan Jingga dengan begitu erat.
"Kita akan melakukan operasi," terang Aska.
"Tapi, usia anak kita-"
"Ini jalan satu-satunya, aku tidak ingin kamu dan anak kita kenapa-kenapa."
Hati Jingga terenyuh mendengarnya. Apapun akan suaminya lakukan untuknya juga anak mereka. Aska tidak diperbolehkan lama-lama. Dia kembali menemui keluarganya. Gio sangat yakin jikalau ada sesuatu yang terjadi pada Jingga.
__ADS_1
"Katakan pada Daddy," ujar Gio.
"Harus dilakukan operasi."
"Lakukanlah!" titah sang ayah. Aska pun mengangguk.
Echa, Radit dan Aksa pun datang. Mereka semua menenangkan Aska. Gurat kesedihan nampak jelas di wajah adik mereka ini.
"Semuanya pasti selamat," ujar Echa.
Aska sudah dipanggil dan dia akan menemani Jingga di ruangan operasi. Wajah Jingga nampak tegang begitu juga dengan Aska. Namun, sebisa mungkin Aska bersikap tenang.
"Kamu pasti kuat."
Jingga tersenyum, tetapi pelupuk matanya sudah berair.
"Aku akan selalu ada di samping kamu." Aska mengecup kening Jingga sangat dalam. Mengajak berbincang istrinya walaupun hatinya ketar-ketir.
Empat puluh menit berselang, Aska terkejut karena dipanggil oleh salah satu perawat.
"Tolong adzani."
Aska masih tidak percaya. Dia menatap ke arah perawat yang tengah menggendong bayinya.
"Kenapa anak saya tidak menangis?" Ada rasa cemas di hatinya. Namun, dia berbicara sepelan mungkin agar istrinya tak mendengar.
"Anak Bapak terlahir prematur, wajar seperti ini."
Ada kejanggalan yang Aska rasakan. Bukankan bayi yang baru saja terlahir telanjangg. Kenapa anaknya sudah dibalut dengan selimut bayi. Ingin rasanya Aska bertanya. Namun, perawat lebih dulu membawa Aska ke sebuah ruangan khusus.
Tanpa banyak bicara Aska melakukan apa yang diperintahkan oleh sang perawat. Ketika selesai, perawat itu menahan Aska. Sungguh membuat Aska bingung dibuatnya.
Perawat itu meletakkan bayi yang masih merah itu di atas boks bayi. Dia membuka selimut bayi tersebut dan sontak mata Aska melebar. Jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat.
"Uncle, akan ada air mata pada kelahiran anak Uncle. Akan tetapi, dialah yang menjadi pondasi kebahagiaan keluarga Uncle ke depannya."
"Anak Uncel tidak berdosa. Dia hanya ingin menguji kedua orangtuanya. Apakah Kak Jing-Jing dan Uncle sanggup melalui cobaan yang sudah Tuhan siapkan?"
"Antel, tata Dea tatana dia dak mau Puna Tati. Dia penen nasih tatina buat tebon yan dak ada tatina itu."
Puzzle yang tercecer kini bisa Aska sambungkan. Dia harus menerima kenyataan yang sesungguhnya perihal anaknya.
"Bagaimana aku bicara kepada Jingga?"
__ADS_1
...****************...
Komen dong ....