Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
161. Bunda


__ADS_3

Dea masih menjadi misteri hingga saat ini. Kedatangannya hanya untuk menyampaikan sesuatu yang belum terjadi. Aska selalu mengganggapnya itu hanya bung tidur semata.


Putra pertama Aksa pun sudah kembali ke rumah. Sambutan yang meriah Ayanda dan Rion berikan. Gavin terlihat amat bahagia melihat apa yang sudah disiapkan oleh kakek dan neneknya.


Apalagi ada badut Ninja Hatori yang membuat Gavin tertawa bahagia. Karakter kartun kesukaannya mampu keluarganya hadirkan.


"Mas, senang?" tanya Aksara. Gavin pun mengangguk dengan cepat.


Dalam hati Aksara dia tertawa puas. Bagaimana tidak, orang yang berada di dalam kostum badut itu adalah Askara dan juga Arya. Ide gila dari Rion Juanda. Sudah pasti berada di dalam kostum cukup besar dan berat itu melelahkan.


"Mamah Beby, kok aku takut Bang As kenapa-kenapa," ucap Jingga ke arah Beby.


"Sama Mamah juga. Sahabat papah tuh emang kelewat pelit," omel Beby.


Dua wanita itu tengah berharap-harap cemas. Mereka takut terjadi apa-apa dengan Aska dan juga Arya. Sedangkan mereka tidak ingin mengganggu kebahagiaan Gavin. Anak itu nampak bahagia sekali.


Aska dan Arya menunggu anak itu kelelahan. Dua jam berada di kostum badut membuat mereka kepanasan. Untung saja Gavin sudah merengek ingin meminta mimi. Akhirnya dua pria dewasa ini bisa melepaskan kepala badut di kepala mereka.


"Bang ke!"


Mulut Arya tidak pernah disaring dalam hal apapun. Dia benar-benar murka. Menatap tajam ke arah Rion Juanda.


"Gua hampir mati!" seru Arya lagi.


"Baru HAMPIR, belum mati beneran." Kalimat asal yang keluar dari mulut Rion.


"Dasar gendeng!" sungut Arya.


"Eh, Sableng!" tunjuk Rion pada Arya. "Kalo lu mati ya emang tinggal dikubur doang 'kan. Emangnya lu mau dikremasi, terus abunya di laut lepas,


" sahut Rion dengan begitu santainya.


Emosi Arya pun meletup-letup. Dia mulai menghampiri Rion dan terjadilah pergulatan yang pastinya akan berakhir dengan tawa yang memuaskan.


"Gelo siah! Aing modar ieu!"

__ADS_1


Bahasa planet pun keluar. Namun, Arya tak mengindahkan. Dia tetap memiting kepala ayah mertua dari Aksara.


Jingga yang baru pertama kali melihat kejadian seperti ini tak hentinya menahan tawa. Hingga dia menyeka ujung matanya karena benar-benar puas tertawa. Aska tersenyum melihat Jingga sebahagia ini.


"Sayang," panggil Aska.


Jingga pun menoleh dan Aska sudah mulai tiduran di pangkuan sang istri.


"Kamu belum mengenalkan aku kepada ibu kamu loh," ujarnya.


Jingga pun menatap wajah suaminya yang berada di bawahnya. "Aku ingin berkenalan dengan ibu mertuaku."


Ucapan Aska benar-benar serius dan tulus. Dia belum pernah bertemu dengan ibu dari istrinya tersebut. Juga makamnya pun dia tidak tahu. Sepertinya dia tidak pernah melihat ada foto mendiang ibu dari istrinya.


"Walaupun mertuaku udah gak ada. Setidaknya aku tahu di mana tempat peristirahatan terakhirnya."


Jingga tidak bisa menolak. Dia pun mengangguk pelan. Namun, dia belum bisa memastikan kapan waktunya.


Semalam Aska bermimpi, ada seorang wanita datang dan tersenyum ke arahnya. Dia hanya menatap wajah Aska tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Wanita itu hanya tersenyum ke arah Aska. Dia menatap Aska dengan penuh cinta.


"Jangan tinggalkan dia dalam keadaan apapun. Tidak ada tempatnya untuknya mengadu juga mengeluh, kecuali kamu."


Di saat istrinya bermimipi bertemu dengan Dea. Dia malah bermimpi bertemu dengan mendiang ibu mertuanya. Bertanda apakah ini?


.


Tiba sudah di mana Aska dan Jingga mengunjungi makam Jessi. Hati Aska mencelos ketika melihat makam sang mamah mertua yang seakan tidak terurus.


"Tempat ini adalah tempat yang tidak ingin aku kunjungi." Jingga berkata dengan sangat lirih.


Aska mengusap lembut punggung Jingga. Dia merasakan kesedihan yang tidak akan pernah surut. Ibu sekaligus ayah untuknya pergi meninggalkan Jingga di saat dia sangat membutuhkan sosok pembimbing. Jingga bagai kehilangan arah hingga dia bertemu dengan dokter baik yang tak lain adalah utusan dari almarhum kakek Genta Wiguna.


"Assalamualikum, Bunda."


Ucapan salam Aska membuat hati Jingga bergetar dengan cukup hebat. Kali ini, dia datang tidak sendiri. Melainkan dengan satu pria yang sangat luar biasa.

__ADS_1


"Maaf Bunda, aku baru datang ke sini. Anak Bunda ini yang tidak mau mengenalkan aku dengan bunda."


Aska mencairkan suasana. Dia tahu hati istrinya tengah bergejolak tak karuan. Ucapan Aska itu mampu membuat Jingga tersenyum sembari memukul pundak Aska.


"Tuh Bunda, anak Bunda galak banget. Sering menganiaya aku." Aska seperti tengah berbicara kepada seseorang yang masih hidup saja. Jingga malah merengutkan wajahnya.


"Bun, Alhamdulillah kami sudah diberi kepercayaan sama Allah. Jingga tengah mengandung. Doakan semoga semuanya sehat sampai persalinan nanti. Doa orang tua itu yang utama."


Tes.


Bulir bening menetes begitu saja. Pipi Jingga pun sudah mulai basah. Hatinya mencelos mendengar perkataan tulus dari suaminya. Orang yang memiliki pengaruh besar, tetapi tidak sombong dengan kekuasaan. Malah, dia berbicara sangat sopan kepada nisan sang ibu. Aska seperti tengah menanggalkan kekuasaannya.


"Doakan kami ya, Bun. Semoga rumah tangga kami bahagia sampai maut memisahkan kami berdua."


Jingga menatap wajah sang suami. Dia benar-benar kagum pada sosok yang katanya mirip artis Korea.


"Sekarang giliran kamu ngomong, jangan mesem-mesem gak jelas." Jingga mencebikkan bibirnya.


Tangan Jingga sudah mengusap lembut nisan sang bunda. Terdengar dia menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum berbicara.


"Bunda."


Suara Jingga terdengar begitu bergetar. Cukup lama Jingga menjeda ucapannya.


"Maafin aku, Bun. Aku baru sempat ke sini. Aku udah bahagia sekarang, Bun. Dipersunting oleh pria yang sedari SMA aku sukai. Tuhan sangat baik dan mempersatukan kami kembali dalam ikatan suci pernikahan."


Bibir Jingga melengkung, tetapi hatinya menangis cukup keras. Jingga sudah tidak sanggup lagi berkata-kata. Aska merangkul pundak istrinya. Dia merasa bahagia karena Jingga sudah mengatakan hal yang jarang dia ungkapkan diamping pusara sang ibu.


Aska menyiramkan air bunga mawar dan dia menabur bunga di atas pusara sang ibu. Kehilangan ibu bagai pukulan terberat untuk Jingga. Tetap saja tempat ini menjadi tempat yang membuatnya menitikan air mata.


"Bunda ... maafkan aku. Aku tidak pernah ke sini bukan karena aku membenci Bunda. Aku hanya tidak ingin menangis lagi. Aku sudah bahagia bersama suamiku. Aku sudah tidak ingin mengeluarkan air mata lagi karena aku sangat bersyukur telah dipertemukan dengan Keluarga yang luar biasa. Kekosongan hatiku mampu diisi oleh mereka."


"Makasih, Bunda. Doa Bunda kini sudah terkabul. Aku sudah bahagia dan bertemu dengan laki-laki yang tulus menyayangiku. Laki-laki yang aku inginkan dan kini kita dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Maaf, Bunda, Aska bukanlah dari kalangan biasa, tetapi dia tak seperti mereka yang berkuasa. Dia sangat berbeda. Aku bahagia hidup bersama dia, Bunda."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2