
Sungguh Ayanda dibuat geram dengan ucapan dokter Eki. Dia tidak boleh tinggal diam. Dia juga membuka pesan yang dikirim oleh dokter Eki. Ketika seorang anak ingin menunjukkan bayi yang baru saja lahir dari rahimnya, malah dikatai bahwa anak itu adalah anak pembawa sial. Ibu mana yang tidak menangis mendengarnya. Ayanda sangat yakin, bahwa dokter Eki lah yang membuat Jingga menangis.
Dia membawa ponsel Jingga dan berniat ke kantor sang suami. Di mana suami dan dua putranya berada. Dia tidak boleh tinggal diam. Jingga rentan terkena baby blues jika ada perkataan ini terus. Itu yang sangat berbahaya.
Baru saja langkah kakinya menuruni anak tangga paling bawah, seorang pelayan datang dengan tergopoh-gopoh. Ayanda menukikkan kedua alisnya dan menatap tajam ke arah pelayan tersebut.
"Ada tamu, Nyonya, tapi-"
Pelayan itu tidak melanjutkan ucapannya. Dia malah terdiam. Seisi rumah besar Giondra tahu bahwa keadaan Ayna memang tidak sempurna. Gio tidak meminta apapun kepada pelayan tersebut. Hanya saja semua pegawai yang bekerja dengan Gio sudah tahu apa konsekuensinya jikalau ada pemberitaan yang tidak mengenakkan mencuat ke permukaan. Gio yang baik akan menjelma menjadi monster yang teramat jahat.
"Siapa?" sambar Ayanda.
"Enggak tahu, Bu. Seorang pria yang hanya memiliki satu kaki. Dia menggunakan tongkat untuk menopang kakinya yang sebelah kanan," jelasnya.
Dahi Ayanda mengkerut mendengar ucapan Dari sang pelayan. Siapa yang datang dan ingin bertemu siapa. Itulah yang kepalanya pertanyakan.
Ayanda menuju ruang tamu. Ternyata orang itu tidak ada di sana. Dia menunggu di luar dengan didampingi dua pihak keamanan rumah Giondra. Pria itu tersenyum ramah ke arah Ayanda.
"Maaf, Nyonya. Apakah ini benar rumah Jingga Andhira."
Ayanda menelisik dari ujung kaki hingga ujung kepala pria tersebut. Dia tidak akan pernah membiarkan orang asing mendekati anak dan menantunya. Apalagi Jingga, dia harus benar-benar melindungi menantunya itu.
"Anda siapa?" tanya Ayanda.
Jika, orang baru mengenal Ayanda dia terlihat manusia kejam Aleena wajahnya yang terlihat judes. Namun, setelah mengenalnya maka mereka akan mengatakan bahwa Ayanda adalah orang yang sangat baik.
"Saya Riki."
Pria itu memperkenalkan dirinya dengan begitu sopan. "Om dari Jingga."
Mata Ayanda melebar mendengar ucapan dari pria tersebut. Namun, dia tidak akan langsung percaya begitu saja. Sekarang ini banyak orang jahat yang mengaku-ngaku. Telisikan Ayanda membuat Riki tersenyum hambar.
"Saya memang mantan narapidana, tetapi saya hanya ingin menjenguk keponakan saya."
Kalimat yang membuat Ayanda semakin takut. Dia segera menghubungi Aska, Gio juga Aksa agar cepat pulang. Pihak keamanan pun dikerahkan lagi untuk menjaga menantu dan cucunya. Sekarang, di depan pintu kamar Jingga sudah ada pria tinggi berbadan tegap yang bertugas untuk menjaga Jingga.
Aska sudah meninggalkan kantor. Hatinya ketar-ketir tak karuhan. Ada ketakutan yang menjalar di hatinya saat ini. Dia menyuruh Fahrani untuk melanjutkan pekerjaannya. Sama halnya dengan Aska. Sang Abang tengah melajukan. mobilnya dengan membawa sang ayah. Hatinya pun sama dilanda ketakutan. Gio tengah berpikir perihal Eki. Setahunya Eki adalah tunggal.
__ADS_1
Aska sudah membelokkan mobilnya ke area rumah besar tersebut. Dia segera turun dari mobil dan menatap tajam ke arah pria yang tengah memakai kruk ketiak dikelilingi oleh orang berbadan tegap. Untung saja Aska memiliki ibu yang sigap. Jadi, bisa diandalkan dalam hal seperti ini.
Tatapan nyalang Aska berikan. Dia tidak akan memberikan celah kepada siapapun untuk mendekat ke arah anak dan istrinya.
"Ada perlu apa Anda ingin menemui istri saya?" Pria itu malah tersenyum bangga ketika melihat pria muda yang mengatakan bahwa dia adalah suami dari Jingga.
"Makasih, sudah jaga keponakan saya."
Kalimat tulus yang pria itu berikan. Namun, Aska tak pernah menganggap kalimat itu adalah kalimat penuh ketulusan. Bagaimanapun, dia harus selalu waspada. Banyak orang yang berwajah baik, pada nyatanya memiliki niatan terselubung di hatinya.
Tak lama berselang, Aksa dan Gio tiba di rumah besar itu. Mereka berdua segera menghampiri orang-orang yang berada di teras rumahnya. Gio menelisik setiap inchi wajah pria tersebut. Ada gurat kemiripan dengan seseorang.
"Ajak dia masuk," titah Gio. Perintah Gio tidak akan pernah bisa terbantahkan. Mereka semua masuk dan duduk di ruang tamu.
Aksa dan Aska sudah menatap tajam ke arah pria tersebut. Sedangkan pria tersebut terus menyunggingkan senyum melihat tiga pria di depannya yang memiliki ciri khas yang sama.
"Apa tujuan Anda ke sini? Kenapa Anda mencari menantu saya?"
Gio masih bersikap santai. Dia sudah banyak makan asam garam perjalanan hidup. Beda halnya dengan Aska dan Aksa.
"Keponakan?" ulang Gio. "Apa Anda tidak salah? Setahu saya ayah dari Jingga adalah anak tunggal."
Riki pun tersenyum hambar. Tidak ada yang mengenalnya sama sekali. Ditambah wajah mereka itu tidak serupa. Namun, ada kesamaan jika dilihat lebih rinci lagi.
"Saya kembaran dari Eki Mandala." Semua orang pun terkejut, beda dengan Gio yang hanya menyunggingkan senyum. Jika, dilihat dari fisiknya Gio percaya. Namun, biarlah Riki menjelaskan semuanya.
Aska satu pemikiran dengan Gio. Cacat genetik itu pasti akan menurun kepada anak dari neneknya Jingga. Ada kejanggalan juga kenapa dokter Eki bisa memiliki tubuh yang normal.
"Saya ke sini karena saya mendengar bahwa anak Jingga sama seperti saya. Saya hanya ingin menyemangatinya saja. Tidak bermaksud yang lain. Sekaligus saya ingin meminta maaf."
Dahi empat orang yang ada di depan Riki berkerut. Apa maksud dari perkataan Riki ini.
"Salah Anda apa? Kenapa Anda ingin meminta maaf kepada istri saya?" tanya Aska.
Riki menarik napas panjang sebelum belum bercerita. Dia menatap ke arah Aska dengan tatapan sendu.
"Ketika Jessi, ibunya Jingga meninggal, saya yang ditumbalkan oleh Ibu saya juga Eki." Terlihat gurat sedih di wajah Riki.
__ADS_1
"Eki yang sengaja menyenggol motor Jessi hingga motornya oleng dan ditabrak dari belakang oleh orang suruhan ibu saya hingga Jessi terpental."
Keterangan dari Riki membuat semua orang terdiam membisu. Mereka melihat tidak ada kebohongan yang Riki tunjukkan.
"Saya yang kebetulan melihatnya, segera membantu Jessi dan malah saya yang diteriaki oleh orang-orang suruhan Eki dan ibu saya. Saya dibawa ke kantor polisi dan mereka menghadirkan saksi palsu yang membuat saya harus mendekam di penjara selama sepuluh tahun."
Nada sedih terdengar amat jelas. Terlihat betapa sedihnya pria di depan Giondra itu. Seakan dia menahan sakit yang terkira. Mereka berempat pun tidak menyela ucapan Riki. Masih setia mendengarkan.
"Saya tidak minta dilahirkan seperti ini dengan sebuah kekurangan. Namun, kekurangan ini yang membuat saya dibuang sedari saya bayi oleh ibu saya sendiri. Saya dirawat oleh seorang ibu panti yang menjelaskan secara rinci alasan saya ada di panti asuhan. Ibu panti juga mengatakan bahwa saya adalah anak dari orang punya. Ketika saya lulus SMA saya memberanikan diri untuk datang ke rumah ibu saya. Namun, rasa sakit hati yang saya terima. Apalagi Eki juga memperlakukan saya dengan kasar. Memaki-maki saya dengan kata-kata kasar. Sampai saya bersujud di bawah kaki ibu saya pun malah saya yang ditendang. Padahal saya ingin mengatakan bahwa saya keterima di sebuah fakultas kedokteran negeri. Walaupun saya tidak dirawat, saya ingin membuat bangga ibu saya. Namun, Saya bagai sampah di mata mereka dan mereka mengusir saya dengan sangat kasar." Ternyata ini alasan kenapa keluarga dokter Eki menyogok pihak fakultas agar dia bisa masuk ke fakultas kedokteran. Keluarganya tidak ingin dokter Eki tersaingi oleh pria difabel yang telah mereka buang.
Ayanda memegang dadanya, hatinya terasa sakit mendengar ucapan dari Riki. Pantas saja Eki bisa kejam, ternyata kekejamannya menurun dari ibunya.
"Menjadi dokter adalah mimpi saya, pada akhirnya saya memutuskan untuk mencari uang di jalanan untuk membiayai kuliah saya. Apapun saya lakukan hingga saya bertemu dengan orang yang sangat baik. Orang dermawan yang membantu membiayai pendidikan saya di fakultas kedokteran. Setelah lulus, saya bekerja di salah satu rumah sakit ternama. Di sana saya bekerja satu rumah sakit dengan Eki."
"Saya tidak memiliki pikiran jelek kepada adik saya itu. Biarkanlah, saya tidak menyimpan dendam sekalipun mereka sudah menginjak-injak harga diri saya. Saya hanya berpikiran bahwa saya sudah tidak mau mengenal mereka lagi." Mereka berempat masih mendengarkan dengan seksama.
"Saya memang memilih untuk tidak menikah. Saya hanya fokus pada pekerjaan saya dan membantu anak-anak difabel yang kurang mampu. Saya pun tidak tahu bagaimana kehidupan Eki selanjutnya. Saya tidak peduli. Satu ketika, saya dipindahkan ke sebuah rumah sakit yang lain dan ditetapkan sebagai direktur utama di sana. Ternyata wakil direktur adalah Eki. Merasa tidak ingin tesaingi, banyak kelicikan yang Eki lakukan kepada saya. Hingga apesnya kejadian Jessi meninggal. Dia yang merencanakan, saya yang harus mempertanggung jawabkan dan juga saya harus menanggalkan atribut kedokteran saya, dan dia yang menduduki kursi tertinggi di rumah sakit tersebut." Riki bercerita sangat detail sekali.
"Rubah ternyata," geram Aksara.
"Dari mana Anda tahu bahwa Jingga adalah keponakan Anda?" tanya Gio.
"Ketika kejadian itu terjadi, saya masih memiliki uang untuk menyewa pengacara. Pengacara saya mencari tahu perihal anak SMA yang dibonceng Jessi. Semua data sudah saya terima dan saya terkejut ketika mendengar bahwa Jingga adalah anak dari adik saya dengan wanita yang sengaja dia tabrak hingga meninggal. Ketika saya mencoba menemui Jingga, Jingga sangat marah dan terus menyalahkan saya karena kabar yang beredar saya orang yang dengan sengaja menyenggol motor Jessi. Pada nyatanya, saya hanya menjadi kambing hitam dari ulah dua manusia itu."
"Kenapa Anda tidak melawan?" sergah Aska.
"Hukum itu akan tajam ketika ada uang. Sedangkan hasil kerja saya sebagai dokter tujuh puluh persen saya sumbangkan kepada panti asuhan yang merawat kaum difabel."
Sungguh mulia sekali hati Riki ini. Beda halnya dengan Eki.
"Ketika saya bebas dari jeruji besi, orang yang pertama ingin saya temui adalah Jingga. Saya ingin meminta maaf kepadanya dan menjelaskan semuanya. Ketika saya mengetahui bahwa Jingga sudah menikah saya bahagia. Namun, saya juga sedih ketika mengetahui bahwa anak Jingga terlahir tidak sempurna seperti saya ini. Saya hanya ingin memberikan mengatakan kepada Jingga bahwa anak yang tidak sempurna belum tentu tidak berguna. Mereka masih bisa berprestasi dan membanggakan orang-orang disekeliling mereka."
...****************...
Komen dong ...'
...****************...
__ADS_1