Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
MERENGGUT KESUCIAN


__ADS_3

Pengaruh miras membuat Makmun menjadi nafsu melihat keindahan tubuh Kasih, akhirnya Ia pun menggauli Kasih dalam keadaan Kasih yang tak sadarkan diri, terenggut sudah keperawanan Kasih dalam kegilaan Makmun.


beberapa menit kemudian, Bu Alya dan Pak Helmi sampai di rumah, Mereka pun segera masuk ke dalam untuk mengecek keadaan Kasih


"Pah.. Makmun sepertinya sudah pulang, Kita harus melihat keadaan Mereka"


"Kasih.."


Bu Alya teriak memanggil Kasih, dan Kasih saat ini sudah tersadar betapa kagetnya Dia ketika melihat tubuhnya sudah tak berpakaian


"Apa yang telah Kamu lakukan Mas.."


Kasih menagis kecil tanpa suara, sedangkan Makmun saat ini tengah tertidur setelah melakukan aksinya itu. Kasih langsung turun dari tempat tidur, sambil terus memakai selimut lalu Ia duduk di pinggiran lemari, sambil menangis


"Andi.. Aku sudah tidak suci lagi"


yang ada di pikiran Kasih saat ini adalah bagaimana jika Andi tahu hal ini, apakah Andi masih mau menjadikannya seorang istri, sedangkan Ia sudah tidak suci lagi


"Kasih..."


Bu Alya terus mencari ke dapur dan di sudut ruangan namun tak kunjung menemui Kasih


"Pah.. Kasih di mana?"


"Papah tidak tahu Mah, coba panggil Makmun, mungkin Dia ada di kamarnya"


"Makmun.. Kasih.. "


Bu Alya terus memanggil Mereka berdua, hingga Bu Alya mencoba memasuki kamar Makmun untuk mengecek apakah Makmun ada di dalam atau tidak, namun pintu terkunci


"Makmun.."


Bu Alya memanggil sambil menggedor pintu kamar Makmun.


Kasih mendegar suara Bu Alya dari dalam, namun Kasih tak membukanya, Ia terus menangis dan memukuli tubuhnya sendiri.


Tak lama Makmun tersadar Ia membuka mata secara perlahan, sambil menguap lalu Ia mengusap matanya dan saat sudah sadar betapa kagetnya Makmun melihat dirinya hanya berbalut ****** ***** saja


"Astagfirullah.. kenapa Aku tidur tak pakai baju"


lalu Ia melihat Kasih yang sedang bersandar di pinggir lemari sambil menangis


"Kasih.. kenapa Kamu ada di kamar saya"


Kasih tak menoleh dan tak menjawab ucapan Makmun, Makmun merasa malu, Ia pun segera memakai bajunya lalu Ia mendekati Kasih dan bertanya mengenai keanehan ini


"Kasih.. Kamu kenapa menangis, dan Kamu..." belum selesai bicara, Kasih langsung menepis tangan Makmun dari pundaknya


"Jangan sentuh Saya"


Makmun merasa heran dan tak mengerti dengan semua ini, terlebih Ia tidur tak memakai baju, lalu kehadiran Kasih yang berada di kamarnya, tiba-tiba Makmun mendegar teriakan Ibunya dan gedoran pintu kamarnya


"Makmun.. Kamu ada di dalam gak sih.."


"Ya ampun Pah, ini Mereka kemana sih, mobil Makmun ada di dalam, tapi kenapa kosong rumah ini"


lalu Makmun membukakan pintu


"Ya ampun Makmun.. Mamah dari tadi panggil Kamu loh, Kamu tidur ya"


suara tangis Kasih terdengar oleh Bu Alya, merasa penasaran Bu Alya ingin masuk ke dalam


"Mah.."


Makmun berusaha menghalangi Bu Alya, namun Bu Alya tetap masuk, hingga Bu Alya kaget melihat Kasih yang sedang bersandar di pinggir lemari, dalam keadaan hanya berbalut selimut


"Apa-apaan ini..."


Bu Alya sepertinya marah dan berprasangka buruk terhadap Kasih, lalu Ia mendekati Kasih untuk meminta penjelasan atas apa yang Ia lihat


"Kasih, Kamu sedang apa di sini, dan Kamu kenapa tidak memakai baju"


Bu Alya melihat Makmun dan bertanya,


"Makmun Kalian sedang apa di dalam berduaan dengan pintu terkunci"

__ADS_1


Pak Helmi pun terkejut melihat semua ini


"Makmun.. Kasih, tolong Kalian jawab pertanyaan Kami"


Makmun bingung harus menjawab apa, sedangkan Ia pun tak tahu apa yang baru saja terjadi terhadapnya, Kasih terus menangis tak dapat menjawab


"Kasih bangun.. jawab Saya, Kamu berusaha menggoda Anak Saya"


Kasih langsung menatap Bu Alya dengan tajam, matanya yang merah akibat menangis kini terbelalak lebar saat dirinya dianggap menggoda Majikanya


"Kasih Aku mohon Kamu katakan yang sebenarnya Aku sungguh tidak mengerti"


Makmun meminta penjelasan dari Kasih, Kasih merasa benci mendegar ucapan Makmun, tak bisa lagi Ia menahan amarah lalu Ia menampar Makmun dengan sekuat tenaga.


Semua terkejut melihat adegan itu, apalagi Bu Alya Ia yang tak tahu kejadian sebenarnya malah menyalahkan Kasih


"Kurang ajar Kamu, heh.. Kamu itu hanya pembantu disini, kenapa Kamu tampar Anak Saya"


Kasih semakin kesal saat dirinya di rendahkan oleh Bu Alya


"Saya memang pembantu Bu, tapi Saya bukan pemuas nafsu untuk majikan Saya"


Bu Alya dan Pak Helmi semakin terkejut mendengar ucapan Kasih, begitu pun Makmun Ia masih merasa kebingungan dengan apa yang di maksud oleh Kasih


"Kasih.. apa maksud Kamu, pemuas nafsu, apa yang sudah Saya lakukan terhadap Kamu"


"Mas gak ingat... Mas lupa"


Makmun semakin bingung Ia pun berusaha untuk mengingat kejadian terakhir yang Ia ingat, tak lama Ia teringat bahwa jika dirinya sehabis Maghrib pergi ke klub malam, dan minum hingga mabuk


"Makmun.. sebenarnya apa yang sudah terjadi"


Bu Alya semakin marah, juga bingung harus bagaimana menyikapinya


"Mah.. Aku ingat, Aku tadi sore pergi ke rumah sakit, dan Aku frustasi karena Lia tak kunjung sadar sampai saat ini, Aku tadi niatnya ingin pulang tapi, Aku malah mabuk berat Mah, dan itu yang terakhir Kamu ingat"


lalu Kasih langsung menyahuti


"Jadi Kamu tak ingat Mas kalau Kamu sudah memaksa Saya untuk melayani Kamu di ranjang"


Bu Alya pun kini menangis mendegar apa yang terjadi, begitu pun Pak Helmi


"Makmun.. Kamu sudah berbuat dosa"


bukanya Bu Alya iba atas kejadian itu, Dia malah memarahi Kasih dan menuduh Kasih


"Kenapa Kamu tidak menolaknya Kasih.. Makmun sudah beristri, apa Kamu menikmati sentuhan itu?"


Kasih tak menyangka Bu Alya akan berkata serendah itu terhadapnya


"Bu.. Saya memang gadis kampung, tapi Saya menjaga kehormatan Saya bahkan suami Saya belum menyentuh Saya Bu, tapi bukan berarti Saya mau memberikan percuma kepada orang lain, Saya sudah melawan dengan sekuat tenaga Saya, tapi Mas Makmun menganggap Saya adalah Lia, bagaimana bisa Saya melawan orang yang sedang mabuk berat, Mas Makmun menarik Saya bahkan ini, baju Saya sobek Bu, dan Mas Makmun menampar Saya begitu kuat, hingga Saya pingsan dan Saya sendiri tidak tahu jika kesucian Saya sudah di rengggut oleh Anak ibu"


begitu panjang lebar Kasih menjelaskan sambil menangis tersedu-sedu, sedangkan Bu Alya hanya terdiam tak percaya akan semua ini.


Makmun begitu merasa bersalah atas apa yang sudah Ia lakukan terhadap Kasih, Ia pun meminta maaf kepada Kasih


"Maaf... maafkan Aku Kasih.. Aku tidak menyadarinya dan Aku tidak sengaja melakukannya"


Kasih terus menangis lalu kemudian Kasih pergi tanpa bicara lagi.


Bu Alya sepertinya syok akan semua ini, Dia bersedih karena Anak lelakinya telah melakukan perbuatan hina


"Makmun.. bisa-bisanya kamu melakukan ini, bagaimana kalau Kasih hamil, lalu bagaimana dengan Lia, Kamu berpikir sampai kesitu tidak sih"


Makmun kini sangat merasa bersalah terhadap Kasih lebih-lebih terhadap Lia, bagaimana jika Lia tau hal ini, apa yang harus Ia jelaskan nanti.


"Maafkan Makmun Mah, sungguh diluar dugaan Aku melakukan itu, Aku pun tidak sadar Mah"


"Mamah pusing.. Pah.. bawa Mamah ke kamar"


"Ya sudah.. Makmun.. nanti Kita bicara lagi"


Makmun terdiam tak menyangka akan melakukan hal itu terhadap Kasih, Ia pun kini bersedih karena telah gagal menjadi suami yang baik


"Maafkan Aku Lia, maafkan Aku sayang, Aku sudah mengkhianati Kamu"

__ADS_1


dan di saat itu juga Lia menggerakkan jarinya lalu Ia kejang-kejang, Bu Irma panik langsung berteriak memanggil Suster dan Dokter


"Suster tolong Anak Saya"


Suster segera bertindak dan memanggil Dokter, Dokter Farhan yang masih berada di Jakarta langsung menangani Lia


"Ada apa Sus"


"Pasien Bu Lia mengalami kejang-kejang"


Dokter Farhan segera memeriksa Lia, lalu memberikan obat untuk menghentikan kejang-kejang tersebut, setelah selesai menangani Lia Dokter memberikan penjelasan kepada Bu Irma


"Bagaimana Dok Anak Saya, apa Dia sudah sadar?"


"Belum Bu.. kalau untuk sadar Kami tidak tahu kapan Ibu Lia akan tersadar, tapi Kami selalu dan pasti memberikan penanganan yang terbaik untuk Bu Lia"


"Lalu tadi Anak Saya kenapa sampai kejang-kejang begitu Dok?"


"Itu hanya gerak reflek bagi pasien yang sedang koma, mungkin Ibu Lia sedang berusaha untuk bangun, otak dan ototnya kini mulai bekerja, Kita doakan yang terbaik Bu, semoga Kita bisa menemukan titik terang dari kondisi Ibu Lia"


Bu Irma menjadi melemah saat Dokter mengatakan jika itu hanya reflek semata


"Terimakasih Dok, Saya mohon Dok lakukan apapun supaya Anak Saya cepat sadar dan sembuh dari komanya"


"Pasti Ibu, kalau begitu Saya permisi ya"


Dokter Farhan pun pergi, lalu Ia mendapatkan telepon dari Ibunya


"Halo Mah.."


"Kamu tidak pulang"


"Tidak Mah.. Aku masih ada seminar sehari lagi disini"


"Ya sudah, ini Papah mau bicara"


"Halo Farhan, Kamu sudah dapatkan informasi mengenai Anak Papah"


"Belum Pah, sulit sekali mencarinya, yang Aku tahu kan hanya nama Ibunya, sedangkan Papah sendiri tidak tahu nama Putri Papah"


"Ya makanya itu Farhan itu tugas Kamu mencari tahu"


"Pah.. memangnya Mamah Anita tidak bisa di hubungi"


"Tidak bisa.. kontaknya sudah ganti, Papah tidak bisa mencari keberadaan Anita dan Putrinya"


"Ya sudah.. besok Aku akan berusaha lebih keras lagi mencari informasi"


panggilan pun di akhiri, Farhan bingung harus mencari kemana informasi tentang Anita Rosadi, tiba-tiba ada seorang suster yang mengatakan bahwa minuman herbal toko Anita sangat lah bagus khasiatnya


"Ah masa sih..."


"Iya Aku sudah habis lima botol, minuman herbal memang bagus, lebih sehat dan alami"


"Beli dimana..?"


"Di toko Anita organik, nanti deh lain kali Aku ajak Kamu ya"


mendegar nama Anita Dokter Farhan pun langsung ikut menyahuti


"Suster maaf, tadi Saya sempat dengar Kamu meminum minuman herbal dari toko Anita, apa Anita itu nama lengkapnya Anita Rosadi"


"Wah.. Dok Saya kurang tahu, kalau nama kepanjangannya, yang Saya tahu, hanya Anita organik disitu menyediakan banyak makanan dan minuman berbahan organik dan herbal"


"Oh begitu ya, kalau boleh tahu, Saya minta alamatnya dong"


"Boleh Dok...alamatnya di jl.Ahmad Yani pinggir toko kue Sari"


"Ok terimakasih ya Sus"


"Memangnya untuk apa ya Dok"


"Tidak untuk apa-apa kok, Saya masih ada urusan yang lain, terimakasih ya informasinya, Saya permisi dulu"


Dokter Farhan sangat senang akhirnya menemukan titik terang tentang Anita, walaupun belum pasti Anita organik itu apakah benar Anita Rosadi atau bukan, tapi Ia akan terus mencari informasi itu untuk Papahnya.

__ADS_1


__ADS_2