Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
287. Bangga


__ADS_3

Si quartet nampak bahagia sekali bertemu dengan sepupu mereka. Sedari tadi banyak yang mereka ceritakan kepada Gavin. Gavin hanya tersenyum mendengarnya. Begitu juga dengan Aska. Sedari tadi bibirnya terus melengkungkan senyum


Tibanya di rumah Jingga sudah berteriak ketika keponakannya ada di hadapannya.


"Empin!!" Jingga memeluk tubuh Gavin dengan begitu erat. Mencium setiap inchi wajahnya. Tampang Gavin sudah merengut tidak suka.


"Anteu, Mas bukan anak kecil." Tujuh tahun jarang bertemu sang keponakan sudah tidak mau dicium layaknya dulu.


"Tuh anak emang songong," timpal Fahri. "Orang mah pengen dibilang ganteng, dia mah gak mau." Aska dan Jingga terkekeh, tapi tidak dengan Gavin. Anak itu menatap tajam ke arah Fahri.


"Sekali Mas hubungi Daddy, Om bisa lengser dan dibuang dari WAG grup." Ancaman yang terdengar menakutkan. Itu juga yang dialami oleh Fahri. Anak dari atasannya itu terkadang tidak main-main dengan apa yang dia katakan.


"Sorry, Bos. Sorry." Fahri meminta ampun kepada Gavin yang sudah menatapnya dengan begitu tajam.


Aska dan Jingga malah tertawa. Sama halnya dengan si quartet. Jingga menawari keponakannya itu untuk makan, tapi Gavin menolak.


"Di pesawat juga ada makanan kok." Satu jam Gavin menunggu keempat sepupunya. Dia memandangi halaman sekitar rumah sang paman.

__ADS_1


"Kenapa?" Suara Aska membuyarkan lamunan anak itu.


"Rumah ini rumah turun temurun dari Kakek buyut Genta. Pipo dulu pernah tinggal di sini." Gavin menatap ke arah sang paman yang tengah menjelaskan.


"Kalau nanti Mas kuliah di sini. Ini akan menjadi rumah Mas." Gavin tersenyum. Dia menatap ke arah halaman kembali.


"Adek gak bakal ngijinin," ujar Gavin.


"Kenapa harus gak ngijinin? Mas 'kan mau belajar."


"Adek gak mau pisah sama Mas. Mas juga gak tega ninggalin Adek. Takut Adek salah pergaulan."


"Ayah, kami sudah siap." Balqis membuat Aska dan Gavin menoleh. "Ayo! Aqis gak sabar mau naik pesawat Pipo."


Rona bahagia terpancar dari keluarga Aska. Sedari tadi senyum tidak pernah pudar dari wajah mereka berenam. Dua jam mengudara, akhirnya mereka tiba di Bandara. Mereka sudah dijemput oleh Joe. Ajudan pribadi Gavin.


Mobil sudah berbelok ke arah rumah besar Giondra. Keempat anak Aska sudah tidak sabar. Sudah pasti di rumah sang kakek sudah tersedia banyak makanan kesukaan mereka. Turun dari mobil dengan berlari. Itulah yang dilakukan di triplets. Aska dan Jingga menghentikan langkahnya sejenak. Dia menatap penuh rindu rumah besar itu. Rumah yang masih sama seperti mereka pergi dari sini.

__ADS_1


"Pipo! Mimo!"


Ayanda dan Gio memeluk tubuh keempat cucu mereka dengan sangat erat. Ada air mata yang tak tertahan membasahi wajah Ayanda.


"Mimo sangat merindukan kalian." Suara Ayand bergetar.


"Kami juga Mimo."


"Dad, Mom," panggilan dari anak laki-laki bungsu membuat Gio dan Ayanda menatap lekat ke arah sang putra. Aska dan Jingga berlari menghampiri kedua orang tua mereka yang sudah melepaskan pelukan dari si quartet. Aska dan Jingga bersimpuh di kaki Gio dan juga Ayanda.


"Nak, jangan seperti ini." Ayanda sudah meraih pundak Jingga. Begitu juga dengan Gio yang terharu akan sikap Aska sekarang ini.


"Kamu hebat!" Sang ayah memeluk tubuh Aska. "Daddy sangat bangga kepada kamu."


Aska tidak menjawab. Dia malah menangis cukup keras. Aksa yang melihat kedua pria itu menangis ikut memeluk tubuh keduanya.


"Daddy bangga kepada kalian berdua. Kalian anak-anak hebat." Ucapan yang begitu tulus yang Gio berikan kepada kedua putranya.

__ADS_1


"Aku bisa terbang bebas di angkasa." Arfan bernyanyi sesuai isi hatinya.


"Hei ... Papang papang bau!"


__ADS_2