
Rangga masih membungkam mulutnya. Hingga pada akhirnya Riana yang bertanya kepada Rangga dari hati ke hati. Rangga pun menceritakan semuanya dan mampu membuat semua orang yang berada di sana memegang dada mereka karena merasa perih. Masih kecil saja mau berkorban dengan orang lain.
"Kantong keresek berisi telor dan mie itu-"
"Anak panti ingin makan mie instan. Upah saya hari kemarin saya belikan mie dan telur untuk kita santap bersama. Mungkin, itu bukan rejeki saya." Seulas senyum masih Rangga tunjukkan. Sedangkan tiga wanita yang tak lain dua Tante dari Aleena juga ibu dari Aleena sudah berkaca-kaca mendengar ucapan dari Rangga. Sungguh anak yang baik.
Ibu panti sudah menyeka ujung matanya. "Rangga bukan disuruh oleh saya Pak, tapi itu kemauannya. Dia ingin membahagiakan adik-adiknya."
"Iya, Om, Tante," kata Rangga, "Ibu agak pernah nyuruh-nyuruh saya, Hanya saja saya yang ingin bekerja membantu ibu panti untuk membahagiakan anak-anak," paparnya.
"Saya ingin seperti Om Aksara. Pekerja keras, bertanggung jawab, juga sayang keluarga," jelasnya. "Saya menyayangi adik-adik yang ada di panti juga ibu panti. Maka dari itu, saya ingin bekerja keras."
Aksara tersenyum mendengar ucapan dari Rangga. Dia sangat bangga kepada anak berusia sepuluh tahun itu.
"Ketika kamu sembuh, Om janji akan membawa kamu juga anak panti ke tempat rekreasi."
Rangga tidak menyangka jika ayah dari Aleena akan berkata seperti ini. Apalagi, tangannya sudah digenggam oleh ayah Aleena. Matanya menatap teduh ke arah Rangga.
__ADS_1
"Sebagai rasa terimakasih karena kamu sudah menolong Aleena." Senyum tulus pun terukir di wajah Radit.
"Saya membantu Aleena dengan ikhlas. Saya tidak-"
"Jangan menolak, Rangga. Anggap saja ini adalah buah dari kerja keras dan ketulusan kamu. Kamu bisa membuat adik-adik panti lebih bahagia lagi." Lengkungan senyum pun terukir di wajah Echa.
"Bubu, Mas boleh ikut," tanya Gavin. Echa pun mengangguk. Keponakan tampannya itupun bersorak gembira dan raut wajah bahagia sangat kentara
"Cepat sembuh Kak Langga," ujar Gavin. "Kita jalan-jalan sama Nana juga."
Antusiasme yang Gavin tunjukkan membuat Rangga ikut tersenyum. Mendengar nama Nana seperti mood booster untuknya.
"Gua duluan, ya," ucap Aska. "Kasihan dua keponakan gua." Radit mengangguk. Echa masih berada di samping suaminya.
"Ada apa ya, Pak?" tanya ibu panti. "Maafkan kelakuan Rangga," ucap ibu panti.
Dia tahu siapa Raditya Addhitama. Semenjak ayahnya meninggal, wajah Radit dan Rindra sering wara-wiri di layar televisi ataupun di media online. Begitu juga dengan istri dari Radit yang terkenal dengan keramahannya.
__ADS_1
"Ibu jangan takut," kata Echa. Tangan Echa sudah menggenggam tangan ibu panti. Perlakuan kecil Echa membuat ibu panti sedikit terkejut. Dia menatap wajah Echa yang sangat cantik walaupun tanpa riasan dengan sedikit takut.
"Kami hanya ingin membantu pendidikan Rangga." Ibu panti terkejut mendengar ucapan dari menantu almarhum Addhitama.
"Apa yang dikatakan istri saya memang benar. Saya tahu, anak-anak panti akan mendapat biaya sekolah dari adik saya hingga menengah atas," tutur Radit. "Untuk Rangga, saya akan membiayai kuliahnya hingga S2."
Tidak menyangka sekali ibu panti mendengar penuturan dari Radit. Ini seperti mimpi baginya.
"Apa Ibu tau apa cita-cita Rangga?" tanya Echa dengan begitu lembut.
Ibu panti itupun terdiam sejenak. Dia mengingat bagaimana Rangga dulu masuk ke dalam panti asuhan.
"Rangga masuk ke panti asuhan ketika usianya lima tahun dengan terus memegang mainan pesawat terbang. Anak itu mengatakan bahwa dia ingin menjadi sopir pesawat terbang agar tidak menyebabkan orang lain meninggal." Ibu panti itupun tertunduk.
"Orang tua Rangga meninggal karena kecelakaan pesawat. Hanya dia yang selamat."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...