Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
MENGGODA CHANDRA


__ADS_3

Bu Fatma penasaran prihal apa yang sedang di ributkan oleh Sam dan Tini, Bu Fatma pun berdiri di balik pintu dan mendegar suara Sam yang begitu keras saat berbicara


"Lebih baik Kamu pergi dari rumah ini, silahkan Kamu adukan ini kepada Papah Kamu, Aku sudah tidak takut lagi Tini, mau Papah Kamu menuntut Aku, Aku lebih baik di penjara, dari pada terus hidup bersama Kamu"


Di dalam hati Tini semakin bersikeras untuk melaksanakan rencana itu


"Tidak, Aku tidak akan pergi kemanapun, Aku akan tetap disini karena Aku Istri Kamu"


Tini segera pergi dari kamar untuk menghindari pertikaiannya dengan Sam, saat Ia membuka pintu kamar, Iapun kaget melihat Bu Fatma yang sedang berdiri di balik pintu


"Ibu.."


"Apa yang telah Kamu lakukan hingga Sam begitu marah dengan Kamu?"


"Aku.."


Sam keluar dan menjelaskan kemarahannya kepada Bu Fatma


"Apa.. jadi Kamu merusak baju couple dan membakar foto itu"


tanya Bu Fatma kepada Tini, Tini hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah melas, lalu Sam berkata,


"Bu.. Aku mau tidur di kamar Arif, Aku tidak ingin melihat perempuan ini lagi"


Sam berjalan dengan penuh amarah hingga selera makannya pun sudah tidak ada lagi,


"Oh ya Bu.. Aku tidak ingin makan malam, Aku ingin istirahat saja"


"Tapi Sam?"


Bu Fatma hanya bisa terdiam melihat semua ini, lalu Bu Fatma menasehati Tini


"Tini.. sudah Ibu katakan, jangan sesekali Kamu merusak apa yang di miliki dan di sukai Sam, Kamu tahu kan sekarang akibatnya"


"Bu Aku hanya ingin mempertahankan Rumah tangga Aku Bu, kenapa Aku selalu salah sih"


"Ibu juga sudah sering katakan, jika Kamu tidak kuat tidak bisa bersabar menghadapi Sam, selamanya Sam akan tetap seperti ini"


Tini semakin jengkel mendegar ceramah dari Ibu mertuanya


"Sudahlah Bu.. Aku juga ingin Istirahat"


Tini pun masuk dan langsung menutup pintu di hadapan Bu Fatma, Bu Fatma hanya bisa beristigfar melihat etika menantunya yang tidak sopan itu.


Akhirnya sampai juga dirumah kediaman Alya Rohali


"Terimakasih Andi untuk hari ini"


"Ya sayang.. sampai bertemu 4 hari lagi, Aku akan segera menyebar undangan, Kita akan buat pesta Kita sendiri, Aku pastikan Kamu akan bahagia dengan pesta itu"


Kasih tersenyum bahagia mendengar semua itu, Iapun memeluk Andi yang sebenarnya Ia masih takut tentang dirinya yang sudah tidak suci lagi.


Andi merasakan pelukan ini berbeda dari sebelumnya, lalu Andi bertanya,


"Sayang kenapa sepertinya pelukan ini penuh makna yang berbeda ya?"


Kasih langsung melepaskan pelukan itu dan menjawab,


"Maksud Kamu?"


"Aku merasa Kamu sedang menyembunyikan sesuatu kesedihan"


Kasih terdiam dengan wajah melasnya, lalu Ia tersenyum hanya untuk mengalihkan pikiran Andi


"Tidak ada Andi, itu hanya perasaan Kamu, ya sudah ya, Aku ingin istirahat, nanti Kita teleponan saja"


Kasih pun masuk dan melambaikan tangannya kepada Andi, begitupun Andi setelah itu Ia langsung kembali ke apartemennya.


Setalah suara tak terdengar lagi, Tini memastikan melihat ke dapur, ruang tamu, dan Kamar Ibu mertuanya

__ADS_1


"Yes.. sudah tidur, ini kesempatan Aku untuk memberikan obat tidur ini kepada Sam"


Tini kegirangan di dalam hatinya, Ia langsung mengintip kamar Arif untuk melihat sedang apa Sam di dalam, ternyata Sam sedang bekerja membuat konsep, Tini segera membuatkan kopi untuk Sam, jika hanya secangkir kopi Tini sangat yakin pasti akan di minum oleh Sam, karena Sam sangat suka sekali merokok sambil ngopi.


Setelah selesai membuat kopi, Tini pun masuk ke dalam kamar Arif


"Sam.."


Sam menoleh tapi melihat Tini dengan sinis


"Kamu mau apa ke kamar Aku?"


"Sam.. tolong jangan marah dulu, oke iya.. Aku memang merusak kenangan Kamu bersama Asri, itu karena Aku cemburu Sam, Aku hanya ingin membuatkan kopi untuk Kamu, Aku melihat Kamu belum makan, kalau Aku tawarkan makanan Kamu pasti tidak akan mau, Aku mohon kopi ini di minum ya, setidaknya ada sesuatu yang masuk dalam perutmu"


Tini berbicara sepanjang itu, namun Sam sama sekali tidak mencurigai niat jahatnya


"Taruh saja kopi itu di atas meja, Kamu sudah sana pergi, Aku sedang malas melihat Kamu"


Tini terima saja jika dirinya di perlakukan seperti itu, yang terpenting kopi buatannya harus di minum.


"Baik.. Aku taruh disini, Aku akan keluar sekarang"


Tini keluar dengan wajah tersenyum jahat, Ia terus memantau sambil duduk di ruang tengah.


Di hari yang seharusnya penuh kebahagiaan dan cinta, namun perasaan takut Kasih semakin menjadi, Ia ingin sekali menceritakan kejadian itu, Kasih lebih takut jika Andi tahu saat Dia sudah menyentuhnya, Kasih merasa jika Dia telah berbuat jahat dengan membohongi Andi.


Tiba-tiba Bu Alya datang menemui Kasih


"Kasih.. Kamu sudah pulang, bagaimana fitting bajunya lancar"


"Lancar Bu"


Bu Alya tahu jika Kasih masih sangat kecewa dan membenci kelakuan Makmun hingga berbicara padanya saja, sangatlah ketus


"Kasih.. Ibu tahu perasaan Kamu saat ini, tolong maafkan Makmun ya"


Kasih sudah mendegar kata-kata ini berkali-kali, Ia hanya terdiam tak ingin menjawab


Bu Alya begitu senang mendengar berita bahagia ini


"Oh ya.. Alhamdulillah.. selamat ya Kasih, semoga di lancarkan urusan Kalian"


"Nanti beritahu Bapak Helmi ya Bu, dan Mas Makmun juga"


"Iya, Pasti"


lalu Kasih pergi begitu saja meninggalkan Bu Alya tanpa bicara, namun Bu Alya memaklumi sikapnya itu, Bu Alya berharap tidak ada kejadian yang tak di inginkan pada Kasih, dan Bu Alya berharap Andi dapat menerima keadaan Kasih yang sudah tidak suci lagi.


Makmun melamun namun sorot matanya melihat ke wajah Lia, Bu Irma pun jadi bertanya-tanya ada apa dengan Makmun


"Mun.. Kamu kenapa?"


Makmun tersadar akan pertanyaan itu, lalu Ia menoleh dan menjawab,


"Tidak ada apa-apa Mah.."


"Yakin... sepertinya Kamu sedang dalam dilema, jangan terlalu larut bersedih, Lia pasti sembuh Kamu harus yakin itu"


Bu Irma tak tahu jika yang ada dalam pikiran Makmun adalah kalau terjadi sesuatu terhadap Kasih, maka Dia harus menikahinya sesuai janjinya terhdap Ibunya, belum lagi bagaimana menjelaskan hal ini pada Lia jika Lia sembuh dan tersadar nantinya.


"Iya Mah.. Aku hanya sedih mengapa sampai saat ini Lia belum ada tanda-tanda segera sadar"


"Mun.. tanda-tanda itu banyak sekali, Mamah yang sering menunggu Lia setiap hari disini, jadi Mamah tahu perkembangan Lia, Dia sering menggerakkan jari, lalu Ia mengeluarkan air mata, kemudian bibirnya sedikit tersenyum ketika Mamah menceritakan tentang Dia sewaktu masih kecil"


Makmun terdiam namun dalam hatinya sungguh senang mendengar hal yang di ucapkan oleh Ibu mertuanya


"Semoga saja Minggu-minggu ini, Lia bisa sadar"


"Oh ya.. Kamu gak pulang, ini sudah malam loh.. sudah istirahat ya, biar Lia Mamah yang jaga"

__ADS_1


"Mah...malam ini saja Aku ingin tidur disini, boleh ya Mah"


Makmun meminta dengan wajah melasnya, membuat Bu Irma jadi tak tega menolak permintaan menantunya itu


"Ya sudah.. Kamu tidur di sofa itu ya"


"loh.. terus Mamah tidur di mana?"


"Mamah, akan tidur di mushola saja, lagi pula sambil menunggu shalat tahajud"


Lalu Bu Irma pergi membawa mukenanya dan sedikit makanan ringan untuk Ia makan di sela-sela waktu


"Jaga Lia ya.. "


"Iya Mah"


Makmun tersenyum melihat wajah Istrinya, selalu ada rasa bersalah dalam dirinya karena dirinya sudah menodai pernikahan yang suci ini.


Rasa lelah mulai di rasa Sam, Sam melihat jam tangannya lalu Ia memutuskan untuk berhenti bekerja, Ia naik di atas kasur ingin rebahan, namun Ia melihat secangkir kopi di atas meja membuat dirinya tergoda untuk mencicipi kopi tersebut, Sam pun bangkit dari kasur lalu mendekati secangkir kopi itu.


"Yah.. walaupun ini buatan Tini, tapi setidaknya Aku bisa ngopi malam ini"


Sam langsung meminum habis kopi tersebut, setelah itu Ia naik lagi di atas kasur, lalu Ia membuka ponsel dan bermain game sebentar, tak lama Ia merasakan kantuk yang sungguh luar biasa


"Ngantuk sekali, sampai mata rasanya gak bisa terbuka, lebih baik tidur saja"


sudah hampir setengah jam Tini menunggu di ruang tengah sambil menonton televisi, lalu Ia memutuskan untuk memantau Sam lagi, dan saat Ia melihat cangkir kopi sudah kosong, Tini pun tertawa


"Hahaha..."


Tini langsung menutup mulutnya dan menutup pintu kamar serta menguncinya, kini Ia melihat Sam yang tengah tertidur pulas sekali, dan langsung saja Ia laksanakan rencana itu, Tini membukakan baju Sam dengan perlahan, lalu melepaskan celananya hingga kini Sam hanya berbalut selimut saja, setelah itu giliran Tini yang melepaskan bajunya sendiri, dan Ia tidur di samping Sam lalu Ia menaruh cairan yang mirip dengan ****** lelaki, di atas selimut tepat di atas ******** Sam, supaya hal ini terlihat real dan nyata.


Tini tersenyum jahat dalam hatinya berkata,


"Setelah ini Kamu tidak akan memaki Aku lagi Sam, Kamu juga akan mengingat hal ini sampai kapanpun, dan dengan ini, Kamu tidak akan bisa kembali lagi dengan perempuan murahan itu"


Tak lama Tini ikut tertidur mengantuk, kini Merekapun tertidur bersama di satu ranjang.


Chandra kini pulang, Iapun masuk ke rumah dan memberikan salam


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Rahma menjawab sambil berdiri dan menatap Chandra sangat dalam


"Kamu kenapa.. kok sepertinya lain"


"Aku.. kenapa memang, Aku tidak kenapa-kenapa, bagaimana lemburnya pasti Kamu sangat lelah ya"


lalu Rahma melepaskan pakaian Chandra dan lagi-lagi parfum itu, menempel di pakaian kerja Chandra


"Chan.. Kamu mandi lalu, Kita makan ya"


"Tidak Rahma, Aku tidak lapar"


"Loh kok bisa.. Kamu kan lembur dan Aku tidak mengirimkan makanan untuk Kamu, bagaimana bisa Kamu tidak lapar, memang sudah makan"


Chandra menatap wajah Rahma dengan penuh banyak tanya, begitupun Rahma yang bertanya-tanya di mana tadi Chandra berada


"Aku beli makan lah.. Kamu ini kenapa sih.. aneh tahu"


Chandra langsung berjalan menuju kamar mandi dan Rahma hanya memperhatikan gerak gerik Chandra diam-diam.


Sambil menunggu Chandra selesai mandi, Rahma mencoba merayu Chandra hanya mengetes saja, apa Chandra mau, atau menolak dengan alasan capek.


Rahma senagaja memakai lingerie yang cukup transparan, begitu Chandra keluar dari kamar mandi, Ia sungguh terkejut melihat Rahma yang berpakaian seperti itu, Chandra hanya manusia biasa, yang bisa saja nafsunya naik ketika melihat seorang wanita seksi di depannya. Chandra menelan ludahnya dan mulai melirik Rahma diam-diam.


"Kamu kenapa pakai baju seperti ini sih"

__ADS_1


"Kenapa.. Kamu suka..?"


Chandra merasa heran mengapa sekarang Rahma berani melakukan ini, biasanya Dia selalu bertanya terlebih dahulu jika ingin meminta haknya.


__ADS_2