Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir
173. Pembunuh Sebenarnya


__ADS_3

Tubuh Jingga menegang ketika dia mendengar semuanya. Dia masih ingat pria yang tengah berada di depan keluarga mertuanya. Ingatan Jingga seperti kembali ke masa lalu. Darah, suara dentuman hebat, juga suara sirine ambulnce yang kini memutari kepalanya.


Jingga memejamkan matanya. Dia menutup kedua telinganya karena suara itu semakin nyaring terdengar.


"Bunda! Jangan bawa Bunda!"


Seruan Jingga membuat semua orang menoleh. Aska segera berlari menuju istrinya yang terlihat ketakutan. Belum juga sampai ke arah sang istri, tubuh Jingga sudah tak sadarkan diri. Untung Aska bisa meraih tubuh Jingga hingga tak membentur lantai.


"Sayang, bangun, Sayang."


"Bawa ke ruang keluarga. Daddy telepon dokter."


Riki tersenyum melihat betapa pedulinya Gio kepada keponakannya itu. Bukan hanya Gio, Ayanda pun ikut mendekat ke arah sang menantu.


"Ambil minyak kayu putih, Dek." Aska pun menuju kotak p3k.


Kondisi Jingga memang sedang tidak sehat. Dia tetap memaksakan diri mengurus Ayna seorang diri. Ditambah pesan ayahnya yang membuat hatinya terus tersakiti.


Aska meletakkan punggung tangannya di dahi sang istri. Dia segera mencari termometer untuk mengukur suhu tubuh Jingga.


"Mom, lebih baik Mommy jaga Ayna saja. Takut Ayna terbangun."


Ayanda pun mengikuti ucapan dari sang putra. Seorang pria berbadan tegap masih berada di depan kamar Aska. Dia sama sekali tidak beranjak.


Cucu keenam Ayanda tengah tertidur dengan begitu lelapnya. Ayanda memandangi wajah cantik Ayna. Anak yang tidak boleh dibedakan karena fisiknya yang tidak sempurna.


"Mimo tidak akan pernah membedakan kamu dengan cucu-cucu Mimo yang lain. Kamu tetap cucu spesial Mimo." Kecupan hangat Ayanda berikan di kening Ayna.


Di ruangan keluarga, dokter sudah datang dan memeriksa Jingga. Riki ikut bergabung di sana. Hatinya sakit ketika melihat gurat kesedihan di wajah sang keponakan. Cobaan terus menerpa hidup Jingga. Dia tidak tega, tetapi inilah yang sudah Tuhan takdirkan.


"Bagaimana, Dok?" tanya Aska cemas.


"Nyonya muda kekurangan cairan juga darah rendah," jawabnya.


"Efek begadang," timpal Gio. Dokter itupun mengangguk.

__ADS_1


"Saya akan menginfus Nyonya muda dan juga memberikan obat penambah darah juga vitamin. Makannya pun harus teratur."


Askara menatap pilu sang istri. Bukan hanya kelelahan secara fisik yang Jingga derita. Hatinya pun lelah karena menghadapi ujian hidup yang cukup berat.


"Anda masih mau menunggu hingga Jingga sadar?" tanya Gio.


"Kalau boleh, Pak. Kalau boleh, ijinkan saya bermalam di sini. Saya tidak ingin meninggalkan keponakan saya sebelum maaf saya dapat dari Jingga."


Aska menatap ke arah sang ayah. Gio mengangguk bertanda dia menyetujui permintaan Riki. Kabar sakitnya Jingga sudah tersebar. Semua anggota keluarga Wiguna juga Rion Juanda sudah berkumpul di rumah besar tersebut. Kondisi Jingga masih sangat lemah dan dia tidak ingin ditinggalkan oleh Aska barang sedetikpun.


"Ayna di mana?" tanya Echa. Dia tengah menggendong Ghea.


"Di kamar sama Mommy." Jawaban dari Aska membawa langkah Echa ke lantai atas. Dahi Echa berkerut ketika melihat mamah dan papahnya berbincang dengan seseorang yang tidak Echa kenal tengah menggendong Ayna. Terbesit tanya di dalam benak dan kepala Echa. Rasa penasaraannya membawanya menuju ke arah merek bertiga.


Suara Ghea membuat tiga orang di sana menoleh. Gio dan Ayanda tersenyum ke arah Ghea, dan Gio segera mengambil Ghea dari gendongan Echa. Sang putri menatap ke arah Gio.


"Dia Riki, paman dari Jingga."


Echa terkejut mendengarnya. Dia menelisik setiap inchi wajah dan tubuh Riki. Matanya melebar ketika melihat sesuatu yang sama dengan sang keponakan.


Echa merasa tidak enak. Padahal dia hanya terkejut saja hingga tidak bisa berkata-kata.


"Maaf," ucap Echa. Riki malah tertawa. Dia sudah biasanya diperlakukan seperti ini. Jadi, tidak masalah untuknya.


"Tidak masalah," sahut Riki. "Maaf ya, karena gen keluarga saya akhirnya bayi mungil ini harus ikut menderita," imbuh Riki.


"Ini sudah jalan takdir. Tuhan pasti sudah menyiapkan hadiah yang indah di balik cobaan ini." Riki setuju dengan ucapan dari Gio.


"Kenapa orang jahat malah memiliki fisik yang sempurna. Kenapa orang yang baik malah diuji dengan ketidaksempurnaan?" Sebuah pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut Echa. Dia tengah memandangi Ayna yang terpejam.


"Sempurna atau tidak fisik seseorang, itu cobaan untuk manusia itu sendiri. Tuhan memberikan kesempurnaan pada Eki, harusnya dia bisa menggunakan kesempurnaan itu untuk menolong sesama. Bukan malah merasa bangga akan kesempurnaan yang dia miliki. Padahal, Tuhan bisa kapan saja merenggut kesempurnaan dia jika dia tidak bisa menggunakan kesempurnaan dia dengan baik."


Echa tersenyum mendengar ucapan dari Riki. Seharusnya seperti itu, tetapi manusia itu selalu dikelilingi dengan keserakahan hingga dia lupa siapa yang menciptakannya.


.

__ADS_1


Aska belum berbicara apapun perihal paman dari istrinya tersebut. Keberadaan Riki pun masih dirahasiakan. Mereka semua tidak ingin Jingga kembali pingsan.


"Masih pusing?" Jingga mengangguk. Aska memijat pelipis Jingga dengan begitu lembut.


Tangan Jingga seakan tidak melepaskan rangkulannya di lengan Aska. Semua orang memberikan ruang kepada Jingga dan Aska untuk berbicara empat mata. Kini, hanya tersisa mereka berdua.


"Sayang, apa kamu tadi mendengar semuanya?" Aska tidak ingin berbasa-basi. Istrinya mengangguk.


"Bayang-bayang kejadian itu hadir kembali di kepalaku. Aku takut, aku tidak ingin melihat itu lagi." Aska memeluk tubuh Jingga. Istrinya terisak dengan begitu lirih.


"Bunda bercucuran darah. Wajah Bunda pucat dan Bunda ...."


Isakan cukup keras terdengar. Trauma itu masih ada hingga saat ini. Kepergiaan bundanya membawa kesedihan yang mendalam untuknya.


"Aku gak nyangka, ternyata tangis Ayah pada waktu itu hanya tangis kepalsuan. Malah dia yang menjadi dalangnya." Suara Jingga begitu berat. Dia bagai anak kecil yang tengah menjelaskan isi hatinha sambil menangis.


Suara Jingga terdengar hingga ruang tamu. Di mana mereka semua berada. Riana menyeka ujung matanya dan memeluk pinggang sang suami. Nasibnya dengan Jingga tak jauh beda.


"Kenapa Ayah tega membunuh Bunda? Kenapa Ayah tega sama Bunda dan aku?" ucap Jingga lagi dengan suara yang hampir tidak ada.


"Andai Bunda masih hidup. Hidup aku tidak akan selalu menderita begini."


Jeritan hati seorang Jingga Andhira. Dia benar-benar terpukul akan kenyataan yang harus dia terima perihal pembunuh ibunya sesungguhnya.


"Sabar ya, Sayang. Kita lalui cobaan ini sama-sama. Percayalah, Tuhan tidak akan menguji umat-Nya di luar batas kemampuan yang umat-Nya miliki."


Jingga tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menangis di atas dada Askara. Aska baru melihat betapa rapuhnya istrinya saat ini.


Tanpa Jingga dan Aska lihat, ada seroang anak perempuan yang terisak karena melihat ibunya menangis.


"Sabar Bun, aku dan Adek akan menuntut balasan kepadanya agar aku dan Adek bisa hidup bersama Bunda dan Ayah selamanya."


...****************...


Komen dong ..

__ADS_1


__ADS_2